
Benjamin membuka sebuah pintu dan menengok ke dalam. Sebuah ranjang berukuran single ada di dalam ruangan itu. Ia mendekat dan meraba permukaan kasur, terasa dingin di telapak tangannya.
Kamar itu berukuran kecil, tidak ada penghangat udara di dalam, namun ada selimut dan juga kasur yang cukup nyaman untuk beristirahat.
Ben kembali ke ruang depan, memasukkan beberapa kayu bakar ke dalam perapian, lalu melangkah ke arah sofa.
Daniella masih terpejam. Dengan hati-hati Benjamin mengangkat dan menggendong Ella. Ia melihat sebuah jas yang ia kenali sebagai miliknya di bawah tubuh Ella, lalu sebuah mantel yang sebelumnya dipakai oleh Tuan Daniel. Hide menjadikannya sebagai alas di atas sofa.
"Sofa itu sobek. Penuh tetesan minuman keras. Aku terpaksa menjadikan jasmu alas. Aku membuka mantelnya dan jasmu untuk memeriksa jika ada luka lain di tubuhnya ...."
Benjamin menoleh, mendapati Hide dan komandan masuk bersamaan.
"Kami berdua akan pulang bersamamu, yang lainnya pergi lebih dulu," ucap Komandan.
Benjamin mengangguk, lalu melihat ke arah Hide, seperti menunggu lanjutan penjelasan.
"Beberapa luka gores ... sepertinya karena ranting pohon. Di sini dan sini," ucap Hide sambil menunjuk bagian lengan, leher atas dan rahang.
"Bisakah kalian memastikan apinya selalu hidup? Aku akan membiarkan pintu kamarnya terbuka."
Setelah anggukan dua rekannya, Ben pergi menuju kamar. Ia duduk di atas kasur, kemudian bersandar ke kepala ranjang sambil terus memeluk Ella. Tangannya menjangkau sebuah selimut dan menutupkannya ke tubuh mereka berdua.
Mata Benjamin mendongak menatap langit-langit. Keningnya berkerut dalam, hatinya berkecamuk, dingin yang merayapi ujung-ujung jemarinya mulai merambat, ia menggerakkan tangan, lalu menyentuh perban di pipi Ella, kemudian menyadari luka di pipi Ella bisa saja meninggalkan bekas. Memikirkan hal tersebut, Ben merasa dingin mulai merambat ke hati dan pikirannya. Ia merasa beku meski Ella di pelukannya terasa hangat.
Hide duduk berjongkok di dekat perapian. Menatap lidah api sambil termenung. Seolah memastikan warna merah yang menjilat kayu bakar tersebut selalu menyala.
"Aku mau membuat kopi. Kau mau?" tanya Komandan.
Hide mengangguk. "Bila kau dapat menemukan benda itu. Kulihat ada pantry kecil di sana" ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu belakang.
Komandan baru saja akan membuka pintu ketika suara Hide terdengar lagi.
"Jangan pedulikan yang ada di lantai di sudut lemari dapur. Dia belum mati, hanya tidak sadarkan diri saja."
"Kau mengikatnya?"
"Ya."
Komandan mengangguk. Melirik ke arah pintu kamar yang terbuka, menimbang apakah perlu menanyakan pada Black apakah ia juga mau dibikinkan kopi.
Sedetik kemudian ia mengangkat bahu, lalu membuka pintu belakang mencari kopi.
**********
Beberapa waktu berlalu dalam keheningan. Kopi yang dinikmati Hide dan komandan baru habis setengah mug ketika dari dalam kamar terdengar suara panik penuh ketakutan. Kemudian pukulan demi pukulan terdengar membabi buta.
"DD! Ini aku! Benjamin!" Perkataan itu diucapkan berulang kali oleh Benjamin.
Hide dan Komandan saling berpandangan. Mereka otomatis tegak berdiri, namun menahan diri agar tidak memeriksa ke dalam kamar.
"Beeeeen ...." Daniella mengucapkan nama itu di sela tangis penuh kelegaan yang terdengar sampai di seluruh rumah.
"Aku akan memindahkan mobilnya ke depan rumah, " ucap Komandan, lalu berjalan pergi ke arah pintu keluar.
Hide menatap rekannya, tahu pasti bagaimana perasaan pria yang pernah kehilangan orang terkasihnya itu. Apa yang terjadi pasti mengingatkannya pada kejadian lama di masa lalu. Hide tahu Komandan hanya tidak ingin berada di sana.
Hide berjalan ke arah perapian. Memasukkan beberapa kayu lagi ke dalamnya, lalu tegak sambil menatap ke arah pintu kamar yang terbuka. Ia melangkah ke arah pintu, bertatapan langsung dengan Benjamin yang memeluk Ella yang masih menangis. Keduanya ada di atas lantai di tengah kamar.
Ella yang terbangun dari pingsan rupanya panik, memukul Ben berkali-kali agar melepaskannya, lalu bermaksud melarikan diri sebelum ditangkap lagi oleh Benjamin yang berulangkali mengatakan siapa dirinya.
Perlahan Hide meraih gagang pintu, lalu mulai menariknya. Matanya dan mata Benjamin terus saling menatap sampai pintu kamar akhirnya tertutup rapat.
Hide berbalik, berjalan ke atas meja kecil tempat dua mug kopi, lalu mengangkat benda tersebut di masing-masing tangan.
"Kopimu belum habis, Komandan. Aku temani minum kopi di luar," ucap Hide sambil melangkah menuju pintu depan.
Di dalam kamar, Benjamin menyisirkan jemarinya ke rambut Ella yang berantakan.
"Ayo, DD. Lantainya dingin." Benjamin mengangkat Ella dan membawanya kembali ke atas ranjang.
"Bagaimana kau menemukanku, Ben? Tidak ada orang yang melihat selain ... oh, Tuhan ..." Daniella kembali terisak, bayangan kejadian sepanjang malam itu terulang kembali dalam pikirannya.
"Shhhh ... kau sudah aman. Aku di sini dan akan menjagamu. Tenanglah ...."
Benjamin merasakan pelukan Daniella pada tubuhnya semakin erat.
"Kau harus memeriksa Hector, Ben. Dia dipukuli oleh seseorang dan tersungkur jatuh! Bagaimana kalau orang itu adalah rekan penculik itu!? Di-dimana dia, Ben!? Pen-"
Telapak tangan Benjamin menutup mulut Daniella dengan penuh kelembutan.
"Jangan pikirkan itu. Tenangkan dirimu, jangan panik lagi, DD. Kau selamat. Memikirkannya akan membuat dirimu kembali ketakutan."
"Ayahku ...." Ella merasakan lengan Ben kembali memeluknya.
"Dia menunggumu. Dia mau ikut mencari. Tapi aku melarangnya. Aku sudah berjanji padanya akan membawamu pulang."
"Dad dan Mom pasti sangat khawatir."
"Ya. Snow dan yang lainnya sudah kembali ke hotel. Kuharap sekarang orang tuamu sudah tahu kalau kau sudah ditemukan."
"Dan baik-baik saja," sambung Ella.
Benjamin menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak baik, DD. Kulit pipimu robek. Lengan dan lehermu tergores. Besok pagi, akan ada lebam keunguan di tulang pipi atau bagian bawah mata kirimu."
"Dan semua itu akan sembuh. Aku sangat lega kau ada di sini, Ben."
"Aku juga lega ...." Benjamin memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di puncak kepala Ella. "Katakan jika kau sudah merasa lebih kuat ... kita pulang ke hotel sekarang."
Daniella hanya diam.
"DD? Kita pulang? Orang tuamu menunggu."
Ella mendongak, lalu melihat luka bekas pukulan ayahnya di sudut bibir Benjamin.
"Apakah ini masih sakit?" tanya Ella. Menyentuh lembut sudut bibir Benjamin dengan jari telunjuknya.
"Sudah kukatakan ini bukan apa-apa. Aku pantas dipukul."
"Kau tahu ... penculik itu menangkapku ketika aku berniat kembali ke tenda dan menemuimu."
Benjamin mengernyit. Ella belum tahu penyebab ia diculik. Juga belum tahu identitas penculiknya itu.
"Kenapa kau kembali? Bukankah Ayahmu akan membawamu pulang?"
Daniella mendongak, menatap langsung mata Benjamin. Sesuatu di binar matanya terlihat menyala.
"Ketika Dad memaksaku pulang ke hotel. Aku berkeras ingin kembali ke tenda. Aku katakan padanya aku tidak dapat meninggalkanmu setelah mendapatkan pukulan darinya."
"Dia mengizinkanmu begitu saja?"
Ella menggelengkan kepala. "Tidak. Dia tetap berkeras aku ikut pulang bersamanya."
"Aku tidak heran. Ayahmu marah sekali padaku, DD."
"Aku berjanji akan pulang ke hotel. Tapi bersama denganmu. Kukatakan tak dapat meninggalkanmu di sana."
"Lalu ia memberimu izin untuk menjemputku ke tenda?" nada pertanyaan Benjamin terdengar tidak percaya.
"Ya."
Benjamin menaikkan kedua alisnya.
"Benarkah? Apa yang membuatnya berubah pikiran?"
Daniella mengangguk, lalu mengalungkan lengannya ke leher Benjamin, menarik sedikit kepala pria itu agar menunduk menatapnya.
"Aku membuatnya berjanji akan mendengarkan penjelasanmu tentang hubungan kita ... pertunangan kita." Daniella berbisik tepat di depan bibir Benjamin. Mata mereka bertatapan.
"Itu tidak menjelaskan kenapa ia mengalah dan akhirnya mengizinkanmu kembali ke tenda."
Benjamin berkedip ketika tiba-tiba bibir Daniella menyentuh bibirnya. Kelembutan dan usapan lembut terasa manis. Ciuman dan kecupan perlahan di bibir bawahnya dilakukan dengan hati-hati. Seolah wanita itu menjaga agar tidak membuatnya kesakitan dengan tidak sengaja menyentuh bagian bibir bawahnya di sudut kiri yang terluka karena pukulan Daniel.
Setelah ciuman manis itu berakhir, Ella menjauhkan wajahnya. Matanya menatap mata Benjamin dalam-dalam.
"Aku mengatakan padanya ... kalau aku mencintaimu ...."
NEXT >>>>>>
*********
From Author,
Nah lo Black, apa responmu?
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.