Belinda

Belinda
43. Horrible night



Daniella memegang siku Benjamin dan mengajaknya berdiri. Pria itu masih memegangi rahangnya dan mendesis ketika duduk di kursi santai yang ada di dalam tenda.


Ella menarik sebuah tisu dan mulai mengusap bagian bawah bibir Benjamin. Tepat di bawah bibirnya yang terluka.


"Kenapa kau tidak menghindar? Aku yakin kau bisa melakukannya. Kenapa kau diam saja?"


Mata Ella berkaca-kaca ketika menatap sudut bibir Ben yang mulai bengkak.


"Aku tidak apa-apa, DD. Ini bukan apa-apa." Benjamin menangkap tangan Daniella yang mau mengusap dagunya.


"Darahnya sudah berhenti. Ini sudah mau dua menit. Pergilah bersama Stanley. Temui ayahmu. Jangan sampai ia menunggu lama."


"Tapi ...." Ella menatap khawatir pada rahang dan luka di bibir Benjamin.


Benjamin tersenyum, menarik Ella dan menyuruhnya duduk di pangkuannya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari jas yang sebelumnya tidak sempat ia kenakan kembali ketika Elena masuk ke tenda mereka.


Ben menemukan jasnya di dekat kaki kursi. Sedikit membungkuk ia menarik benda itu dan langsung mengenakannya ke badan Ella.


"Pakai ini. Pergilah, DD. Jangan khawatir. Aku akan menyusul dan menemui ayahmu. Tapi tidak sekarang. Sekarang ia sedang marah."


"Tapi ...."


"Jangan membuatnya menunggu, lalu kehilangan kesabaran dan menjemputmu ke sini."


"Bibirmu pecah Ben. Harus di jahit."


Benjamin terkekeh, lalu mendesis kesakitan. "Ini luka kecil yang sudah seharusnya kudapatkan dari ayahmu. Dia melakukannya karena mencintai putrinya. Ayahku akan melakukan hal yang sama jika mendapati ini terjadi pada Belinda atau Alana."


Walaupun caranya akan berbeda. Dia akan mengambil putrinya tanpa mendengarkan alasan apapun, dia tidak akan memberikan waktu meski hanya dua menit. Lalu si pria ... mungkin saja tidak akan muncul lagi di hadapan putrinya ... selamanya. Benjamin membatin, ia berkedip ketika merasakan tangan Ella membelai pipinya.


"Aku akan membuatnya mengerti. Dia akan mendengarkanku," ucap Ella, lalu mengecup pipi Benjamin.


"Aku tahu, DD. Dan aku akan segera menemuinya lagi. Mungkin besok pagi."


Benjamin memeluk Ella erat-erat selama beberapa detik, lalu memberi jarak sedikit untuk merapatkan jasnya ke tubuh Ella.


"Dua menitmu sudah habis. Pergilah, DD."


Daniella menganggukkan kepala.


"Kau akan menemuiku segera?"


Benjamin menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Secepatnya," imbuh Benjamin.


"Stan!?" Benjamin berteriak dan segera stanley muncul dari balik pintu tenda.


"Ya, Bos."


"Bawa Ella menemui ayahnya."


Stanley mengangguk, lalu menunggu Ella bangkit dan melangkah menuju pintu. Setelah tatapan terakhir ke arah wajah Benjamin, wanita itu akhirnya keluar.


Stanley berbisik ke arah Snow ketika melewati pria itu di depan tenda.


"Carilah sesuatu yang dingin, es atau sesuatu yang beku."


"Untuk apa?" bisik Snow. Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam tenda.


"Kompres!" desis Stan sambil memegang rahangnya, kemudian ia berlari agar bisa menyusul Daniella yang melangkah gontai menuju tempat parkir yang disiapkan kru di sekitar lokasi syuting.


Snow segera masuk ke dalam tenda dan melihat bagaimana keadaan bosnya. Ia terkejut mendapati luka di bibir pria itu. Segera saja ia merasa bersalah. Jika tidak meninggalkan tenda, pria itu mungkin tidak akan mengalami hal ini.


"Maafkan saya, Bos. Saya meninggalkan tenda sebentar untuk mengambil ini," ucap Snow sambil mengulurkan cup berisi kopi di tangannya.


Benjamin mengibaskan tangan. "Tak apa. Lagipula, aku jadi punya kesempatan memberitahu orang tua Ella tentang pertunangan kami."


"Tapi bibir Anda jadi ...."


"Ini bukan apa-apa. Tuan Daniel mungkin keberatan denganku, tapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika itu menyangkut keinginan dan pilihan putrinya sendiri."


Snow hanya diam, tidak menanggapi. Kalimat itu baginya terdengar seperti penghiburan untuk orang yang mengucapkannya.


Di sepanjang jalan menuju mobil tempat ayah dan ibu Ella menunggu, Kesedihan Daniella membuat air mata wanita itu mengalir. Ia membayangkan dan menebak-nebak apa yang akan dilakukan ayahnya. Yang terburuk skenario yang melintas di pikirannya adalah, ayahnya akan memisahkannya dari Benjamin, meskipun tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Lagipula, ayahnya selalu bisa dibujuk menyangkut keinginan putri satu-satunya.


Stanley yang mengiringi langkahnya tidak bisa berbuat apapun mendengar isak yang sesekali terdengar dari wanita itu.


Stanley menoleh ketika mendengar suara di sebelah kiri mereka. Ia melihat Hector yang baru saja keluar dari sebuah mobil dan menutup pintu mobil tersebut.


Melihat Daniella, pria itu tersenyum. "Ella," sapanya ramah.


Namun, Ella terus melangkah dan mengabaikan Hector.


"Sombong seperti biasa," ucap Hector sambil tertawa kecil. Menertawakan dirinya yang baru saja diacuhkan.


Stanley menatap tajam dengan sorot mata dingin ke arah pria itu hingga Hector mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum sinis. "Aku tidak melakukan apapun, Kawan," ucapnya pada Stanley yang meneruskan langkah dan menjauh.


Tiba di dekat mobil, Daniel segera turun dan melihat ke arah Stanley.


"Terima kasih, Stan. Sekarang pergilah. Kami akan kembali ke hotel."


"Saya akan ikut, Tuan. Dengan mobil lain. Snow akan menyusul."


"Tidak perlu, Stan."


Tatapan mata Daniel membuat Stanley akhirnya menganggukkan kepala. Pria itu seperti meragukan Stanley dan Snow setelah melihat atasan tidak langsung mereka ada di tenda putrinya.


Setelah mengangguk, Stanley pamit dan berbalik pergi dari tempat itu.


Daniella memandang berkeliling sambil menyeka pipinya yang basah. Memastikan tempat itu sepi dan tidak ada siapapun.


Elena yang baru saja turun dari mobil segera mendekat.


"Sayang, kau menangis?"


Ella mendapat pelukan dari ibunya.


"Masuklah ke dalam mobil. Kakimu pasti kedinginan," ucap Elena sambil menunduk menatap kaki putrinya yang tidak mengenakan apapun selain sepasang sandal. Gaun Ella hanya sebatas lutut, Elena bersyukur melihat jas yang pasti milik Benjamin terpasang di tubuh putrinya.


"Dad ... aku tidak bisa pulang bersamamu saat ini. Aku akan bicara denganmu, tapi bersama Benjamin. Karena itu ...."


Daniel mengembuskan napas panjang, ia sudah melihat air mata yang tadi diseka oleh putrinya.


"Tidak sekarang, Ella. Sekarang aku hanya perlu bicara berdua denganmu."


Daniel melihat Ella menggeleng dengan raut keras kepala.


"Tidak. Aku tidak bisa menunggu hingga esok. Kesalahpahaman antara Dad dan Ben harus segera diselesaikan."


"Salah paham apa, El? Aku tahu apa yang aku lihat di sana tadi!"


Ella memejamkan mata. Dengan nada sedih ia berkata, "Daddy tahu kenapa aku tidak mengatakan pada kalian segera setelah Ben melamarku? Karena aku tahu akan beginilah reaksi Daddy. Jadi aku ingin memberikan waktu pada Ben untuk menunjukkan kesungguhannya nanti setelah pekerjaanku di sini selesai ... kami akan menemui kalian, lalu mengumumkannya secara resmi."


Sekali lagi Daniel mengembuskan napas panjang. "Sudah malam, Ella. Sekarang masuk dan ayo kita pulang ke hotel. Kita bicarakan besok."


"Mom, Dad ... aku akan pulang. Tapi bersama Ben. Aku khawatir ... aku akan mengajaknya pulang bersama ke hotel."


"Dia bisa pergi ke hotel sendiri tanpamu, Ella!"


"Ayahmu benar, Ella. Besok, kita akan bertemu Ben dan membicarakan hal ini dengan kepala dingin," ucap Elena sambil mengelus punggung putrinya.


"Baik, Mom. Tapi izinkan aku kembali bersama Benjamin. Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini. "


"Ya ampun, Ella! Apa yang membuatmu begitu mencemaskan pria itu! Ayah hanya membuatnya lecet sedikit!"


"Aku mencintainya, Daddy."


Ucapan Ella membuat orang tuanya terdiam.


"Aku sungguh mencintainya," ucap Ella. Merasakan kebenaran dari pengakuannya itu. Perasaan yang selalu ia tekan dan tidak pernah mau ia akui. Menyamarkan hal itu dengan perasaan lain, seolah ia hanya ingin memenangkan tantangan dengan Benjamin, hanya menginginkan pria itu. Tapi Ella tahu ... semua itu karena ia mencintai Benjamin.


Ella mendengar helaan napas dari ayah dan ibunya.


"Kalian pasti mengerti ... kumohon, izinkan aku datang bersamanya. Aku harus datang bersamanya, Dad ...."


Air mata Ella tumpah, ia ingin segera kembali pada Benjamin dan mengatakan apa yang baru saja ia katakan pada orang tuanya. Bahwa ia mencintai pria itu. Bahwa ia akan menikah dengannya. Bahwa selama beberapa hari ini ia merasa amat hampa dan merindukan Benjamin.


"Daniel ...." Elena menatap suaminya yang sekali lagi menghela napas.


"Hapus air matamu. Kemarilah," ucap Daniel sambil melepas mantel panjangnya.


Daniella mendekat, lalu mendapati mantel ayahnya menyelubungi tubuhnya.


"Katakan pada pria itu. Lain kali pakaikan mantel panjang pada putriku, hingga kakinya tidak terkena angin dingin ...."


Ella tersenyum, lalu memeluk ayahnya. Sebuah ciuman mendarat di puncak kepalanya.


"Bukannya aku akan langsung merestui pria itu, Ella. Aku hanya memberikan kesempatan untuk bicara dengannya."


"Daddy akan mendengarkan?"


"Ya ...."


"Terima kasih, Dad." Ella menghapus air mata di pipinya dan melangkah mundur.


"Aku akan langsung kembali ke hotel bersamanya. Aku berjanji," ucap Ella dengan wajah berbinar. Setelah melihat ayah dan ibunya mengangguk, ia berbalik dan dengan senyum lebar berlari kembali menuju tendanya.


Di atas dahan sebuah pohon di sisi kanan tempat itu, di dalam gelapnya malam dan rerimbunan daun, seorang pria menyeringai sambil menatap arah yang di tuju Ella.


"Sepertinya aku memilih waktu yang sangat pas," ucapnya sambil terkekeh. Menatap titik yang pas untuk memotong jalan wanita itu.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Halo semuanya, Selamat idul fitri ya. Author mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, maafkan salah dan khilaf baik sengaja maupun tidak. Semoga semuanya sukses dan bahagia selalu, Aamiin ....


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.