Belinda

Belinda
51. Heir



Verga membuka pintu dan mengedarkan pandangan di ruang istirahat yang tadi disebutkan oleh Benjamin. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Ia baru saja berniat berbalik dan menutup pintu ketika suara yang amat pelan terdengar oleh telinganya.


Verga mengernyit. Ia berdiri diam dan menajamkan telinga. Kembali suara itu terdengar lagi. Suara orang menangis, namun sangat pelan dan seperti tertahan.


Verga bergerak cepat ke arah sofa yang ada di sisi kiri ruangan.


"Bel!"Verga melihat istrinya meringkuk dibalik sandaran sofa panjang yang membelakangi arah pintu, karena itu tadi ia tidak melihatnya. Jika Belinda tidak bersuara, ia tadi mungkin sudah pergi.


Verga mengangkat kedua bahu Belinda dan segera memeluknya dalam dekapan.


"Ada apa!? Kenapa menangis? Katakan padaku?"


Belinda tidak menjawab. Airmatanya masih mengalir dengan isakan yang terdengar tertahan.


"Benjamin bilang kau sakit!" Verga meraba kening istrinya, lalu berpindah ke pipi, kiri dan kanan, kemudian leher. Memang teraba agak hangat, namun tidak demam.


"Bel ...ada apa?"


Belinda menggelengkan kepala, dengan lemah ia mengangkat tangan dan menghapus airmatanya yang tidak mau berhenti mengalir.


"Aku ... bisakah kau mengantarkan aku ke rumah sakit?"


"Rumah sakit!? Bagian mana yang sakit? Tunggu! Aku akan menelpon Juan. Ia akan menyiapkan mobil di pintu samping gedung saja," ucap Verga tergesa sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong.


"Tidak usah tergesa-g-gesa ... aku hanya mau memeriksa sesuatu. Aku ... tidak sakit." Belinda meremas kuat-kuat lengan atasnya, seolah menahan rasa nyeri amat sangat.


"Bel!"


Verga memeluk Belinda, ia menelpon Juan dan bersyukur pria itu segera mengangkat. Setelah memberi perintah agar menyiapkan mobil dan menyuruh Juan membisikkan pesan pada ayahnya agar menangani sisa acara itu. Verga menutup ponsel dan mulai menggendong Belinda.


"Sebenarnya ada apa? Dimana sakitnya?"


Belinda hanya diam, ia memberi waktu ketika Verga berusaha membuka pintu dengan sedikit kesulitan. Ia tidak berusaha membantu karena tubuhnya merasa sangat lemas. Belinda merintih dalam hati dan memejamkan mata.


Verga merasa lega ketika tiba di bagian samping gedung tanpa harus bertemu dengan siapapun. Ia bersyukur telah menjelajahi setiap tempat di bangunan tersebut ketika menyiapkan acara itu kemarin.


"Tuan ... Nyonya ke-" Ucapan Juan dibarengi dengan tangannya yang cekatan membuka pintu belakang mobil.


"Ke rumah sakit, Juan!"


"Baik, Tuan. Segera!" Juan menutup pintu dan segera masuk ke belakang kemudi. Ia mengendarai secepat yang ia bisa. Wajah pucat Nyonya Belinda terlihat mengkhawatirkan.


"Bel ... katakan, dimana sakitnya?"


Belinda merasakan hatinya mencelos, sesuatu yang ia rasakan di dalam perutnya membuat air matanya semakin deras mengalir. Bel tahu, namun tidak mau menerima kenyataan. Ia menggenggam tangan Verga dan meletakkannya di atas perut.


"Di sini, sakitnya di si-" Belinda seperti tercekik.


Verga terpaku, lalu menelan ludah, wajahnya jadi ikut pucat. Ia belum sempat membawa Belinda periksa ke dokter perihal keterlambatan siklus menstruasi wanita itu. Alat test yang rencananya mau mereka beli juga belum sempat terlaksana. Verga dan Bel baru menikmati masa pengantin baru yang terputus selama dua mingguan karena Bel melarikan diri, lalu pulang dan sibuk dengan perkenalan lingkungan baru dan juga hadiah kejutan.


"Semua akan baik-baik saja ...," bisik Verga pelan sambil mengecup puncak kepala Belinda. Ia menarik napas panjang dan berusaha ikut meyakinkan dirinya sendiri dengan kata-kata itu.


Pemeriksaan dan prosedur medis yang dilakukan pada Belinda terasa amat lama bagi Verga. Segera setelah seorang dokter memanggil namanya, ia dibawa masuk ke balik sebuah bilik periksa.


"Tuan Marchetti," sapa seorang dokter wanita sambil mengulurkan tangan. "Saya Tiffany. Dokter kandungan dan ginekolog yang menangani istri Anda."


"Ah, ya ...." Verga menyambut uluran tangan tersebut, lalu ia segera mendekat ke arah kepala Belinda yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kedua mata pasrah dan senyum kecil dipaksakan.


"Bel ... bagaimana perasaanmu?" tanya Verga setelah mendaratkan kecupan kecil di pipi istrinya.


Belinda terlihat menelan ludah, lalu melirik ke arah dokter Tiffany, seolah meminta wanita tersebut untuk menjelaskan pada Verga.


"Istri Anda baik-baik saja, Tuan Marchetti."


"Ah ... syukurlah ... mmm, apakah ...." Verga menunjuk ke arah Belinda, bingung mencari kata-kata yang tepat untuk bertanya. "Bel bilang jadwal bulanannya terlambat beberapa hari. Kami belum sempat periksa karena sedikit sibuk. Apakah ...."


Doktet Tiffany menggelengkan kepala perlahan. Ia memberikan senyum empati dan melirik Belinda dengan tatapan memberi semangat.


"Kami sudah melakukan serangkaian pemeriksaan pada Nyonya Belinda, Tuan. Beliau akan baik-baik saja, setelah nyeri yang dirasakannya hilang, ia bisa pulang dan beristirahat di rumah." Dokter tersebut memberikan tepukan penyemangat ke lutut Belinda yang berada di bawah selimut sebelum melanjutkan ucapannya. "Nyonya Belinda mengalami nyeri perut karena menstruasi, Tuan. Ia sudah terlambat beberapa hari dan merasakan nyeri kram yang terasa mengganggu di daerah perut bawah ...."


Verga tercenung dan kemudian menelan ludah. "Bel ... Bel tidak ha ...."


Belinda yang sejak tadi tidak bergerak segera melirik ke arah wajah suaminya ketika mendengar kalimat tersebut. Ia merasa nada Verga terdengar kecewa.


Verga menarik napas panjang, lalu sedetik kemudian ia tersenyum pada dokter tersebut. "Syukurlah. Dia kesakitan sepanjang perjalanan."


Tiffany mengangguk. "Kadang nyerinya memang terasa agak berat, Tuan. Namun, obat-obatan sudah kami berikan. Nyonya Belinda juga sudah merasa sakitnya telah berkurang. Bukan begitu, Nyonya?"


Belinda mengangguk lesu. Ia tidak berani menatap mata suaminya. Hal yang tertangkap mata dokter Tiffany dan membuat dokter tersebut paham.


"Saya mengetahui kalau Anda berdua belum lama menikah. Memiliki bayi dan merencanakan kehamilan mungkin adalah rencana Anda berdua berikutnya. Itu bukan hal mustahil, Anda berdua masih banyak kesempatan. Jika memerlukan konsultasi untuk merencanakan kehamilan, saya bisa membantu." Dokter Tiffany memberikan sebuah kartu nama yang segera diambil oleh Belinda.


Verga mengelus pelan rambut Bel yang ada di atas bantal. "Tentu. Sekarang yang terpenting, Bel baik-baik saja, Dokter. Terimakasih."


Dokter Tiffany menggangguk sebelum pamit dan berlalu untuk melanjutkan pekerjaaannya.


Belinda meremas bahan gaunnya dari bawah selimut. Ia tidak berani memandang wajah Verga yang telah menarik sebuah kursi dan duduk di sisi tempat tidur.


"Bel?"


"Ya?"


"Lihat aku."


Dengan terpaksa Belinda menoleh dan menatap ke arah wajah Verga.


"Sungguh kau baik-baik saja? Kau terlihat sedih."


Belinda memaksakan sebuah senyum di bibirnya. "Aku baik. Sungguh. Kau dengar sendiri yang dikatakan Dokter Tiffany. Nyerinya hampir hilang."


Verga menatap lama kedua bola mata istrinya sebelum kembali berucap," kau kecewa?"


Belinda tidak menjawab. Ia bukan hanya kecewa. Ketika pergi ke ruang istirahat untuk menyingkir dan meluapkan tangis, Belinda merasakan kesedihan mendalam karena teringat ibu dan masa lalunya. Namun, ketika nyeri mulai terasa di perut bawah dan sesuatu yang mengalir diantara kedua paha memberitahu Belinda bahwa perkiraannya selama beberapa hari ini salah dan harapannya tidak terkabul, kesedihan mendalam yang ia rasakan terasa jadi dua kali lipat.


Dokter Tiffany sudah memberitahu bahwa ini adalah menstruasi normal. Hanya terlambat beberapa hari. Ia sama sekali belum hamil. Bila Bel memikirkannya dengan seksama, di dalam hati ia mengakui ia memiliki harapan terlalu besar akan keinginan untuk memiliki anak. Sesuatu yang ia idam-idamkan hadir di perutnya sebagai pengikat yang sempurna untuk hubungannya dengan Verga.


"Harapan kita memang belum terkabul. Tapi Dokter Tiffany benar. Kita tergolong baru menikah, kurasa kita masih punya banyak waktu. Jadi jangan terlalu sedih."


Belinda merasakan telapak tangannya digenggam dengan erat. Ia menatap bola mata biru suaminya dan berusaha mencari tahu bagaimana sesungguhnya perasaan pria itu.


Berusaha sekali lagi menyunggingkan sebuah senyuman dan juga anggukan kepala, Belinda membalas genggaman tangan Verga dan menyadari satu hal yang berusaha ia kubur dalam-dalam dan tidak ia munculkan ke permukaan selama pernikahannya yang tergolong baru ini. Satu bulan lebih, belum lama dan masih tergolong sangat baru jika ia sedih atau berputus asa. Namun, Belinda menyadari ada satu perbedaan tentang malam dan kebersamaannya dengan Verga ketika berbagi gairah.


Perbedaan yang Belinda rasakan sebelum ia pergi melarikan diri dan setelah ia kembali.


Kuharap ini hanya pikiranku yang terlalu over dan sensitif ... tapi ... memang benar kau tak pernah mengatakannya lagi ... Di rumah pinggir pantai, saat merasakan penyatuan kita pertama kalinya. Hingga esok harinya, kau membisikkan kalau kau mencintaiku ... meski aku tahu kau mengatakannya karena dipengaruhi oleh gairah ... namun itu selalu teringat olehku. Namun setelah kebodohanku yang pergi meninggalkanmu, kita memang telah bersama lagi. Kau tetap penuh kasih sayang dan memang tidak pernah mengekangku. Namun, kusadari ... kau tidak pernah mengatakannya lagi ... meski dalam keadaan dikuasai gairah sekalipun ....


Belinda berbaring miring, mengarahkan tubuhnya ke arah Verga dan mengeratkan genggaman tangannya.


"Ada apa? Nyeri lagi?" tanya Verga, mengulurkan tangannya yang satu lagi untuk mengelus pinggang Belinda.


"Tidak. Sudah mulai menghilang. Tunggulah sebentar lagi ... kita pulang ...."


"Tidak usah buru-buru."


Belinda mengangguk, ia mengganti posisi tangannya memeluk lengan Verga yang tadi menggenggam tangannya. Tawa kecil keluar dari bibir pria itu.


"Aku tidak akan kemana-mana, Bel."


Belinda tidak menanggapi. Ia memejamkan mata dan bergeser ke pinggir, menempelkan pipinya ke lengan Verga. Seketika suara Athena menggema kembali di dalam kepalanya


"Keluarga Marchetti menginginkan pewaris ... mereka menyetujui perjodohan karena membutuhkan seorang istri untuk memberikan keturunan ... mereka hanya membutuhkan mesin pencetak bayi ...."


Mereka akan mendapatkannya! Aku akan memberikannya! Bila hal itu bisa membuatku tetap berada di samping Verga ....


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Halo Readers Belinda, semoga semuanya dalam keadaan sehat selalu ya. Untuk para pembaca yang belum upgrade versi terbaru Noveltoon dan Mangatoon, yuks diupdate dulu aplikasinya agar mendapatkan fitur maksimal dari aplikasi. Dan juga bagi yang telah mendukung novel Belinda, author mengucapkan terima kasih banyak. Voter yang terhitung di rank adalah vote versi terbaru ya, jadi mohon dukungannya dengan update aplikasi terbaru untuk dukung dengan vote, like, love, rate bintang lima dan ketik jejak kalian dengan berkomentar di kolom komentar.


Sekali lagi, terima kasih sudah mampir dan dukung novel Belinda ya.


Salam. DIANAZ.