
BAB 99. Keputusan.
Suasana luar Perusahaan Axton semakin ramai, para pencari berita masih terus bertahan di luar gedung. Sementara belum ada satu karyawan pun yang berangkat meski hari sudah mulai siang. Sesuai perintah Altan kemarin, seluruh karyawan hari ini diliburkan, karena kondisi luar perusahaan semakin dipadati para pencari berita.
Hampir seluruh channel televisi menyiarkan situasi buruk yang menimpa perusahaan Axton. Mereka akan terus bertahan demi mendapatkan klarifikasi dari Ansell maupun pemilik perusahaan.
Ansell duduk termenung di depan televisi menyaksikan berita live.
"Seburuk itukah kesalahanku? Para karyawan pun menjadi korbannya, mereka tidak bisa bekerja karena salahku. Dan nama baik perusahaan pun menjadi sasarannya."
"Jika aku tetap bertahan diam di sini seperti ini, semua masalah tidak akan terselesaikan. Baiklah….."
Demir yang memperhatikan sedari tadi, hanya bisa diam mematung di posisinya.
"Kak, ayo antar." Eilaria menarik tangan Demir.
Demir tersenyum, lalu memakai sepatunya dan keluar mengantar Eilaria ke sekolah seperti biasa dengan berjalan kaki.
Nenek Esme yang sedang berjalan pulang dari pasar berpapasan dengan para tetangga, sayup-sayup terdengar para tetangga bergosip mengenai pemberitaan yang sedang gencar di seluruh televisi.
"Sayang sekali ya… aku pikir putri keluarga Metin akan membawa dampak baik bagi wilayah sini…. Tapi malah sebaliknya,"
"Iya…. Aku juga tidak menyangka, kecantikannya malah justru digunakan untuk mengincar para pengusaha kaya saja,"
"Iya mending putriku, ...ya walau tidak sebanding dengan kecantikannya, tapi putriku tidak mencoreng nama baik keluarga dan ya…. Kalian tau sendiri lah,"
"Iya, … dulu aku sempat iri padanya, dia bisa mendapatkan pengusaha muda yang menjadi incaran para pebisnis. Tapi, ...dia justru menyelingkuhinya, menyedihkan."
"Ya mungkin karena pengusaha Fathur lebih kaya, jadi dia bisa berpaling bukan…. Apa sih yang menjadi incarannya, ...kalau bukan uang."
"Ih, memalukan!"
"Iya memalukan sekali, ya, kalau dia cerdik …. Harusnya dia pintar-pintar lah menyembunyikan, biar dapat uang lebih banyak."
"Benar,"
Para tetangga beramai menertawakan Ansell. Nenek Esme hanya bisa diam menahan sesak di dadanya, cucunya menjadi bahan pergunjingan para tetangga yang hanya tahu di luarnya saja. Nenek Esme kembali berjalan dengan menahan tangisnya.
"Nenek," Sefa menyapa saat berpapasan.
Nenek Esme segera mengusap matanya yang mulai berair. "Eh, Sefa…. Kau akan ke kafe?"
"Iya Nek, …mau beres-beres sebentar." Sefa memandang sang Nenek dengan intens, terlihat Nenek Esme sehabis menangis.
"Hati-hati."
"Iya Nek,"
Sefa kembali berjalan dan melewati para penggunjing. Sayup-sayup Sefa pun mendengar mereka bergunjing mengenai Ansell. Sefa menghela nafas, "sepertinya ini yang membuat Nenek Esme menangis tadi."
Sementara Ansell telah selesai berpakaian rapi, tujuannya ke luar ingin menemui Altan di rumahnya. Ansell menuruni tangga, dan melihat neneknya masuk ke rumah.
"Ansell, kau mau kemana?"
"Keluar sebentar, Nek." Ansell memakai sepatu flat nya.
"Kau ingin menemuinya?"
Ansell mengangguk sambil memakai jaket kulit hitam.
"Sebaiknya kau memberitahu Demir, biar Demir yang mengantarmu." Nenek khawatir, takut terjadi sesuatu di luar.
"Tidak perlu Nek, Ansell bisa sendiri." Ansell tersenyum dan membuka pintu lalu keluar.
"Semoga Tuhan selalu melindungimu, cucuku."
...----------------...
Altan menyandarkan tubuhnya, pikirannya berkecamuk antara percaya atau tidak pada semua berita. Bel pintu rumahnya berbunyi, tapi Altan tak menyadarinya.
Di luar pintu, Ansell menunggu. Ia terpaksa mengenakan jaket hitam, penutup kepala, masker dan kacamata. Agar ketika di luar tak ada yang mengenalinya. Karena lama menunggu di luar, Ansell memberanikan diri masuk ke dalam. Meski ia tahu, ini salah, namun demi kebaikan perusahaan Axton, Ansell akan melakukannya.
"Tuan," sapa Ansell saat tepat berada di belakang Altan yang sedang duduk sendiri termenung.
Altan menoleh, menyadari ada sapaan dari wanita yang ia pikirkan.
***
Di sebuah bangku taman panjang berwarna putih di tepi dermaga yang jauh dari keramaian. Dua insan duduk bersebelahan saling diam, tak ada satu suara pun yang memecah kesunyian selain deru mesin kapal dan gemercik air. Setelah hampir tiga puluh menit waktu terbuang karena saking diam, Ansell memutuskan bersuara. Ia tahu, Altan menunggu dirinya menjelaskan.
"Tuan, percayakah tuan pada saya?"
Altan diam dan pandangannya tetap pada laut lepas, "kenapa dia menanyakan ini? Apa yang ingin dia jelaskan."
Ansell menghela nafas, "maaf, jika karena kesalahan saya, nama baik tuan dan keluarga serta perusahaan menjadi tercemar…. Jika tuan percaya pada saya, maka tuan pasti akan menyetujui keputusan yang akan saya ambil. …"
"Apa maksudmu, keputusan apa?" Akhirnya Altan bersuara.
"Sebuah keputusan besar yang akan menyelamatkan semuanya,"
...----------------...
"Demir, kau sudah pulang." Nenek Esme berjalan mendekat Demir.
"Iya, ….kenapa?" Demir merasa curiga. Sefa muncul dari balik pintu setelah Demir masuk.
"Ansell keluar menemui Tuan Altan. ...sekarang lakukanlah tugasmu. Nenek takut, adikmu….."
Melihat kecemasan di wajah sang Nenek, Demir mengangguk. "Sefa, aku titip Nenek."
Setelah Sefa mengangguk, Semir segera keluar mencari Karim untuk meminjam mobilnya.
...----------------...
Ansell dan Altan duduk di lobi perusahaan yang telah diubah konsepnya, keduanya melakukan pertemuan pers dengan awak media untuk sebuah klarifikasi. Seluruh pencari berita sudah duduk teratur sesuai instruksi sari satpam perusahaan Axton yang telah memberikan informasi akan diadakannya klasifikasi.
"Terimakasih kami ucapkan kepada kalian semua para awak media yang bersedia teratur dan sopan dengan pers yang kami lakukan ini. … Saya Altan Yakuz selaku Presdir Axton ingin memberitahukan, bahwa Nona Ansell Metin bukan lagi sebagai bagian dari perusahaan kami…. Nona Ansell Metin telah mengundurkan diri dari satu minggu yang lalu, namun surat pengunduran dirinya kemarin masih dalam proses, dan hari ini Nona Ansell telah resmi keluar dari perusahaan,"
" … jadi jika ada permasalahan pribadi dari Nona Ansell, kami tidak bisa ikut campur karena Nona Ansell bukan lagi karyawan perusahaan ini, kami pun tidak ada aturan kewenangan untuk ikut campur dalam hal pribadi para karyawan."
"Jadi saya mohon, untuk para awak media dan pencari berita untuk berhenti menggali informasi melalui perusahaan ini. Karena perusahaan kami sedikit mengalami kendala karena pemberitaan yang kurang mengenakan… saya mohon maaf dan pengertiannya. …. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan tanyakan, hari ini yang bersangkutan pun akan mengklarifikasi mengenai seluruh pemberitaan yang membawa nama dirinya dan juga anak pebisnis besar keluarga Al Aziz."
"Agar tidak terjadi kesimpangsiuran pemberitaan, saya harap para awak media mendengar dengan seksama dan apabila ada pertanyaan, bertanyalah dengan kalimat sopan dan tidak menimbulkan konflik baru."
"Silahkan Nona Ansell," Altan memberikan mikrofon.
"Terimakasih. …. Maaf sebelumnya, karena kejadian ini nama baik perusahaan Axton terbawa…agar tidak berkelanjutan penyebaran berita yang membawa nama saya, nama keluarga Axton dan nama putra keluarga besar Al aziz . Saya ingin mengklarifikasi. Dan sebelumnya saya juga minta maaf kepada keluarga besar Al Aziz, karena pemberitaan ini, mungkin sangat resah dan marah kepada saya, saya minta maaf sekali lagi.."
"Saya hanya ingin memberitahukan bahwa memang benar saya berkunjung ke kediaman Fathur Al Aziz, itu karena saya diminta bergabung ke perusahaannya. Menang sedikit aneh jika di dengar… mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa tidak di perusahaan… kenapa di kediaman pribadinya….."
"Yang pertama, saya berkunjung ke kediaman pribadinya karena, saya dengan beliau adalah teman sewaktu SMA, dan sekaligus ingin menyatukan kembali tali silaturahmi pertemanan yang terputus karena beliau bersekolah di London.. bukan karena hal lain."
"Yang kedua, saya memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan Axton jauh hari sebelum ada masalah seperti ini. Jadi saya mohon untuk tidak mengaitkan dengan pembicaraan yang akan menimbulkan hal baru. …. Dan untuk masalah pribadi saya yang dikaitkan dengan presdir Altan Yakuz, itu masalah pribadi saya, dan mohon maaf saya tidak bisa menjelaskannya ke publik…. Jadi saya mohon kerja sama, untuk tidak membesar-besarkan masalah ini lagi."