
BAB 103. Penyesalan.
Hari ini Fathur memutuskan untuk tidak berangkat, ia fokus kepada kondisi sang Istri. Setelah semalaman berusaha membuat istrinya ingat kembali, sudah ada titik terang. Istrinya sedikit mengingat dirinya. Namun belum sepenuhnya. Karena perlu waktu saja dan kesabaran.
Hari ini, ia berniat membawa ke luar istrinya. Menikmati salju bersama, mengingat kenangan lama saat ia melamar Azizah di bawah derasnya salju yang jatuh. Fathur berusaha mengulang kembali waktu yang telah berlalu, berharap istrinya mengingat setiap momen indah yang telah dilewati.
Ansell berjalan masuk ke kediaman Fathur seperti biasa, Ansell merasa aneh. Suasana rumah tampak sepi, apakah seluruhnya libur? Untuk memastikan, Ansell berjalan masuk ke dalam, menuju kamar Shanum. Ansell lega, Shanum ternyata masih tertidur, sepertinya si cantik gembil ini merasakan kehangatan dari selimutnya.
Ansell berjalan mendekat, "Selamat pagi cantiknya Bibi."
Shanum tertawa cekikikan, ternyata Shanum menyadari kedatangan Ansell dan berpura-pura masih tertidur.
"Oh…. Shanum ternyata ngerjain Bibi ya, sini, sini…." Ansell menggelitik pinggang Shanum dan membuat Shanum tertawa lepas.
"Ampun, Bibi. Ampun." Keluh Shanum dalam tawanya.
Dari lantai bawah, Fathur mendengar putri cantiknya tertawa gembira. Ia membawa sang Istri menaiki lift agar tidak terlalu capek menaiki tangga.
"Sepertinya ramai sekali." Goda Fathur pada putrinya.
"Ayah…. Ibu…." Teriak gembira Shanum, Ansell menghentikan gelitiknya saat Shanum berlari ke Ayah dan Ibunya.
Senyum terukir di bibir Azizah. "Shanum." Suaranya serak nyaris tak terdengar.
Fathur menatap tak percaya pada Istrinya. "Sayang, …..coba ulangi lagi?"
"Ibu…." Shanum memeluk kaki ibunya.
"Shanum," ucap Azizah lagi masih dengan suara lemah dan serak.
"Terima Kasih Tuhan." Puji syukur Fathur.
...----------------...
"Altan, kita dengan para rekan bisnis Ilyas yang telah ia tipu berhasil menjebloskan Ilyas ke penjara."
"Ya, ...ia telah mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Benar, andai saja Ansell masih di sini."
Altan hanya menghela nafas menyikapi ucapan Riza.
"Sudahlah, ...kau jangan egois, ...temui dia, aku yakin apa yang kau dengar dari mata-matamu itu berbeda dari penjelasan Ansell saat nanti. … lebih baik kau menemuinya dan mencari kejelasannya, jangan seperti ini. Kau sama saja menyakiti hatimu sendiri."
"Untuk apa, percuma. Semua sudah jelas, mereka ada hubungan lagi."
"Ayolah, Altan. Sebelum kau menyesalinya."
Altan diam tak merespon sedikitpun.
"Ya sudah, terserah! Percuma berbicara dengan manusia batu sepertimu!" Geram Riza yang lalu berdiri dan keluar ruangan Altan dengan memendam amarah.
Sudah berkali-kali, berhari-hari, Riza berusaha menyadarkan Altan akan sifat egoisnya, tapi Altan tetaplah Altan.
...----------------...
"Shanum sayang, Ayah sama Ibu pergi dulu ya. Shanum baik-baik dan nurut sama Bibi Ansell ya."
"Iya, Ayah. Shanum nggak nakal kok,,Shanum nurut."
"Pintar," mengusap kepala Shanum lalu menatap Ansell, "titip Shanum sebentar ya, maaf selalu merepotkan."
Ansell tersenyum, "tidak apa-apa."
"Terimakasih." Azizah yang menjawab, membuat semuanya tercengang kaget.
Sesampainya di tempat tujuan, Fathur dan Azizah keluar dari dalam mobil. Seperti biasa, Fathur sekali mengenakan masker dan kacamata hitam. Untung saja masih musim salju, jadi tidak perlu mengenakan topi untuk menutupi diri.
Keduanya berjalan menuju sebuah resto kecil tapi mewah dan elegan. Resto pertama kali mereka bertemu, Fathur membawa sang Istri menuju ruang khusus yang telah ia pesan tadi. Ruang tersebut adalah ruangan pertama pertemuan mereka dahulu.
"Sayang, kau masih ingat tempat ini?"
Azizah diam, mengamati pemandangan yang terlihat dari dinding kaca, Fathur berdiri di belakangnya, ia pun ikut melihat suasana luar.
Dari atas, Fathur melihat Altan sedang berjalan menuju restoran ini, matanya berbinar. Fathur segera mengambil ponselnya dan menelpon Altan.
Beberapa menit kemudian.
"Maaf, mendadak mengajakmu bertemu." Sapa Fathur saat melihat Altan masuk ke ruangan yang telah ia pesan.
Altan bingung melihat seorang wanita bersama Fathur.
"Mari silahkan duduk."
Altan mengangguk dengan senyum meski hati dan pikirannya bertanya-tanya. "Siapa wanita yang sedang bersama Fathur, duduk di sebelahnya?"
Fathur bisa merasakan ada sebuah tanda tanya dalam hati Altan.
"Perkenalkan, ini Azizah, istriku."
Azizah tersenyum meski diam sedangkan Altan menatap tak percaya, "Tuan Fathur sudah beristri?"
Fathur tersenyum, senyum yang berkembang. "Ya, benar."
"Tapi, ...Ansell?
"Aku dan Ansell tidak ada hubungan apa apa kecuali persahabatan. Maaf, kalau sebelumnya tidak memberi tahu. Karena aku merasa belum waktunya, dan seperti yang kau tahu, aku jauh dari awak media…"
"Syukurlah, aku melihatmu. Ada sesuatu yang ingin ku jelaskan."
Altan hanya mengerutkan dahinya.
"Ansell selama ini berada di rumahku, dia menemani putriku. Karena putriku baru lima bulan ini berada di sini, dia sangat kesepian. Jadi aku meminta Ansell untuk menemaninya sampai istriku sadar dari koma."
"Koma?"
"Yah, ….dua tahun yang lalu, pasca melahirkan, istriku mengalami koma. Selama dua puluh bulan, aku membawa putriku ke London. Karena aku belum bisa mempercayai seseorang terkecuali keluargaku. Setelah dua puluh bulan, aku mendapat kabar dari dokter yang menjaga istriku selama ini. Jika istriku melakukan gerakan jari, aku sangat bahagia dan memutuskan membawa kembali putriku lalu mengenalkannya pada Azizah, istriku"
"Selama itu, putriku merasa senang, dia selalu menemani istriku, bercerita kesehariannya. Aku merasa sangat menyesal, kenapa aku harus memisahkan putriku dan istriku. Dan sekarang aku ingin menebus semua penyesalanku. Maka dari itu aku meminta bantuan Ansell untuk menemani putriku. ...aku bisa merasakan, meski putriku selalu ceria dan bercerita, tapi dia merindukan sosok seorang Ibu yang bisa menemaninya setiap waktu, mengajarkan banyak hal, tertawa, bercanda dan bermain bersama."
"Aku bahagia dan sangat bersyukur bisa mempunyai sahabat seperti Ansell, dia gadis yang sempurna.Ketulusannya dan juga kasih sayangnya, sangat jarang ditemukan. Kerja kerasnya dan rasa tanggung jawabnya sangat tinggi…… sekali lagi aku minta maaf, baru memberitahu alasannya padamu."
Altan tak mampu berucap sepatah kata pun. Ia keliru besar mengenai Ansell. Ia menyadari, sampai detik ini, dia belum bisa memahami Ansell.