
BAB 63. Sabotase.
Altan yang menyaksikan kepergian Ansell, berlari mengejarnya. Sementara Denis tersenyum bangga telah mengalahkan Ansell.
"Ansell, tunggu." Altan memanggilnya.
"Ansell berhenti, apa kau mau kita menjadi tontonan di sini jika kau tidak berhenti." Ucapnya lagi saat Ansell tak menghiraukan panggilannya.
Ansell terpaksa menghentikan langkah kakinya. Altan dengan segera menarik Ansell menjauh dari dalam ruangan menuju samping gedung.
"Ansell, aku minta maaf. Aku tahu aku salah, tapi itu semua tidak di sengaja. Aku mabuk."
Altan menjelaskan, tapi Ansell hanya diam sambil membiarkan pipinya di banjiri air mata.
"Ansell, aku mohon. Katakan sesuatu, jangan diam seperti ini." Altan sangat putus asa dan merasa bersalah.
"Apa lagi yang aku harus katakan saat ini, saat kau menghianatiku."
"Tapi itu aku sedang tidak sadar Ansell, aku bersumpah." Altan memegang tangan Ansel. "Waktu itu yang aku lihat adalah kamu, tapi ternyata saat setelah aku.... aku menciumnya." Altan tertunduk lemas.
"Itu bukan aku?" Sela Ansell dan Altan mengangguk masih tetap menundukan kepala.
"Entah itu disengaja atau tidak, kau telah menghancurkan perasaanku. Seharusnya kau mengatakan langsung padaku dan aku pasti bisa memaafkannya jika kau langsung jujur." Ansell memalingkan muka sejenak.
"Tapi ini lebih sakit, saat orang lain yang mengatakannya." Ansell mengibaskan tangannya sehingga pegangan Altan terlepas.
"Aku tahu Ansell, aku salah. Tolong maafkan aku." Altan menatap Ansell dengan penuh harap.
"Ansell." Panggil Feray.
Ansell dan Altan langsung menatap Feray.
"Ups... sorry, sepertinya salah waktu." Feray merasa tak enak hati saat melihat Ansell yang ternyata sedang menangis dan Altan dengan raut kecewa.
Ansell langsung menghapus air matanya. "Tidak, ada apa."
"Bibi Ivy mencarimu." Ucap Feray dengan canggung.
"Baik, aku akan ke sana." Jawab Ansell.
"Ansell." Panggil Altan lirih, tapi Ansell mengabaikannya dan pergi meninggalkannya.
...----------------...
Di perusahaan Faruk's Shoes. Ilyas sedang memproduksi besar-besaran produk sepatu terbaru yang akan diluncurkan. Dengan menggunakan jam kerja lembur pada seluruh karyawannya. Ilyas sudah berencana matang, besok akan mengadakan peluncuran perdana produk sabotasenya.
Karena Ilyas sudah mengantongi hak cipta penuh atas produk nya. Ilyas mengerahkan tim nya serta kuasa hukum dan orang bayarannya untuk mempercepat kepemilikan hak cipta, agar bisa langsung diluncurkan besok.
Ilyas juga sudah mendesain kartu undangan untuk para pebisnis agar dapat hadir dalam launching perdananya.
Dan perusahaan Axton adalah perusahaan pertama tujuanya.
"Aku pastikan akan membuat Axton hancur." Gumam Ilyas dengan senyum.
...----------------...
Acara Anniversary pernikahan Ivy da Osgur berlangsung meriah, Paman Osgur tidak jadi meninggalkan istrinya. Karena Ivy telah berjuang untuk membuktikan ketulusannya dan tidak akan semena-mena lagi pada Osgur.
Sesi pemotretan telah usai, para tamu undangan membubarkan diri. Begitu juga Ansell.
Altan yang melihat Ansell berjalan keluar, dengan langkah cepat mengejarnya dan menariknya masuk ke mobil.
"Ada apa lagi." Bentak Ansell saat sudah di dalam mobil dan Pak Husein keluar.
"Ansell, percayalah padaku. Aku tidak bermaksud melakukannya, aku menyesalinya." Altan memegang tangan Ansell.
"Entah aku bisa percaya lagi atau tidak, aku sendiri tidak tahu."
"Baiklah, mungkin kau butuh waktu. Sama sepertiku waktu itu, tapi aku mohon beri aku kesempatan." Altan tetap saja memohon, dengan menggenggam erat tangan Ansell.
Ansell menatap Altan, Altan sangat tulus dalam ucapannya membuat Ansell tak kuasa menolaknya. Ansell menganggukan kepala lemah, antara benar atau tidak keputusan yang saat ini di ambilnya.
"Terimakasih." Altan menarik Ansell dalam pelukannya.
"Terimakasih." Ucapnya lagi dan mengecup kening Ansell.
...----------------...
Keesokan paginya, suasana kantor nampak lenggang. Aktivitas tak terbilang padat, Ansell berjalan mengikuti Altan masuk ke ruang kerjanya. Namun saat akan memasuki ruangan Altan, Laura memanggilnya.
Ansell menoleh. "Ya, ada apa."
"Ini ada titipan, tapi saya tidak tahu isinya apa." Ucap Laura.
"Titipan dari siapa?" Tanya Ansell.
"Di situ tertulis dari perusahaan Faruk's"
"Untuk Mr Altan?" Tanya Ansell lagi.
Laura mengangguk. "Iya Nona."
"Baik, terimakasih Laura. Akan saya sampaikan." Ucap Ansell dan meninggalkan Laura lalu masuk ke ruangan Altan.
...----------------...
Di ruangan Riza, Riza merasa tak enak perasaannya. Kenapa sampai saat ini belum ada kabar mengenai kerjasama yang telah disepakati sepihak olehnya. Bahkan Riza bolak-balik terus melihat email, berharap ada email masuk dari Ilyas.
Laptop-nya berbunyi dan dengan gerak cepat Riza membuka email masuk nya. Betapa terkejutnya, saat mengetahui informasi dari pesan email-nya.
Riza terduduk lemas, seolah-olah dunia sedang menguburnya hidup-hidup.
Betapa tidak percayanya, dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh Ilyas.
Riza mengusap kasar wajahnya, dirinya bingung harus berbuat apa saat ini. Jika Altan mengetahuinya, bagaimana jadinya? Riza mulai stres dan frustasi.
...----------------...
"Ada apa tadi?" Tanya Altan.
Ansell menyodorkan amplop coklat yang tadi Laura berikan. "Ini ada titipan dari perusahaan Faruk's, tadi Laura yang memberikannya pada saya."
Altan menerimanya dan membuka isinya. Undangan launching perdana produk sepatu? Ini sepatu yang sedang digarap oleh perusahaan ku.
Altan mulai naik darah, tujuan utamanya adalah Jenny. Karena Jenny yang memegang hak untuk mengurus hak cipta.
Ansell yang melihat Altan berjalan cepat ke luar ruangan dengan raut kemarahan menjadi bingung.
"Kenapa dia?" Gumam Ansell.
Altan dengan tergesa-gesa berjalan cepat melewati banyak karyawannya membuat seluruh karyawan menjadi panik, seakan-akan masalah besar sedang terjadi di perusahaan saat ini.
Altan tanpa permisi masuk begitu saja ke ruangan Jenny dengan mendorong paksa pintu ruangan Jenny, membuat Jenny terlonjak kaget.
Jenny mulai panik saat melihat api kemarahan yang berkobar begitu dahsyat dalam diri sang presdir.
"Siapa yang membocorkan mengenai seluruh detail produk baru kita sampai ke titik hak cipta!." Altan berteriak dan menjatuhkan pukulan dengan keras ke meja kerja Jenny. "Katakan!"
Kepanikan Jenny sudah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, air mata mulai membanjiri wajahnya. Ketakutan akan terbongkarnya keterlibatannya mulai membuat nyali Jenny menciut seolah dirinya berubah menjadi liliput.
"S.saya t.tidak tahu Mr, s.saya bersumpah." Elaknya dengan gugup.
"Brengsek!" Kata-kata kasar dari mulut Altan itu keluar begitu saja membuat Jenny semakin frustasi, karena presdir tak pernah sama sekali mengatakan kata-kata kasar.
"Maafkan saya Mr, saya benar-benar tidak tahu." Elaknya lagi dan hampir setiap karyawan yang lewat depan ruangan Jenny atau pun di sekitar ruangan Jenny, mereka juga ikut merasakan kepanikan.
Karena hanya pernah sekali sang presdir marah besar seperti ini, dahulu, waktu perusahaan Faruk's menghianatinya. Atau jangan-jangan ini terjadi lagi? Begitulah opini-opini yang bertebaran di sekitar karyawan.
Altan keluar dari ruangan Jenny menuju ruangan Riza, Jenny yang panik pun mengikutinya dan Yaza serta Ismet yang mendengar keributan di ruangan Jenny juga bergegas mengikuti presdir ke ruangan Riza.
Sesampainya di depan ruangan Riza, Altan langsung mendorong paksa pintu kerja ruangan Riza. Riza yang sedang tertunduk lemas berubah menjadi panik.
"Riza, kenapa ini? Kau pasti tahu masalahnya bukan, katakan." Altan berteriak dan tak bisa mengontrol emosinya sendiri.
Pikirannya sedang kacau, ini kali keduanya Altan merasa terkhianati oleh Ilyas. Sedangkan Yaza dan Ismet menjadi benar sangat takut dan keduanya saling berpegangan satu sama lain berusaha saling menguatkan saat melihat presdir-nya semarah ini.
"Cepat katakan Riza, beri aku penjelasan." Teriaknya lagi saat Riza tetap diam.
"Maaf." Ucapnya lirih dengan penuh penyesalan. "Aku yang membocorkan semua ini pada Ilyas."
Riza mengakui dan membuat semua orang terkejut.
"Apah!" Ucapnya bersamaan.
Jenny benar-benar tidak percaya, ternyata yang dimaksud Ilyas sebagai kambing hitam adalah Riza. Ilyas benar sangat gila, semua ini sudah dipikirkan matang-matang.