Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 35. Rencana Besar Jenny.



BAB 35. Rencana Besar Jenny.


Ansell berdiri di luar pusat perbelanjaan yang terbilang megah. Sedangkan Jenny dan Clara masuk berdua. Ansell menghela nafas lelahnya, hampir dua jam menunggu di luar. Ansell menelpon Karim untuk membantunya karena sedari tadi tak ada balasan dari Karim.


"Hallo...maaf Ansell aku sedang sibuk tadi, jadi tak bisa membalas pesanmu."


"Ya sudah tak masalah...bisakah kau membantuku?"


"Iya akan aku usahakan, kau tinggal mengirim saja lokasimu berada di mana. Nanti aku menyusul."


"Baik, terimakasih Karim." Ansell segera mematikan ponselnya saat Jenny sedang berjalan ke arahnya.


Jenny bertanya. "Siapa yang kau telpon?"


"Kakakku." Ansell berbohong.


Jenny tersenyum sinis dan memberikan barang belanjaan kepada Ansell. Ansell menatap tak percaya, apa maksudnya ini?


"Kau tidak lihat, cepat bawa." Jenny menyuruh Ansell membawa seluruh barang belanjaan.


"Apa-apaan ini." Ansell berusaha menolak.


"Kau ini. Kau itu bersamaku untuk membantuku bukan, aku juga sudah memintanya pada Mr Altan dan dia menyetujui kau akan menemaniku." Jenny memaksa.


"Tapi...."


"Sudah cepat bawa, jangan membuang-buang waktu." Jenny langsung saja memotong ucapan Ansell dan memberikan paksa barang belanjaan ke tangan Ansell. Mau tidak mau Ansell menerimanya. Dan berjalan mengekori Jenny dan Clara yang sepertinya sedang menertawakannya.


Sesampainya di dalam mobil, Pak supir bertanya. "Kita mau ke mana lagi Nona?"


"Kita kembali ke perusahan sebentar." Jenny menjawab dari kursi penumpang belakang, Ansell merasa lega bisa kembali ke perusahaan walaupun hanya sebentar.


Ansell mengetikan pesan singkat kepada Karim bahwa dia akan kembali ke perusahaan, dan mengirim alamat lokasi perusahaan.


Sesampainya di area parkir, Ansell dan Clara menunggu di dalam mobil bersama Pak supir. Ansell melihat sekitar untuk mencari keberadaan Karim. Sepertinya Karim sudah sampai, Ansell dapat melihat dari kejauhan. Karim sedang mendudukan diri di bagian depan mobilnya.


Tak selang lama, Jenny keluar. Karim memandang Jenny yang sedang berjalan dengan tatapan kagum. Jenny melihat sekilas Karim dengan raut wajah bingung. Tapi Jenny melewati karim begitu saja, dan Karim tersenyum.


Jenny membalasnya dengan senyum samar, saat sudah menjauh dari Karim. Jenny membuka pintu mobil tapi masih tetap memandang Karim. Lalu Jenny masuk ke mobil.


"Mrs, kenapa?" Clara bertanya saat melihat air muka Jenny yang terbilang aneh.


"Tidak kenapa-kenapa." Jenny menghela nafas mengatasi kecanggungannya. Dan Ansell tersenyum melihat Jenny seperti itu, Karim berhasil menjalankan rencananya.


Pak supir bertanya. "Kita mau ke mana lagi Nona?"


"Ke pusat perbelanjaan yang lain. Masih banyak yang harus dibeli." Jenny merapikan kembali pakaiannya dan menatap Ansell yang terlihat tersenyum dari kaca spion dalam.


"Dia menertawakanku, lihat saja apa yang akan aku perbuat setelah ini." 


...----------------...


Yaza menemui Nyonya Ivy ke kediamannya untuk membicarakan sesuatu mengenai Jenny.


Yaza mengetuk pintu rumah Nyonya Ivy dan tak selang lama Nur membukakan nya.


"Mr Yaza." Nur memberi salam hormat. Dan Yaza membalasnya.


"Apa Nyonya Ivy ada?"


"Ada, mari Mr masuk." Nur mempersilahkan Yaza masuk dan menuntun ke halaman belakang untuk bertemu dengan majikannya.


Yaza melihat Nyonya Ivy sedang berjemur sambil mengenakan kacamata hitam dan berbaring di kursi panjang. Yaza berjalan mendekat.


"Nyonya." Yaza menyapa dan Nyonya Ivy masih tetap menatap langit sambil menggerakan tangan untuk menyuruh Yaza duduk.


"Ada berita apa yang membuatmu kemari?" Nyonya Ivy bertanya.


"Masalah Jenny, Nyonya."


"Jenny?" Nyonya Ivy langsung duduk saat mendengar nama Jenny disebut. "Apa ulahnya lagi?"


"Maksudmu?" Nyonya Ivy terlihat bingung atas maksud ucapan Yaza.


"Begini Nyonya. Tempo hari kami merencanakan untuk acara pemotretan produk terbaru perusahaan. Dan saya sudah mencari modelnya tetapi tiba-tiba dua hari sebelum penandatanganan dokumen, Jenny merubah modelnya dan saya harus diam tak boleh memberitahu pada Mr Presdir." Yaza menjelaskan dan Nyonya Ivy menatapnya penuh kemarahan.


"Memang siapa modelnya?"


"Ansell, Nyonya." Jawab Yaza lirih karena takut melihat ekspresi Nyonya Ivy.


"Bagaimana bisa kau tak memberitahuku dari awal." Nyonya Ivy berteriak membuat Yaza semakin takut.


"Maaf, Nyonya." Ucapnya sangat lirih.


"Kau tahu, kalau sampai Altan mengetahuinya. Kau bisa terkena surat peringatan, atau bahkan kau bisa langsung dipecat." Nafas Nyonya Ivy naik turun menahan emosi.


"Maka dari itu saya kemari meminta bantuan Nyonya." Suara Yaza nyaris tak terdengar.


"Kau ini membuat masalah saja. Aku tidak mau membantu, bisa-bisa rencana awalku gagal kalau sampai Altan tahu aku terlibat di dalamnya." Nyonya Ivy menolak membantu Yaza dan berbaring kembali untuk berjemur.


"Ayolah, Nyonya. Saya mohon, kalau sampai saya dipecat siapa yang akan membantu Nyonya mempublikasikan hubungan Mr Presdir dan Nona Ansell?" Yaza menggunakan otak cerdiknya agar Nyonya Ivy bersedia membantunya.


Nyonya Ivy berpikir, benar juga yang dikatakan Yaza. Tapi jangan sampai Altan curiga kepadaku.


"Baiklah. Tapi jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi, kalau sampai kau tidak memberitahuku di awal. Aku tak mau membantumu lagi, dan kerja sama kita akan aku akhiri."


Yaza menelan ludahnya kasar mendengar ancaman Nyonya Ivy.


"Kay harus terus mewaspadai Jenny, kalau sampai kau ketahuan Altan. Kau harus langsung menyeret nama Jenny, agar dia merasakan hal terpahit atas rencananya. Kau paham." Nyonya Ivy menggeretak Yaza.


"Paham Nyonya." Jawab Yaza yang spontan langsung berdiri.


...----------------...


Riza menemui Altan ke ruangannya untuk mengetahui keadaan Ansell di luar.


"Bagaimana, apa Ansell memberimu kabar hari ini?" Riza langsung saja masuk dan berjalan mendekat Altan.


Altan yang tadinya sedang melihat hasil pemotretan kemarin sontak memandang Riza.


"Belum." Jawabnya malas.


Kenapa dia sangat mengkhawatirkan Ansell, Ansell saja terlihat baik tadi pagi waktu berangkat bersama Jenny. Dia ini membuatku terpancing api cemburu. Apa dia sengaja ingin membuatku marah. Hhhh. Altan menghela nafas.


"Kau ini bagaimana, seharusnya kau lebih memperhatikan Ansell. Setidaknya memahaminya sedikit saja, kalau kau memang mencintainya."


Riza nampak geram kepada sahabatnya yang terlalu tak peduli kepada orang lain. Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri dan pekerjaannya. Tak ada sedikitpun pengertian dan kelembutan untuk wanitanya.


Altan hanya menatap sekilas Riza yang sedang menatapnya tajam. Kemudian Altan kembali fokus pada layar laptopnya.


Hasil pemotretan yang sangat bagus, tapi kenapa tak menampakan kepala modelnya? Seluruh gambar hanya menampakkan bagian bahu ke bawah. Sedikit aneh tak seperti biasanya.


"Altan, kau mendengarkanku tidak?" Riza menjadi berteriak karena sedari tadi Altan tak menanggapinya.


"Kau ini bisa sopan tidak. Aku ini pemimpin di sini, kenapa kau berteriak padaku." Altan berdiri dan menjatuhkan telapak tangannya dengan sangat keras ke atas meja kerjanya.


Riza sontak terkejut. "Kalau kau tidak mengkhawatirkan Ansell, jangan salahkan aku kalau aku peduli padanya." Riza mengancam Altan.


Altan benar-benar sudah geram terhadap Riza dan seluruh kelakuannya. Jangan karena dia sahabatku bisa seenaknya sendiri mengatur hidupku. Altan masih berdiri dan menatap Riza penuh kemarahan.


"Baiklah, percuma berbicara pada orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, hanya buang-buang waktu. Aku yang akan menghubungi Ansell langsung dan menanyakan keadaannya saat ini."


Riza berbalik dan berjalan keluar ruangan Altan dengan memendam emosi. Dan menutup pintunya dengan sangat kasar.


Altan menghela nafas dan duduk kembali lalu menatap layar monitor laptopnya. Bukan untuk memikirkan kembali semua keanehan pada hasil pemotretan, tapi memikirkan sikap dan sifat Riza kalau  berhubungan dengan Ansell.


...----------------...


Ansell masih harus terus mengikuti setiap langkah Jenny dan Clara serta membawakan seluruh barang belanjaan. Ansell benar sangat marah, kenapa bisa diperlakukan seperti ini.