Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Kecemasan.



"Ada apa?"


"Apa Kak Yakuz datang lagi tadi?"


"Ya, tentu saja!" Jawab Ivy dengan sangat emosi.


"Apa katanya?"


"Waktu kita tinggal 2 bulan lagi. Kalau dalam 2 bulan Altan belum juga menikah....." Ivy memberi isyarat tangan yang menebas leher.


Osgur duduk lemas. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Kau sudah memberitahu Altan belum."


"Belum."


"Bagaimana kau ini!" Memukul suaminya.


"Bukankah sudah ku katakan! Bujuk Altan agar segera datang menemui Kak Yakuz secepatnya."


"Tapi jika Kak Yakuz tahu tentang Ansell bagaimana?" Osgur naik darah.


"Bukankah sudah ku katakan! Beritahu mereka jika akan menemui Kak Yakuz, mereka harus memberi jawaban yang sama saat di beri pertanyaan memojok."


"Aku tidak yakin. Kau tahu sendiri bukan, Altan seperti apa. Dia tidak mungkin mau di atur jika menyangkut hal pribadi."


"Bahkan saat tadi aku memberinya nasihat agar mempertimbangkan kembali Riza, dia hanya diam."


"Mempertimbangkan kembali Riza?" Ivy duduk di samping suaminya.


"Ya, adikku memberikan surat pengunduran diri."


"Apah!"


"Bagaimana bisa?"


"Adikmu benar-benar....... membuat suasana semakin membelit."


"Makanya! Jangan buat aku semakin stres!"


"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"


Ivy memukul keningnya sendiri. "Ya Tuhan!"


"Apa kita dekatkan saja Altan dengan Deniz?"


"Deniz?"


"Hei! Pikiran gila apa itu. Sudah jelas-jelas Altan tidak mau."


"Darimama kau tahu? Kita belum mencobanya bukan?"


"Lagi pula Kak Yakuz sudah tahu dan mengenal Deniz lama. Deniz dari keluarga berada dan terpandang, itu cukup mudah bukan."


"Heeellloooo!"


"Coba pakai otak kananmu!"


"Kalau Altan mau, dia sudah lama melamar Deniz. Dia juga akan memperkenalkannya ke publik. Tapi kau lihat bukan, justru Altan memperkenalkan Ansell sebagai kekasihnya dahulu."


"Meski itu hanya kebohongan, dan kita mengambil keuntungan dari itu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan. 2 bulan itu singkat, belum lagi acara melamar."


"Setelah itu kita juga harus mempersiapkan jauh-jauh hari acara pernikahan Altan."


"Tapi sampai sekarang Altan belum pernah membawa Ansell menemui ayahnya."


"Habislah kita." Osgur menundukan kepala pasrah, ini seperti bumerang bagi dirinya dan istrinya.


"Bantu berpikir! Jangan hanya bertanya dan memojokkan!"


 


...----------------...


"Ansell, apa Altan akan datang?" Tanya Sefa sambil merapikan piring-piring yang akan di gunakan untuk acara satu jam lagi, acara bahagia yang ia nanti sekian lama.


"Entahlah. Tadi bilangnya akan ke sini jika tidak ada kepentingan." Jawabnya sambil mengetik pesan pada Altan, tetapi sedari tadi belum ada balasan dan membuat Ansell kecewa.


"Sepertinya dia sangat sibuk."


"Entah...."


"Seperti apa Altan?"


"Maksudnya?" Membantu menata beberapa kue di atas piring.


"Ya, apa dia benar-benar tampan... seperti yang di televisi itu."


Ansell berpikir. "Biasa saja."


"Halllahhh.... bohong!"


Menggoda Ansell dan menatap layar ponsel Ansell.


"Belum ada balasan?"


Ansell menggeleng.


"Coba kau telfon."


...----------------...


Sementara di rumah Altan, Altan yang sedang membuat sketsa gambar diri Ansell dikagetkan dengan suara bell rumahnya. Altan pun menutup buku karyanya yang seluruhnya berisi sketsa gambar wajah Ansell, lalu beranjak dan membukakan pintu.


"Deniz?"


Deniz tersenyum. "Boleh masuk?"


Denis duduk di sofa yang mejanya  berisi kertas-kerta gambar sketsa sepatu, syal, dress dan asesoris wanita.


"Kau masih tetap sama seperti dahulu Altan, selalu mengisi kekosonganmu dengan menggambar."


Altan tersenyum. "Mau teh?" Mengalihkan topik.


"Boleh."


Altan beranjak ke dapur sementara Denis mengambil hasil-hasil coretan tangan Altan. Gambar-gambar yang sangat indah. Senyumnya melebar. Tak ada yang berbeda dari Altan, dari dahulu jika sedang ada waktu luang pasti digunakan untuk menggambar. Itulah daya tarik lain yang membuat Deniz sangat mengagumi Altan. Ia berbeda dari  laki-laki di luaran. Mereka akan asyik bersenang-senang saat selesai dengan pekerjaan yang membuatnya sangat lelah.


Sebuah buku tebal dengan cover klasik membuat Deniz penasaran, buku tersebut berada di bagian bawah tertumpuk kertas-kertas hasil coretan tangan yang lain. Mata Deniz melebar tak terhingga. Betapa terkejutnya saat membuka buku tersebut, lembar demi lembar membuat dadanya sakit bukan main. Seluruhnya berisi gambar Ansell tanpa terkecuali. Tertulis tanggal dan hari, serta kata-kata indah penuh makna kekaguman.


Deniz memucat tak dapat berkata-kata. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia kalah.


Suara langkah Altan menyadarkannya, Deniz segera menutup bukunya dan mengembalikan sesuai posisi semula.


"Ya, Ansell." Jawab Altan saat menerima telefon dari Ansell saat setelah meletakan teh untuk Deniz. Deniz hanya menatap saat Altan menerima panggilan dan berdiri sedikit menjauh dari dirinya.


Mendengarkan...


"Astaga... maaf Ansell, saya lupa."


Mendengarkan....


"Maaf..." kata terakhir saat ponselnya dimatikan sepihak oleh Ansell, Altanpun menghela nafas. Kembali duduk.


"Apa Ansell marah?"


 


Altan tak menjawab namun memberikan senyum.


"Sepertinya aku menganggu, sebaiknya aku pulang."


...----------------...


"Bagaimana bisa dia lupa!" Ungkapan kekecewaan Ansell.


"Tenang Ansell.... maklumi saja."


"Apanya yang dimaklumi!"


"Apa kau tahu, baru tadi siang dia berkata kalau malam ini dia datang, dia akan memperkenalkan dirinya pada Nenek, Kaka dan ibumu. Tapi lihatlah, bohong!"


"Sabar Ansell."


"Kurang sabar bagaimana lagi, apa selamanya akan diam-diam seperti ini tanpa kepastian."


"Waooww.... kau sangat mencintainya rupanya, sampai barharap begitu." Goda Sefa.


"Sefa!" Panggil sang Ibu.


"Ayo cepat. Kakak dan nenekmu sudah datang." Sefa membawa nampan berisi tiga piring kue dan makanan ringan. Sementara Ansell membawa nampan berisi minuman.


"Maaf sedikit telat."  Ucap Nenek Esme.


"Tidak apa-apa, silahkan diminum."


Demir menatap Sefa dengan wajah tegang. Degub jantungnya tak beraturan, ini adalah waktu dimana hubungannya akan di pertaruhkan. Jika ia mendapat restu maka hubungannya akan berlanjut, namun jika tidak, itu berarti?


Sefa hanya memberi isyarat telapak tangan di pangkuan melebar, yang artinya harus tenang.


Nenek Esme memberi kode pada Ansell agar Demir memulai pembicaraan maksud awal kedatangannya, meskipun ibunya Sefa pasti sudah tahu. Ansell mengangguk dan menyenggol lengan Demir dengan sikunya. Demir menatap Ansell lalu beralih menatap ibunya Sefa.


"Maaf sebelumnya, maksud kedatangan saya kemari bersama Nenek dan Adik-adik saya adalah untuk melamar Sefa. Jadi...." Demir menatap ibunya Sefa ragu.


"Apakah lamaran saya diterima?"


Ibunya Sefa menatap lekat Demir dengan tatapan seakan membunuh, membuat Demir menghela nafas.


"Apa kau siap menghidupi dan mencukupi bahkan kalau bisa melebihi?"


Demir mengangguk. "Siap, dengan segala kemampuan saya. Saya akan berusaha membahagiakan Sefa dan mencukupinya kelak."


"Tapi sepertinya tidak bisa, kau tidak bisa mencukupi Sefa."


Bak tamparan keras ucapan calon ibu mertuanya. Membuat Demir pasrah, sudah di pastikan akhir dari cintanya tanpa restu. Begitu juga Ansell dan sang Nenek serta Sefa, lemas mendengar jawaban ibunya Sefa.


"Terkecuali jika kafe itu kalian kembangkan bersama."


"Ibu merestui kalian dan menerima lamaranmu untuk putri Ibu."


Mata Demir membulat dan tersenyum.


"Kaka." Peluk Ansell pada Demir. "Selamat."


Demir memeluk erat Ansell, ia merasa sangat bahagia karena perjuangannya tak sia-sia.


"Terimakasih Bu." Demir beralih menyalami ibunya Sefa dan lalu memeluk Sefa kemudian menyalami sang Nenek. "Nek."


"Nenek bahagia, Nenek bisa mengantarkanmu menuju hari bahagiamu. Semoga Nenek selalu di beri kesehatan agar bisa melihat cucu-cucu Nenek berumah tangga."


"Ingat pesan Nenek selalu, bahagiakan Sefa dan muliakan dia. Sebab rezeqi mu melalui kebahagiaannya."


"Jadilah pemimpin rumahtangga yang adil dan melindungi."


"Iy Nek, Demir akan berusaha. Terimakasih, tanpa kalian Demir tak ada arti apa-apa."


"Ei." Peluk Demir. Ei pun membalas dengan memeluknya erat.


"Ansell." Peluk Demir kembali. "Terimakasih banyak, Kakak berhutang budi padamu. Maafkan Kakak yang selalu menyusahkanmu."


"Kakak. Kaka bicara apa si." Pukul Ansell dengan tawa dan air mata bahagia.


"Sefa, sahabatku. Selamat, sebentar lagi kau akan menjadi Kakak Iparku." Peluk Ansell.