
BAB 11. Jangan Berharap Lebih Ansell.
"Ada perlu apa Nona?"
Suara lembut dari pria tua terdengar dari belakang Ansell. Ansell menghadap sumber suara.
"Maaf, saya sekretaris pribadi Tuan Altan Yakuz."
"Saya diperintahkan untuk mengambil pesanan dari Tuan Altan."
Tutur Ansell penuh hormat kepada sang Baba.
"Ohh... ya sebentar."
Baba Mehmet berjalan mengambil box besar berisi sepatu wanita Ankle strap dengan corak seperti kulit harimau. Lalu memberikannya ke Ansell.
"Ohh ya... Nona siapa namamu?"
Ansell tersenyum ramah. " Saya Ansell."
Baba Mehmet mengangguk paham dan tersenyum ramah.
"Ternyata singa kecilmu sudah menemukan seorang gadis manis yang dianggap serius, Yakuz sahabatku. Selamat."
"Baba, saya permisi. Terimakasih."
Ansell berpamitan sambil membungkuk hormat kepada Baba Mehmet.
...----------------...
Ansell masuk ke kamar pribadi Tuan Altan. Mencari Tuxedo warna hitam yang sudah dikemas rapi satu paket.
Dilihatnya ruangan yang tertata rapi. Barisan pakaian juga tertata rapi. Disentuhnya setiap barang Tuan Altan saat Ansell melewatinya. Ini kali pertamanya Ansell masuk ke kamar pribadi Tuan Altan.
Aroma maskulin tubuh sang presdir tercium jelas di seluruh penjuru kamarnya. Diambilnya pakaian yang terbungkus dalam gantungan, dibukanya sedikit. Benar ini yang dipesan.
...----------------...
Nyonya Ivy mendapatkan kiriman video dari mata-matanya. Namun tidak lengkap. Di situ menayangkan adegan di mana Altan dan Ansell sedang berpelukan, kemudian Altan menyentuh dagu Ansell dan mengangkatnya. Altan dan Ansell saling pandang. Lalu Altan mendekatkan mukanya. Video itu berakhir.
Nyonya Ivy sangat gembira, kemudian menelpon sang suami untuk cepat pulang.
Beberapa saat kemudian...
"Ada apa kau memintaku pulang?" Tanya Tuan Osgur.
Nyonya Ivy langsung mengambil ponselnya dan menunjukan vidio kiriman dari mata-matanya.
"Sudah jelaskan rencana kita akan berhasil." Dengan sangat percaya diri Nyonya Ivy berucap.
"Ayo sekarang kita temui kak Yakuz."
Dengan riang gembira Nyonya Ivy menunggu sang kakak di ruang makan. Para pelayan Tuan Yakuz menyajikan makanan.
Tuan Yakuz datang dan duduk di kursi utama. Lalu mengambil makanan sedikit, sambil bertanya.
"Ada berita apa kalian menemuiku."
"Ah.. kakak selalu saja tanpa basa-basi bertanya."
"Memang saya ini bukan tipe orang yang suka basa-basi."
Tuan Osgur dan Nyonya Ivy tersenyum kecut.
"Kami kesini ingin mengatakan kalau sekarang anak kesayangan kakak telah jatuh hati pada seorang gadis."
"Betul Tuan, yang dikatakan istriku." Tuan Osgur membela.
Tuan Yakuz masih belum sepenuhnya percaya. "Awas kalau kalian membodohiku!"
...----------------...
Saat Ansell hendak keluar dari kamar Tuan Altan. Ansell melihat sebuah foto dalam frame unik. Tergambar seorang wanita cantik dan anggun, berambut indah, tersenyum ceria. Di sampingnya seorang anak laki-laki yang tampan rupawan, tersenyum bahagia.
Ansell duduk di atas tempat tidur Tuan Altan. Diusapnya wajah tampan rupawan sang anak kecil yang sedang tersenyum bahagia dalam foto.
"Aku tidak pernah melihat Tuan Altan tersenyum seperti ini."
Lamunan Ansell menghilang seketika saat panggilan masuk menggetarkan tas kecil yang dibawanya.
"Ya Tuan."
Mendengarkan...
Ansell berdiri dan meletakan foto tersebut pada tempatnya. Dan pergi keluar.
Setengah jam kemudian...
"Lama sekali!" Bentak Tuan Altan saat melihat Ansell masuk ke ruangannya
"Haduh…. aku kan masih betah di kamarmu. Ehhh….Ansell, kenapa pikiranmu liar!.
"Maaf Tuan. Ini boxnya diletakan di mana?"
"Lemari kecil itu." Sambil menunjuk dengan ekor matanya.
Ansell berjalan, lalu berjongkok dan memasukan box ke dalam lemari. Kemudian menggantungkan Tuxedo lengkap di gantungan khusus.
Tuan Altan melepas kemejanya dengan bebas. Ansell sontak kaget saat melihat Tuan Altan bertelanjang dada. Ini kali keduanya melihat dada bidang dari sang presdir.
"Apa-apaan ini. Dia seenaknya saja melepas pakaiannya, tidak tau apa kalau di ruangan ini cuma ada aku dan dia. Tidak tau malu!"
Pintu ruangan presdir terbuka.
"Upss..... sorry salah waktu lagi."
Ucap canggung Mr Riza saat melihat di dalam ruangan hanya ada Ansell,sedangkan Altan yang sedang bertelanjang dada.
"Ansell tolong ambilkan kemeja putih itu."
"Baik Tuan."
Ansell segera mengambil kemeja dan memberikannya ke Tuan Alta tanpa memandangnya.
Mr Riza masih mematung di pintu masuk sambil melihat interaksi keduanya. Terlihat Ansell mengambilkan Tuxedo dan mengenakannya ke Altan.
"Saya permisi dulu, saya tunggu di lokasi." Mr Riza pergi setelah berpamitan.
"Sekarang pergilah berganti gaun, saya tunggu di sini."
Saat Ansell akan melangkah keluar, dari arah luar masuk tiga orang ahli rias. Membuat Ansell bingung.
"Maaf Mr Presdir, kami ditugaskan Nyonya Ivy untuk membantu Nona Ansell berdandan." Ucap ketua perias.
Altan mengangguk mengerti. Kemudian melangkah keluar ruangannya sendiri, dan membiarkan mereka mem Make over Ansell..
Tuan Altan berkali-kali menghembuskan nafas lelahnya. Hampir satu setengah jam Ansell belum juga keluar, tamaran senja sudah muncul. Tuan Altan berdiri bersandar di jendela kaca, dilihatnya warna tamaran senja yang begitu indah.
Angannya berkelana. Wajah perempuan yang selalu tersenyum penuh kegembiraan. Perempuan yang selalu ada dan membuatnya tersenyum ceria. Yang selalu bercerita tentang hal indah dan lucu. Senyum ceria itu masih begitu nyata dalam ingatan Altan.
Senyum itu.......
Ansell sekarang muncul dalam lamunan Altan secara tiba-tiba. Senyum yang sama dengan perempuan yang sangat berarti dalam hidup Altan. "Kenapa? . Kenapa gadis itu mempunyai senyum yang sama?"
Pintu ruangan presdir terbuka, Altan masih berada dalam lamunannya. Sudah tiga kali ketua perias memanggil Tuan Altan. Tapi Tuan Altan tak bergeming dari pandangan yang memandang tamaran senja yang kini sudah mulai menghilang.
"Mr Presdir." Panggilan ke empat dari sang ketua perias membuat Tuan Altan tersentak.
Dipandangnya Ansell dengan seksama. Begitu cantik jelita dan anggun. Dengan balutan gaun party berwarna violet menyala tanpa lengan. Gaun panjang yang sangat pas di tubuhnya yang seputih susu. Rambut yang di cemplon tinggi menyisakan anak rambut di atas telinganya yang dibuat berikal. Menunjukan leher panjang yang sangat indah dengan aksesoris kalung kecil.
Gadis yang semakin kesini semakin terlihat nyata mirip dengan perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya. "Ya... Tuhan ada apa dengan hatiku ini?"
" Tuan!"
Pekikan Ansell membuat Altan tersadar dari lamunannya.
" Ayo." Altan meraih tangan Ansell untuk berjalan bersamanya. Entah insting apa yang membuat Altan langsung mengajak Ansell.
Membuat para perias membulatkan mata terkejutnya. Berarti gosip yang beredar luas itu fakta nyata. Bukan dibuat-buat. Sang presdir yang selalu terlihat pendiam bisa berubah seperti itu.
Beberapa saat kemudian....
Sampailah Tuan Altan dan Ansell ke area party. Mereka tetap saling bergandengan tangan, membuat para tamu menatap ke arah mereka dengan penuh kekaguman.
Gadis manis yang begitu anggun dipasangkan dengan sang Presdir yang tampan rupawan. Sungguh pasangan yang sempurna.
Namun tidak bagi Jenny, tatapannya begitu sengit kearah Ansell. Kenapa harus gadis itu yang bersanding dengan Presdir?
Sementara Riza nampak gembira melihat sahabatnya yang menjabat sebagai Presdir itu sudah bisa menunjukan bahwa Ansell berarti untuknya, walaupun tidak dengan kata-kata. Namun setiap tindakan nyata darinya sudah bisa mewakili perasaan yang sebenarnya.
Sang objek yang menjadi pusat perhatian nampak biasa saja. Bagi Ansell ini semua sudah menjadi tugas yang harus ia lakoni.
"Jangan terlalu berharap Ansell. Itu mustahil jika Tuan Altan mencintaimu. Kau tahu sendirikan siapa dia. Kau dan dia bagai langit dan bumi. Tak akan bisa satu. Jangan biarkan rasa itu hadir, rasa yang hanya akan menyakitkanmu saja. Sudah cukup."