
BAB 34. Kecurigaan.
"Tentu, kenapa kau ingin menggunakan Ansell sebagai modelnya?" Yaza memendam curiga, karena sejak awal modelnya bukan Ansell tetapi dua hari sebelum penandatanganan dokumennya Jenny mengubah modelnya dan meminta Yaza untuk tidak mengatakan pada Altan.
"Tidak kenapa-kenapa, aku lihat Ansell cantik dan seksi. Pantaslah bisa masuk kriteria model perusahaan kita."
"Iya memang, tapi awas saja kalau kau ingin bermain-main dengan ku. Aku pastikan kau akan mendapatkan hal yang diluar pikiranmu." Ancam Yaza sambil menatap penuh kecurigaan pada Jenny.
"Kau ini tak percaya pada ku." Tersenyum licik.
"Tentu saja aku tidak percaya seutuhnya semua perkataanmu, kau kan rubah." Yaza menatap sinis dengan sindirannya.
"Baiklah, aku akan pergi saja jika kau tak percaya. Bye.." Jenny berjalan santai sambil melenggak lenggokan tubuhnya bagai model papan atas yang sedang pentas di atas panggung yang megah.
...----------------...
Pagi telah datang, aktifitas seperti biasa Ansell lakukan.
"Tuan, sepertinya Tuan akan sibuk hari ini?" Ansell menghidangkan makanan di meja makan.
"Tidak terlalu sibuk." Altan duduk di kursi makan.
"Sebentar lagi Jenny akan ke sini." Imbuh Altan lagi sambil minum kopi karamelnya.
"Apa Tuan tidak curiga? M.maksud saya... Mrs Jenny tak seperti biasanya mengajak saya pergi bersama." Ansell duduk dan mengambil potongan buah kiwi.
"Curiga kenapa?"
"Ya...curiga saja... ini kali pertamanya Mrs Jenny mengajak saya dan meminta langsung kepada Tuan." Ansell ingin menjelaskan maksud kecurigaannya tapi bingung cara mengungkapkannya.
Altan tak begitu mengerti arah pembicaraan Ansell. Ketukan pintu terdengar. Ansell langsung berdiri dan membukakan pintu.
"Hai... kau sudah siap?" Jenny tersenyum palsu.
"Sudah, kau mau masuk?" Ajak Ansell.
"Tidak, aku di luar saja bersama Clara."
"Clara?" Ansell semakin curiga.
"Iya, Clara ikut bersama kita." Jawabnya santai. Dan Ansell menatap tak yakin.
"Baiklah, saya akan mengambil tas saya dahulu dan berpamitan pada presdir." Ansell sedikit ragu harus ikut dengan Jenny, tapi tak bisa mencari alasan untuk menolak ajakannya. Mau tidak mau Ansell mengikuti saja.
"Tuan, saya pergi dahulu." Ansell menunduk hormat dan melangkah pergi.
Altan menatap kepergiannya sedikit tak rela, pasti seharian ini tak dapat melihat Ansell ketika ia bekerja. Altan berdiri dan mengambil jasnya lalu mengenakannya dan pergi keluar berangkat diantar Pak Husein.
Sesampainya di perusahaan, Altan duduk di kursi kebesarannya. Memandang ruang kerja Ansell yang kosong, dan menghela nafas.
Aktifitas hari ini tak terlalu padat membuatnya jenuh, apalagi tak ada Ansell menjadi semakin malas.
Riza masuk ke ruangan Altan. Dan menatap Altan penuh tanda tanya. Riza berjalan ke samping Altan, dan berdiri tepat di sampingnya. Dia tak menyadari ada orang masuk ke ruangannya, tatapan Altan fokus ke ruang kerja Ansell yang kosong.
"Kau merindukan Ansell?" Riza bertanya sambil ikut melihat ruang kerja Ansell yang kosong.
Altan mengangguk pasti tanpa menyadari ada orang lain di ruangannya. Riza tersenyum mendapati anggukan Altan, pasti sahabatnya yang menjabat atasannya itu tak sadar akan anggukan kepalanya sendiri.
"Benarkah?" Riza mencoba bertanya lagi.
"Tentu, eh....." Altan menyadari ada orang yang bertanya padanya. Altan memalingkan muka menghadap samping. "Riza, sejak kapan kau di sini?"
"Sedari tadi, kau saja yang tak menyadari. Tatapanmu fokus ke ruangan Ansell saja." Goda Riza dan berjalan duduk di sofa depan meja Altan.
"Kemana memangnya Ansell?"
"Pergi bersama Jenny." Jawab Altan.
"Jenny? Kau yakin, kau tidak curiga kepadanya?"
"Astaga, kau kan tahu kalau Jenny itu membenci Ansell. Lalu untuk apa dia mengajaknya pergi bersama?" Riza mencoba memberi tahu Altan agar Altan sadar.
"Mereka pergi hanya untuk membeli beberapa kostum yang dibutuhkan untuk acara pemotretan sesi kedua besok." Jawab Altan sesungguhnya sesuai apa yang dikatakan Jenny.
"Kau percaya begitu saja?" Riza masih tak habis pikir akan jalan pikiran sahabatnya ini. Riza tahu, Altan selama ini tak begitu akrab dengan perempuan apa lagi berpacaran. Untuk berkenalan lebih dekat pun dia seakan tak mau. Tapi setelah mengenal Ansell, sepertinya sedikit berubah.
"Tentu, sudah jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin Ansell akan baik-baik saja, dan Jenny tak akan mengganggunya."
"Yah...semoga saja." Jawab Riza dalam doanya.
...----------------...
Demir bekerja seperti biasa walaupun penampilannya sekarang berbeda. Ponsel Demir berdering pesan singkat dari Sefa.
"Aku akan mengajak Ibu ke tempatmu bekerja sebentar lagi."
"Benarkah?"
"Iya... semalam aku mengirim pesan pada ibuku. Dan tadi pagi ibuku sampai, aku harap kau bisa meyakinkan ibuku."
"Baik, aku akan berusaha."
Demir kembali melakukan aktivitasnya. Membersihkan meja-meja dan kursi pembeli. Dan pembeli pun mulai berdatangan. Demir mulai mencatat setiap permintaan pembeli lalu membawakannya saat sudah siap.
Sefa berjalan dengan ibunya ke tempat Demir bekerja. Demir menyadari Sefa sudah datang dan mengangguk kepada calon Ibu mertuanya tetapi calon Ibu mertuanya memandang Demir tak suka. Demir menelan ludahnya karena gugup melihat ekspresi wajah tak suka yang diberikan calon Ibu mertuanya.
"Kau duduk dahulu bersama ibumu, aku akan menyelesaikan tugasku sebentar." Demir berbisik pada Sefa dan Sefa mengangguk lalu duduk di kursi yang kosong bersama ibunya.
Sefa tak yakin kalau ibunya akan menerima dengan mudah Demir. Sefa menghela nafas menghilangkan kegundahannya.
Demir selesai dan ijin sebentar pada managernya untuk menemui tamunya. Demir berjalan ragu untuk menemui calon Ibu mertuanya, menghembuskan nafas kasar untuk merileks kan kondisinya yang gugup.
Demir tersenyum ramah pada calon Ibu mertuanya dan mendudukan diri di depannya. Tatapan ibunya Sefa masih tetap sama, tak suka pada Demir. Demir menatap sekilas Sefa untuk memberi kode pembicaraan awal dengan ibunya, tapi Sefa menggeleng. Sefa juga ragu.
"Eghm... perkenalkan Tante, saya Demir Metin. Kekasih anak Tante." Demir berucap dengan terbata saat tatapan calon Ibu mertuanya semakin tak suka.
"Benarkah, apa kau yakin bisa membahagiakan putriku?" Ucapan ibunya Sefa bagai sindiran keras tapi juga sebagai langkah awal untuk perjuangan cinta Demir.
"Saya akan berusaha sekuat kemampuan saya, Tante." Ucapnya penuh keyakinan.
"Dengan pekerjaanmu yang hanya sebagai pelayan cafe?"
Duaaarrr!
Ucapan calon Ibu mertuanya bagai sambaran petir di siang bolong yang meruntuhkan keinginan tingginya untuk bersanding bersama Sefa. Ini sangat sulit, untuk menjawabnya Demir tak akan sanggup. Demir menatap Sefa mencari dukungan, setidaknya untuk meyakinkan sedikit ibunya. Sefa mengangguk dan mulai berucap.
"Ibu, Demir pasti akan berusaha. Sefa yakin padanya." Sefa mencoba membela Demir di hadapan ibunya.
"Kau tidak akan tahu kedepannya hidupmu seperti apa, Ibu yang sudah mengalami pahit asin hidup berumah tangga. Sampai Ibu harus meninggalkan ayahmu karena dia tak mampu membahagiakan Ibu dan Kamu. Kau tahu sendiri buka, ayahmu hanya bekerja sebagai pelayan cafe sepertinya. Penghasilannya tidak cukup." Ibu Sefa menjelaskan.
Ucapan ibunya Sefa membuat Demir menjadi terpuruk, sangat dalam dan menyakitkan. Mungkin akan sangat sulit mendapatkan kepercayaan dari ibunya Sefa. Demir harus lebih berjuang lagi untuk meyakinkan calon Ibu mertuanya.
"Ayo Sefa, kita kembali." Ibunya menarik tangan Sefa paksa.
"Ibu." Sefa mencoba memohon tapi ibunya menatapnya tak suka atas permohonannya. Sefa beralih menatap Demir, Demir mengangguk meyakinkan Sefa bahwa dirinya baik-baik saja dan Sefa harus pergi sekarang mematuhi perintah ibunya untuk pergi. Sebelum bertambah parah ketidaksukaan calon Ibu mertuanya terhadapnya.
Sefa mengangguk dan pergi meninggalkan Demir yang terpuruk sendirian dalam rasa sakit menerima kenyataan bahwa ibunya belum bisa menerima Demir saat ini.
Setidaknya Demir sudah memperkenalkan dirinya pada calon Ibu mertuanya dan akan berusaha untuk berjuang mendapatkan hati calon Ibu mertua.
Demir menghela nafas dan bangkit dari duduknya untuk menjalankan aktivitasnya lagi.
...----------------...
Saat di perjalanan, Ansell mengirim pesan kepada Karim untuk membantunya nanti.