
BAB 40. Pertikaian.
"Saya tidak tahu Tuan, mungkin keputusan Tuan saat ini benar. Kalau dilihat dari kinerja sebelumnya Mrs Jenny sangat kompeten di bidangnya, entah untuk kedepannya. Semoga Mrs Jenny bisa berubah, dan pasti ada alasan kecemburuan saat melihat saya."
"Cemburu?" Altan menatap Ansell dengan tatapan menggoda.
"Iya. Eh...bukan, maksud saya-
Belum sempat Ansell melanjutkan kalimatnya, Altan berjongkok di hadapan Ansell.
"Apa kamu juga akan cemburu, jika saya bersama wanita lain?" Altan tersenyum membuat Ansell malu.
"Ayo katakan?" Altan tersenyum lagi.
"Apa an si Tuan." Ansell salah tingkah.
"Apa?" Altan semakin menggoda.
"M...saya harus kembali bekerja Tuan." Ansell berdiri menghindari godaan dan tatapan menggoda Altan.
"Hei...mau kemana. Saya belum menyuruhmu bekerja." Altan menahan tangan Ansell saat Ansell hendak melangkah.
"Saya juga harus bekerja dengan kinerja yang baik Tuan, jika suatu saat saya melakukan kesalahan. Saya masih bisa ditahan agar tidak dipecat." Ansell tersenyum dan menjulurkan lidahnya meledek Altan.
"Eh... " Altan melepas pegangannya dan tersenyum menggelengkan kepalanya. Baru kali ini Ansell bisa meledeknya.
Ansell berjalan dan meninggalkan ruangan Altan dengan terus tersenyum sendiri.
...----------------...
Tak terasa hari ini berjalan sangat cepat, sinar matahari telah berubah menjadi sinar lampu.
"Demir." Sefa tersenyum saat melihat Demir sedang berdiri menjemputnya. Dan Demir membalas senyumnya.
Keduanya berjalan kaki menyusuri jalan taman dan pinggir dermaga seperti biasa.
"Apa kau mau sesuatu?" Demir bertanya.
Sefa mengangguk. "Teh susu hangat dan kebab daging sapi."
"Oke, kau tunggu di sini."
Demir meninggalkan Sefa di kursi taman seperti biasanya. Mungkin ini terbilang sudah menjadi kebiasaan Demir.
Setelah selesai, Demir membawa pesanan untuk Sefa dan dirinya.
"Ayo jalan." Demir menarik tangan Sefa tapi Sefa menahannya.
"Ada apa, apa ada yang ingin kau bicarakan?" Demir mendudukan diri di samping Sefa.
Sefa mengangguk. "Sepertinya Nenek tadi pagi ke rumah."
"Maksud kamu, ke rumahmu?"
"Iya, aku berpapasan. Tapi saat aku bertanya sepertinya Nenek berusaha menghindar. Sepertinya Ibu melukai hatinya."
Sefa menghela nafas dan bersandar di bahu Demir. Demir mencium pucuk kepala Sefa.
"Tenang, aku akan mencoba berbicara pada Nenek dan menjelaskan."
Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.
...----------------...
Sinar mentari menembus jendela kaca kamar Ansell. Ansell menggeliat dan melihat jam di ponselnya.
"Ya ampun, aku kesiangan."
Ansell buru-buru mandi dan berpakaian lengkap, mengambil tas kecil dan besarnya serta menjinjing heels nya. Ansell berlari ke luar.
"Ansell."
Demir berteriak untuk mengajaknya sarapan pagi.
"Aku kesiangan." Jawabnya sambil terus berlari.
Untung saja bertemu Karim.
"Karim, tolong antar aku secepatnya ke kediaman Tuan Altan."
Ansell buru-buru masuk ke mobil Karim, tanpa menghiraukan jawaban Karim. Dan Karim menghela nafas lalu masuk ke mobilnya, dan melakukannya sesuai instruksi Ansell.
Pagi ini Karim akan terlambat untuk menjemput Jenny.
"Terimakasih." Ansell segera keluar saat sudah sampai di halaman kediaman Altan dan Karim melajukan kembali mobilnya.
Ansell berlari tergesah-gesah sambil membawa dua tasnya, dan masuk ke rumah Altan langsung menuju dapur. Tapi terhenti di samping meja makan
Ansell berdiri mematung saat melihat Altan sudah selesai membuat sarapan pagi.
Altan membawa nampan berisi sarapan pagi yang telah ia buat dan berdiri di hadapan Ansell lalu meletakkan makanannya di meja makan.
Ansell yang masih mematung di buat tercengang, saat Altan menawarkan buah strawberry di hadapannya. Ansell menatap bingung.
"Ayo makan." Ucap Altan sambil menempelkan buah ke mulut Ansell. Ansell tersenyum dan menggigit separuh strawberry besar, dan Altan menghabiskannya yang separuhnya lagi. Ansell tersenyum.
Sesampainya di perusahaan, Ansell masuk ke ruangannya setelah selesai menulis jadwal hari ini. Ansell duduk di meja kerjanya, membayangkan dirinya dan Altan yang sekarang semakin dekat. Ansell tersenyum sendiri, sedangkan Altan sedari tadi menatap Ansell dari ruangannya.
PIntu berderit dan Riza masuk. Riza tersenyum melihat Altan melamun, Riza berjalan dan duduk di sofa depan meja kerjanya.
"Eghem...sepertinya ada yang sedang melamun."
Altan tersadar dari lamunannya. "Kamu, ada apa?
"Tidak, hanya ingin bertanya. Bagaimana apa Ansell bisa menerima keputusanmu terhadap Jenny?"
"Tentu." jawabku sekenanya.
"Benarkah?"
Altan memutar bola matanya malas menanggapi Riza di pagi ini.
"Apa masih ada yang lain?"
"Tidak, hanya itu."
"Kalau tidak ada, silahkan kembali ke ruangan." Altan mengusir halus.
"Oke..oke.." Riza tertawa dan pergi ke luar.
Altan menghembuskan nafas malasnya. kemudian beralih menyelesaikan beberapa dokumen yang sudah menantinya.
Di ruangan lain, tempatnya di ruangan Ansell. Jenny tiba-tiba saja masuk ke ruangan Ansell.
"Hei, pasti kau yang sudah mengatakan semuanya pada presdir kan?"
"Apa maksudmu?" Ansell bingung tiba-tiba saja Jenny masuk dan bertanya seperti itu.
"Alah...tak usah berlaga sok tidak tahu. Aku yakin kau sengaja melakukannya agar aku dikeluarkan dari perusahaan ini kan?"
"Aku tidak pernah mengatakan ataupun melakukan seperti yang kau tuduhkan." Ansell berusaha membela diri.
"Jangan sok berlagak seperti itu, aku tidak akan termakan tipuanmu. wanita bermuka dua."
Ucapan Jenny membuat Ansel naik darah.
"Jaga ucapanmu!" Ansell berteriak dan Jenny tertawa.
"Harusnya kau yang menjaga ucapanmu, berlaga polos tapi mau di sewa. kau itu tak punya harga diri sekarang." Jenny masih menertawakannya.
Ansell sudah benar-benar geram tak bisa menahan emosinya. Diambilnya gelas berisi air bening di atas mejanya, lalu mengirimkannya pada Jenny.
BYURRR....
Jenny membulatkan mata dan mulutnya tak percaya Ansell dapat melakukan ini.
Dari ruang sebelah, Altan tak sengaja menyaksikan pertikaian antara Ansell dan Jenny. Altan bergegas ke luar ruangannya.
Ansell naik ke atas mejanya dan berdiri lalu melompat hendak menerjang Jenny. Dengan gerak cepat, Altan meraih Ansell dalam pelukannya.
"Lepaskan saya!" Ansell meronta dalam pelukan Altan.
"Hentikan Ansell, ini perusahaan." Altan mencoba menenangkan Ansell.
Jenny mundur dan bersandar di pintu sambil membersihkan pakaiannya yang basah akan ulah Ansell.
"Aku tidak peduli." Ansell terus meronta.
Ini membuat Altan gila, terjebak dalam masalah pertikaian dua wanita. Dan ini pertama kalinya Altan berada di situasi seperti ini dalam perusahaannya.
"Jenny cepat pergi sekarang." Altan terus berusaha melerai. Dan Jenny akhirnya keluar.
"Kenapa kau menyuruhnya pergi."
Ansell berteriak. "Tenang Ansel, tenang."
Altan berusaha memeluk Ansell agar Ansell bisa tenang, tetapi Ansell terus meronta. Ansell tak terima akan penghinaan dari Jenny. Dia sudah sangat keterlaluan, menghina terus-terusan.
"Ku mohon tenang Ansell, kita tidak bisa melakukan kekerasan. Kalau kau tadi memukulnya, kau yang bisa terkena masalah. Sekarang tenanglah, kau bisa menjelaskan apa yang dia katakan tadi padaku." Altan terus berusaha menenangkan Ansell.
Ansell mendengus kesal dan melepaskan pelukan Altan.