Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 41. Kecupan Dadakan.



BAB 41. Kecupan Dadakan.


Baiklah, kalau kau berada di posisiku. Kau pasti akan melakukan hal yang sama."


"Ehh...sekarang gadis ini berani menyebut dengan 'kau dan aku',"


"Oke...sekarang tenang, ceritakan semuanya." Altan membawa Ansell duduk di kursi kerjanya sementara dirinya bersandar di meja kerja Ansell.


"Kau tahu, dia menghinaku. Mengataiku wanita bermuka dua yang mengadukan segalanya padamu. Dan kau tahu, dia menghinaku karena aku gadis sewaan, ya aku akui benar. Aku gadis sewaan yang tak punya harga diri-


Ansell tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Bibirnya bergetar menahan air mata dalam pelupuk matanya.


"Apa aku sehina itu?" Ansell bertanya tapi menundukan kepala, air mata ini tak dapat tertahan lagi.


"Ya...aku bodoh..aku wanita terhina di dunia.. dunia pantas menertawaiku."


"Aku menyedihkan bukan?" Ansell tertawa dalam tangisnya. Altan masih diam seluruh kata-kata  dari mulutnya seolah hilang dan bibirnya terkunci rapat.


Menyaksikan betapa sakitnya seluruh derita yang Ansell pikul sendiri dalam bahunya. Andaikan Altan bisa menjadi sayapnya, akan Altan bawa terbang jauh Ansell mengitari taman bunga yang indah. Agar tak ada satupun orang yang mengotori keindahannya.


"Bahkan untuk dapat terbebas dari belenggu ini pun aku tak bisa. Aku seperti burung dengan sayap yang patah."


Altan segera memeluk Ansell, untuk ikut merasakan rasanya pun tak sanggup dibayangkan. Ansell terlalu kuat menahan ini semua sendiri.


Ansell menutup mukanya yang menangis dalam pelukan Altan. Andai bisa Ansell berbagi seluruhnya, mungkin rasa sakitnya tak ia rasa sendiri.


"Sekarang kamu mau saya memecat Jenny ?"


Ansell menggeleng. "Tidak, jangan. Kalau kau memecatnya sekarang itu sama artinya yang dituduhkan padaku benar adanya."


"Kamu terlalu baik Ansell." Ucap Altan lirih dan Altan mencium pucuk kepala Ansell.


"Baiklah, hari ini kita tidak bekerja. Saya akan membawamu ke suatu tempat."


Ansell mendongak. "Kemana Tuan?"


"Gadis ini cepat sekali berubah, dari yang menangis dengan kata-kata tak formal. Menjadi bersemangat dan berkata formal lagi."


"Ikut saja." Ucap Altan dan Ansell tersenyum.


Altan berjalan menuju ruangan Riza dan Ansell mengekori.


"Riza, tolong kau urus segala sesuatu di perusahaan ini selama aku keluar dengan Ansell." Ucap Altan.


"Memangnya kalian mau ke mana? Setahuku tidak ada jadwal pertemuan dengan client."


"Bulan madu." Jawab Altan sekenanya. Dan Ansell tersenyum saat melihat Riza membulatkan mata saat mendengar jawaban asal dari Altan.


"Hei...yang benar saja." Riza tak terima.


Altan angkat bahu dan berjalan keluar, Ansell tersenyum kepada Riza lalu mengekori Altan.


"Sialan!" Riza menggerutu pada Altan.


...----------------...


"Nenek." Demir memanggil.


"Apa."


Demir berjalan dan duduk di samping neneknya yang sedang merajut.


Nenek Esme melihat sekilas lalu meneruskan rajutannya. "Kau tidak bekerja?"


"Nanti siang Nek. Em...apa Nenek kemarin menemui ibunya Sefa?"


Nenek Esme menggeleng untuk menutupi kebenarannya. Dan Demir menghela nafas.


"Nenek tak perlu mengambil hati setiap ucapan ibunya Sefa. Demir yakin, Demir bisa meyakinkan ibunya Sefa."


Nenek menatap cucu laki-lakinya dengan iba. Betapa berjuangnya cucu laki-lakinya demi gadis yang di cintai. Tapi kalau pada akhirnya cucunya lah yang akan merasa sakit, itu sangat tidak adil.


"Apa tak sebaiknya kau cari saja perempuan lain... Sefa gadis yang baik dan manis, tapi tidak dengan ibunya.. Bukan maksud Nenek untuk mematahkan semangatmu, tapi Nenek takut kalau kamu hanya akan membuang waktumu saja."


Demir menghela nafas dan meraih tangan neneknya yang sedang digunakan untuk merajut. Nenek Esme akhirnya menghentikan aktivitasnya dan menatap Demir.


"Nek, Nenek percaya kan sama Demir. Demir akan melakukan apapun agar bisa mewujudkan semua harapan ibunya Sefa. Demir hanya butuh dukungan dan doa Nenek, semoga apa yang Demir lakukan akan membuahkan hasil baik dan terbaik."


Nenek Esme menitikan air mata bahagia akan ucapan cucu laki- lakinya. Betapa besar rasa cintanya pada Sefa, semoga setiap itikad baik cucu laki- lakinya dapat terlaksana dengan lancar dan indah pada akhirnya. Nenek mengangguk. Dan Demir tersenyum sambil menghapus linangan air mata di wajah neneknya yang penuh dengan guratan besar kecil halus dan kasar.


...----------------...


"Sepertinya kita harus mempercepat pertemuan kedua keluarga, kau tahu sendirikan. Gadis rubah itu masih berkeliaran bebas di perusahaan. Dia pasti akan terus berbuat ulah kepada Ansell." Ucap Nyonya Ivy sambil bersandar di kursi lipat panjang yang biasa digunakan untuk berjemur di bawah terik matahari.


"Menurutku jangan, itu terkesan sangat terburu-buru."


"Lantas?"


"Kau bicarakan dahulu dengan Ansell. Lalu kau temui neneknya Ansell untuk merundingkan ikatan selanjutnya, agar keluarga Ansell bisa memahami maksud kita." Ucap Osgur.


"Atau kita bisa lah mendekatkan Ansell dengan Altan agar lebih dekat dan memahami satu sama lain. Kau tahu kan, Altan masih tetap dingin dan berbicara formal dengan Ansell." Imbuhnya lagi.


"Terus yang mana dahulu yang akan kita jalankan?"


"Menurutku rencana pertama selanjutnya di susul rencana kedua."


"Baik, besok aku akan menemui Ansell dahulu."


...----------------...


Di sebuah rumah kayu kecil yang terlihat damai, dikelilingi ratusan bunga mawar yang indah. Serta ada kolam ikan yang luas di halaman belakang, rumahnya terbilang besar meski terbuat dari kayu.


Tempatnya sangat tenang dan damai, berada jauh dari keramaian penduduk.


"Tuan, ini rumah siapa?" Ansell bertanya sambil mengekori Altan berjalan masuk ke rumah kayu.


"Rumahku."


Ansell menatap dengan banyak pertanyaan yang terpendam.


"Benarkah?" Ansell masuk dan melihat sekeliling tembok kayu. Tak ada satu bingkai pun yang terpajang di dinding ataupun di meja. Sepertinya rumah ini jarang ditinggali, tapi masih terlihat rapi bersih dan terawat.


"Tentu."


"Ayo ke halaman belakang." Imbuhnya lagi.


Ansell menatap takjub. "Wah, terawat sekali tanaman mawarnya. Apa Tuan suka mawar?"


Altan angkat bahu, tak mengiyakan atau pun tak menolaknya.


Ansell diam dan melihat sekeliling. Sangat sejuk udaranya. Ansell berjalan mendekati kolam buatan, dilihatnya ikan-ikan yang besar.


"Tuan, ikannya besar-besar sekali. Apa ikan ini juga milik Tuan?"


"Bukan, semua ini milik mendiang ibuku. Setiap waktu libur aku diajak Ibu ke tempat ini. Bahkan Ayahku sampai tak mengetahui tempat ini." Ucap Altan sambil tersenyum memandangi kolam yang isinya terbilang banyak.


Ansell bisa merasakan betapa merindunya Tuan Altan terhadap mendiang ibunya.


"Tapi ini sudah lama sekali."


"Iya, sebenarnya ikan asli milik mendiang ibuku sudah tiada. Tapi setiap ikan-ikan yang telah mati, aku ganti. Ikan semacam ini bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Awalnya dahulu aku sulit untuk mendapatkan cara bagaimana bisa mendapatkan uang untuk mengganti ikan yang telah mati." Altan meraih tangan Ansell dan melingkarkannya di pinggangnya.


Ansell sedikit canggung, tapi saat melihat situasi. Ansell melingkarkan tangannya dan memeluk Altan, Altan tersenyum kecil.


"Kau tahu Riza bukan?" Ansell mengangguk di dada bidang Altan. "Dia yang selalu membantuku, karena usianya tiga tahun di atasku. Dahulu dia seperti Kakak buatku, tapi sekarang dia cerewet sekali." Altan terkekeh dalam ucapannya sendiri.


"Apa kau menyayangi Riza?" Altan bertanya dan Ansell mengangguk.


Altan membulatkan mata saat merasa anggukan Ansell di dadanya. Di raihnya dagu Ansell lalu Altan memandang lekat kedua manik bola mata Ansell, mencari jawaban kebenaran. Ansell tersenyum.


"Tentu saya menyayangi Mr Riza, Tuan. Dia seperti Kakak buatku."


"Benarkah?"


Ansell mengangguk. "Tentu, apa Tuan cemburu?"


Altan melepas tangannya dari muka Ansell dan mandang sekitar, mengalihkan tatapan. Jangan sampai Ansell melihat kejujuran dari matanya.


"Tuan."


Ansell melingkarkan tangannya pada tengkuk Altan, menjadikan Altan untuk menunduk dan menatap Ansell.


"Apa?"


Ansell beralih menyentuh rahang Altan dan berjinjit untuk mengecup pipi Altan. Dengan gerak cepat Ansell langsung memeluk Altan dan menyembunyikan wajahnya di dada Altan.