Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 7. Kemarahan Altan.



BAB 7. Kemarahan Altan.


Tuan Altan ke dapur, dilihatnya Ansel sedang menata sajian yang telah dibuatnya.


"Kamu pintar juga memasak." Berdiri bersandar di kursi makan melihat dengan cekatan Ansell menyiapkan sajiannya.


"Saya belajar Tuan, saya kan bukan chef. Saya hanya pelayan cafe, jadi masalah olah-mengolah masih harus belajar." Sambil terus menyiapkan sajian yang memang lumayan banyak.


Altan menarik kursi yang tadi digunakan untuk bersandar, lalu mendudukan diri. Sambil terus memandang Ansell yang masih terlihat sibuk. Dilihatnya gadis manis di hadapannya, gadis yang terlihat menyedihkan. Hanya karena membebaskan kakak dan adiknya, dia harus menerima tawaran dari bibinya yang gila harta.


Selepas makan malam dengan Tuan Altan, Ansell diantar supir Tuan Altan. Dengan menggunakan heels tinggi dan kaki kiri yang terluka akibat terkilir, Ansell berjalan sedikit terpincang mampir ke Cafe Karim.


"Ansell, kau kenapa?" Ucap Sefa saat melihat Ansell berjalan terpincang. Sefa yang ternyata juga sedang menemui Karim.


Ansell duduk di sebelah Sefa. Mengusap kasar mukanya. "Aku lelah."


"Semangat, demi menjalankan misi." Ejek Karim.


Ansell menyandarkan kepalanya di bahu Sefa. Untuk sejenak menghilangkan penat.


"Demir sepertinya menunggumu, tadi aku ke rumahmu." Ucap Sefa lirih.


"Biarlah, paling sekarang sudah pergi lagi." jawabnya malas.


...----------------...


Di lapangan basket dua pria sedang bermain.


Altan mendribel bola dan melayangkan bola menuju ring. Dengan gesit Riza menghadang langkah Altan. Altan memutar badan melewati serangan dari Riza. Dan berhasil memasukan bola.


Keringat bercucuran di tubuh atletis Altan yang bertelanjang dada di malam hari yang terasa panas. Mereka duduk di lantai sambil minum air isotonik.


"Jangan terlalu dingin terhadap wanita." Ucap Riza sambil membuka tutup botol.


Altan melirik. "Kau tahu wanita itu, dia dibayar oleh bibiku."


Riza mengangguk. "Tahu....setidaknya gadis itu berbeda dari gadis bayaran yang lain."


"Dia menerima tawaran itu demi membebaskan kakak dan adiknya. Jadi bersikaplah lebih hangat, kalau kau tidak mau. Biar buatku saja." Goda Riza.


Altan hanya menatap sekilas ke arah Riza. Lalu pergi. Riza menatap kepergiannya dengan senyum puas. Seseorang yang keras kepala sepertinya, akan mudah terprovokasi jika berhubungan dengan rasa. Riza tahu persis seperti apa perasaan sesungguhnya dari Altan.


Altan selesai membersihkan diri. Lalu duduk di ruang kerjanya, di gambarnya model sepatu yang akan dibuatnya untuk peluncuran terbaru. Tapi bayangan Ansell selalu melintas dalam pikirannya, membuat Altan tak fokus dalam menggambar.


"Kenapa aku terus memikirkannya? Tidak mungkin aku jatuh cinta!"


...----------------...


Kehidupan pagi telah dimulai seluruh aktifitas mulai.


"Hey kenapa?" Riza bertanya pada Jenny saat lewat di depan ruangan Jenny dan melihat Jenny marah pada seseorang di balik telepon.


"Kau tahu wakil dari client Paris marah, karena kecelakaan kerja kemarin."


"Lalu?" Tanyanya lagi.


"Mereka kecewa karena ini pertama kalinya kinerja kita mundur dari target yang diberikan."


"Ini semua gara-gara gadis itu." Amarah Nona Jenny mulai memuncak.


Dari arah pintu gadis yang sedang diceritakan muncul bersama Tuan Altan.


"Mrs Jenny nanti ke ruanganku." Titah Tuan Altan, lalu berbalik dan mengajak Ansell untuk mengikutinya.


Jenny semakin geram dengan Ansell. Gadis itu saingan terberatnya.


...----------------...


Ansell membuka buku kecil agendanya. Dan mulai menulis instruksi.


"Kalau nanti pihak client atau wakil client dari Paris menelponmu, kau harus bisa menenangkannya."


"Ingat semua berasal dari kecerobohanmu."


Tuan Altan mulai memberikan instruksi jawaban-jawaban apa saja yang harus dijelaskan untuk meyakinkan kembali pada pihak Paris.


Dengan senyum gembira penuh semangat Ansell menjawab. "Siap."


Kemudian berjalan keluar. Altan tersenyum melihat ekspresi penuh percaya diri dari Ansell.


...----------------...


Nur memang pelayan rumah Nyonya Ivy, tapi tugas Nur hanya dari pagi sampai malam. Setelah itu Nur pulang, itu aturan kebiasaan para pelayan di kota tersebut.


Dengan melipat kedua tangannya di dada,  Nyonya Ivy menunggu Nur di balik pintu masuk. Suara pintu terdengar di buka pelan dari arah depan. Nur dengan hati-hati membuka pintu, berharap Nyonya Ivy tidak di rumah. Nur menutup pintu pelan.


"Jam berapa ini." Pekikan keras Nyonya Ivy yang sedang melihat gerak-gerik Nur sedari tadi. Mengagetkan Nur.


"Maaf Nyonya."


"Cepat ke dapur buatkan coffee." Nyonya Ivy berjalan ke ruang televisi. Mendudukan diri sambil melihat gosip terkini.


Nyonya Ivy menelpon seseorang, yang tak lain adalah salah satu kru yang bertugas di perusahaan Axton. Kru itu dibayar untuk menjalankan rencana penyebarluasan berita tentang Altan dan Ansell.


Nur datang membawa secangkir coffe. Lalu menyerahkannya ke Nyonya Ivy.


"Kau tahu Nur, rencanaku sudah mulai terlihat akan berhasil. Gadis manis itu menjalankan perintahku dengan sempurna." Ucap Nyonya Ivy sangat gembira.


Nur sebenarnya merasa kasihan pada gadis yang disewa Nyonya Ivy. Dia tidak tahu kalau Nyonya Ivy hanya akan memanfaatkannya agar bisa mendapatkan hak waris keluarga Axton saja.


"Selamat Nyonya."


Nyonya Ivy beralih menelpon mata-mata lain yang tak lain adalah sekertaris kedua yang membantu kerja Jenny. Ismet.


...----------------...


Ansell sangat panik . Pihak wakil client Paris berkali-kali menelpon ke ruangannya, sayangnya telepon ruangannya ada masalah. Ansell panik sekali, gara-gara kecerobohannya kemarin. Pasti Tuan Altan akan marah besar.


Dari ruang sebelah, tepatnya ruang Presdir. Tuan Altan berkali-kali ditelpon oleh pihak wakil client Paris, membuatnya marah. Ternyata Ansell tak sanggup menanganinya.


Dengan langkah cepat, Tuan Altan membuka keras pintu ruangan Ansel. Membuat Ansell terlonjak kaget.


"Kamu ini bagaimana!"


" Berkali-kali pihak wakil client Paris menghubungiku."


"Tidak becus."


Pekikan Tuan Altan membuat Ansell gemetar takut, ini kali pertamanya melihat Tuan Altan semarah itu.


Tuan Altan menutup pintu dengan sangat kasar, membuat getaran. Ansell terduduk lesu. Genangan kristal di mata indahnya keluar. Tapi Ansell mencoba tenang, menghapus lelehan bening di pipinya.


Berkali-kali mencoba menghubungi pihak wakil client Paris, ditekannya telepon kantor dengan keras. Tapi tak dapat juga terhubung.


Mr Riza melihat ekspresi Ansell dari luar, lalu masuk ke ruangan Ansell. Mr Riza mencoba membantunya, tapi tak bisa. Karena telepon kantor Ansell ada masalah. Mr Riza keluar mencari Ismet untuk menolong Ansell. Karena pekerjaan Mr Riza juga sedang banyak, jadi tak banyak bisa membantu.


Mr Ismet datang mencoba membantu menangani masalah pada telepon kantor Ansell.


"Tolong Mr Ismet, telfon kantor saya bermasalah. Saya dimarahi Tuan Altan karena saya tidak bisa menenangkan pihak wakil client Paris. Ini semua karena kecerobohan saya."


Dengan sangat memohon Ansell berbicara.


Mr Ismet berhasil menangani masalah pada telepon kantor Ansell.


Lalu mencoba menghubungi pihak wakil client dari Paris. Syukurlah semua teratasi oleh Mr Ismet. Ansell berterimakasih banyak pada Mr Ismet, dia seperti malaikat penyelamatnya.


"Terimakasih banyak Mr Ismet, kalau tidak ada Anda mungkin saya tidak bisa selamat dari kemarahan Tuan Altan." Ansell memeluk gembira Mr Ismet.


Sedikit lega, Ansell mendudukan diri. Ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari pihak sekolah Eilaria.


Terlalu banyak masalah membuat Ansell hilang akal. Di telpon nya Karim untuk membantu menjemput Eilaria pulang sekolah. Ternyata Demir tak pulang sampai sesiang ini.


 


...----------------...


Di cafe pinggir pantai yang terbuka. Tuan Osgur duduk bersama gadis cantik. Gadis itu termasuk gadis yang dipilih tempo lalu untuk bertemu dengan Altan, tapi Altan tak menemuinya.


Gadis muda mengenakan Mini dress hitam. Sedang meminta jatah bayaran atas jasa sewa untuk menemani Tuan Osgur bermalam.


"Tuan mana uang mukanya, biar saya bisa ke salon dulu." Dengan memeluk lengan Tuan Osgur gadis itu merayu.


Tuan Osgur menulis di lembar cek kosong, dengan nominal yang cukup besar.


Setelah gadis itu menerima uang bayaran, lalu pergi. Kemudian datang lagi satu gadis. Yang meminta bayaran juga atas jasa 'Service' kemarin malam.