Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 13. Hari Kelam Pemecatan Ansell



BAB 13. Hari Kelam Pemecatan Ansell.


Pikirannya tertuju pada Ansell. Di telpon nya Ansell sampai tiga kali, namun tak ada jawaban. Altan keluar terlihat tak karuan, menunggu di lobi. Ansell tak kunjung terlihat. Mendekat ke resepsionis.


"Kalau nanti Nona Ansell dan Mr Riza kembali, suruh Nona Ansell secepatnya ke ruangan saya!"


Melihat sang Presdir tampak tak bersahabat, membuat para resepsionis ketakutan. "B..baik Mr."


Altan kembali ke ruangannya. Di luar para karyawan yang melihat langsung sang presdir, saling berkerumun. Dan bergosip.


"Pasti akan ada bencana, kalau Presdir Altan sampai seperti itu."


"Iya betul. Tapi kenapa?"


"Entahlah."


"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Nona Ansell."


Tak lama Nona Jenny dan Mr Ismet kembali. Melihat suasana perusahaan nampak kacau, membuat Nona Jenny dan Mr Ismet menghampiri Clara. Clara yang sedang ikut bergosip dengan para karyawan, setelah meletakan pesanan sang presdir.


"Clara, ada apa ini?"


"Mrs Jenny, Mr Presdir sepertinya sedang marah."


"Marah?" Tanya Nona Jenny mencari penjelasan.


"Sepertinya Nona Ansell membuat masalah lagi." Jawabnya lirih.


Nona Jenny tersenyum penuh arti. Kemudian berlalu keruangannya dengan gaya biasa saja, tak mempedulikan suasana sekitar.


Sampainya di lobi Ansell dan Mr Riza dipanggil oleh staf resepsionis.


"Maaf Nona Ansell, tadi ada pesan dari Mr Presdir. Anda harus segera menemui beliau."


Ansell nampak bingung dan memandang kearah Mr Riza. Mr Riza hanya mengangkat bahunya tampak tak tahu. Ansell dan Mr Riza menuju ruang atas. Ansell semakin gugup, saat melihat hampir seluruh staf bagian atas sedang bergerombol.


Tatapan mata mereka menuju Ansell yang baru datang, seperti tatapan ingin menghardik. Tubuh Ansell bergetar, jantung Ansell berdegup lebih cepat tak beraturan.


Tuan Altan membuka pintu saat melihat dari arah dalam Ansell sudah nampak.


"Ansell masuk."


Suara datar menahan amarah dari Tuan Altan semakin membuat Ansell merinding ketakutan. Rasanya tak karuan. Ansell masuk, dan menutup pintu.


BRAK!


Tuan Altan menggebrak meja sangat keras. Membuat Ansell terlonjak.


"M.maaf Tuan, ada apa?"


Meski gemetar ketakutan, Ansell mencoba tenang. Meskipun ragu untuk bertanya.


"Di mana kau taruh box berisi sepatu yang ku pesan kepada Baba Mehmet!"


"D.di sana Tuan."


Menunjuk lemari kecil di bagian bawah. Saat hendak melangkah ke tujuan, Ansell terhenti.


"Eh... ini Tuan."


Ansell tersenyum, senyum yang dipaksakan saat melihat box tersebut sudah ada diatas meja.


"BUKA!"


Ansell membuka dengan ragu. Mata Ansell melotot terkejut. Kosong.


"DIMANA!"


"S.saya tidak tahu Tuan. Kemarin saya hanya mengambilkannya saja, lalu ke rumah Tuan. Setelah itu kembali ke perusahaan, terus meletakan box ini ke lemari yang Tuan perintahkan."


Ansell menjelaskan dengan gugup menahan takut, dan menahan bendungan air bening yang ingin menerobos keluar dari mata indahnya.


"Lantas siapa yang mengambilnya! Hanya kau dan aku yang tahu!"


"Tuan menuduh saya?"


Akhirnya bendungan air bening yang telah ditahan itu berhasil menerobos keluar.


"Kalau bukan kamu siapa lagi!"


Ansell diam menggigit bibir bawahnya, lidahnya terasa kelu untuk berucap. Terlalu sakit tuduhan itu. Seumur-umur dia baru pernah dituduh mengambil barang milik orang lain. Apalagi tuduhan itu berasal dari orang yg selama ini sudah mulai mengisi keseharian hatinya. Semakin kuat Ansell menolak rasanya, semakin tumbuh pula rasa yang ingin ia matikan.


"Sekarang pergi! Aku tak ingin melihatmu lagi."


Ucap Tuan Altan tanpa melihat Ansell. Altan menahan rasa sakitnya sendiri. Gadis yang selama ini sudah mengisi kesehariannya, ternyata membuatnya kecewa. Ankle strap satu-satunya yang Ia pesan langsung sebagai tanda kenangan dari perempuan yang sangat berarti ternyata hilang.


Ansell melangkah menuju pintu keluar ruangan presdir dengan rasa yang berkecamuk. Di Tengoknya Tuan Altan, namun yang ia lihat Tuan Altan hanya menundukan kepalanya.


Altan seolah merasakan rasa kecewa yang teramat dalam. Dilangkahkannya kaki Ansell saat pintu sudah ia buka. Diedarkan pandangannya. Semua mata tertuju padanya, diusapnya air mata di pelupuk matanya.


Nona Jenny yang diberitahu Clara kalau Ansell dimarahi presdir, lalu keluar ruangan dan mendapati Ansell sedang berdiri di pintu  sambil menghapus linangan air mata.


Sementara Mr Riza yang memandang penuh iba, dihiburnya Ansell dari jarak jauh. Dengan menggerakan tangannya membentuk senyuman di bibirnya. Agar Ansell tau harus selalu tersenyum apapun keadaanya.


Ansell berjalan meninggalkan semua orang.


Nona Jenny tersenyum puas yang sengaja ia tahan agar tak menimbulkan kecurigaan bagi seluruh karyawan.


Sementara Mr Riza melirik ke arah Nona Jenny, yang terlihat sangat gembira dari raut wajahnya, meskipun ia menutupinya sebaik mungkin.


Mr Ismet nampak sedang memberitahukan informasi terkini dari semua keadaan yang terjadi kepada seseorang.


...----------------...


Karim mencoba menemui Sefa di rumah sewaan Sefa, dari kemarin dia tak bertemu bahkan tak melihat Sefa.


Diketuknya pintu rumah Sefa, namun tak ada jawaban dari dalam. Karim duduk menunggu Sefa di depan rumahnya, berharap Sefa akan keluar menemuinya.


Satu jam berlalu, tak ada pergerakan dari pintu rumah Sefa. Tapi Karim tetap setia menunggu. Tak seperti biasanya Sefa menghindarinya.


Karim bersandar di tiang depan rumah Sefa, menatap langit di angkasa.


...----------------...


"Altan, apa kau memecatnya?"


Riza berdiri menyender di sisi sofa. Sambil memperhatikan Altan yang berdiri bersandar di samping jendela kaca sambil menatap langit luar.


Tuan Altan diam, tak merespon sedikitpun ucapan Riza.


"Apa kau sudah gila. Harusnya kau menyelidiki dahulu. Aku yakin bukan Ansell pelakunya."


"Jangan karena gadis itu menjadi gadis yang di sewa kakak iparku, lantas kau menuduhnya sebegitu hinanya."


"Apa kau belum sadar juga atas perasaanmu! Dasar keras kepala!"


Riza mulai geram. Tak di respon sedikitpun oleh manusia es di hadapannya


"Sudahlah! Percuma berbicara panjang lebar. Kau akan merasakan kehampaan sendiri karena keras kepalamu."


Riza keluar ruangan sahabatnya yang menjabat sebagai atasannya itu dengan sangat emosi dan kecewa.


Sementara Altan masih tetap menatap langit yang mulai berubah warna jingga dengan tatapan kosong namun pikirannya tak karuan.


...----------------...


Tak terasa cahaya senja menyilaukan mata Karim yang ternyata terlelap. Karim menguap, menggerakkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena ketiduran sambil bersandar.


Karim mengerjapkan matanya berkali-kali, menghilangkan kantuk. Dilihatnya pintu rumah Sefa, masih tetap sama. Tertutup rapat.


Karim mengusap mukanya dan menghembuskan nafas lelahnya. Berdiri dari duduknya.  Dengan ragu mulai melangkahkan kaki.


Saat sudah jauh Karim melangkah, Karim menghentikan langkah. Dilihatnya rumah Sefa lagi, masih tetap sama. Tertutup.


Tapi dari kejauhan terlihat Ansell datang menuju rumah Sefa. Karim mematung melihat seksama, akankah rumah Sefa terbuka saat Ansell datang? . Jika terbuka, berarti benar Sefa sedang menghindarinya.


Betapa terkejutnya Karim. Sefa membukakan pintu rumahnya untuk Ansell.


Sudah jelas Sefa menghindarinya. Tapi kenapa? Bahkan sepertinya Karim tak punya salah dengannya. Karim menghembuskan nafas kecewanya. Dia berjalan pergi menuju cafenya.


...----------------...


"Ansell, kau kenapa?"


Sefa mengajak Ansell masuk ke rumahnya, saat melihat wajah Ansell yang sedang menangis.


Ansell duduk di sofa, dan Sefa mengambilkan air mineral.


"Minumlah."


"Aku di pecat oleh Tuan Altan."


Ansell menghamburkan pelukan ke Sefa. Semakin tak bisa menahan derasnya air mata. Sefa menepuk halus punggung Ansell.


"Kenapa bisa dipecat?"


"A.aku di tuduh menghilangkan sepatu yang Tuan Altan pesan."


" Padahal aku tidak tahu kenapa sepatu itu hilang."


Ansell mengusap buliran airmata, beralih menatap Sefa.


"Eh.... Sefa kau kenapa?"


Ansell kaget, ternyata Sefa juga ikut menangis. Tapi sepertinya tangisan Sefa bukan karena menangisi kesedihan dari ucapannya.


"Sefa kamu kenapa, ayo bicara?"


Menarik dorong bahu Sefa. Tapi Sefa semakin menangis sedih yang tak terkendali. Dipeluknya Sefa. Ansell yang tadinya bersedih sekarang malah dibuat bingung dengan tangisan sahabatnya.