
BAB 20. Don't Keep Looking at Me Later You Fall In Love.
Ansell bergegas ke kamar untuk langsung tidur dan Ansell berlari cepat lebih dahulu. Berharap Tuan Altan akan mengalah dan tidur di sofa.
Ansell merebahkan tubuhnya tepat di tengah tempat tidur. Tangannya direntangkan lebar-lebar, berpura-pura memejamkan mata saat langkah kaki terdengar mulai masuk ke kamar.
Langkahnya semakin mendekat.
"Hhhaaaa.ha…. Aku sudah menguasai tempat tidur ini. Dia tidak akan bisa tidur di sini."
Ansell merentangkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Astaga! Dia menyingkirkan tangan kananku, bagaimana ini? Apa ku tendang saja biar dia tersungkur."
"Tuan?" Ansell pura-pura terbangun kaget.
Altan tak mempedulikan reaksi kepura-puraan Ansell, karena Altan tahu.
Ansell menggeser tidurnya. Dan membalikan posisi tidur membelakangi Altan. "Menyebalkan. Kenapa dia malah tidur di sini. Harusnya dia mengalah, ahh kenapa tak terfikirkan. Dia kan egois dan keras kepala. Mana mungkin akan mengalah."
"Tuan, saya tidur di kursi saja."
Ansell beranjak dan berjalan menghampiri kursi yang tadi. Tersenyum kecut. "Cuma ada dua kursi, mana bisa untuk tidur. Aku butuh sofa!"
Dengan berat hati Ansell kembali ke tempat tidur. Dan merebahkan diri memunggungi Altan sambil mencebikan mulutnya.
"Kenapa kembali. Bukannya mau tidur di luar?"
Ansell menghembuskan nafas sebalnya. "Kursinya cuma dua Tuan."
"Saya tahu, makannya saya tidur di sini."
"Kalau ada sofa saya pasti tidur di luar." Imbuhnya lagi.
"Tapi Tuan-"
"Tenang, saya tidak akan berlaku kurang ajar." Belum sempat Ansell berucap Altan sudah memotongnya.
"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?" Ucap Ansell masih tetap memunggungi Altan.
"Hem..."
"Kenapa Tuan mau memilih saya? Padahal saya yakin Tuan sudah tahu kalau saya cuma gadis yang menyedihkan, yang mau-maunya disewa." Ucap Ansell menahan nafas. Lalu menghembuskannya perlahan setelah selesai.
"Kamu itu bertanya pada saya, atau pada dinding?" ucap datar Altan.
"Ehh... dia sedang memandangku kah?"
Ansell berbalik. Dilihatnya Altan ternyata benar dia sedang menghadapku.
"Sudah tidur, saya lelah." Ucap Altan lalu menaikan selimut menutupi tubuhnya dan memejamkan matanya.
Ansell masih terus memandangi Altan.
"Jangan terus memandangi saya, nanti kamu bisa jatuh cinta." Ucap Altan masih dalam menutup matanya.
"Ehh dia tahu aku mamandanginya. Dia punya mata di samping kah? Dia berbahaya" gerutu Ansell . Lalu berbalik dan membelakangi Altan lagi. Mencoba menutup matanya rapat-rapat.
...----------------...
Aktifitas pagi di perusahaan hari ini terbilang padat. Riza harus bisa menanganinya, karena Altan tak berangkat pagi ini. Mungkin akan menengok kantornya di sore hari setelah pulang.
Untung saja hari ini tak ada jadwal pertemuan dengan client, hanya membereskan dokumen-dokumen. Dan setelahnya tinggal menunggu di tanda tangani Altan selaku pemilik perusahaan.
Jenny berjalan ke ruangannya.
"Clara, ikut aku." Memanggil Clara yang pagi ini juga baru datang sepertinya.
Jenny meletakan tas nya, lalu duduk di kursi kerjanya. Clara berdiri di hadapan Jenny.
"Ada apa Mrs Jenny?"
"Sini mendekat." Clara berjalan ke samping Nona Jenny.
Jenny membisikan sesuatu rencana.
"Baik." Clara mengangguk mengerti.
...----------------...
Hari ini Demir bangun lebih awal dari Sefa. Di lihatnya Sefa masih tertidur.
Demir bergegas ke kamar mandi membersihkan diri, lalu bergerak ke dapur kecil. Dan mulai aktifitas memasak. Meskipun Demir terkesan seorang pria yang hanya tahu berjudi, tapi setelah mengenal lebih dalam Sefa. Demir merubah dirinya untuk bisa melakukan apapun agar Sefa percaya padanya.
Ya seperti memasak di pagi hari ini, Demir yang selalu membantu neneknya di dapur dan mengantar jemput Eilaria. Jadi lebih bisa memasak di banding Ansell yang sibuk mencari uang.
Memang terbilang aneh. Harusnya kakak laki-laki lah yang melindungi dan menafkahi, tapi ini malah terbalik.
Dilihatnya gadis dihadapannya yang sudah tak gadis lagi karena ulahnya.
Demir mendekat dan duduk di sisi ranjang. Di belainya rambut Sefa yang menutupi wajah putih bening halus. Di usap pipi Sefa dengan ibu jarinya. Demir terseyum sendiri dalam diam. Menatap seksama wajah cantik Sefa.
Wajah gadis yang berhasil merubah kehidupan kelam menjadi bercahaya. Wajah yang selalu membuatnya merindu, wajah yang begitu tenang. Dikecup nya kening Sefa.
Sefa mengubah posisi tidurnya, memiringkan tubuhnya. Demir berjongkok untuk dapat terus bisa memandang wajah Sefa. Di sandarkannya dagu Demir di pinggiran ranjang. Membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Sefa.
Sefa mengerjap saat merasakan ada hembusan aroma mint yang begitu segar, yang selalu memabukan jiwanya.
Sefa membuka kedua matanya perlahan, tersenyum lembut. Memandang wajah Demir.
"Selamat pagi ratu ku." Demir mengecup kening Sefa. Membuat Sefa tersenyum malu, pipinya merona.
...----------------...
"Tuan, kita mau kemana?" Ucap Ansell dengan langkah cepat mengimbangi langkah panjang Altan, yang tak tahu akan berhenti di mana.
BUGH!
"Aduh...Tuan. Kenapa berhenti mendadak." Ansell mengusap hidungnya yang menabrak punggung Altan.
"Ayo masuk."
Ajak Altan sambil menarik tangan kanan Ansell.
"Untuk apa tuan mengajak saya ke bioskop? Saya tidak suka menonton." Ansell melepaskan tangannya yang ditarik Altan.
Altan merasa heran, biasanya wanita paling suka menonton di bioskop. Tapi gadis ini.
"Lalu kau mau ke mana?"
Ansell berpikir sejenak.
"Ayo kita berbelanja tuan, saya tidak mau memakai pakaian dari Nyonya Ivy. Semuanya aneh." Protes Ansell.
Diambilnya dompet dalam saku celana. Lalu Altan memberikan sebuah card berwara hitam mengkilap.
"Tuan?" Ansell memandangnya tanpa mengambilnya.
"Sudah cepat pakai." Altan langsung menaruh paksa di tangan Ansell.
Mau tidak mau, Ansell menerimanya dan melangkahkan kaki.
Altan pun mengikuti kemana Ansell berjalan. Ini kali pertamanya dia mengikuti wanita berbelanja. Terbilang aneh. Biasanya dia yang selalu diikuti. Tapi ini malah dia yang mengikuti.
Ansell berjalan mencari apa yang ingin ia beli. Sementara Altan menunggunya di sofa depan toko. Membosankan . Sudah satu jam tapi Ansell belum juga keluar, memangnya wanita itu kalau berbelanja pakaian akan lama sekali apa.
Diambilnya ponsel di saku celananya, saat ada getaran.
"Ya."
Mendengarkan...
"Nanti sore saya ke perusahaan."
Mematikan ponselnya dengan kasar. Wanita ini juga tak hentinya menggangguku. Tidak bisakah dia membuatku satu hari saja tenang. Jenny.
Ansell keluar dengan rona bahagia, setelah bisa memanjakan dirinya dengan berbelanja.
"Ini Tuan." Menyerahkan card berwarna hitam. Kartu tanpa batas. "Terimakasih banyak."
"Hah.. gadis ini berbelanja selama satu jam hanya mendapatkan dua buah tas belanjaan saja."
"Kau hanya dapat dua tas ini?" Tanya Altan tak percaya. Lalu melihat isinya.
"Apa-apaan, hanya dua buah Mini dress. Dan ini topi yang kau kenakan!" Imbuhnya dengan nada suara yang naik.
Ansell membalasnya dengan senyum kaku. Melihat ekspresi raut muka dan mendengar nada suara Tuan Altan.
...----------------...
Riza hari in benar merasa sibuk dan kacau. Pikirannya bercabang. Antara memeriksa kembali seluruh dokumen, dan mengingat kembali rencana buruk bahkan terburuk yang harus ia jalani.
Sebab Riza hanya takut, jika dirinya lah yang justru akan terjebak di dalam nya. Hari-hari lalu yang ia lakukan bersama Ansell masih terngiang jelas.
Ketika dirinya ditugaskan untuk menemui client bersama. Hari itu bahkan dirinya seakan bermimpi, bisa dekat dengan Ansell. Meski itu dekat dalam arti kata sahabat.
Ansell banyak bercerita tentang hatinya. Dia termasuk kriteria gadis yang mandiri dan berprinsip. Betapa dilemanya dirinya menghadapi sikap-sikap Altan yang cenderung selalu membuatnya kerepotan dan menjerat kebebasannya.
Harusnya gadis se usianya sekarang sedang bersenang-senang dengan kekasih yang bisa mengerti dan memahaminya.
Tapi Altan berbeda. Mungkin karena Altan di haruskan menanggung semua beban pekerjaan sendiri di usia mudanya. Menjadikan Altan kurang beradaptasi degan baik kepada para perempuan.
Hanya satu perempuan yang dulu pernah ia sayangi, namun kehidupan mengambilnya di saat Altan masih membutuhkan sentuhan lembut dari tangan seorang IBU.