
BAB 38. Ketegangan.
Setelah mengantar Altan ke perusahaan, Ansell diantar pulang oleh Pak Husein. Hanya untuk berganti pakaian, sedangkan Pak Husein menunggu Ansell di jalan dekat rumah Ansell.
Nenek Esme yang baru keluar sebentar mendapati Ansell sudah berada di dalam rumah dengan langkah terburu-buru hendak keluar.
"Ansell." Nenek Esme berteriak memanggilnya. Ansell terhenti dan membalikan badan lalu menghampiri neneknya.
"Maaf Nek, Ansell buru-buru. Nanti saat Ansell kembali, Ansell akan ceritakan semuanya." Ansell mencium punggung tangan neneknya dan pergi meninggalkannya sendiri.
Sesampainya di perusahaan, Ansell menatap bingung. Para karyawan nampak sedang bergosip satu sama lain. Apa yang terjadi? Kenapa tampak kacau? Ansell terus saja berjalan tak begitu mempedulikan gosip yang keluar dari mulut karyawan lain.
Di sisi lain, tepatnya di ruang presdir. Riza dan Altan memandang geram Yaza.
"Yaza, kenapa bisa kau melakukan kesalahan sebesar ini. Biasanya kerjamu terarah dan profesional, tapi sekarang di luar kata profesional." Altan menatap tajam Yaza yang sudah mulai gemetar dan berkeringat dingin. Telapak tangannya pun ikut berkeringat.
"Iya. Seharusnya kau memberi tahu dari awal kalau Ansell yang digunakan sebagai modelnya." Riza menimpali ucapan Altan, membuat Altan memandangnya. Memandang Riza yang berdiri di sampingnya.
"Bukan begitu, Mr. Tapi-
Yaza menggantung kalimatnya, ingin bercerita tapi Jenny belum datang.
"Tapi apa!" Altan dan Riza berucap bersamaan sambil menjatuhkan tangannya di atas meja kerja Altan bersebelahan.
Pintu ruang kerja Altan berderit, orang yang ditunggu datang.
"Sebenarnya sudah ada modelnya yang lain, tapi dua hari sebelum penanda tanganan dokumen Mrs Jenny mengganti modelnya. Dan meminta saya untuk diam. Dia berkata Nona Ansell layak menjadi model dengan tubuh seksinya." Yaza menjelaskan dengan menggebu-gebu saat orang yang ditunggu muncul.
Jenny melotot tak terkira, mendapati fakta kalau Yaza mengungkap semua.
"Maafkan kesalahan saya Mr, tapi menurut saya Ansell bagian dari perusahaan ini. Jadi sudah sepatutnya dia juga ikut serta dalam menjadi modelnya, dia juga mempunyai tubuh yang seksi meski tinggi tubuhnya masih kurang digunakan untuk standar model perusahaan kita. Setidaknya itu tak terlalu mencolok, dan di samping itu saya juga sudah mengantisipasinya dengan tidak menunjukan kepala pada pemotretannya."
Jenny membela diri agar bisa selamat dari kemarahan Altan.
"Tapi itu salah. Kamu secara diam-diam menggunakannya tanpa memberitahu saya ataupun Riza. Dan di dalam penandatanganan dokumen tercantum nama Stella sebagai modelnya, itu jelas kau melanggar aturan kerja."
Altan berucap sangat tegas membuat nyali Jenny dan Yaza menciut. Yaza benar-benar takut kalau sampai dipecat. Yaza teringat kembali ucapan Nyonya Ivy.
Yaza ingat ada satu fakta lagi yang harus di ungkap. Agar Jenny mendapatkan hukuman yang berat dibanding dirinya.
"Saya kira bukan itu tujuan Jenny. Kalau memang tujuannya demikian, dia tidak akan meminta saya untuk diam." Yaza semakin membuat panas hati Jenny.
"Dan lagi Mr, Mr masih ingat tragedi waktu saya mengembalikan Ankle strap milik Mr? Saya menemukan Ankle strap itu ada di laci ruangan Jenny."
Fakta baru yang membuat Altan tercengang. Ansell harus rela menjadi korban pemecatan tanpa melakukan kesalahan. Dan kemarin Ansell harus terhina oleh Jenny. Benar di luar kendali.
"Sudah kuduga." Riza menjatuhkan tangannya dengan keras ke atas meja. Membuat Yaza dan Jenny terlonjak kaget. Sedangkan Altan menatap Riza tak percaya.
Riza benar, dia selalu mendukung Ansell. Apakah itu yang membuat Ansell nyaman dengan Riza? Altan menghela nafas.
Di sisi lain Ansell berjalan ke ruangannya, tapi sayup-sayup mendengar suara keras meja yang dipukul. Ansell mendekat ingin masuk ke ruang presdir tapi tepukan lembut menekan bahunya membuat Ansell terlonjak kaget.
...----------------...
Sefa berjalan hendak menemui Demir. Ingin berbicara masalah tentang hubungannya. Jam seperti sekarang pasti Demir sedang bekerja, selama ada ibunya Sefa dan Demir sulit untuk bertemu. Apa lagi untuk saling menyapa jika sedang berpapasan di jalan. Sefa dan Demir hanya bisa saling tersenyum dan bertemu diam-diam seperti sekarang.
"Demir" Sefa memanggilnya berpura-pura memesan minuman dan makanan.
Demir memandangnya dan melambaikan tangan memberi kode untuk menunggu sebentar. Sefa mengangguk.
Setelah selesai menulis pesanan dan meletakan kertas pesanan pada karyawan lain untuk diambilkan pesanannya. Demir bergegas menuju meja yang Sefa duduki.
"Ada apa?"
Demir duduk di hadapan Sefa. "Mau bicara apa?"
"Apa kau marah padaku?"
"Tidak, marah untuk apa." Ucap Demir dan Sefa tersenyum.
"Apa kau akan tetap memperjuangkan ku?"
"Tentu, aku akan berusaha membuat ibumu yakin dan percaya padaku." Ucap Demir sungguh-sungguh.
"Sekarang pulanglah, aku takut ibumu mencari. Kalau sampai ibumu melihatmu dengan ku, semua akan semakin sulit. Untuk saat ini kita tak bisa sering bertemu, aku harap kau bisa mengerti."
"Baiklah, aku tunggu nanti malam setelah aku pulang kerja. Jemput aku dan kita pergi berdua." Sefa meminta dan Demir tersenyum mengangguk. Lalu berdiri dan mencium kening Sefa.
"Aku bekerja lagi, sampai bertemu nanti." Sefa mengangguk dan berdiri saat melihat Demir berjalan pergi.
Sefa berjalan sendirian, menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Merasakan beban hati yang semakin membebani. Ini yang Sefa takutkan, jikala ibunya tahu pekerjaan Demir yang belum mapan.
...----------------...
Di satu tempat, tepatnya di rumah kayu tempat Baba Mehmet bekerja. Dua orang tua yang telah bersahabat lama sedang bercengkrama. Mengingat masa silam dimana keduanya masih sangat muda.
Dua orang lelaki tua itu sedang bermain catur.
"Apa kau tahu Yakuz, singa kecilmu telah menemukan pilihannya?" Baba Mehmet sambil menjalankan prajurit kecilnya.
"Ya, tapi dia belum berani memperkenalkannya pada ku." Prajurit kecilnya berjalan miring.
"Dia sama persis sepertimu, malu-malu untuk mengungkap cinta tapi tak mau kehilangan."
"Tentu, dia singa ku. Aku yang membesarkannya seorang diri pasti sangat mirip denganku." Melajukan tentara prajurit lainnya. "Apa kau pernah melihatnya?"
"Tentu, dia gadis yang sopan dan manis. Pantas saja singa kecilmu sangat mencintainya."
"Apa anakku selalu bercerita semuanya padamu?"
"Tidak, hanya sebagian. Dia masih malu-malu untuk bersikap terbuka."
"Benarkah."
"Ya, aku selalu menasehatinya. Sama persis seperti aku menasehatimu."
Kedua orang tua ini saling tertawa, tak ada yang berbeda. Masih tetap sama tingkat humor dan keakrabannya, meski usia sudah tak muda lagi.
...----------------...
"Nenek, kita mau ke mana? Dan kenapa Nenek membawa semua ini?" Ei bertanya saat mengikuti neneknya berjalan sambil membawa satu buah tas jinjing besar dan beberapa makanan rumahan.
"Ke rumah Sefa, Nenek ingin tahu seperti apa ibunya Sefa." Ucapnya masih terus berjalan sedangkan Ei tetap mengekori sambil membawa tas yang sepertinya berisi banyak makanan, membuat Ei kelelahan.
Setelah sampai, Nenek Esme mengetuk pintu dan ibunya Sefa membukakan.
"Maaf, mencari siapa?" Ucapnya.
"Oh... ternyata ini ibunya Sefa."
"Mencarimu."
"Saya? Tapi saya tak mengenal Nenek " ibunya Sefa nampak bingung.