Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 32. Maksud Terselubung.



BAB 32. Maksud Terselubung.


Riza menghubungiku disaat aku sedang bersama Ansell dan hanya mengatakan tak ada masalah. Keterlaluan.


"Kau kenapa, menatapku seperti itu?"


"Tidak." Jawab Altan malas.


"Ayo kita bertanding basket?"


"Tidak, aku lelah ingin beristirahat." Alasan Altan.


"Lelah? Memangnya kau dan Ansell ke mana?"


Altan menghela nafas. Bisa tidak si...dia bersikap biasa saja padaku dan Ansell.


Melihat Altan memang terlihat lelah, Riza berdiri. "Baiklah, aku pulang dulu."


Riza melangkah, seketika berhenti dan berbalik. "Oh ya... besok  ada sesi pemotretan untuk produk terbaru kita. Yaza sudah mengatakannya tadi sore padaku, dan seperti biasa karyawati kita yang akan menjadi modelnya."


"Baiklah, kau urus saja. Dan Jenny tetap menjadi penanggung jawabnya bukan?


"Tentu, seperti biasa. Ya sudah aku pulang, selamat malam." Riza berbalik dan melanjutkan langkahnya


...----------------...


"Ansell." Sefa berteriak memanggil Ansell saat melihat Ansell hendak ke supermarket.


"Hai..Sefa, kau baru pulang. Mana Demir? Biasanya kau bersamanya." Ansell berhenti dan menunggu Sefa.


"Iya, tadi Demir denganku. Tapi dia mampir ke cafe Karim, kau mau berbelanja?"


"Cafe Karim?" Ansell berpikir mungkinkah Demir berusaha memberi tahu Karim sebenarnya? Jika benar itu bagus. Aku harap mereka juga bisa berteman baik. "Iya aku mau berbelanja, kau mau ikut? Biar nanti makan malam bersama."


"Boleh, memang Nenek Esme belum memasak?"


"Belum, stok persediaan habis jadi aku harus membelinya."


Beberapa saat kemudian...


Semua hidangan telah tersaji, dan kini semuanya telah berkumpul di meja makan kecil belakang rumah Ansell.


"Kak, apa kau sudah berbicara pada Karim?" Ansell bertanya dan Demir mengangguk.


"Wah, aku harap Karim bisa menerima hubungan kalian."


"Tentu, mulai sekarang aku dan Karim berteman." Jawab Demir dengan senyum berkembang.


"Syukurlah, apa kau sudah melamar Sefa?" Ansell menatap Demir dan Sefa bergantian. Dan Sefa tersenyum malu lalu mengangguk.


"Wah." Ansell langsung berdiri dan memeluk neneknya. "Lihat Nek, cucu laki-laki Nenek sudah berani melamar Sefa."


"Hebat, Nenek doakan kalian bisa bahagia sampai maut memisahkan." Nenek Esme tersenyum haru dan bahagia.


"Apa kau sudah mengatakan pada ibumu Sefa?" Ansell bertanya tapi Sefa menggeleng.


Ansell berjalan menghampiri Sefa dan memeluk bahu Sefa. "Ayolah Sefa, cepat kau katakan pada ibumu."


"Akan aku usahakan, tapi aku takut ibuku...."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak dahulu, kamu kan belum mencobanya." Demir memberi dukungan untuk Sefa. Dan Sefa tersenyum sambil mengangguk.


...----------------...


Aktivitas perusahaan hari ini terbilang padat, Altan harus menemui dua client langsung untuk merencanakan produk baru yang akan diluncurkan bulan depan.


Yaza menemui Altan sebelum Altan pergi bertemu dengan client.


"Mr Presdir. Sesuai rencana, hari ini ada pemotretan perdana produk terbaru. Boleh saya membawa Ansell?"


"Ansell? Untuk apa?" tanya Altan bingung.


"Untuk membantu saya."


"Baiklah, kamu atur saja semuanya sesuai jadwal yang telah kau rancang. Saya akan mengabari Ansell." Altan berdiri dari kursi kebesarannya.


"Baik, terimakasih Mr." Yaza berdiri dan menunduk hormat lalu undur diri.


Altan berjalan keluar ruangannya dan mampir ke ruangan Ansell.


"Ansell."


"Iya Tuan." Ansell langsung berdiri saat melihat Altan masuk ke ruangannya dan Ansell mengambil tasnya serta buku-buku catatan yang diperlukan untuk menemani Altan menemui client.


"Kamu tidak akan menemani saya menemui client, karena Yaza memerlukanmu untuk membantunya dalam sesi pemotretan produk terbaru."


"Sudah jangan banyak bertanya, saya sudah mau berangkat. Dan kamu langsung temui Yaza di ruang pemotretan, nanti saya menemui client dengan Riza."


"Baik Tuan." Ansell mengangguk dan Altan berbalik dan keluar ruangan Ansell. Sedangkan Ansell bergegas menemui Yaza.


Saat sudah sampai di ruang pemotretan, Ansell di beri tahu seorang ahli rias dan busana. Agar Ansell segera berganti pakaian yang telah dipilihkan. Ansell sedikit bingung, kenapa dirinya yang harus berganti pakaian?


"Apa mungkin aku yang menjadi modelnya? Tapi kenapa baru di beri tahu."


"Ayo cepat berganti pakaian, biar kita tepat waktu dan tak ada waktu yang terbuang sia-sia." Seorang ahli rias dan busana memperingatkan Ansell, mau tidak mau walaupun dalam kebimbangan Ansell pergi ke ruang ganti dan setelahnya berhias.


Hampir mendekati jam makan siang, sesi pemotretan selesai. Benar-benar menguras energi. Ansell mengenakan kembali pakaiannya semula, dan berjalan menghampiri Yaza.


"Mr, kenapa saya yang menjadi modelnya? Sedangkan saya tak diberi tahu dari awal."  Ansell bertanya.


Yaza berpikir untuk mencari alasan jawaban. "Karena...karena model yang awal kita pilih ternyata tidak berangkat. Makannya saya menggantinya dengan mu."


"Oh... begitu." Ansell percaya saja penuturan Yaza.


"Terimakasih ya Ansell, dadah." Yaza buru-buru pergi. Dan Ansell kembali ke ruangannya. Altan melihat kedatangan Ansell dari kaca samping ruang kerjanya setelah pertemuan dengan client telah selesai. Tinggal satu Client lagi nanti sore.


Jenny mengetuk pintu ruang presdir.


"Masuk." Altan berteriak. Jenny pun masuk dan memberi salam.


"Bagaimana, lancar pemotretannya?"


"Lancar Mr." Jawab Jenny sambil mengangguk.


"Terus ada apa lagi?" Altan bertanya saat Jenny menatapnya seperti ingin meminta ijin.


"Bolehkah besok Ansell bersama saya Mr? M.maksud saya, saya ingin mengajaknya untuk membeli beberapa pakaian yang akan digunakan untuk model pemotretan berikutnya dengan jenis sepatu yang kedua yang akan kita luncurkan bersamaan."


"Oke...saya akan memberitahunya."


"Tapi, besok saya akan menjemputnya pagi-pagi di kediaman Mr. Agar kami bisa memilih kostum dengan tepat."


"Oke."


"Terimakasih Mr." Jenny membungkuk memberi salam dan undur diri.


Altan berdiri dan mengetuk kaca samping memberi kode pada Ansell agar ke ruangannya. Ansell mengangguk paham lalu berjalan ke ruangan presdir.


"Tuan, ada apa?" Ansell berdiri di depan Altan yang sedang duduk di pojokan meja kerjanya.


"Apa kau sudah makan siang?" Altan bertanya sambil tersenyum dan menyentuh rambut samping Ansell dengan jari telunjuknya.


"Belum Tuan." Ansell tersenyum malu saat mendapat perhatian dari Altan.


"Kenapa belum?" Altan memainkan rambut di samping telinga kiri Ansell dengan jari telunjuknya. Ansell menjadi salah tingkah.


"M.mm apa boleh saya ijin keluar?" Ansell bertanya ragu.


"Untuk?" Alatan masih memainkan rambut Ansell


"Untuk menemani Kakak saya dan makan siang bersamanya."


"Baiklah. Oh ya... besok pagi kau akan keluar bersama Jenny."


"Bersama Mrs Jenny?" Ansell menatap tak percaya. Apa jangan-jangan Jenny hanya ingin mencari alasan dengan maksud tertentu. Itu aneh, tak seperti biasanya.


"Iya... temani dia mencari kostum baru untuk sesi pemotretan berikutnya." Altan tersenyum dan mengakhiri bermain-main rambut Ansell.


Ansell mengangguk mengerti walaupun hatinya curiga. "Baik Tuan, saya permisi kalau begitu."


"Oke." Jawab Altan lalu berdiri dari duduknya. Dan Ansell berjalan menuju pintu.


"Tunggu." Altan mencegah Ansell untuk membuka pintu.


Ansell membalikan badan. "Iya Tuan?"


Altan berjalan dan tersenyum penuh arti saat menatap Ansell, membuat Ansell tersenyum malu. Lalu Altan berjalan ke kaca samping ruangannya untuk menutup dengan tirai penutup. Kemudian berjalan mendekat Ansell. Ansell memutar bola matanya bingung.


Altan meraih pinggul Ansell dan memeluk Ansell. Ansell seperti membeku saat merasakan pelukan Altan. Tangan kanan Altan mengunci pintu ruangannya, sekarang hanya ada Ansell dan Altan saja dalam ruangan tertutup.


Altan meraih dagu Ansell untuk mendongakkan kepala Ansell agar menatapnya. Perasaan Ansell menjadi tak karuan saat pandangan matanya sama-sama saling bertemu. Altan tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya. Ansell memejamkan matanya saat nafas Altan sudah semakin terasa.


Seketika saat keduanya sudah sama-sama menginginkannya, pintu diketuk dari luar membuat Altan menghentikan aksinya.


"Altan, buka pintunya." Terdengar suara Bibi Ivy dari balik pintu membuat Ansell dan Altan saling pandang.


Pintu terus diketuk dan suara bibinya terus memanggil nama Altan. Mau tidak mau Altan membukakan pintu.