
BAB 22. Cemburu, Benarkah Ini Yang Namanya Cemburu?
"Kau baru sampai apa sudah lama?"
Tanya Riza saat sudah masuk dan duduk di hadapan Altan.
"Belum lama."
Jawab Altan singkat sambil membuka dokumen yang belum ditandatangani olehnya. Altan malas untuk menanggapi Riza saat ini, setelah Altan mendengar gosip yang Clara katakan tadi bersama temannya.
"Oh, bagaimana? Sukses?"
Riza bisa merasakan kalau saat ini sahabatnya sedang ada masalah. Tapi Riza tetap bersikap biasa saja.
Altan hanya mengangguk malas.
"Sudah....."
Belum sempat Riza melanjutkan ucapannya, Altan langsung menutup map berisi dokumen yang sedang ditandatangani olehnya. Dan menatap tajam ke arah Riza.
Riza tahu jawaban pasti akan pertanyaan yang belum sempat keluar. "Oke."
"Ada apa?"
Altan bertanya basa basi, mengambil dokumen berikutnya.
"Kau marah padaku?" Tanya Riza ragu.
"Tidak."
Tanpa memandang Riza dan fokus menandatangani dokumen dihadapannya.
"Sepertinya, kau marah padaku."
"Sudah ku bilang tidak, ya tidak!"
Gertak Altan yang tiba-tiba saja terpancing emosi. Riza kaget. "Kenapa dengannya?"
"Oke, aku pergi. Maaf mengganggu."
Riza berlalu begitu saja dengan sangat kecewa. Entah apa salah yang diperbuatnya.
Altan memandang kepergian Riza dengan nafas yang naik turun menahan emosinya. "Kenapa bisa aku terpancing hanya dengan menatapnya? Sial!"
...----------------...
Clara masuk diam-diam ke ruangan Jenny. Membuat Jenny kaget saat sedang berfoto dengan handphone nya.
"Ada apa?"
Meletakan handphone di atas meja kerjanya dan merapikan pakaiannya.
"Berhasil Mrs. Mr Altan sepertinya terpancing isu yang ku buat."
"Bagus, lanjutkan sampai benar-benar berhasil."
"Siap. Mrs, apa kau tahu? Sepertinya gosip yang kubuat benar adanya." Ucap Clara sedikit berbisik.
"Benarkah?"
Clara mengangguk pasti.
"Itu lebih bagus. Kita tak harus susah payah menjalankannya."
...----------------...
"Sefa, kau masih di kamar mandi?"
Ansell keluar kamar menuju dapur. Tapi tak ada jawaban dari Sefa. Hanya terdengar suara kran air yang berbunyi. "Mungkin itu Sefa."
"Aku pergi dulu ke supermarket."
Ansell berteriak agar Sefa bisa mendengarnya. Lalu berjalan. Terdengar pintu kamar Demir tertutup keras, membuat Ansell terlonjak kaget saat melewatinya.
"Kak Demir, kau sudah pulang?"
Ansell berhenti di depan pintu kamar Demir yang tertutup rapat. Tapi tak ada jawaban.
"Kak Demir! Kau kah yang di dalam?"
Ansell mengetuk pintu karena tak ada jawaban dari dalam.
"Kak?"
"I.iya....." Demir menjawab dengan suara nafas terengah-engah.
"Kak Demir, kau kenapa?" Ansell curiga berandai kalau Demir kenapa-kenapa di dalam.
"Ti.tidaaakk." Suaranya semakin parau.
"Kau mau sesuatu? Aku akan keluar."
"Ti.tidak..."
Dia kenapa? Tak seperti biasanya Demir begitu. Ansell berjalan meninggalkan kamar Demir. Tak tahu ada pergerakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar Demir.
Yang tahu hanyalah dua insan yang sedang dimabuk cinta.
...----------------...
Nyonya Ivy menelpon Yaza. Untuk mencari tahu bagaimana perkembangan misinya.
Yaza mengatakan segalanya. Seperti yang ia prediksi dalam pikirannya. Kalau Riza ada hati yang sebenarnya terhadap Ansell.
Nyonya Ivy yang mendapat informasi tersebut sedikit tak percaya. Mana mungkin malah jadi seperti ini.
Ini semua tak boleh terjadi. Dirinya harus memperingati adik iparnya agar tak salah jalan.
Kalau sampai adik iparnya itu benar-benar menyimpan rasa untuk Ansell, bisa hancur semua rencananya.
Di telpon nya Riza untuk datang ke rumah.
Dua jam kemudian...
"Kakak Ipar."
Nyonya Ivy yang melihat Riza masuk, bergegas menghampirinya.
"Kau ini bagaimana!"
Riza bingung. Baru datang langsung disuguhi omelan kakak iparnya.
"Sini duduk."
Menarik paksa tangan Adik iparnya yang sedari tadi masih berdiri mematung.
"Apa Kakak Ipar?"
"Apa-apaan Kau ini! diberi misi untuk membuat Altan cemburu, malah kamu yang benar ada hati."
Nyonya Ivy memukul bahu Riza keras, membuat Riza mengaduh.
"Kau diam berarti meng iya kan!."
"Maaf." Ucap lirih Riza nyaris tak terdengar. Tapi Kakak iparnya yang mempunyai pendengaran tajam bisa mendengarnya.
"Kau itu harus fokus pada misinya! Bukan malah meresapi nya."
"Maaf." Hanya kata maaf yang Riza bisa ucapkan.
"Mulai sekarang kau harus fokus pada misinya!"
Riza mengangguk terpaksa melihat Kakak iparnya berkali-kali membentaknya.
...----------------...
Altan memilih langsung pulang setelah semua dokumen sudah selesai ia tandatangani. Hatinya kacau kalau hari ini masih berada di lingkungan perusahaannya.
Diraihnya jas kerja yang tadi ia letakkan di atas sofa. Kemudian berjalan keluar ruangannya.
"Mr."
Jenny memanggilnya saat melihat Altan berjalan menuju lift. Altan berhenti dan menengok Jenny.
"Ada apa?" Tanyanya malas.
"Mr akan pulang?" Jenny mendekat dan berdiri di sebelah Altan.
"Iya." Masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Jenny mengikuti Altan masuk.
Altan malas untuk berbicara dengan siapapun hari ini. Jenny berkali-kali melirik Altan yang sedari tadi mematung menatap satu arah.
"Sepertinya benar, Mr Presdir sedang cemburu. Baguslah."
"Mr, Mr akan langsung pulang?"
"Hem..."
"Boleh saya ikut?"
Altan melirik dengan ekor matanya mendengar penuturan Jenny. Tapi mengabaikannya. Diambilnya ponsel dalam saku celananya. Dicari nomor Ansell lalu mengirim pesan.
Entah insting apa yang membuatnya mengirim pesan ke Ansell.
Jenny melirik ponsel Altan. Saat Altan sedang mengetik pesan.
"Mr, kemarin kemana?" Pura-pura bertanya, padahal sudah tahu jawabannya.
"Liburan."
"Owh, bersama Nona Ansell?
Altan mengangguk pasti. Lalu berhenti berbicara saat pintu lift terbuka. Dilihatnya Yaza yang juga akan ikut turun ke lobi.
"Mr Presdir." Yaza memberi salam dan masuk. Diliriknya Jenny yang menatapnya tak suka. Sepertinya Jenny akan berulah.
Pintu lift terbuka saat sampai di lantai paling bawah. Altan bergerak cepat meninggalkan Jenny dan Yaza .
Sesampainya di rumah, Ansell ternyata sudah datang lebih dahulu. Dia terlihat sedang memasak, Altan bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Ansell menengok ke belakang. "Sepertinya tadi ada orang di belakang? tapi sekarang tak ada. Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja." Ansell kembali melanjutkan memasaknya.
Setengah jam kemudian...
"Ansell."
Ansell menoleh. "Tuan, Tuan sudah pulang?"
Altan mengangguk dan berjalan mendekat ke Ansell. Ansell masih tetap melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam.
Tiba-tiba Altan memeluk Ansell erat dari belakang. Membuat aktifitas Ansell terhenti, dan Ansell berdiri tanpa bergerak.
"Ini aneh, kenapa aku membiarkannya memelukku? Ada apa denganku. Dan kenapa Tuan memelukku tiba-tiba."
Keduanya saling diam membisu dan mematung. Sama-sama berada dalam posisi yang sepertinya membuat keduanya nyaman. Kenyamanan yang selalu dirindukan tapi tak mampu dilakukan.
"Altan."
Riza masuk mendadak, membuat kedua insan yang sedang berpelukan melepaskan diri. Ansell sangat canggung melihat Riza yang sepertinya tak enak hati.
Altan melihat Riza dan menatap Ansell seperti itu membuat darahnya seakan mendidih. Dilingkarkannya lengan tangannya ke bahu Ansell. Agar Riza tau kalau Ansell miliknya.
Rasa cemburunya menghilangkan pikiran sadarnya. Ansell yang di peluk dari samping semakin menjadi bingung dan canggung.
"Ini ada apa? Kenapa mereka saling pandang seperti menyimpan kemarahan. Bukankah mereka bersahabat? Dan ini lagi kenapa Tuan Altan melingkarkan lengannya di bahuku? Aneh."
"Maaf, aku kira tadi tak ada Ansell."
Riza berucap setelah beberapa menit tak ada satu suara pun di antara mereka.
"Aku pulang saja." Lanjutnya.
"Tunggu Mr Riza." Ansell menahannya. Membuat Riza berbalik dan menatap nya.
"Iya."
"Ayo makan malam sekalian." Ansell beralih menatap Tuan Altan. "Bolehkan Tuan?"
Altan menatap tak suka akan ucapan Ansell. Riza memandang Altan.
"Tidak usah, saya langsung pulang." Riza berjalan keluar.
"Tuan?" Ansell ingin bertanya tapi tak berani.
Altan memandang Ansell seksama. Semakin Ansell berbicara dengan Riza, semakin terasa hatinya sakit seperti tercabik-cabik.
Altan tak tahu dan belum menyadari sikap konyolnya ini.
*
*
*
*
Maaf baru up, lagi bikin yang baru. Kalau berkenan silahkan mampir di karya ku yang berjudul
HIDUP TAK AKAN PERNAH SAMA
Menceritakan gadis muda berusia 19 tahun yang dipindah tugaskan oleh perusahaan cabang ke pusat. Namun belum juga gadis tersebut duduk di atas ranjang kamar kos nya yang baru, dia harus bertemu dengan lelaki brengsek, arogan dan dijuluki sang casanova.
Pria itu berhasil masuk ke kehidupan gadis itu. Sanggupkah gadis itu bisa menyikapi pria yang dijuluki casanova?
padahal dirinya sudah mempunyai kekasih yang sempurna dan baik hati, jadi untuk apa gadis itu mempedulikannya?
Atau inikah namanya cinta?
Lantas bagaimana hubungan gadis itu dengan kekasihnya?
Mau tahu kisah lengkapnya. Jangan lupa mampir ya.😊