
BAB 17. Will You Marry Me?
"Apa?" Yaza pura-pura tak paham akan apa yang dimaksud Jenny.
"Tidak usah menyembunyikan, aku yakin kau tahu sesuatu!" Tegas Jenny.
"Ya sudah kalau menang kau tahu, tak susah-susah aku harus menjelaskan kepada presdir." Tantangnya.
Jenny melotot. "Sial! Berarti Yaza yang telah mengambilnya!"
...----------------...
Demir berjalan hendak ke rumah Sefa. Tapi di jalan malah bertemu dengan Sefa yang malah justru sedang bercanda dengan Karim.
Cemburu yang sudah menjalar di hatinya harus Demir tutup rapat. Agar dia bisa bersikap biasa saja. Yang ia tahu Karim belum tahu tentang hubungannya dan Sefa.
Demir berjalan lurus tanpa memandang ke arah Sefa.
Sefa yang melihatnya berjalan, ingin sekali memanggilnya tapi Sefa tak bisa. Karena merasa tak enak hati ada Karim yang sedang bersamanya.
Sefa hanya menatap kepergian Demir begitu saja, dengan air muka yang memendam permintaan maaf.
"Maaf aku tidak bisa menyapamu."
Karim yang melihat raut muka Sefa yang terlihat jelas memandangi kepergian Demir dengan kecewa. Bisa menafsirkan pasti ada sesuatu di antara mereka.
Tapi Karim tak kuasa menanyakannya.
...----------------...
Ketukan pintu dari luar rumah Altan terdengar. Altan, Ansell dan Riza membereskan pakaiannya. Riza yang tadi di telfon Altan untuk menemaninya, agar bisa membantu menangani masalah ini.
Sepasang suami istri pemilik stasiun TV masuk dengan sopan saat Altan membukakan pintu.
"Halo Tuan Altan Yakuz, senang sekali saya bisa berkunjung ke kediaman pribadi Anda." Ucap sopan Mrs Hazel.
Altan tersenyum ramah. "Saya yang berterimakasih, karena Mr Stive Baris dan Mrs Hazel Baris bisa berkenan datang."
"Perkenalkan, ini Ansell. Dia yang akan menjadi istri saya."
"Hahh...."
Ansell melirik canggung saat Altan memperkenalkannya sebagai calon istrinya dengan memeluk erat bahunya.
Sementara Riza membulatkan matanya tak menyangka kalau sahabatnya akan langsung memperkenalkan Ansell sebagai calon istrinya. Luar biasa. Pencapaian rasa yang sudah jelas terlihat.
"Hallo calon Nyonya Ansell Yakuz. Senang bertemu langsung dengan Anda."
Mrs Hazel dan Mr Stive menyalami Ansell bergantian.
"Mari silahkan masuk." Ajak Altan membimbing Mr Stive dan Mrs Hazel masuk ke ruang perjamuan.
Sementara Ansell memandang tak yakin ke arah Riza, namun Riza tersenyum meyakinkan. Lalu mendorong Ansell untuk mengikuti Altan.
"Wah, romantis sekali suasananya."
Ucapan takjub Mrs Hazel saat melihat sekelilingnya. Meja perjamuan yang dihias indah. Pernak pernik lampu kecil di setiap pohon. Pencahayaan redup dari lampu taman. Karena makan malam dilakukan di halaman belakang.
"Saya sengaja mendekor semua ini sebagai ungkapan rasa cinta saya terhadap calon Istri saya.
Memandang Ansell dengan penuh keyakinan dan tersenyum. Sementara Ansell tersenyum canggung melihat tatapan Altan.
Riza tersenyum bangga atas penuturan keseriusan dari sahabatnya.
"Wah, Anda romantis sekali, saya kira Nona Ansell pasti sangat bahagia mendapat perlakuan seperti ini. Iya kan sayang."
Menatap sang suami sambil mengusap lembut lengan Mr Stive. Mr Stive mengangguk pasti.
"Benar sekali sayang. Beruntung sekali Nona Ansell bisa mendapatkan hati sang Presdir Altan Yakuz."
Altan dan Ansell saling melirik.
"Ah.. Mrs Hazel bisa saja. Saya juga tidak mengira kalau Tuan Altan akan membuat semua ini untuk saya."
Ansell berpura-pura romantis memeluk lengan Altan dan menyandarkan kepalanya di bahu Altan. Dan Altan langsung mencium pucuk kepala Ansell yang bersandar di bahunya.
"Ouwww..." Riza berbinar sangat gembira melihat keduanya.
Ansell semakin tak bisa mengontrol degup jantungnya. Kenapa perlakuannya malam ini begitu manis. "Ini sungguhan atau rekayasa? Ansell stop jangan berharap lebih. Ini pasti rekayasa! Mengerti."
"Sebentar."
Altan bangkit dari duduknya. Memberi kode pada Riza untuk menangani sebentar Mr Stive dan Mrs Hazel.
Riza kaget. Apa yang harus dijawabnya . Tapi Riza mengangguk saja. Anggaplah mengerti. Altan berjalan masuk ke rumah.
Mrs Hazel bertanya. " Tuan Altan mau apa, Mr Riza?"
"Presdir.....mau mengambil sebuah cincin untuk melamar Nona Ansell di hadapan Mr Stive dan Mrs Hazel." Jawabnya asal.
"Ya... Tuhan... semoga alasanku benar. Kalau sampai salah. Malu lah aku, tolong kabulkan Tuhan."
Ansell menelan ludahnya dengan susah payah. Saat mendengar jawaban Mr Riza.
Di kamarnya tepatnya di meja kerja. Altan membuka laci dan mengambil sebuah kotak kecil dari kayu, lalu membukanya. Di dalam kotak kayu tersebut, ada kotak kecil lagi berwarna violet. Dibukanya kotak berwarna violet. Sebuah cincin bermata ruby dengan warna biru gelap terpancar indah.
Altan sampai kembali ke halaman belakang. Diraihnya tangan Ansell, Ansell berdiri menatap ragu Altan.
"Apa yang akan dia lakukan."
Mr Stive, Mrs Hazel dan Riza memandang seksama apa yang akan dilakukan Altan kepada Ansell.
Altan membawa Ansell berjalan, dan berdiri di bawah lampu pohon yang telah berhias lampu-lampu kecil.
Altan mengambil tangan kiri Ansell. Kemudian mengambil cincin bermata ruby dari saku celananya.
Bola mata Ansell berbinar terkejut, saat melihat sebuah cincin indah di hadapannya.
"Will you marry me?"
"Be a mother to my children."
"And be the consort of my heart."
Altan menatap bola mata Ansell yang berbinar tak percaya, dengan penuh keyakinan dalam ucapannya.
" Ansell mencoba menolak semua perlakuan penuh keyakinan ini. Karena Ansell tak mau berharap lebih.
Ansell ini semua skenario. Jangan percaya. Iya kan saja. Ikuti permainannya."
Ansell menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Altan memasukan cincin bermata ruby itu ke jari manis Ansell.
Altan tersenyum bahagia dan mencium lembut punggung tangan Ansell.
Bola mata Mrs Hazel berbinar bahagia. " Ayo kasih kiss Nona Ansel, Presdir." Bujuk nya.
Ansell menatap ragu Altan. Tak percaya. Skenario ini seperti nyata. Tidak mungkin.
Altan dengan keyakinan pasti akan rasanya mulai menaikan dagu Ansell, memandang bibir ranum seksi merah alami Ansell.
Ansell semakin gugup saat wajah Altan mulai mendekat. Degup jantungnya seakan sedang berlari maraton.
DEBUG!
Nyonya Ivy tak sengaja menjatuhkan tas yang ia bawa. Melihat Altan akan mencium Ansell.
Ansell langsung melengos, membuat Altan tak jadi menciumnya. Sial! Gerutu Altan.
Ansell berjalan cepat menemui Nyonya Ivy. "Syukurlah, kau menyelamatkan ku Nyonya. Terimakasih.".
Riza menutup mukanya dengan kedua tangannya. "Aduh... gagal."
Altan seolah bersikap biasa saja saat menyalami Paman dan bibinya.
Nyonya Ivy bercakap dengan Mrs Hazel.
"Senang sekali bisa menyaksikan acara seromantis ini secara langsung, Nyonya."
"Saya juga tidak mengira kalau keponakan saya akan melamar gadis manis ini di hadapan Mr Stive dan Mrs Hazel."
"Kapan Presdir Altan Yakuz akan menikahi Nona Ansell, Nyonya Ivy?"
Pertanyaan Mrs Hazel membuat canggung Ansell dan Altan. Mereka tak bisa menjawab apa-apa.
Dengan penuh percaya diri tanpa menanyakan langsung kepada yang bersangkutan, Nyonya Ivy menjawab. " Secepatnya Mrs. Nanti Mr Stive dan Mrs Hazel akan menjadi tamu yang spesial."
"Wahh, terima kasih banyak Nyonya."
"Berhubung waktu sudah malam. Kami undur diri dulu Nyonya, Tuan." Membungkuk memberi salam.
...----------------...
Demir datang ke rumah sewaan Sefa. Tak ada maksud untuk mencari tahu, baginya kejadian tadi sore sudah tak penting lagi.
Sefa membukakan pintu setelah mendengar seseorang mengetuknya dari luar. Demir.
"Kau mau makan malam apa? Biar aku yang membuatkan."
Berbicara santai setelah mengecup bibir Sefa. Sefa memandang Demir dengan senyum bahagia. Dia tidak menanyakan kejadian tadi sore.
"Terserah." Jawab Sefa lirih.
Demir tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya menggoda Sefa. Sefa langsung memukul lengan Demir. Keduanya lalu berjalan menuju tempat masak.
...----------------...
"Altan, ayo kita ke perusahaan. Tadi Yaza memberitahu ada sesuatu yang akan dia sampaikan kepadamu."
Ucap Nyonya Ivy penuh makna terselubung.
"Aku pergi dulu." Ucap singkat Altan. Kemudian mencium kening Ansell.
Ansell kaget. "Eh.... Kenapa dia menciumku"
Setengah jam kemudian....
"Ada apa?" Ucap langsung Altan saat berhadapan dengan Yaza.