
BAB 33. Merubah Diri.
Bibi Ivy menatap curiga kepada Altan dan Ansell serta menatap sekeliling. Melihat tirai tertutup dan menyadari pintu di kunci dari dalam.
Nyonya Ivy menatap dengan tatapan menggoda keduanya. "Kalian...?"
Ansell dan Altan saling pandang.
"Saya permisi Tuan, Nyonya." Ansell memberi kode kedipan mata agar Altan mengijinkannya keluar dari situasi yang semacam ini.
Altan mengangguk. "Silahkan."
Nyonya Ivy masih tetap memandang keduanya dengan tatapan penuh curiga. Ansell membungkuk memberi hormat pada Altan dan Nyonya Ivy lalu berjalan keluar secepatnya. Sedangkan Altan berbalik untuk duduk di kursi kerjanya.
"Altan, kau dan Ansell....kalian sudah berpacaran?"
"Berpacaran?" Altan pura-pura tak mengerti.
"Iya...jangan berbohong pada Bibi."
"Tidak...m.maksudku belum." Jawabnya dengan mengusap tengkuknya. "Ada apa Bibi kemari?" Mengalihkan topik pembicaraan.
"Mencari Riza, tapi Riza tak ada di kantor."
"Riza keluar sebentar bersama Ismet." Jawab Altan.
"Ohh... ya sudah Bibi pulang dahulu." Tatapan Nyonya Ivy masih tak percaya pada Altan kalau dia dan Ansell tak berpacaran.
"Baiklah.... hati-hati Bibi." Altan menatap bibinya cemas, takut kalau bibinya menaruh kecurigaan yang pada dasarnya memang benar Altan mencintai Ansell meski tak pernah terucap sampai saat ini.
...----------------...
"Kak Demir." Ansell berjalan mendekati Demir yang sedang melayani pengunjung di tempat kerjanya.
"Ansell, kau di sini. Duduk saja di sana dahulu. Nanti aku ke mejamu." Jawab Demir sambil menulis pesanan pengunjung dan Ansell mengangguk lalu menuju meja samping yang masih kosong.
Setelah selesai melayani pelanggan dan membawakan pesanan pelanggan lain, Demir menghampiri Ansell dan duduk di depannya. "Ada apa, tumben kau ke sini?"
"Ayo ikut dengan ku." Ajak Ansell.
"Kemana?"
"Sudah ikut saja, Kakak ijin dahulu." Ansell berdiri dan menarik tangan Demir.
Beberapa saat kemudian...
"Ansell, kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?" Mata Demir memandang sekeliling, sebuah toko baju dengan model terbaru dan ternama lengkap.
Ansell berjalan memilihkan satu baju model kantoran lalu diberikan ke Demir untuk dicoba. Demir menatap tak percaya. "Ayo cepat dicoba."
Ansell mendorong Demir menuju ruang ganti. Dan keluar dengan mengenakan pakaian yang dipilihkan Ansell. Ansell menatapnya dan menggeleng.
Demir menghela nafas, Ansell mencarikannya lagi sampai beberapa pakaian. Dan Demir mencobanya satu persatu. Ansell menunggu di luar dan saat Demir keluar ruang ganti Ansell menggeleng berkali-kali, bak penilai busana profesional.
Demir lelah, ini pakaian terakhir setelah sebelas kali bolak-balik ruang ganti dan mendapatkan gelengan terus dari adiknya.
Demir berjalan keluar dengan langkah gontai, pasti Ansell akan menggeleng lagi. Ansell menatap tak percaya akan penampilan Demir yang terakhir.
Dengan mata berbinar penuh kekaguman dan ekspresi tersenyum bangga sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Demir tersenyum malu mendapatkan tatapan kekaguman dari adiknya.
Kemudian Ansell memilih pakaian dengan model yang hampir sama lalu ke kasir dan membayarnya.
"Ansell, kau yakin membeli semua ini untukku?" Demir tak percaya Ansell membelikannya pakaian yang begitu banyak.
"Tentu, Kakak kan akan bertemu calon Ibu mertua. Jadi aku ingin Kaka berubah total." Ansell tersenyum lebar penuh kepuasan.
"Kaka hari ini harus ikut aku lagi." Imbuhnya lagi.
"Kemana lagi?"
"Salon." Jawab Ansell penuh keyakinan dan Demir menatap kaget.
"Salon?"
"Iya, ayo." Ansell mendorong Demir masuk ke salon saat sudah sampai di depan salon, karena karak jalannya tidak terlalu jauh dari tempatnya tadi membeli pakaian.
"Selamat sore Nona, Tuan." Sapa salah satu pegawai salon.
Ansell mengangguk. "Bisa kamu merubah penampilan gaya rambut Kakak saya, biar terlihat lebih fresh dan bergaya?"
"Tentu, itu tugas saya. Mari ikut." Pegawai tersebut mengarahkan Ansell dan Demir ke kursi kosong. Ansell berjalan mengikuti pegawai tersebut sambil menarik Demir untuk duduk di kursi yang dituju.
"Mau pilih yang gambar nomor berapa?" Tanya pegawai salon.
"Nomor 24, dan tolong rambut jambang kakaku di rapikan serta kumisnya di bersihkan. Maklum lama tak merawat diri." Pinta Ansell.
"Baik Nona, saya akan melakukan sebaik mungkin."
...----------------...
"Ya, masuk."
Yaza membuka pintu dan berjalan masuk menghadap pemimpin perusahaan.
"Ada apa?" Altan bertanya dan merapikan berkas-berkas di atas mejanya.
"Ini dokumen bergambar hasil pemotretan tadi pagi, silahkan di cek dan ditandatangani." Yaza menyerahkan dokumennya kepada Altan, bersamaan dengan itu pintu ruang kerja Altan berderit.
"Apa kau sudah siap?" Riza bertanya dan berjalan ke samping Altan.
"Berikan pada Riza biar Riza yang mengecek terlebih dahulu, dan tolong nanti salinan gambar hasil jepretannya kirimkan ke email saya." Ucap Altan lalu berdiri dan merapikan pakaiannya untuk bergegas menemui client ke dua.
"Baik Mr. Saya permisi." Yaza menunduk hormat dan undur diri.
Riza menatap dokumen yang tadi Yaza berikan kepada Altan. Altan mengambilnya dan memberikannya kepada Riza.
"Kau cek terlebih dahulu, nanti setelah selesai bertemu dengan client aku akan menandatanganinya."
"Tapi, bukankah aku akan mendampingimu menemui client?" Riza menatap bingung.
"Iya dalam perjalanan menuju ke sana dan kembali dari pertemuan kan kau bisa mengeceknya."
"Astaga! Kenapa bukan dia saja yang mengeceknya."
"Baiklah." Menjawab dengan pasrah.
...----------------...
"Wah, Kakak. Kau tampan sekali." Ucap Ansell penuh kekaguman.
Demir tersenyum malu mendapatkan perhatian dari adiknya dihadapan orang banyak.
"Aku yakin pasti Sefa akan kagum dengan penampilan Kakak yang sekarang. Dan calon Ibu mertua kakak akan langsung menerima lamarannya." Ansell tersenyum bangga atas imajinasinya.
"Tentu, kakaknya Nona kan sudah tampan dari aslinya. Apa lagi setelah diubah gayanya, semakin tampan saja." Pegawai ikut mengucapkan kekagumannya.
"Tentu, siapa dulu, kakakku." Unjuk Ansell penuh kebanggaan membuat Demir lebih terbang melambung ke angkasa.
"Sudah, ayo pulang. Sebentar lagi pasti Sefa kembali." Menarik tangan Demir untuk berdiri. Keduanya berjalan menyusuri area pedagang kaki lima yang sudah mulai berdatangan mengisi kolom-kolom lapaknya.
"Kau tidak lapar? Sedari siang kita belum makan." Tanya Demir.
"Lapar, aku ingin beli kebab untuk mengganjal lapar sama teh susu hangat." Pinta Ansell.
"Oke...kamu tunggu disini dulu, biar Kakak yang membelikan." Demir mendudukan Ansell di bangku pinggir jalan khusus para penikmat makanan kaki lima. Lalu pergi membeli makanan.
Setelah selesai membeli makanan keduanya berjalan menyusuri jalan pinggir dermaga sambil memakan kebab dan teh susu hangat.
Beberapa saat kemudian.
"Kenapa kau membawaku ke taman ini?" Sefa bertanya pada Ansell saat di dudukannya di bangku panjang pinggir taman.
"Aku mau memberimu kejutan." Ansell tersenyum.
"Kejutan?" Sefa menyerngitkan kedua alisnya nampak bingung.
"Iya, tunggu sebentar." Ansell berjalan ke balik pohon besar belakang tempat duduk yang Sefa duduki. Lalu berjalan mengendap-endap sambil menarik Demir.
"Tara....." Ansell menunjukan Demir ke Sefa.
Sefa menatap tak percaya dan berdiri. Melihat Demir seksama dari atas sampai bawah dan berdecak kagum. Lalu tersenyum pada Demir.
Demir menundukan wajahnya karena malu melihat ekspresi Sefa.
...----------------...
Setelah selesai bertemu dengan client, Atan kembali ke perusahaan sebentar. Riza mengikutinya dan masuk ke ruangan Altan bersama.
"Bagaimana, sudah selesai kau cek?"
"Sudah, ini." Riza memberikan dokumennya dan Altan menatap sekilas. Lalu menandatanganinya.
"Oke, sudah selesai. Aku akan pulang." Altan merapikan kembali meja kerjanya dan meletakan dokumen hasil pemotretan di pojok kanan meja kerjanya.
"Aku juga akan pulang. Dah." Riza keluar terlebih dahulu.
Sesampainya di rumahnya, Altan bergegas membersihkan diri. Seharian terlalu lelah.
...----------------...
Jenny menemui Yaza yang terlihat masih di kantor, sepertinya belum selesai merapikan ruang fotonya.
"Kau belum pulang?" Jenny mendekat dan duduk di sofa panjang.
"Seperti yang kau lihat." Jawab Yaza malas.
"Bagaimana pemotretannya, lancar?"