Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Terjebak Dua Pria.



"Lelah?" Tanya Altan.


Ansell mengangguk dan menggelengkan kepalanya agar otot lehernya tidak kaku.


"Tuan lapar?"


"Tidak."


"Apa kamu lapar?"


"Sedikit." Tersenyum dengan menggerakan jemari telunjuk dan ibujari yang membentuk simbol sedikit.


"Pesan saja."


"Lantas Tuan?"


"Menemani." Tersenyum.


"Astaga!" Batin Ansell.


"Kenapa?"


"Tidak..... sepertinya saya mengantuk." Alasannya tetapi bunyi perut Ansell menjawab berbeda, membuat Ansell malu.


...----------------...


"Ayo Ansell, angkat."


"Sudahlah Demir, mungkin acaranya belum selesai."


"Belum selesai bagaimana, ini sudah sangat larut. Tapi Ansell belum memberi kabar.


Demir terus saja mondar-mandir di dalam rumah Sefa, sementara Karim sudah terlebih dahulu tertidur di sofa.


"Tapi kau kan tahu, acara peresmian pasti lama. Apalagi anak cabang dari perusahaan besar."


"Hah.... Ansell!" Teriak Demir dan mengabaikan ucapan Sefa.


"Lama sekali."


"Mulai deh, overposesif." Gumam Sefa.


"Ih...Kakak. Ini juga baru akan tidur." Ucap Ansell berbisik agar suaya tak membangunkan Altan yang sedang berbaring di atas ranjang ukuran king size, terlihat lelah.


"Kenapa berbisik! Apa kau?" Pikirannya mulai tak terkendali.


"Kakak kenapa si, pikirannya begitu terus ke aku. Aku bisa jaga diri." Masih berbisik meski membentak.


"Kalian cuma berdua!"


Ansell diam, malas menanggapi. Kalo menjawab iya pasti langsung marah, tapi kalo menjawab tidak, itu tidak mungkin. Kak Demir malah justru akan semakin marah karena aku berbohong.


"Sudah Kakak tebak!"


"Demir, pelankan sedikit suaramu. Kasihan Ansell."


"Sudah Sefa, jangan melindunginya."


"Kau tahu, betapa khawatirnya aku? Kau tak ada kabar sampai malam."


"Aku kan sudah minta maaf Kak." Masih berbisik.


"Apa kau sedang bertelefon, Ansell?" Tanya Altan yang sedikit mendengar suara berbisik dari balik selimut Ansell yang sedang berbaring di sofa besar.


"Aduh... dia belum tidur lagi!" Batin Ansell. Menggigit ibu jarinya, gugup.


"Ansell! Kau tidur bersamanya?!"


Ansell semakin merasa bingung serta gugup. Mana yang harus di jawab. Dengan segera Ansell mematikan telfonnya lalu berpura-pura tidur. Altan berjalan mendekat ke sofa besar yang sedang di gunakan Ansell untuk tidur. Di bukanya sedikit selimut yang menutupi kepala Ansell. Dilihatnya, ternyata sudah tidur.


Altan merapikan kembali selimut, mencium pipi kanan Ansell. "Selamat malam." Lalu berbalik ke ranjangnya.


Degub jantung Ansell tak terkendali, ini seperti sedang menonton filem ter horor. Udara terasa sangat panas, padahal AC ruangan sudah sejuk. Apa lagi ditambah tadi, Altan mencium pipinya ketika Ansell berpura-pura tidur. Ya Tuhan, rasanya ini jantung mau keluar dari tubuh.


Ponsel Ansell terus saja bergetar, dari pada menimbulkan gangguan, Ansell mengirim pesan pada Demir untuk menjelaskan. Terserah Demir percaya atau tidak, setidaknya Ansell sudah memberitahu dengan jujur bahwa dirinya memang tidur satu kamar tetapi tidak satu ranjang. Kemudian Ansell mematikan ponselnya.


Di sisi lain, Demir sedang berada di puncak kemarahan. Saat panggilan telefonnya di matikan begitu saja, pikirannya sudah menjerumus ke hal negatif pada Ansell. Apalagi setelah itu Demir mencoba terus menghubungi Ansell, namun sayang seribu sayang tak diangkat satu pun panggilannya hingga saat pesan masuk dari Ansell yang berisi penjelasan.


Bagi Demir, pesan itu pasti hanya pesan penenang saja. Demir yakin itu. Demir mencoba menghubunginya lagi, sayangnya ponsel Ansell dimatikan.


"Ansell!" Geram Demir sambil mengepalkan tangannya.


"Sudah, jangan marah-marah terus." Sefa terus berusaha menenangkan Demir.


"Bagaimana aku tidak marah!"


"Beraninya Altan membawa Ansell bersamanya, tidur dengannya!"


"Tidur bersama?"


"Itu tidak mungkin, Demir. Tidak mungkin Ansell melakukan itu, pasti kau hanya salah paham."


Sefa menggeleng. Pasti ada kesalahpahamman. "Sudah, sebaiknya tidur. Besok pasti Ansell kembali, dan kau bisa menanyakan langsung agar lurus semua permasalahan."


...----------------...


Suasana perusahaan pagi ini nampak aman, lancar, dan terkendali. Meski Altan belum ada kabar kapan kepulangannya, tetapi menurut yang Riza tahu, Altan hanya ijin dua hari. Seharusnya Altan sudah berangkat, karena waktu sudah siang. Atau mungkin dia lelah? Tapi tak seperti biasanya, tak ada kabar. Riza pun mengirim pesan pada Altan, dari pada harus mengirim pesan pada ayahnya Altan. Bisa-bisa, Altan terkena masalah.


Setelah mengirim pesan, tetapi kok ada yang aneh rasanya.


 Mata Riza membulat. "Astaga!"


"Aku tidak melihat Ansell dari kemarin siang setelah jam istirahat."


Riza tersenyum-senyum sendiri di ruang kerjanya, ia baru menyadari.


"Riza." Kak Osgur masuk ke ruang kerja Riza.


"Kakak."


"Altan belum pulang?"


Ponsel nya bergetar. Altan membalas pesannya, yang mengabari bahwa nanti sore baru akan kembali. Riza pun tersenyum, ia membalas kembali pesan Altan dengan godaan.


"Kenapa?" Tanya Kak Osgur kembali saat melihat adiknya tersenyum-senyum saat berkirim pesan.


"Akh....tidak Kak." Riza menatap sang Kakak dan meletakan ponsel nya di atas meja.


"Altan, nanti sore baru kembali."


"Ada apa Kak?"


"Oh....aku tidak melihat Ansell sedari tadi." Menatap Riza dengan tatapan bertanya, pasti dugaannya benar. Mereka bersama.


"Ya, mungkin." Berpura-pura tidak tahu.


"Kan Kakak tahu sendiri, Ansell sekertarisnya."


Ponsel Riza bergetar kembali, Riza hanya melihat sekilas pada layar nya, pesan dari Altan. Kak Osgur merasa penuh curiga dengan menatap Riza.


"Apa Altan?"


"Bukan, ini Fathur." Jawabnya bohong.


"Kakak tahu kan, Fathur rekan kerja Altan yang baru.... ya... meski Fathur belum pernah bertemu langsung dengan Altan, mungkin beberapa hari lagi."


"Ya, tahu, menangnya Fathur belum pulang dari London?."


"Belum, tapi mungkin besok atau lusa." Riza merasa lega, untung saja pikirannya terkoneksi pada Fathur.


"Ya sudah, Kakak kembali."


Riza hanya mengangguk, lalu kembali berkirim pesan pada Altan.


...----------------...


Altan yang dalam perjalanan menuju rumah ayahnya tersenyum-senyum dengan menggelengkan kepala melihat pesan masuk Riza. Sementara Ansell yang berada di samping Altan, ingin sekali bertanya pesan dari siapa. Tak seperti biasanya Altan berkirim pesan, atau jangan-jangan?


Pikiran Ansell mengarah ke hal negatif. "Apa Altan berkirim pesan dengan wanita lain?" Batin nya.


Tetapi Ansell menangkis  cepat, ia ingat kata-kata Riza. Ia tak boleh berpikir yang menjerumus ke hal negatif dengan begitu cepat, bisa jadi nanti malah kesalahpahaman lagi.


"Kenapa?"


"Sedari tadi saya berkirim pesan dengan Riza." Jawab Altan yang seakan tahu isi pikiran Ansell, lalu mengarahkan ponsel nya pada Ansell agar Ansell percaya.


Ansell merasa sedikit canggung. "Bagaimana bisa dia tahu isi pikiran ku?" Batin Ansell.


Ansell menatap layar ponsel Altan. "Benar yang Altan katakan." Batinnya berbicara lagi.


"Jangan langsung berpikir yang tidak-tidak, tanyakan saja, jangan ragu." Ucap Altan dengan bersender di bahu Ansell.


Ansell semakin merasa tak enak hati. "Kita mau kemana, Tuan?" Ansell mencoba mengalihkan pembicaraan, agar hatinya merasa sedikit lega.


"Rumah Ayah."


Matanya membulat, jantungnya malah semakin berdebar. "Maksudnya.......Tuan Besar?"


Altan justru mengambil tangan Ansell lalu di genggamnya. "Ya, ....sudah saatnya."


"T.tapi, Tuan." Tangan Ansell mulai merasa dingin dan bergetar, bertemu dengan Tuan Yakuz Axton adalah momok yang paling menegangkan.


"Jangan khawatir." Ucapnya dengan menggosok-gosok tangan Ansell yang terasa dingin, kemudian mengecup punggung tangan Ansell.


Ansell menghela nafas menghilangkan sedikit rasa gugup yang mendera, setidaknya ada sedikit ketenangan saat Altan tetap bersamanya disisihnya.


...----------------...


"Apa Ansell sudah pulang?" Karim yang baru saja masuk ke rumah Demir mendapat geraman dan tatapan memangsa dari Demir.


Bagai mana tidak! Sejak pagi Demir sudah uring-uringan menunggu kepulangan atau setidaknya kabar dari Ansell. Tapi justru saat Demir menelfon, ponsel Ansell mati. Semalaman kurang tidur karena memikirkan Ansell. Jika saja dirinya kebih keras kepada Ansell dan langsung memperingati atau bercakap langsung dengan Altan, ini semua bisa dikendalikan.