Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Persiapan



Tik..tok..tik..tok...


Ansell menatap layar monitor dengan tatapan kosong dan pikiran yang berkelana, hanya suara alat tulis yang ia pegang beradu dengan meja kerjanya.


Kata-kata sang Kakak semalam mengganggu pikirannya. Entah benar atau tidak, apa yang dikatakan Demir masuk akal.


Altan dari ruangannya menatap Ansell sedikit bingung. Sudah hampir satu jam, Altan menyaksikan Ansell. Padahal satu jam lagi Altan dan Ansell harus ikut bergabung ke tempat yang telah dipilih untuk ajang show.


Tiga jam yang lalu Jenny dan yang lain telah berhasil mendapatkan ijin dari pihak terkait, dan mengabarkan langsung ke Altan melalui telefon. Separuh team juga sudah di tugaskan untuk membawa perlengkapan dan alat serta bahan yang di butuhkan.


Menyaksikan Ansell yang sedari pagi terlihat mendiam dan tidak begitu fokus serta bingung, membuat Altan bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya menuju ruangan Ansell.


"Ansell." Sapa Altan dari bibir pintu ruangan Ansell, namun Ansell tak merespon. Ia masih menatap layar monitor dengan tatapan kosong, membuat Altan bingung. Tak seperti biasanya Ansell seperti ini.


Altan masuk dan menutup pintu ruangan Ansell, berjalan mendekat ke samping Ansell. Ternyata Ansell juga tidak menyadari kedatangan Altan.


"Ansell." Altan menunduk sambil menepuk lembut bahu Ansell, Ansell terkaget dan mengerjapkan matanya.


"Tu..Tuan. Maaf, saya tidak tahu Anda di sini." Ucapnya gugup dan beranjak berdiri.


"Kau kenapa?"


"Duduklah." Altan memegang kedua bahu Ansell agar Ansell duduk kembali di kursi kerjanya, sementara Altan menyenderkan bokongnya pada pinggiran meja kerja Ansell.


"Tidak kenapa-kenapa Tuan." Jawabnya bohong mengalihkan pembicaraan.


Altan hanya menatap Ansell tanpa berbicara, mungkin Ansell tidak ingin dirinya tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya.


"Baiklah." Altan menghela nafas.


"Apa kau sudah siap?"


"Siap?" Koneksi pikirannya belum menyala.


"Satu jam lagi kita harus bergabung ke tempat acara show. Separuh team sudah menyiapkan dan saling membantu untuk menata serta mendekor." Jawab Altan dengan menatap lekat Ansell.


"Ya, ampun." Ansell menepuk keningnya. "Maaf Tuan, hampir saya lupa."


Altan menepuk bahu Ansell lalu berdiri tegak. "Ya sudah, tidak apa-apa. Kau kemasi seluruh sisa perlengkapan yang di butuhkan, lalu suruh Patrecia dan Anna menuju ke tempat show beserta separuh team yang tersisa. Kita akan menyusulnya setelah mereka semua pergi."


"Baik, Tuan." Ansell berdiri dan mengangguk.


"Kalau ada sekiranya yang sedang mengganggu pikiranmu, beritahu seseorang yang kau percayai. Itu bisa meringankan sedikit keluh kesahmu." Ucap Altan sambil tersenyum lalu berjalan menuju pintu ruangan Ansell.


Sementara Ansell hanya diam mendengar ucapan Altan, tatapannya bingung saat melihat Altan berbalik untuk menuju pintu. Ansell tahu, Altan ingin mengetahui apa yang sedang mengganggu pikirannya. Tetapi, ini bukan waktunya. Bahkan ini mengenai dirinya, tidak mungkin Ansell membicarakannya.


"Tuan." Kata Ansell mencegah langkah Altan.


"Ya." Altan berbalik dan berharap Ansell akan bercerita, tatapannya sedikit berbinar.


"Mr. Riza bagaimana?" Tanyanya ragu.


Akh...ternyata Altan salah, ia pikir Ansell akan bercerita kepadanya, tetapi ini tentang pekerjaan.


"Terserah kau saja, lakukan yang menurutmu terbaik." Altan kembali berbalik dan keluar ruangan Ansell dengan sedikit kecewa. Ansell menyembunyikan sesuatu darinya.


"Baiklah." Ansell menjawab pasrah saat Altan sudah keluar. Tidak mungkin Altan akan memberitahu Riza secara langsung.


Ansell membereskan meja kerjanya, lalu keluar untuk memberitahu Patrecia dan Anna lalu ke ruangan Riza.


...----------------...


"Demir." Teriak Karim saat melihat Demir sedang menurunkan meja kursi dan perabot kafe baru yang telah ia pilih.


"Hey, kau." Demir berhenti dan menatap Karim yang sedang berjalan menghampirinya.


"Ini Kafemu?"


"Yang seperti yang kau lihat." Demir tersenyum bahagia lalu menatap Ahsan.


"Ahsan, tolong kau bereskan dan tata semuanya. Beritahu Adam untuk membantumu."


"Siap." Ahsan mengangguk.


"Wah.... kau bahkan sudah punya dua karyawan?"


"Bagaimana?"


"Apanya?" Jawab Demir bingung.


"Hemmm..... belaga lupa."


"Bingung... beneran nggak nyambung." Demir memang merasa bingung. Apa yang dimaksud Karim. Tentang kafe nya, tentang dirinya dan Sefa atau tentang Ansell. Karena selama ini Karim lah teman curhatnya.


Demir selalu bercerita tentang hidupnya, tentang Sefa dan ibunya serta tentang Ansell. Demir selalu terbuka, bahkan Karim pun demikian.


"Kafe ini." Karim menaik turunkan alisnya.


"Oh... kafe ini." Demir menghela nafas dan bersender. "Ansell membantuku."


"Hah... benarkah? Darimana dia bisa tahu?" Karim menggeser kursi yang didudukinya agar lebih dekat dengan Demir.


"Entahlah." Jawab Demir dan Karim menatapnya bingung.


"Aku merasa sangat membebani adikku. Selama ini aku selalu membawa masalah untuknya. Bahkan sampai saat ini." Demir menatap langit lepas berwarna biru berawan seputih salju. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Ansell terlalu baik, bahkan sangat baik."


"Kau beruntung memiliki adik sepertinya." Jawab Karim sambil tersenyum menatap Demir.


"Kau dan Sefa lebih beruntung bisa bersahabat dengan adikku, terimakasih kalian bisa menjaganya saat aku tak ada dahulu." Demir masih menatap langit lepas.


Karim tersenyum. Merekapun sama-sama menatap langit biru lepas di selimuti awan seputih salju tanpa noda.


...----------------...


"Riza." Sapa Ansell saat sudah masuk ke ruangan Riza.


Riza yang termenung sedari tadi, membayangkan masa-masa dahulu saat bersama Altan. Masa indahnya, kenangan manisnya.


"Ansell." Jawabnya sambil mengusap kedua matanya yang sedari tadi berembun.


Ansell berjalan mendekat dan berdiri di samping Riza yang masih terduduk.


"Bersabarlah. Aku yakin Altan pasti akan memaafkanmu, dia hanya butuh waktu." Ansell tersenyum menyemangati Riza.


"Ya... semoga." Jawabnya dengan memaksakan seutas senyum di bibirnya.


"Oh ya... apa Mr. Osgur atau yang lain sudah memberi tahu?"


"Soal apa? Aku sedari tadi pagi tak melihat kakakku atau Denis ataupun Jenny, Yaza dan Ismet." Riza terlihat bingung.


Memang sedari pagi saat dirinya sampai di perusahaan, ia tak melihat team inti satupun. Riza mengira perusahaan ini sengaja meliburkan sebagian karyawan team. Karena masalah kemarin yang gagal mendapatkan tempat show. Atau memang dirinya yang sengaja berangkat siang.


Ansell berbalik dan duduk di kursi dihadapan Riza. "Sebagian team beserta team inti sudah ada di bangunan bersejarah yang kita gunakan untuk pemotretan karya baru kita."


"Memangnya ada apa di sana?"


"Kemarin Altan beserta team inti melakukan rapat dadakan. Dan hasilnya, akan menggunakan bangunan bersejarah itu sebagai wadah untuk ajang show produk kita. Kau tahu sendiri bukan, seperti apa masalah perusahaan ini."


"Ya, aku tahu. Ini semua salahku, karena kecerobohanku." Jawab Riza sangat kecewa. Bahkan tak ada satu team inti pun yang memberi tahu kabar ini padanya.


"Sudah... jangan berkecil hati. Ayo mari kita mulai membantu yang lain." Ansell mengulurkan tangannya mengajak Riza.


Riza tersenyum dan berdiri. Hanya Ansell teman terbaiknya, ia tahu pasti Ansell akan melakukan ini. Dan ia juga pasti sudah mendapatkan ijin dari Altan.


Riza berjalan keluar ruangannya, berjalan berdampingan dengan Ansell. Dan sepanjang perjalanan menuju tempat perlengkapan barang yang dibutuhkan, Ansell menjelaskan konsep apa saja serta hasil dari rapat dadakan kemarin sore.


...----------------...


Jenny dan  team inti beserta separuh team sudah memulai mendekor Aula gedung bersejarah tersebut.


Setengah jam kemudian, separuh team beserta Altan dan Ansell datang. Riza pun ikut datang, namun dengan membawa mobilnya sendiri.


"Mr. Presdir." Sapa para karyawan team nya saat berpapasan dengan Altan. Altan pun tersenyum membalas sapaan mereka, lalu berjalan menuju Jenny yang sedang mengkoordinir para team kerja.


Sementara Riza yang sengaja berjalan di belakang menatap sekeliling. Sudah 15persen pendekoran, dan terlihat indah meski dengan konsep yang berbeda dari konsep awalnya.