
BAB 57. Reuni Part 2.
Jimmy tersenyum kecut. "Ah Kamu, mentang-mentang udah nikah sama Najwa. Najwa khilaf tuh kayanya. Nikah sama badboy kaya kamu." Jimmy menertawakan Mustafa.
"Mustafa kan sudah insaf, iya kan sayang." Mustafa membela diri dan Najwa hanya tersenyum simpul.
Altan datang dan seluruh teman-temannya tersenyum melihatnya. Benar-benar berbeda, aura kepemimpinan terlihat nyata.
"Ini nih yang kita tunggu-tunggu." Goda Riza saat Altan sudah berada di belakangnya. Riza langsung berdiri dan memeluk Altan. Altan hanya tersenyum.
"Presdir muda dan tampan rupawan telah datang. Selamat presdir." Sambung Jimmy.
Altan memukul bahu Jimmy, dari dahulu Jimmy selalu seperti ini.
"Ayo duduk, kau mau pesan apa?" Tanya Emir.
"Iskender dan teh madu." Jawab Altan.
"Iyah..... anak sultan pesannya Iskender yang label harganya diatas rata-rata." Goda Jimmy.
Altan tersenyum. "Apa kau mau, bisa aku pesankan juga." Altan membalas godaan Jimmy.
"Ahh...kamu telat, aku sudah kenyang." Jimmy menolak halus dan teman-teman lainnya menertawakan Jimmy.
Perbincangan Dan masih terus berlanjut, Jimmy terus saja berulah. Membuat teman lainnya merasa sangat terhibur.
"Eh..kenapa Deniz belum datang-datang?" Tanya Ronni.
"Mungkin sebentar lagi, dia kan wanita sibuk. Sibuk memotret." Jawab Jimmy.
"Wah, benarkah Deniz menjadi fotografer?" Tanya Riza.
"Kamu, kurang up date. Makanya jangan terlalu sibuk." Timpal Jimmy.
"Sibuk begini juga belum bisa menjadi sultan." Jawab Riza asal.
"Presdir, gimana nih si Deniz. Dia masih menunggu tuh." Goda Jimmy lagi. Dan Altan hanya angkat bahu lalu tersenyum.
Orang yang sedang diperbincangkan datang dengan membawa tas besar dan kamera. Mengenakan tanktop hitam, jaket kulit hitam, celana jeans hitam sobek-sobek di paha sampai lutut serta sepatu boots kulit dengan desain unik. Tubuh ramping putih tinggi bak model, rambut sebahu berwarna pirang dengan ikal gantung, muka bening dan bola mata berwarna biru.Sempurna.
"Hai." Sapa Denix yang langsung menyalami Altan dengan mencium pipi Altan, Altan sedikit canggung.
"Hai." Balas Altan dengan senyum yang dipaksakan.
"Kita-kita tidak di sapa ni, hanya orang spesial saja." Cletuk Jimmy.
"Ah, kalian kan udah sering ketemu aku. Ini nih orang yang super sibuk, bersyukur banget Altan bisa datang ke reuni recehan begini." Goda Deniz.
"Kamu bisa saja, mari duduk." Ucap Altan sopan, dan semua tatapan mengarah pada Altan dan Deniz.
"Cie-cie." Goda Jimmy terus sedangkan Altan memasang muka datar. Riza memandang Denis penuh khawatir, jangan sampai Deniz menjadi penghalang Altan dan Ansell.
"Altan, selamat ya atas keberhasilanmu. Boleh lah ajak aku bergabung di perusahaan." Tanya Deniz.
"Bener banget itu, secara Deniz itu handal sekali membidik sasaran dan hasilnya tak diragukan lagi." Timpal Emir.
Altan menatap Riza berusaha meminta bantuannya, karena Altan tidak bisa menolaknya secara langsung di hadapan teman-temannya. Dan Riza mengerti arti tatapan Altan.
"Itu bisa diatur, datang saja ke perusahaan sebisamu." Jawab Riza dan Altan merasa lega, Riza bisa membantunya.
Acara makan malam berlangsung sangat ceria dan indah. Setelah sekian lama tak pernah berjumpa, kini semua telah berbeda. Teman-teman yang selalu ramai, tapi berbeda dengan suasana hati Altan. Dalam pikirannya tertuju pada Ansell, apakah Ansell akan kembali menjauh jika Deniz bekerja di perusahaannya? Lalu bagaimana cara menjelaskan pada Ansell.
Ini rasa yang baru pernah Altan alami sepanjang hidupnya. Sanggupkah kekuatan cinta Ansell tetap bertahan? Atau akan menyerah saat seseorang di masa lalu Altan hadir mengisi keseharian esok dan seterusnya?
Acara reuni telah berakhir, satu per satu teman Altan dan Riza pulang. Tak lupa saling mengucap sapa dan berpelukan, semoga lain waktu dapat bertemu kembali. Kini tinggal Altan, Riza dan Deniz.
"Altan, bolehkah aku mampir ke tempatmu?" Deniz bertanya membuat Altan bingung. Harus menjawab iya atau tidak.
"Oke." Jawab Altan.
...----------------...
"Ansell, kau kenapa? Apa flu dan batukmu masih?" Tanya Nenek Esme yang kala itu sedang menonton televisi di samping Ansell.
Ansell langsung menidurkan tubuhnya dan meletakan kepalanya di pangkuan neneknya. Kerinduan kepada ibunya hanya bisa Ansell salurkan melalui neneknya.
"Nek, apa aku tidak bisa bahagia?" Ansell bertanya dan membuat neneknya bingung, bukankah tadi neneknya bertanya kesehatannya.
"Jangan bicara seperti itu, semua orang pasti akan bahagia."
"Tapi kenapa sampai sekarang aku belum bisa mencapai kebahagiaan?" Ucap Ansell.
"Memang apa yang membuatmu belum merasa bahagia? Apakah Nenek, Ei dan Demir tidak membuatmu bahagia selama ini?"
"Tidak seperti itu Nek, Ansell bahagia memiliki kalian. Tapi ini lain ceritanya." Kata Ansell.
"Apa ini menyangkut Tuan Altan?" Nenek Esme bertanya sambil mengusap lembut rambut Ansell, Ansell seperti pelita dalam gelapnya. Setelah anaknya tiada, Ansell lah yang menggantikan tugas mencari nafkah saat usianya telah menua dan tak dapat lagi mencari nafkah. Ansell mirip sekali dengan ibunya yang tak lain adalah putri satu-satunya Nenek Esme.
Ansell mengangguk.
"Ceritakan pada Nenek, agar kau bisa berbagi bebanmu."
Ansell menghela nafas. "Setelah sekian banyak rintangan yang harus aku hadapi, aku bisa meyakini bahwa aku benar mencintainya. Awalnya aku menolak rasa ini Nek, tapi semakin kesini semakin tumbuh. Tapi Ansell bingung, Altan terlalu sempurna dan Ansell terlalu hina."
"Sssttt... jangan berkata seperti itu. Manusia ditakdirkan untuk saling melengkapi, tidak ada manusia hina atau pun sempurna. Kesempurnaan hanya bagi sang pencipta, dan kehinaan itu hanya lah gambaran ilustrasi dari rasa tidak percaya diri. Dan sekarang Nenek tanya, bukankah Ansell sudah meyakini jika Ansell mencintai Altan?" Ucapan bijak Nenek.
Ansell mengangguk.
"Kalau Ansell percaya pada dirimu sendiri, berarti Ansell harus yakin dan terus berjuang untuk mendapatkan kebahagian mu dengan Altan. Tidak ada usaha yang akan menipu hasil, berjuanglah dan percayalah pada diri sendiri."
Ucapan neneknya membuat hati Ansell sedikit lega. Ansell akan berjuang melawan sakit hati jika akan datang orang kedua, ketiga, keempat atau bahkan ke lima.
Setidaknya pemberitahuan dari Feray dapat mengatasi diri sejak awal, kalau saja Feray tidak memberi tahunya dari awal. Mungkin percekcokan antara dirinya dan Altan akan kembali terjadi. Ansell yakin, Feray melakukan ini adalah sebagai wujud agar Ansell tetap berjuang. Dan syukurlah, neneknya bisa mencerahkan pikirannya yang kacau karena ucapan Feray yang Ansell kira adalah Feray jahat.
Tetapi Feray adalah teman yang baik, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Meski itu terdengar seperti memanas-manasi. Ansell tersenyum sendiri, jika esok Ansell bertemu Deniz. Ansell akan menguatkan hati, meski awalnya pasti akan sulit. Orang yang kita cintai juga dicintai orang lain.
...----------------...
Setelah Denis keluar dari rumah Altan, Riza juga pergi pulang ke rumahnya. Kini tinggal Altan sendiri. Altan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Altan duduk di meja kerjanya untuk memulai menggambar. Tapi pikirannya tertuju pada Ansell. Haruskah Altan memberitahunya jika Deniz mulai besok bekerja di perusahaannya?
Ya, aku harus memberi tahu Ansell. Apapun keadaannya, Ansell harus tahu. Bahwa Deniz masih tetap ku anggap sebagai sahabat. Altan mengambil ponselnya dan mengetikan pesan chat pada Ansell.
"Apa kamu sudah tidur?"
Tak selang lama ada balasan dari Ansell.
"Belum, ada apa Tuan?"
"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"
Altan membalas, "Tidak. Apa kamu baik-baik saja?"
"Iya Tuan, cuma masih flu dan batuk." Balas Ansell.
"Apa kau tidak marah, jika Denis besok mulai bekerja dengan kita?"
"Tadi dia memintaku untuk menerimanya bekerja, karena dia membutuhkan pekerjaan,"
Altan memberi tahu. Agak lama Ansell tidak membalas pesan nya. Altan menghela nafas, mungkinkah Ansell marah karena keputusanku menerima Deniz bekerja dalam perusahaan Axton?