Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 24. Seperti Dipermainkan.



BAB 24. Seperti Dipermainkan.


Nenek Esme mengajak Sefa masuk ke dalam rumah.


"Kak Sefa mau makan malam di sini?" Eilaria menarik tangan Sefa untuk duduk. Sefa mengikutinya.


"Iya, apa Kak Demir sudah pulang?"


"Belum, paling sebentar lagi." Jawaban Eilaria.


"Ayo kak Sefa kita buat makan malam seperti kemarin." Tambahnya lagi sambil merengek menarik tangan Sefa untuk berdiri.


Sefa berjalan ke dapur kecil rumah Ansell dan mulai mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan, sementara nenek Esme meracik bahan lain yang akan digunakan untuk membuat tabbouleh.


Pintu berderit, Ansell masuk dan meletakan heels nya di rak kemudian berganti sandal rumah. Dan berjalan hendak menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Sefa dari arah dapur.


"Sefa?"


Ada yang aneh, kenapa sekarang Sefa sering ke rumahku. Tapi tak begitu dipedulikan oleh Ansell, Ansell melanjutkan jalannya menuju kamar.


...----------------...


Riza berjalan sendiri di pinggiran dermaga sambil melihat sekeliling dermaga. Kapal pesiar milik perusahaan yang sudah hampir 90 persen akan selesai untuk acara besok pagi.


Kenapa dengan Altan hari ini, dia terlalu posesif pada Ansell. Aku tahu dia sudah mulai memberi jarak antara aku dan Ansell. Tapi seharusnya tak seperti itu caranya, justru Ansell pasti akan sangat terbelenggu. Dia sekarang seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya.


Kalau dia takut kehilangan Ansell seharusnya dia mempercayai Ansell sepenuhnya, bukan bersikap posesif seperti hari ini. Kalau Ansell bisa menjaga hati pasti Ansell akan menjaga jaraknya dengan pria lain sekalipun itu aku.


Ya aku tahu Ansell menganggapku sahabat dia juga tak terlalu dekat sekali denganku. Ansell bisa menjaga hatinya meskipun aku sering membuatnya terpancing. Tapi aku yakin dia perempuan yang baik dan sanggup menjaga hatinya. Andai saja aku yang Ansell cintai, aku akan sangat bersyukur kepada Tuhan.


Ponselku berdering, aku melihat nama Kakak iparku yang menghubungi.


"Ya Kaka ipar?"


Mendengarkan....


"Iya aku akan ke rumah Kakak Ipar."


Aku bisa memastikan kalau Kakak iparku memintaku ke rumahnya pasti hanya untuk memberikan perintah. Aku bergegas ke mobilku meskipun aku sebenarnya tak mau.


Sesampainya di depan pintu rumah kakak iparku, aku ragu untuk mengetuk pintu. Tapi kenapa tangan ku tak sinkron dengan hati dan pikiranku.


Nur membukakan pintu setelah aku mengetuknya. Aku berjalan masuk menuju halaman belakang. Aku melihat kakak dan kakak iparku sedang makan malam, aku berjalan dan kemudian duduk di samping kakakku.


"Besok kau harus bisa membuat Altan cemburu, kau harus mendekati Ansell bagaimanapun caranya. Tapi ingat, jangan pakai hatimu untuk masuk dalam kategori yang sebenarnya." Ucap kakak iparku dengan penuh peringatan dan tatapan tajam.


"Iya." Riza membalas sekenanya saja. Dan mengambil makanan yang tersaji. Beruntungnya Riza datang tepat pada waktu perutku sudah lapar.


"Ingat, ini hanya tugas. Jangan di resapi." Kakakku juga memperingati.


Aku mengangguk saja dan tetap melanjutkan makan malamku bersama kakak dan kakak iparku.


...----------------...


"Sefa, kau makan malam di sini?" Ansell bertanya saat melihat Sefa sedang menyajikan makanan yang sepertinya sangat banyak.


"Apa ada pesta?" Ansell bertanya lagi.


"Iya.. Sefa bilang Demir sudah mulai bekerja hari ini." Nenek Esme memberi tahu.


Belum sempat Ansell bertanya, Demir masuk. Beruntungnya, Ansell langsung bertanya.


"Kak Demir benar sudah bekerja?"


"Iya." Jawab Demir pasti dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Apa Kak Demir sudah tidak ke club lagi nek?" Ansell kembali bertanya pada neneknya.


"Sepertinya tidak, tanyakan saja pada Sefa."


Ansell berpikir. Kenapa pada Sefa? Apa hubungannya Sefa dengan Demir. Apa jangan-jangan mereka sudah berpacaran. Wah, kenapa aku tidak diberitahu.


"Sefa apa kau dan kakakku...."


Belum sempat Ansell melanjutkan pertanyaannya, Sefa sudah menjawabnya dengan anggukan.


Ansell memeluk sahabatnya, sahabat yang ia tahu selama ini mencintai kakaknya. Sedangkan Sefa tak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi bagaimana awalnya kejadian sampai dirinya dan Demir berpacaran. Itu sangat menyedihkan jika diingat kembali.


Untung saja Demir sudah selesai mandi.


"Ayo..duduk." Sefa mempersilahkan Demir duduk dan Ansell hanya memperhatikan interaksi antara sahabatnya dan kakaknya dengan menarik kursi di hadapannya dan mendudukan diri.


"Sepertinya ada pesta. Pesta apa ini?" Demir mandang sajian di meja makan yang hampir penuh diisi hidangan.


"Iya ada pesta, kata Kak Sefa pesta untuk kakak." Eilaria mencoba menjelaskan. Demir menatap Sefa dan tersenyum. Sefa membalasnya.


...----------------...


Aktifitas pagi ini sepertinya sedikit lenggang di perusahaan. Nampaknya para karyawan sudah langsung berangkat ke kapal pesiar. Lalu kenapa Ansell ditugaskan ke perusahaan hanya untuk mengambilkan kado di meja kerja Jenny. Kado apa itu, apa kado dari Jenny.


Ansell kembali ke kapal pesiar dan menemui Jenny untuk memberikan kado tersebut.


"Terimakasih, maaf merepotkanmu." Ucap Jenny dengan senyum sinis. Ansell hanya mendengus melihat Jenny pergi meninggalkannya.


Ansell berjalan ke bagian atas kapal pesiar. Semua nampak berada di sini. Ansell mendekat ke meja yang Tuan Altan gunakan untuk menjamu Nyonya Ivy dan Tuan Osgur. Ansell sedikit bingung, kenapa Tuan Yakuz Axton tak hadir. Tapi sudahlah mungkin ada acara di tempat lain yang digunakan Tuan Yakuz Axton.


Altan menatap ke belakang saat merasakan Ansell sudah hadir. Tapi Ansell berdiri sedikit jauh dari Altan dan sedikit dekat dengan Riza. Altan seakan terpancing rasa cemburunya, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Di sini terlalu ramai.


Riza menatap Ansell seksama. Terlihat ada raut kesedihan dari muka Ansell, lalu Riza beralih menatap punggung Altan yang sedang duduk bersantai dengan Kakak dan Kakak iparnya.


Ansell menatap Jenny yang tiba-tiba saja datang dan berdiri di samping Tuan Altan. Ansell semakin tak bisa menahan rasa sedihnya setelah tadi diperintah mengambilkan kado Jenny. Ansell berjalan menuruni tangga ke ruang bawah kapal yang sepi.


"Sebenci itukah kau padaku? Untuk apa aku bertahan di sini, tak ada gunanya, hatiku semakin sesak dan sakit!" 


Riza menatap kepergian Ansell, dan mengikutinya. Altan berbalik menatap ke belakang, tak ada Ansell dan Riza. Pikirannya semakin tak terkendali. Karena Altan tak tahu kalau Ansell pergi ke bawah dan Riza mengikutinya.


Ansell mendudukan diri di bangku panjang, menatap lautan lepas. Ansell berangan andai saja hidupnya bisa setenang dan sebebas air laut, tak terikat seperti ini. Riza yang melihat Ansell sedang melamun dan murung, berjalan mendekat. Riza duduk di samping Ansell.


"Kenapa?"


Ansell menatap Riza sekilas dan menatap lautan lepas kembali. Apakah dirinya harus bercerita pada Riza. Sepertinya tidak, tapi kalau tak bercerita rasanya semakin menyakiti hati saja.


Ansell menatap Riza kembali. Lalu tanpa kata justru Ansell menitikan air mata kesedihan yang membuat Riza menjadi ikut sedih dan iba.


"Katakan saja, aku ini sahabatmu." Riza berucap mencoba memberi dukungan.


Di ruang atas kapal. Altan berdiri mencari keberadaan Ansell, tapi tak nampak. Altan turun ke ruang bawah kapal mencari keberadaan Ansell. Kemudian terhenti saat melihat Ansell sedang duduk berdua bersebelahan dengan Riza. Altan menatap seksama keduanya dari arah belakang.


"Kau tahu, aku tadi diperintah mengambil kado di perusahaan. Hanya sebuah kado, kado Jenny." Ucap Ansell lirih menjawab ucapan Riza.


Riza mendekatkan duduknya dan menangkup wajah Ansell. Kemudian menghapus linangan air mata yang membasahi pipi Ansell.


"Jangan bersedih, semua sesak akan hilang terbawa oleh tangis. Menangislah sampai kau lelah meluapkan kesedihanmu, setelah itu bangkit dan lanjutkan ke depan. Lupakan yang telah membuatmu sakit. ..tunjukan Ansell yang kuat."


Ansell mencengkram baju Riza kuat-kuat, meluapkan tangisnya sambil terisak.


Altan yang melihat langsung keduanya semakin dibuat panas hatinya. Kemudian berbalik ke atas lagi saat mc sudah memanggil namanya. Acara pasti sudah akan dimulai.


Riza dan Ansell yang juga mendengar seruan dari seorang mc langsung berdiri dan naik ke atas.


Altan yang melihat kedatangan bersama keduanya menjadi semakin cemburu. Jenny mendekat dan memberikan sebuah kado untuk Altan. Dan Altan membukanya sambil melirik Ansell. Sebuah buku.


Entah apa yang mendorong hatinya tiba-tiba saja Altan memeluk Jenny dan tersenyum datar saat melirik Ansell. Ansell yang melihat langsung semakin dibuat sakit hatinya.


"Huhhh…. Sabar Ansell."


Nyonya Ivy yang menyaksikan langsung juga dibuat kaget. Kenapa Jenny yang dipeluk bukan Ansell.


.


.


.


Silahkan yang berkenan bisa langsung membaca karya baruku HIDUP TAK AKAN PERNAH SAMA sambil menunggu Ansell up.


jangan lupa klik favorite dan berikan masukannya. Terimakasih 😊