
"Berhubung perusahaan kita menggunakan konsep tempat bersejarah untuk ajang show. Kita bisa memberi oleh-oleh bagi para client yang datang dan para awak media dengan pakaian bernuansa sejarah atau semacam hadiah ringan dengan nuansa sejarah."
"Wah... ide bagus itu, kau hebat Altan." Ucap Paman Osgur dengan tepuk tangan kecil untuk mengapresiasikan ide berlian dari keponakannya.
Altan hanya tersenyum dan memandang sekilas Ansell. Ansell membalas senyum Altan lalu menundukan kepala.
Paman Osgur dan Denis tak sengaja menyaksikan interaksi antara Altan dan Ansell.
"Oke. Kita mulai semuanya."
"Siap Mr. Presdir!" Jawabnya serempak penuh semangat.
"Jenny."
"Ya, Mr. Presdir."
"Kamu besok bersama Paman Osgur dan Denis meminta ijin tertulis pada pihak pengelola gedung bersejarah yang akan kita gunakan."
"Apa sebaiknya Mr. Riza saja, Presdir? Bukankah Mr. Riza biasa menjalankan tugas ini?" Ucap Jenny spontan yang kemudian langsung menutup mulut, Jenny merasa tak enak akan ucapan barusan.
"Kau laksanakan saja tugas itu.... biar Riza..... melakukan hal lain." Jawab Altan asal.
"Baik Mr. Presdir."
Semua team inti keluar dari ruangan Presdir dengan penuh kegembiraan. Acara untuk besok malam sudah terlihat nyata akan terlaksana.
Kemudian team inti mulai menjelaskan hasil dari rapat dadakan yang baru saja terjadi. Dan semua team tersenyum bangga bahagia, lalu memulai aktifitasnya dengan penuh semangat meski waktu sudah melewati jam pulang kerja.
Saking bahagianya, semua team tanpa di paksa melakukan lembur.
Sementara di ruang Presdir, Ansell meminta ijin untuk pulang dan tidak mengikuti lembur. Altan pun mengijinkannya.
...----------------...
"Demir." Sefa duduk mendekat pada Demir dan melihat sekeliling dengan seksama agar tak ada orang yang mendengar percakapannya nanti.
"Ada apa, kau seperti pencuri saja melihat sekeliling?"
"Apa Nenek dan Ei sudah tidur?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Bukankah kau itu tahu...." Demir mencubit kedua pipi Sefa dengan gemas.
"Jam berapa ini. Pasti Nenek sedang memasak menyiapkan untuk makan malam dan Ei pasti membantunya."
"Ahh.... iya, aku lupa." Sefa mengusap kedua pipinya yang tadi di cubit Demir.
"Sakit tahu."
"Uluh...uluh... maaf." Jawab Demir dengan godaan genitnya dan hendak mencium Sefa, namun Sefa menahannya.
"Ini bukan saatnya untuk menggombal!"
"Lalu?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Apa?" Demir menatap Sefa dengan seksama.
Sefa menghela nafas lalu menggenggam tangan Demir.
"Lihat... kau menggodaku." Canda Demir.
"Ih..... bisa tidak serius!"
"Iya...iya... memang apa yang ingin kau bicarakan? Apa ini menyangkut ibumu? Apa yang ibumu inginkan lagi dariku?. Aku pasti akan berusaha mengumpulkan uang agar kita cepat menikah."
"Jangan marah ya?"
"Marah? Kenapa, apa ibumu menyuruhku untuk membuatkan kastil untuk mu?"
"Kau ini!" Sefa memukul Demir.
"Aduh..... iya... iya... ampun, aku bercanda." Demir membentengi diri agar Sefa berhenti memukulinya.
"Ibu memintaku untuk memberitahumu kalau ibuku menginginkan kamu memiliki kafe sendiri jika ingin direstui." Ucap Sefa lemah.
Demir melotot mendengar ucapan Sefa. Dalam hati Demir mengomel. Calon ibu mertuanya sangat materialistis, terlalu banyak menuntut.
"Jika kau ingin menyerah, aku tidak apa-apa. Aku tahu dan sadar diri, ibuku terlalu banyak menuntut darimu."
Demir menghela nafas, ini semua bukan salah Sefa. Jadi tak mungkin Demir meninggalkannya, Demir tahu jika ibunya Sefa memang seperti ini. Dan demi membuktikan betapa besar cintanya pada Sefa, Demir akan berjuang.
Demir menangkup wajah Sefa. "Lihat aku.... dan dengarkan aku baik-baik. Apapun keadaannya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Tapi ibuku?"
"Aku akan berusaha mewujudkannya."
"Tidak Demir, kau terlalu banyak mengalah akan permintaan ibuku."
"Kau percaya bukan padaku?" Tatapan Demir lekat, meski pikirannya berkeliaran.
Sefa mengangguk. Lalu Demir memeluk Sefa. Pikirannya kalut, apa yang akan dia lakukan?
Hati dan pikirannya sebenarnya kacau saat mendengar permintaan baru ibunya Sefa. Tapi Demir tak mau menunjukan kekalutannya kepada Sefa.
Sementara, Ansell yang tak sengaja mendengar pembicaraan kakaknya dengan sahabatnya saat hendak ke kamar mandi menjadi iba. Ansell tahu, saat ini kakaknya sedang bingung. Tapi demi Sefa, kakaknya mencoba tetap tenang.
Ansell bangga, kakaknya sudah berubah saat mengenal dan mencintai Sefa sahabatnya. Ansell tersenyum sambil memikirkan hal terbaik untuk sang kakak dan Sefa, kemudian melanjutkan jalannya ke kamar mandi.
"Kaka, Kak Ansell sudah pulang?" Tanya Ei yang saat itu sedang mengaduk sup buatan neneknya.
"Iya..."
Ei hanya menganggukan kepala lalu Ansell berjalan kembali ke kamar mandi.
...----------------...
Riza yang tidak tahu ada sebuah rapat dadakan dan kerja lembur, sedang duduk santai bersama Bolla. Ia biasa mencurahkan isi hatinya pada Bolla.
Riza duduk bersender dan menatap langit-langit, sementara Bolla duduk di sampingnya.
"Kau tahu? Sampai saat ini Altan belum mau berbicara dengan ku?"
"Entah seperti apa kedepannya."
Riza menghela nafas.
"Aku tahu, seperti apa keraskepalanya Altan. Tidak mudah baginya untuk memaafkanku, apa lagi ini berhubungan dengan perusahaan."
"Aku sadar, aku sangat salah dalam hal ini. Dan Altan benar melakukan ini, tapi ini lebih sakit dari sekedar mencintai tanpa balas Bolla."
Riza duduk dan menatap Bolla.
"Sahabat yang selalu bersama kita, mendiami kita."
"Entah apa yang harus aku lakukan. Aku sendiri bingung dan merasa malu pada seluruh team kerja."
"Tak seharusnya aku masih bertahan di perusahaan Axton." Ucap Riza lemah tanpa sadar.
...----------------...
"Kak!" Panggil Ansell saat melihat Demir kembali dari mengantar Sefa pulang ke rumahnya.
Demir mendekat pada Ansell.
"Duduklah." Ucap Ansell dan langsung duduk di teras rumah, Demir pun mengikuti.
"Ada apa? Apa Altan menyakiti perasaanmu?" Tanya Demir penuh curiga, karena biasanya jika Ansell mengajaknya duduk berdua, pasti Ansell sedang ada masalah.
"Tidak."
"Kau jangan berbohong. Kakak tahu."
"Beneran Kak."
"Lalu?"
Ansell merogoh saku sweeternya dan mengeluarkan sejumlah uang yang terbilang banyak lalu menarik tangan Demir dan meletakan uang tersebut di atas tangan Demir.
"Apa ini?" Demir berpura-pura seolah dirinya baik-baik saja dan tidak ada masalah.
"Aku tahu, Kakak sedang membutuhkannya." Ansell paham benar sifat dan sikap kakaknya.
"Kakak tidak perlu sungkan dan berpura-pura."
"Tidak Ansell." Demir meletakan kembali uangnya di atas tangan Ansell.
"Ini uang mu, kau bekerja keras mengumpulkannya agar kau cepat terbebas dari Nenek sihir yang menjeratmu dengan perjanjian gilanya."
"Tidak apa-apa, aku masih bisa mengumpulkannya lagi."
"Tidak Ansell, Kaka terlalu banyak menyusahkanmu. Jika kau memulai mengumpulkan ulang, itu akan menggunakan waktu lama lagi. Dan kau akan semakin lama terikat dengan perjanjian itu."
"Tidak masalah bagiku, asalkan Kakak dan Sefa cepat menikah. Sefa sahabatku, dia selalu menolongku. Dan aku ingin Sefa bahagia, jadi Kaka harus menerimanya."
"Ansell."
"Kaka..."
Demir memeluk Ansell penuh kasih sayang. Adiknya rela berkorban demi dirinya yang selalu menyusahkan dan membebaninya.
"Terimakasih, Kaka sayang Ansell. Dan maaf, Kaka selalu menyusahkan dan membawa masalah baru untuk Ansell." Demir menitikan air mata penyesalannya.
"Ansell juga sayang kaka. Dan tolong jangan berkata seperti itu Kak."
Demir semakin erat memeluk Ansell. Dialah adik terbaik baginya.
"Sudah ah Kak. Jangan melow begini." Ansell melepas pelukan Demir. Demir hanya tersenyum.
"Ayo kita masuk, ini sudah larut." Ajak Ansell.
"Tunggu." Tolak Demir.
"Ada apa lagi Kak, apa ada hal lain yang ingin Kakak utarakan mengenai Sefa atau ibunya Sefa?"
"Tidak. Bukan mengenai Sefa atau ibunya, tapi ini mengenai kau dan Altan." Demir menarik kembali Ansell agar duduk. Sementara Ansell menghela nafas, ragu untuk bercerita membahas dirinya dan Altan.