
BAB 60. Sang Penggoda.
Ansell menghela nafas. "Ya, siapa lagi kalau bukan dia."
"Terus masalahnya apa?" Tanya Sefa.
"Seorang gadis dengan begitu cerianya datang saat aku ada di ruangan Altan, dia melewatiku begitu saja lalu menyapa Altan sambil mencium pipinya." Ucap Ansell dengan sangat kesal.
Demir terkikik. "Ugh... Adik kecilku ternyata sedang cemburu."
Demir menggoda, Sefa langsung menatapnya dengan tajam membuat Demir nyengir kuda.
"Kalau kau yang jadi Altan, sudah aku tenggelamkan ke pantai." Sefa menotok Demir membuat Demir menelan ludahnya dengan susah payah.
"Kenapa bawa-bawa aku, aku kan tidak seperti itu." Demir bergumam.
"Aku masih mendengar gumaman mu, ya sekarang tidak. Dulu kemana saja?" Sindir Sefa.
Ansell dan Karim yang menyaksikan perdebatan antara Demir dan Sefa, menjadi aneh.
"Kenapa kalian yang bertengkar?" Tanya Ansell dan Karim bersamaan.
...----------------...
Feray telah selesai berganti pakaian dan berjalan menuju tempat tidur Riza. Feray menatap kosong ranjang Riza, seketika terbesit sesuatu. Feray langsung merebahkan diri di ranjang Riza dan menyelimuti tubuhnya sampai perut.
"Riza." Panggil Feray dengan posisi bersandar pada kepala ranjang. Tapi tak ada jawaban ataupun suara langkah kaki.
"Riza." Feray memanggilnya lagi berharap Riza datang, tapi ternyata tak ada jawaban dari Riza.
Akhirnya Feray bangun dan turun ke bawah untuk mencari Riza. Sesampainya di lantai bawah Feray mendapati Riza sedang tertidur di sofa dengan ditemani anjing besarnya yang menjaganya di lantai sambil menonton televisi.
Feray sedikit takut untuk mendekat ke Riza karena ada anjing besar yang menjaganya.
"Riza." Panggil Feray dengan suara berbisik pada Riza, tapi justru anjingnya malah yang menatapnya.
Feray menjadi lebih gugup, kenapa juga Riza memelihara anjing? Feray menghembuskan nafas kasarnya dan berusaha melawan ketakutannya. Feray berjalan pelan menghampiri Riza, tapi justru anjingnya menggonggong membuat Feray terlonjak dan mundur lagi.
Riza yang mendengar gonggongan Bolla menjadi terbangun. "Ada apa Bolla?"
Tanya Riza kepada anjingnya dan Bolla menggonggong menatap Feray yang berdiri sambil berpegangan pada ujung besi terakhir tangga. Riza menatap arah Bolla menggonggong, kemudian tersenyum.
"Jangan membuatnya takut Bolla, hentikan gonggongan mu Bolla." Riza mengusap kepala Bolla agar Bolla tenang dan tidak menggonggong lagi. Riza berdiri dan mendekat ke Feray.
"Ada apa Feray?" Riza bertanya.
"Aku susah tidur, kamarmu terasa asing bagiku. Bisakah kau menemaniku tidur?"
Riza memandang tak percaya, bagaimana mungkin ini terjadi.
"Temani aku hanya sampai aku tertidur." Ucap Feray lagi saat melihat ekspresi kebimbangan Riza. Riza mengangguk ragu, dan Feray berjalan menaiki tangga dengan Riza berjalan mengikutinya.
Sesampainya di ranjang, Riza duduk di tepi ranjang dengan bersandar. Feray merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya lalu bersandar di dada Riza, membuat Riza gugup dan sedikit salah tingkah. Feray tersenyum menunduk dengan memeluk Riza, Riza semakin gugup. Riza berusaha menenangkan hatinya.
...----------------...
Keesokan paginya, Ansell bergegas ke kediaman Altan seperti biasanya. Setelah semalam mendapat motivasi dari Sefa, Ansell harus bisa mengatasi kecemburuannya. Meski itu terbilang susah. Ansell masuk dan memulai mengambil bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi.
Pintu kediaman Altan terbuka lalu Altan masuk dengan membawa tas olahraganya. Altan berjalan ke dapur saat mendengar suara pisau yang di ketuk untuk memotong sesuatu.
Dilihatnya Ansell sedang memotong sayur dan buah. "Kamu sudah di sini?"
Ansell menoleh dan tersenyum. "Iya, seperti biasa."
"Apa kamu sudah tidak marah?" Tanya Altan sambil berdiri di samping Ansell dan memperhatikan Ansell.
Ansell tersenyum dan menggeleng. "Tidak, sudah sekarang Tuan bersihkan diri Tuan. Dan saya akan menyiapkan sarapan paginya."
Altan merasa lega. "Baiklah."
Altan mengambil satu potong tomat dan memakannya lalu tersenyum kemudian pergi naik ke atas.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Altan turun dengan membawa jas kerjanya. Sesampainya di bawah, Altan menyampirkan jas nya ke sandaran belakang kursi yang akan didudukinya. Ansell yang melihat Altan yang sudah duduk di kursi makannya dengan segera membawa sarapan pagi untuk Altan.
"Silahkan Tuan." Ucap Ansell dengan meletakan satu nampan berisi paket komplit sarapan pagi buatannya dan Ansell masih berdiri melihat Altan yang akan memulai sarapan paginya.
"Duduklah." Ucap Altan dan Ansell langsung duduk.
"Tentu Tuan."
...----------------...
Di sebuah cafe klasik nan mewah Jenny dan Ilyas sedang berbincang sambil menikmati hangatnya teh madu dan sarapan sehat.
"Apa kau sudah tidak waras, kau mengajukan kerjasama dengan Axton?" Tanya Jenny.
"Aku? Tentu aku masih waras." Jawab Ilyas sambil tersenyum penuh arti dan bersandar di kursi.
"Kau gila, lelucon permainanmu di luar batas." Sindir Jenny.
"Siapa yang sedang bermain? Aku tidak." Sangkal Ilyas.
"Jangan bawa-bawa aku lagi dalam rencana bodohmu itu."
"Tentu kau akan terus mengikutiku." Ucap Ilyas.
"Aku tidak mau." Jenny dengan terang menolaknya.
"Baiklah, kamu tinggal pilih saja. Mengikutiku atau kau akan hancur." Ilyas mengancam Jenny.
Jenny mendengus kesal, karena Ilyas memegang kuncinya. Mau tidak mau Jenny harus terlibat lagi.
"Apa kesepakatan kita jika aku membantumu."
"Jawaban ini yang aku tunggu." Ilyas tersenyum. "Semua tentangmu akan aman dalam kendaliku."
"Tapi aku meminta, jika kau kalah. Jangan bawa namaku di dalamnya."
"Aku tidak akan kalah." Jawab Ilyas penuh percaya diri.
...----------------...
Riza dan Deniz berjalan bersama memasuki ruang kerja Altan.
"Hai, lihat siapa yang bersamaku." Goda Riza yang saat membuka pintu ruang kerja Altan, Altan sedang duduk di temani dokumen-dokumennya.
Altan tersenyum mendengar ucapan Riza dan Deniz langsung duduk bersila di sofa depan meja Altan.
"Sepertinya presdir tampan kita sudah disibukkan oleh dunianya." Deniz tertawa menggoda Altan.
"Ya, seperti itulah dia setiap hari." Imbuh Riza dan Altan hanya tersenyum menggeleng mendengar kedua sahabatnya sedang menyindir dan menggodanya.
"Bagaimana, kau sudah punya rencana?" Tanya Riza pada Altan.
"Rencana apa?" Tanya Altan sedikit bingung.
"Apa kau akan menerima kerjasama dengan Ilyas?" Riza bertanya sedikit ragu.
"Kalau menurutku tidak perlu, secara dahulu kita pernah mengalami keterpurukan ekonomi saat produk kita sangat tidak diminati konsumen. Dan aku tidak mau kejadian itu terulang kembali." Ucap Altan dan Deniz hanya mendengarkannya saja.
"Tapi sepertinya kita harus memikirkan lagi, bisa jadi Ilyas sudah berubah. Kau tahu bukan, perusahaan Ilyas sudah mulai menjalar di berbagai kota dengan mendirikan mall besar." Riza berbicara penuh semangat.
Altan menghela nafas. "Coba kau pikirkan lagi."
"Baiklah, oh ya... aku tinggal dahulu." Ucap Riza dengan senyum menggoda pada Altan.
"Dah Deniz." Imbuhnya lagi untuk Deniz dan Riza keluar.
Altan hanya menggelengkan kepala melihat Riza kemudian menatap dokumen lagi untuk meneruskan pekerjaannya. Sementara Deniz berjalan mendekat dan menyenderkan pantatnya duduk di pinggiran meja kerja Altan.
"Sudah, jangan terlalu terforsir dalam pekerjaan. Sesekali cuci otak dan mata." Deniz menutup dokumen yang sedang Altan cek membuat Altan menatapnya.
"Bukankah kau tahu, seperti inilah kesibukanku. Bahkan untuk refreshing aku sulit." Altan bersandar pada sandaran kursinya agar tidak terlalu dekat dengan Deniz.
"Itulah masalah terberatmu, usiamu masih muda. Bersenang-senanglah sedikit." Goda Deniz dengan merapikan jas Altan dan membuat Altan sedikit risih. Altan dengan pelan menyingkirkan tangan Deniz, agar Deniz tidak tersinggung.
"Kenapa?" Tanya Deniz saat Altan menyingkirkan pelan tangannya.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak. Itu bukan kebiasaanku."
"Kau masih tetap sama, terlalu jauh dalam menanggapi seseorang yang mencintaimu."
"Kita hanya bersahabat, dan saat ini kau bekerja untuk perusahaanku. Aku tidak mau ada gosip yang beredar luas dengan opini yang tak pantas tentang kita." Tungkas Altan.