Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 37. Awal Kehancuran.



BAB 37. Awal Kehancuran.


"Tidurlah di kamarku, ini sudah larut malam." Altan melepaskan pelukannya sambil mencium pucuk kepala Ansell.


"Ta-


"Saya akan tidur di sofa." Altan memotong kalimat Ansell. "Kau bisa menggunakan pakaianku."


"Baik Tuan." Ansell menunduk malu dan langsung mengambil tasnya. Sedangkan Altan hanya memandang punggung Ansell yang semakin menjauh.


Altan duduk kembali di sofa dan melanjutkan lagi sketsa gambar sepatu.


Ansell membuka pintu kamar pribadi Altan, dilihatnya seluruh ruangan. Masih tetap sama. Ansell berjalan menyusuri setelan pakaian yang tertata rapi. Diambilnya kaos hitam polos dan celana pendek. Ansell mencari kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian milik Altan.


Ansell tersenyum lucu, melihat dirinya memakai pakaian milik Tuan Altan yang kelonggaran. Kaosnya saja panjangnya sampai menyentuh lututnya, sedangkan celana kolornya harus di ikat kencang agar tidak melorot.


Ansell merebahkan diri di atas ranjang yang ukurannya King size. Aroma tubuh Altan terhirup jelas di indra penciumannya, diambilnya bantal di sebelah Ansell. Diciumnya kuat-kuat untuk menghirup lebih dalam aroma khas sang presdir.


Ansell tersenyum membayangkan keliaran otaknya, bagaimana bisa otaknya membayangkan dirinya berciuman dengan Altan di kamar ini?


Altan yang sedang duduk di sofa teringat kembali akan kejanggalan dalam pemotretan kemarin. Altan berjalan ke ruang kerjanya di lantai atas yang bersebelahan dengan kamarnya.


Altan terhenti di depan kamarnya sebelum masuk ke ruang kerjanya. Altan tersenyum melihat pintu kamarnya tertutup, biasanya tidak tertutup jika dirinya yang sedang tidur.


Altan berjalan lagi menuju ruang kerjanya, lalu mendudukan diri dan mulai menghidupkan laptopnya. Dilihatnya kembali seluruh hasil gambar, sepertinya Altan mulai mengenali postur tubuh siapa yang menjadi modelnya. Tapi belum yakin.


Altan membuka ponselnya untuk menghubungi Riza. Menanyakan apakah Riza tahu siapa model yang digunakan oleh Yaza, tapi ternyata tidak tahu. Lalu Altan mengirim file-file hasil pemotretan ke email Riza, agar Riza juga mengecek benar atau tidaknya dugaan Altan.


Altan terus memandangi setiap hasil pemotretan, hingga akhirnya Altan menyerah. Altan beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya. Diketuknya pintu kamar yang sedang Ansell gunakan.


"Ansell."


"Apa kamu sudah tidur?"


Pintu berderit, Ansell menggosok kelopak matanya. Kesadaran belum pulih seutuhnya.


"Tuan." Suara Ansell serak.


"Maaf, mengganggu tidurmu." Ucap Altan.


"Tidak apa-apa. Ada apa Tuan, apakah Tuan ingin minum kopi?"


"Tidak, bisa kau ikut denganku sebentar?" Altan sedikit ragu untuk menanyakannya.


Sesampainya di ruang kerja, Altan mendudukan Ansell di kursi kerjanya. Sedangkan Altan mencondongkan diri di samping Ansell dan memperlihatkan hasil pemotretan.


Ansell memandang bingung apa maksud dari Tuan Altan, mungkin karena kesadarannya belum pulih benar. Altan menatap Ansell.


"Apa kamu tahu siapa model dalam foto ini? M..maksud saya bukankah kamu waktu itu ikut bersama Yaza dalam sesi pemotretan?"


Ansell mengangguk. "Iya Tuan."


"Kamu tahu siapa modelnya?"


Ansell mengangguk. "Saya Tuan." Kemudian Ansell menguap.


"Benar dugaanku. Yaza menyembunyikan hal sebesar ini dariku."


Altan yang menyadari Ansell masih mengantuk, menyuruhnya untuk kembali tidur di kamar miliknya. Setelah kepergian Ansell, Altan langsung mengumpat.


...----------------...


Pagi harinya Altan bergegas menyiapkan sarapan pagi sebelum Ansell bangun. Sebagai tanda ucapan permintaan maafnya karena membiarkannya ikut bersama Jenny.


Mungkin ini tak sebanding dengan rasa sakit hatinya kepada Jenny, tapi Altan berusaha keras untuk membuatkan sarapan pagi. Dan untuk masalah model pemotretan, Ansell harus tahu bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh seseorang.


Di sudut ruang lain. Ansell terbangun dari tidurnya, dilihatnya kamar yang asing. Ya Tuhan....aku sampai lupa. Ini kan kamar Tuan Altan. Ansell bergegas bangun dan melihat jam pada ponselnya.


" Ya ampun, aku telat." Ansell berlari ke kamar mandi.


Di dapur Altan sudah menyiapkan seluruhnya lengkap. Terdengar suara langkah cepat dari arah tangga. Altan segera menyelesaikan tugasnya. Saat Ansell sampai di ruang makan, matanya membulat sempurna melihat hidangan yang sudah tertata rapi.


"Maaf Tuan, saya kesiangan." Ansell menunduk.


"Tidak apa-apa, ayo duduk." Altan mendudukan Ansell yang sedari tadi masih berdiri di samping kursinya.


...----------------...


Karim pagi-pagi sudah menemui David, untuk mengurus cafe nya selama ditinggal olehnya hari ini. Kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Jenny.


"Kau?" Karim mengangguk.


Jenny sedikit bingung tapi tersenyum malu dan mempersilahkan Karim masuk.


Karim duduk dan menatap seksama seluruh interior rumah Jenny, setelah Jenny pergi untuk membersihkan diri dan bersiap.


...----------------...


Karim, Nenek Esme serta Eilaria sedang menikmati sarapan paginya.


"Demir, bagaimana ibunya Sefa?" Nenek Esme bertanya.


Demir menghela nafas dan menggeleng. "Belum berhasil."


"Kenapa?" Nenek Esme menghentikan makannya dan menatap seksama Demir.


"Sepertinya akan sangat sulit mendapatkan restu ibunya Sefa."


"Memang apa yang dikatakannya?"


"Banyak." Demir menjawab malas, malas untuk mengingat kembali ucapan ibunya Sefa yang pastinya akan menyakiti hati neneknya.


Nenek Esme menghela nafas. "Kau harus berusaha, buat calon Ibu mertuamu  bisa percaya padamu."


"Nenek yakin kau mampu membahagiakan Sefa." Ucapnya menyemangati Demir yang terlihat rapuh.


Demir menatap sekilas dan mengangguk, lalu melanjutkan makannya.


"Demir, Ansell tak memberi kabar padamu?" Nenek Esme mengganti topik.


Demir menggeleng. "Tidak, mungkin Ansell tidur di kediaman Tuan Altan atau mungkin di rumah temannya."


Nenek Esme sedikit khawatir. "Coba kau hubungi Ansell atau kau tanya Sefa, siapa tahu Ansell mengabari Sefa."


Demir mengangguk dan merogoh saku celananya untuk menghubungi Ansell, tapi nomornya tidak aktif. Demir beralih menelpon Sefa, tapi Sefa tak diberi kabar apapun. Tujuan terakhir menelpon Karim, siapa tahu Karim diberi kabar oleh Ansell.


Tapi sayang, Karim juga tak tahu Ansell ada di mana. Demir ingin menghubungi nomor Tuan Altan, tapi tak punya nomornya. Sial.


Demir menatap Nenek Esme yang sedari tadi menatapnya untuk mencari tahu apa informasi yang diperoleh. Demir menggeleng menjawab tatapan neneknya.


Nenek Esme menghela nafas. "Ya sudah, semoga Ansell baik-baik saja."


...----------------...


"Sudah siap? Ayo." Altan mengajak Ansell keluar untuk berangkat ke kantor.


Di perjalanan Altan sudah tak tahan ingin menanyakan sesuatu hal yang dari semalam terus terngiang-ngiang di pikirannya.


"Ansell?"


"Iya Tuan." Ansell menatap ke belakang.


"Kenapa bisa kamu yang menjadi modelnya? M.maksud saya, apa kamu sudah diberi tahu terlebih dahulu oleh Yaza atau Jenny?"


Ansell menggeleng. "Belum Tuan, waktu itu Mr Yaza hanya mengatakan bahwa modelnya sedang tak masuk kerja. Jadi saya yang menggantikannya, karena sudah dijadwalkan. Mau tidak mau saya menerimanya."


Ansell menjelaskan sesuai kronologi dan  Altan mengangguk. Tapi tetap berpikir ada yang aneh, Altan benar yakin Ansell sedang di jebak. Dia tahu Ansell polos dan pasti mau menerima. Tapi Yaza tak tahu akan berurusan dengan siapa.


Altan mengambil ponselnya dan menelpon Riza. Pada panggilan pertama langsung diangkat.


"Ya..hallo?"


"Cepat hubungi Yaza dan Jenny untuk secepatnya sampai di perusahaan. Dan beritahu mereka untuk langsung ke ruangan saya."


"Memang ada apa?"


"Sudah, lakukan saja." Altan mematikan panggilannya sepihak. Dan memendam amarah yang sulit diutarakan.


Sesampainya di perusahaan, Altan bergegas ke ruangannya. Tak mempedulikan sapaan para karyawan, membuat seluruh karyawan yang menyapanya bergidik ngeri termasuk Clara.


"Ya..ampun. Pasti akan terjadi bencana besar, sampai Mr Presdir seperti itu. Apa jangan-jangan..."


Clara menggantung ucapannya merasa ngeri sendiri. Pikirannya tertuju ke kejadian kemarin, di mana Ansell diperlakukan sangat buruk oleh Jenny.


"Bagaimana ini, aku tidak mau terseret." gumam Clara.