
"Silahkan Deniz, Tuan pasti bisa mengantar Anda." Tanpa basa basi Ansell mempersilahkan Deniz.
Altan menbulatkan mata tak menyangka, jika Ansell akan melakukan ini.
"Apa yang terjadi padanya?" Batin Altan.
"Ansell!" Teriaknya lagi memanggil Ansell.
Deniz merasa bingung sekaligus bahagia. Bingung karena berpikir siapa pria yang menjemput Ansell, tapi juga bahagia. Karena pria itu, Deniz bisa menumpang. Tapi bukan soal tumpangan, ini soal kedekatan. Jika Deniz bisa berduaan dengan Altan, dia bisa berusaha menarik sedikit demi sedikit simpati dari Altan dan akan bisa menyingkirkan Ansell dari hati Altan.
"Iya! Sebentar."
"Tuan, saya permisi." Ansell memberi salam hormat pada Altan dan senyum pada Deniz.
Sementara Altan tak bisa memberikan sepatah katapun pada Ansell, Altan hanya bisa menatap Ansell yang berjalan menjauh darinya.
......................
"Apaan sih Kaka teriak-teriak! Kaya di hutan saja." Bentak Ansell saat ia mau masuk ke mobil.
"Abis kamu kelamaan!" Jawabnya sambil menutup pintu dengan keras ketika Ansell sudah duduk di bangku penumpang depan.
"Sensitiv amat kayak cewek lagi datang bulan!"
Demir tak menanggapi, ia langsung menghidupkan mesin mobil. Saat melewati mobil Altan dan melihat Altan membukakan pintu untuk Denis, jantung Ansell berdegub kencang. Hatinya sakit, menyaksikan dengan jelas menggunakan kedua matanya. Lelaki yang ia cintai bersama wanita lain, meski Ansell sadar toh ini kan Ansell yang menginginkan. Altan mengantar Deniz.
Tapi kenapa ini rasanya sakit sekali?
"Kenapa? Sakit hati?"
"Apaan si Kaka!" Jawab Ansell ketus sambil mengusap pipinya yang tanpa sadar dari tadi ada linangan air mata saat melintasi Altan.
"Dah lah.... kan Kaka udah ngingetin, lelaki sepertinya bukan lelaki untuk orang seperti kita."
Kali ini Ansell hanya diam, tak menanggapi sang Kakak. Ia hanya bisa mengusap pipinya dan menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tangisnya tidak pecah.
Demir menatap sekilas sang Adik, lalu mengusap kepala Ansell. "Maaf, jika kata-kata Kaka berlebihan."
Ansell tetap diam dan menahan tangisnya. Buka perkataan kakaknya yang membuatnya sakit, tetapi keadaan malam ini yang terus menerus menekan pikikiran, menekan suasana hatinya dan membuat hatinya sakit.
"Sudah, berhentikan menangis. Simpan air matamu, jangan biarkan terbuang sia-sia. Nih..." menyodorkan satu botol air mineral pada Ansell, Ansell mengambilnya dan membukanya lalu meminumnya separuh botol lebih dengan cepat.
"Haus yah....
"Apaan si!"
Demir hanya tertawa. "Senyum dong."
"Ogah!"
"Ya udah.... Kakak gak jadi kasih tahu kabar bahagia."
"Halah........ palingan juga masalah Ei kan? Karna pembagian hasil sekaligus kenaikan kelas. Aku yakin pasti Ei naik kelas."
"Ihhh... sok tahu kamu. Ei memang naik kelas, siapa dulu kakaknya."
"Ihhhh.... sombong amat." Ansell tertawa melihat gaya bicara Demir.
"Gitu dong tertawa, kan lebih manis."
"Apaan! Adik sendiri di gombalin."
Demir pun tertawa. "Kaka ingin melamar Sefa, lusa."
"Apah!" Teriak Ansell yang begitu kaget disertai bahagia, sangat bahagia.
"Hei.... kecilkan suaramu, telingaku ingin meledak."
"Benarkah?" Mata Ansell berbinar. "Wahh... hebat, aku mendukung. Sangat mendukung."
"Terimakasih." Demir tersenyum.
"Apa Nenek sudah tahu?"
Demir mengangguk.
"Lalu ibunya Sefa?"
"Sefa yang akan mengabarinya."
"Oke... besok aku akan ijin pulang awal."
"Untuk apa Ansell?"
"Kakak ini bagaimana!" Menukul bahu Demir.
"Ya jelas mencari pakaian untuk acara lamaran lah. Dan memangnya melamar tidak membawa apa-apa. Hhuuuhhh."
"Kau ingin bersama siapa? Kakak kan kerja. Jangan bilang bersama Altan!"
Ansell memukul keningnya sendiri dengan menghela nafas.
"Mana mungkin bersama Altan. Lagi pula siapa aku berani mengajaknya. Hwaaaaa" batin Ansell menangis.
"Gak! Kakak selalu berpikir negatif."
"Ya sudah jelas bersama Sefa lah." Ansell memalingkan wajah menatap jalan di samping.
"Iya...iya...maaf, gitu ajah ngambek."
"Au ah, masa bodoh."
Demir hanya menatap sekilas, ternyata bukan hanya Sefa yang sensitiv. Adiknya yang setegar karang pun bisa sensitiv.
...----------------...
Jenny yang baru saja keluar dari gedung bersejarah tempat acara show di kagetkan dengan kemunculan Ilyas secara tiba-tiba dan langsung menariknya masuk ke dalam mobil Ilyas.
"Hei! Apa-apaan ini, kau mau menculiku!"
"Diam! Aku ingin berbicara denganmu."
"Apa!"
"Jangan belaga sok tidak tahu!" Ilyas mendecih.
"Lalu? Kau ingin mengancamku lagi karena aku berhasil membuat rencanamu gagal."
"Sialan!" Ilyas mulai terpancing emosi.
"Kau ingin memukulku hah!" Timpal Jenny saat melihat tangan Ilyas mulai naik ke atas sehingga membuat Ilyas tidak jadi memukul Jenny dan hanya mengepalkan tangannya saja lalu menurunkannya.
"Kau sudah berani rupanya, rubah manis!"
Jenny tersenyum sinis. "Dahulu memang aku tidak bedani, tapi sekarang berbeda. Saat teman-temanku tahu kondisiku, mereka mendukungku."
"Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa di akhir!" Tantang Ilyas.
"Mari." Jenny menerima tantangan Ilyas.
"Cepat keluar dari mobilku! Kau membuat mobilku kotor!"
"Cihh.... siapa juga yang ingin naik ke mobilmu, bukankah kau yang menarikku?" Jenny terus menyindir.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat keluar!"
"Pria gila, kau pantasnya masuk ke rumah sakit jiwa." Jenny keluar dan menutup keras mobil Ilyas.
"Kau yang akan kubuat menjadi gila!" Teriak Ilyas dari dalam mobilnya, sementara Jenny berjalan menuju mobilnya.
"Dasar pria sinting!" Gumam Jenny saat berjalan menuju mobilnya.
...----------------...
Para karyawan staf dan team sengaja berangkat pagi demi untuk membuat pesta kecil kejutan untuk Presdir. Kebahagian masih meliputi suasana hati mereka, mereka sangat bahagia dan bangga. Perusahaan yang tadinya hampir hancur bisa berhasil bangkit.
Tak selang lama, Riza dan Paman Osgur berjalaan beriringan dari halaman parkir. Dan kemudian mobil Altan datang, Riza beserta Paman Osgur yang melihat kedatangan Altan pun mendekat.
Paman Osgur berniat ingin mempersatukan kembali Riza dan Altan yang selama ini saling diam tanpa sapa, apa lagi perkataan Riza semalam yang mengganggu pikirannya. Tidak mungkin Paman Osgur membiarkam adiknya mengajukan surat pengundurun diri, bagaimana nasib perusahaan ini. Posisi Riza di perusahaan ini sangatlah berarti, jika Riza benar-benar pergi pasti akan sangat sulit mencari seseorang seperti adiknya. Dan lagi pula adiknya lah yang tahu persis Altan seperti apa, karena mereka sudah bersahabat lama.
Tanpa Riza, Altan yang rapuh saat ditinggal sang Ibu tidak mungkin akan bangkit. Riza adalah sosok pribadi yang dewasa, maka dari itu Altan juga menganggap Riza seperti kakaknya sendiri.
"Ayo kita sambut Altan." Ajak Osgur.
"Tapi Kak." Riza ragu, pasti Altan akan tetap mendiaminya.
"Sudah, apa pun yang terjadi bersikaplah dewasa. Kau tahu sikap dewasa seperti apa bukan?"
Riza menghela nafas lalu mengangguk.
Altan keluar dari mobilnya sendirian lalu Pak Husein memberi salam hormat dan menbawa mobilnya kembali ke tempat parkir khusus.
"Altan!" Sapa Osgur.
Altan menatap kedatangan Paman Osgur dengan senyum dan menatap Riza dengan datar.
"Paman." Jawab Altan.
Riza sadar, dirinya masih belum dianggap oleh Altan. Tetapi ia juga ingat apa perkataan sang Kakak.
"Altan." Sapa Riza dengan senyum namun Altan hanya mengangguk saja menjawab sapaan Riza.
Paman Osgur yang melihat sikap Altan kepada adiknya hanya bisa diam untuk saat ini lalu menatap sang Adik yang terlihat pasrah. Paman Osgur bisa memahami suasana hati Riza, Paman Osgur hanya bisa memberi kode gelengan kepala agar sang Adik bisa menahan rasa tak berdayanya. Ia berharap Riza bisa lebih bersabar lagi. Dan untuk mengubah kecanggungan antara Altan dan Riza, Paman Osgur merangkul keduanya. Meski Altan sedikit menolak, tetapi tidak bisa membuat sang Paman kecewa. Mau tidak mau Altan menerima rangkulan sang Paman.
...----------------...
Ansell yang baru saja keluar dari rumahnya dikagetkan oleh kedatangan Sefa.
"Ansell."
"Sefa, mengagetkan saja. Sift pagi?"
"Iya.... tumben kamu tidak kerumah Pangeran Berkuda."
"Apaan si." Memukul bahu Sefa dan kemudian Ansell dan Sefa berjalan beriringan. Namun sayup-sayup mendengar suara seorang wanita yang suaranya Ansell kenali.