Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 45. Dia Meninggalkanku Dengan Sejuta Luka Perih



BAB 45. Dia Meninggalkanku Dengan Sejuta Luka Perih.


Serta ucapan Riza, tentang Altan yang mencintainya. Rumit.


Apa Ansell akan mempertahankan rasa cintanya?


Atau terus mengikuti permainan Nyonya Ivy?


Kalau Ansell terus mempertahankan rasa cintanya dalam permainan Nyonya Ivy, itu sama artinya hanya mempermainkan perasaan Altan. Dan itu salah.


Andai dahulu Ansell tidak terjebak dalam kontrak sewa dan mengenal Altan dengan cara yang wajar. Pasti sekarang Ansell bisa mempertahankan perasaan tulus cinta Altan.


Tapi yang terjadi saat ini salah. Lalu bagaimana bisa Ansell tetap bertahan jika pada akhirnya hanya membuat Altan terluka. Sepertinya ini harus diakhiri.


Dan semoga saja Altan bisa memahami jalan pikiran Ansell. Semoga waktu bisa merubah segala keadaan ini menjadi lebih baik setelah Ansell bisa melunasi seluruh uang muka yang Nyonya Ivy berikan. Dan kemudian melanjutkan mempertahankan rasanya dan rasa Altan untuk Ansell.


Ansell mengusap air mata yang mengalir karena kesedihannya untuk mengakhiri rasa yang sudah tumbuh baik ini saat sekarang.


Ansell menghidupkan ponselnya ada banyak panggilan masuk tak terjawab di notifikasi. Tapi Ansell mengabaikannya, Ansell mengirim pesan pada Karim untuk membantunya. Dan Ansell mengirimkan share location pada Karim, mungin posisinya sekarang jauh dan membutuhkan waktu dua jam.


Ansell mengemasi pakaiannya sedikit dalam tas yang biasa di bawa, selebihnya di tinggal di lemari. Lalu Ansell menulis surat di atas kertas dan ditaruh di meja yang tadi digunakan untuk makan siang.


Ansell menghela nafas sebelum meninggalkan rumah kayu, dan menghapus air mata kesedihannya. Ansell berjalan meninggalkan rumah kayu dan Altan yang belum sampai.


Satu jam kemudian.... Altan kembali, Altan keluar dari mobilnya dengan senyum cerah. Mengambil buket bunga lily yang indah serta sebuah kado dengan bentuk kotak yang di hias kain merah berenda gold dan ada bunga mawar merah di atasnya serta sebuah ucapan cinta yang tertulis rapi dalam kartu ucapan.


Altan berjalan masuk ke rumah kayunya mencari Ansell.


"Ansell."


Altan memanggil dan berjalan ke dapur tapi tak ada jawaban ataupun Ansell yang terlihat di dapur. Altan berbalik dan menaiki tangga menuju kamar atas.


"Ansell."


Altan tetap memanggil berharap ada jawaban Ansell dari kamar atas. Tapi tak ada.


Altan turun lagi ke bawah dan mencari ke ruang yang digunakan tidur semalam dekat tungku api unggun kecil.


"Ansell."


Tak ada, Altan nampak berpikir. Kemana Ansell? Di rumah ini tak nampak.


Altan kembali berjalan ke luar, dilihatnya halaman depan yang tadi di gunakan untuk makan siang. Tapi Ansell juga tak nampak.


Altan berjalan ke arah meja yang sedari tadi dipandang, lalu duduk. Altan menyerngitkan kedua alisnya saat melihat ada kertas yang dilipat dan di selipkan di bawah bas gelas besar berisi air dan bunga lily aneka warna, sama seperti yang Altan bawa.


Altan mengangkat vas gelas tersebut dan mengambil kertasnya lalu membuka lipatannya.


****************


Maaf, untuk saat ini saya mengakhiri sepihak saat bunga cinta kita bermekaran.


                             ANSELL


****************


Altan menyerngitkan kedua alisnya, hatinya bergetar. Rasa sakit menjalar ke setiap denyut nadinya.


PRANG....


Vas gelas besar menjadi sasaran. Vasnya pecah airnya berhamburan serta bunga lily terpental jauh. Tangan Altan terluka meneteskan darah akibat goresan pecahan kaca vas. Tapi luka berdarah itu tak terasa sakit baginya terkalahkan oleh sakit hatinya saat ini.


Saat Ansell pergi meninggalkannya sendiri dalam rasa cinta yang sudah membuatnya mengubah es dingin di hatinya mencair.


Altan membuang bunga lily dan kado ke sembarang arah. Mendudukan diri lemah dalam menahan air mata kesedihan. Dibiarkan darah yang terus menetes ke tanah.


...----------------...


Ansell mengusap air matanya dan berdiri tegak saat melihat mobil Karim menghampirinya. Karim berjalan mendekat, dilihatnya raut wajah Ansell yang penuh kesedihan.


Karim ingin bertanya tapi kata-katanya seakan tersangkut di tenggorokan. Karim diam dan mengambil tas yang di bawa Ansell dan menuntun Ansell masuk ke mobilnya.


Karim bergerak masuk ke mobilnya dan menatap sekilas Ansell yang terus saja menghapus linangan air matanya. Karim tidak tahu apa yang terjadi, dan kenapa Ansell bisa berada di kota ini. Karim menghembuskan nafasnya dan mulai melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang meliputi Karim dan Ansell. Karim tak berani bersuara saat ini. Dua jam perjalanan berangkat dan kembali sangat melelahkan.


...----------------...


Waktu sudah jam setengah tujuh malam, Sefa yang berangkat pagi sudah keluar. Dan saat tadi sore mendapat pesan singkat dari Karim, Sefa memberi pesan singkat pada Demir.


Demir terpaksa harus ijin pulang awal dan menemui Sefa di rumahnya untuk menjemput Ansell.


Demir dan Sefa nampak was-was, berharap Ansell baik-baik saja. Meski dalam pikiran Demir ada kekhawatiran, mengingat kemarin Ansell memberitahu pergi dengan Tuan Altan. Lalu sekarang malah Karim yang menjemputnya.


Mobil Karim datang dan berhenti tepat di hadapan Demir dan Sefa. Keduanya berjalan menghampiri Ansell yang terlihat lesu dari luar kaca mobil Karim.


Demir membuka pintu mobil bagian depan di mana Ansell duduk dan membantu Ansell keluar. Ansell langsung memeluk kakaknya dengan erat dan menangis, Sefa nampak bingung melihat Ansell.


Ansell rapuh dalam kesedihan nya. Sefa membuang nafas dan menepuk lembut bahu Ansell yang sedang memeluk Demir. Memberi kekuatan pada Ansell agar Ansell bersabar  apapun masalahnya.


Demir mencium pucuk kepala Ansell dengan rasa sedih. Adik yang selalu terlihat kuat dan tegar saat ini sedang rapuh. Demir menghapus air mata Ansell dan menuntunnya untuk masuk ke rumah Sefa.


Ansell di topang Demir masuk ke lantai atas kamar Sefa lalu membaringkannya. Sefa meletakan tas Ansell di meja riasnya.


"Untuk malam ini, aku titip Ansell di sini. Tidak mungkin Ansell kembali ke rumah dalam kondisi seperti ini, pasti Nenek akan sangat khawatir."


Demir memberi tahu Sefa, dan Sefa mengangguk. Lalu Demir ke luar untuk menemui Karim dan bertanya banyak hal.


Sefa beralih menatap Ansell yang sedang merebahkan diri di dalam selimut. Sefa ikut meneteskan air mata melihat Ansell yang sedari tadi diam tapi terus menangis.


Kesedihannya pasti sangat menyakitkan, Sefa bisa merasakan pasti ini semua karena rasa cintanya pada Tuan Altan.


"Ansell, sebaiknya kau mandi agar lelahmu bisa hilang." Sefa memaksakan senyumnya untuk menguatkan Ansell.


Ansell mengangguk dan bangkit dari ranjang Sefa dengan dibantu Sefa menuju kamar mandi.


...----------------...


Riza sedang termenung sendiri di depan televisi ditemani Bolla, anjing besar miliknya yang setia bersamanya saat di rumah. Ya karena Riza hanya hidup sendiri bersama Bolla dalam rumah yang cukup besar.


Terdengar suara pintu diketuk, Riza memandang Bolla.


"Hei...siapa yang datang, apa kau tahu?"


Bolla hanya menggonggong seakan memberi jawaban pada Riza.


"Oke...ayo kita ke kuar, lihat siapa yang datang."


Riza mencium Bolla dan berdiri lalu berjalan ke arah pintu, sedangkan Bolla di belakang Riza.


Riza membuka pintu dan terkejut. Altan berdiri dengan wajah sehabis menangis dan lemah seperti tak bertenaga.


Riza menatapnya dan mengajaknya masuk. Altan menatap Bolla agar tak menghalangi jalannya mengikuti Riza dan Bolla menggonggong lalu memberi jalan.


Riza duduk di teras samping rumahnya berhadapan dengan Altan.


"Kau kenapa?"


Meskipun Riza bisa memahami kalau Altan pasti terluka oleh Ansell, tapi tidak tahu apa yang sampai membuat sahabatnya ini seperti sekarang. Setahunya Ansell sangat mencintai Altan, begitu juga sebaliknya.


Altan diam dalam pandangan yang kosong penuh luka di hatinya. Riza menghela nafas.


"Aku akan membuatkanmu teh madu dahulu, tunggu sebentar."


"Dia meninggalkanku dengan sejuta perihku." Altan bersuara membuat Riza yang tadinya sudah berdiri langsung duduk lagi.


"Ansell?" Riza bertanya dan Altan mengangguk.


"Dia hanya mempermainkan hatiku saja, dia tidak tulus."


"Kau pasti salah paham, aku yakin Ansell tidak seperti itu. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan." Riza mencoba membala Ansell dan menyadarkan atas kesalahpahaman Altan kepada Ansell.