
Sementara Jenny, Yaza dan Ismet dengan di bantu para ahli terpercaya dengan lebih sedikit mudah mendapatkan hak cipta cepat. Sore nanti bisa di ambil berkasnya. Mereka kembali ke perusahaan dengan senyum lebar.
Malam harinya, Ansell pulang dengan sangat lesu. Ternyata menjadi sekertaris pribadi begitu banyak tugasnya, Ansell berjalan gontai saat hendak melangkah ke kamar mandi, Nenek Esme yang melihatnya menjadi kasihan. Meski Nenek Esme tidak tahu pekerjaan seberat apa yang cucunya pikul.
"Ansell." Panggil Nenek Esme membuat Ansell terhenti dan menatapnya.
Dilihatnya sang Nenek sedang memasak untuk makan malam. "Iya, Nek." Ansell berjalan mendekat.
"Kau terlihat sangat lelah, apa kau sakit?" Ucapnya khawatir.
"Ahh... tidak, Nek." Ansell mengambil potongan buah kiwi lalu memakannya.
"Hanya dari semalam pekerjaan sedang banyak."
"Tapi harus ingat, tetap jaga kesehatan. Soal pekerjaan jangan terlalu terfosir." Nenek Esme mengingatkan.
"Iya, Nek. Ansell tidak telat makan." Ansell bersender pada kulkas.
"Cuma kelelahan karena seharian ini harus mondar-mandir, apa lagi dengan memakai heels tinggi. Jadi pegal-pegal."
"Ya sudah, cepat mandi pakai air hangat. Biar otot-otot kembali relaks."
"Oke." Jawab Ansell dan mengambil potongan kiwi lagi lalu berjalan menuju kamar mandi.
Demir yang baru saja pulang dari kerjanya langsung mencari keberadaan Ansell. Di tujunya kamar Ansell, tapi kosong. Demir menuju dapur.
"Nek, apa Ansell sudah pulang." Tanya Demir saat melihat neneknya sedang membawa sajian makan malam ke halaman belakang, tak lupa Demir juga ikut membawakannya.
"Iya, Ansell sedang mandi. Sepertinya dia sangat kelelahan."
Demir mengangguk dan menaruh piring lauk pauknya ke atas meja, lalu berbalik dan hendak menemui Ansell kembali. Mungkin Ansell sudah selesai.
"Demir, mandi dahulu. Mungkin Ansell sudah selesai. Jangan mengganggu dia terlebih dahulu, adikmu sangat kelelahan." Cegah Nenek Esme saat menyadari Demir berbalik cepat, pasti akan menemui Ansell.
Demir menghela nafas. "Baik, Nek." Jawab Demir.
Saat makan malam, Demir sudah tak kuat ingin bertanya pada Ansell. Pertanyaan- pertanyaan yang sedari tadi Ia bendung, sudah tak sanggup lagi ia tahan.
"Ansell, tadi siang kau mengatakan terjadi kekacauan? Apa?"
Ansell menghela nafas, kakaknya langsung tancap pertanyaan.
"Perusahaan kemarin sedang tertimpa masalah besar. Produk yang akan di luncurkan di sabotase, mengakibatkan perusahaan mengalami krisis besar dan sebagian client membatalkan pembelian produk." Jelas Ansell.
"Lalu mobilnya?"
"Astaga, Kaka." Ansell menatap Demir dan menghentikan makannya.
"Bukankah sudah kunkatakan tadi siang."
"Tapi kau tidak sedang berbohong kan?"
"Tidak. Apa Kaka pernah melihatku berbohong?"
"Pernah!"
Ansell mendengus. Memang si dirinya pernah berbohong, tetapi itu kan demi kebaikan.
"Ada kalanya aku memang berbohong Kak, tapi itu kan demi kebaikan."
"Sama seperti yang sekarang kau lakukan?" Sindir Demir.
"Ya Tuhan......" Ansell memukul keningnya sendiri. "Punya Kaka yang sedang gelap hati dan pikiran, ya macam begini nih..."
"Kaka bukan gelam hati dan pikiran, Kaka cuma takut kau di permainkan." Demir langsung menyangkal saat di katai gelap hati dan pikiran oleh adiknya.
"Sudah-sudah, ayo lanjutkan makan malamnya." Ucap neneknya melarai saat Ei seperti ketakutan memeluk tangannya melihat kedua kakaknya berdebat.
"Lagian, Kak Demir menuduh seperti itu." Ansell semakin cemberut.
"Iya, Kaka minta maaf. Kaka seperti ini karena Kaka sayang dan khawatir sama kamu. Ini semua juga karena Kaka, kalau dahulu Kaka tidak melakukan kebodohan. Kau tidak harus menjalani kehidupan yang menjeratmu." Ucap Demir penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, ini sudah menjadi bagian dari takdir hidupku." Ansell berusaha tenang, meski memang keadaan sebenarnya seperti itu.
"Maaf." Demir tersenyum dan menepuk lembut punggung tangan Ansell. "Kaka akan berusaha membantumu untuk menutup semua uang yang telah kau keluarkan dahulu demi membebaskan aku dan Ei. Agar kau segera terbebas dari kontrak perjanjian yang di buat nenek sihir itu."
"Tidak perlu, Kak. Kaka fokus saja mengumpukan uang demi menikahi Sefa."
"Tapi Ansell..."
"Itu lebih baik Kak, Sefa sudah menunggu lama. Jangan sampai Sefa pergi dan Ibunya semakin tak percaya pada Kaka."
Nenek Esme yang melihat betapa Ansell menyayangi kakaknya menjadi terharu. Sifat baik mendiang ibunya turun ke Ansell. Nenek Esme semakin rindu pada mendiang anak perempuannya. Ia memeluk erat Ei, gadis kecil yang kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya karena dunia yang telah memisahkan.
...----------------...
Suasana kantor terlihat kembali bersemangat, semua jajaran staf dan team kerja sibuk semua. Ini karena hari ini adalah hari yang di tunggu. Peragaan sepatu untuk besok malam. Jadi seluruh bahan dan alat yang di pergunakan akan di bawa.
Karena sesua rencana, semua berjalan seperti apa yang di harapkan. Riza berhasil mendapatkan ijin dari pihak gedung terkait. Dan sekarang tinggal memastikan menemui sang Manager pemilik gedung secara langsung.
Ansell berjalan mengekori Altan seperti biasa menuju ruang kerja Altan.
Sementara Paman Osgur, Denis, Ismet, Yaza dan Jenny sudah menunggu Altan dan Ansell di halaman sebuah gedung mewah tempat biasa para kalangan pembisnis melakukan acara peragaan untuk produknya. Mereka semua belum sempat masuk, karena harus menunggu Altan selaku presdir.
Ansell menata seluruh alat dan bahan serta dokumen yang dibutuhkan.
"Tuan, mereka semua telah berkumpul di luar gedung peragaan dan sedang menunggu kedatangan Tuan." Ansell memberi tahu sambil memasukan tiga buah contoh sepatu dengan bahan super nyaman ke dalam box khusus.
"Baiklah, ayo kita menyusul." Altan merapikan meja kerjanya lalu pakaiannya. "Apa kamu sudah selesai?"
"Ya Tuan." Jawab Ansell dan membawa dua tas sekaligus, tas besar yang ia bawa seperti biasa ditambah satu koper berisi perlengkapan dan sepatunya.
Keduanya keluar bersama menuju gedung yang mereka pilih, sesampainya Altan dan Ansell bergabung dengan teamnya. Mereka masuk untuk menemui Manager pengelola ijin gedung, karena pada dasarnya hari kemarin Riza hanya mendapatkan ijin melalui panggilan telepon. Dan pihak Manager gedung menunggu kedatangan presdir secara langsung untuk menandatangi surat ijin tertulisnya.
Altan mengetuk pintu ruang Manager, setelah di ijinkan masuk Altan dan team masuk.
"Selamat siang." Sapa sang Manager dengan mengulurkan tangan untuk berjabat.
"Siang." Jawab Altan.
"Mari silahkan duduk." Ucap sang Manager lalu kemudian Altan dan team duduk.
"Pertama-tama saya ingin meminta maaf kepada Presdir Altan Yakuz beserta team kerja."
Altan menyerngitkan alisnya saat mendengar penuturan awal sang Manager.
"Saya mendapat informasi langsung dari atasan saya, bahwa gedung kami ternyata telah di sewa dalam waktu tiga hari oleh Perusahaan Faruk's Shoes."
"Apah! Bagaimana bisa?" Paman Osgur langsung berdiri tidak terima atas kesalahan informasi dari pihak Manager.
"Bukankah kemarin kami sudah diijinkan, dan sekarang kami datang untuk mendapat ijin tertulis. Lalu kenapa malah seperti ini?"
"Paman." Ucap Altan menenangkan, meski rasa kecewa dan marah melanda hatinya saat ini. Namun sebagai Presdir Altan sadar, emosi tidak akan menyelesaikan permasalahan.
Dan Altan yakin, pasti ada mata-mata dari Ilyas yang terus mengikuti perkembangan perusahaan yang di pimpinnya. Dan mereka berani melakukan apa pun agar Axton tidak bisa bergerak kembali.
"Tapi Altan, ini sudah kelewatan. Ilyas bermain curang." Ucap Paman Osgur kembali.
"Tenanglah Paman, kita dengarkan dahulu penjelasannya."
Paman Osgur terpaksa kembali duduk karena Altan seakan mendesaknya.
"Maaf sekali lagi atas kesalahan informasi. Saya juga tidak tahu menahu, karena informasi ini saya dapatkan pagi tadi. Dan atas ketidaknyamanannya, pihak kami memohon maaf sebesar-besarnya."
"Bagaimana bisa seperti itu, kalian langsung lepas tangan. Bukankah kami yang terlebih dahuli memesannya? Lalu kalian seenak hati malah justru mengijinkan Perusahaan Faruk's." Paman Osgur bersuara kembali.