Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Pantang Menyerah Part 5



"Apa karena uang yang mereka berikan lebih banyak di bandingkan perusahaan kami?" Sindir Paman Osgur.


"Maaf dengan sangat, itu jauh dari wewenang saya."


"Paman." Ucap Altan pelan namun penuh penekanan.


"Tidak Altan, kalau kita diam, Ilyas akan terus semena-mena terhadap kita."


"Jangan mentang-mentang Ilyas berani membayar lebih, seenaknya saja membatalkan kesepakatan awal!"


"Maaf, jika Anda terus berteriak dan tidak sopan seperti ini. Saya akan panggilkan keamanan." Ucap tegas sang Manager pada Osgur.


"Silahkan, saya tidak takut. Meski saya di usir, saya tidak bersalah. Kalian brengsek, hanya karena uang berani melakukan ini!" Paman Osgur semakin menantang.


"Paman, hentikan." Altan berusaha menengahi saat melihat pamannya hendak berjalan menghampiri sang Manager.


Paman Osgur yang sudah mencapai meja kerja Manager, tidak terima di hentikan Altan. Tangannya meraih gelas yang berisi air mineral dan langsung menyiramkannya pada sang Manager. Sontak membuat semuanya tercengang, begitu pula Altan. Meski sudah menghentikan pamannya, namun tidak bisa menghentikan gerak cepat tak terduga dari ulah pamannya.


Sang Manager melotot dengan emosi kepada Osgur. Dengan cepat menekan angka 5 pada telefon kantornya, panggilan darurat untuk team keamanan agar bergerak cepat menuju ruang Manager.


"Kurang ajar! Anda tidak sopan!" Bentak Manager.


"Kau pantas mendapatkannya!"


"Sepertinya Anda sudah kehilangan akal, Tuan!" Sindir Manager.


"Kalian yang kehilangan akal dan hati nurani!"


"Paman, aku mohon berhentilah." Altan bersuara kembali.


"Apa kau takut kepada mereka! Mereka yang dibayar dengan uang!" Paman Osgur terus menyindir.


"Bukan seperti itu Paman."


"Ahh.... sudahlah, kau terlalu baik untuk mereka Altan."


Suara pintu dibuka secara mendadak, empat petugas keamanan masuk dengan langkah tegap dan siaga. Berdiri berjejer menunggu perintah, tatapannya tajam memandang team kerja Axton. Ismet dan Yaza nampak ketakutan sampai berpegangan tangan.


"Cepat usir pria tua gila ini keluar!" Perintah sang Manager pada ke empat petugas keamanan.


Dengan cepat dan tegas dua pria berbadan tinggi tegap berdada bidang dengan otot-otot yang terlihat jelas menonjol menarik paksa kedua lengan Paman Osgur, sehingga tubuh Paman Osgur sedikit terangkat.


Altan yang menyaksikan langsung betapa kerasnya kedua keamanan itu menarik pamannya tanpa belas kasih menjadi sedikit geram, namun masih bisa menahan lonjakan amarahnya. Jika saat ini Altan tidak bisa menahan amarah, semua pasti  akan semakin kacau.


Altan menghela nafas, mengangkat tangan kanannya dengan membuka lebar telapak tangan yang terangkat. "Hentikan."


Altan menatap tajam kepada kedua keamanan yang menarik paksa pamannya, namun kedua keamanan itu tak bergeming dengan ucapan Altan. Keduanya bahkan sedikit menyeret lengan Paman Osgur, dengan cepat Altan memegang lengan salah satu keamanan.


"Cepat hentikan!" Ucap tegas.


"Berhenti." Akhirnya sang Manager berucap.


"Lepaskan lengan pamanku."


Kedua petugas menatap sang Manager, lalu sang Manager mengangguk. Membuat kedua petugas tersebut melepas lengan Paman Osgur.


Team Axton yang melihat kejadian menegangkan yang terjadi hanya bisa diam menahan takut, karena ke dua keamanan yang berdiri tegak di dekat pintu terus menatap semuanya. Seakan-akan hendak memangsanya hidup-hidup.


"Kami akan pergi dengan cara baik." Altan menatap sang Manager.


"Baiklah." Sang Manager berdiri, dia masih menghormati Altan. Karen sejatinya Ia tak tega, Ia tahu, ini adalah persaingan bisnis. Dan sang Manager hanya menjalankan perintah dari atasannya saja.


"Sekali lagi, saya mewakili team saya memohon maaf atas kesalahan informasi ini yang menjadikan Presdir merasa tidak percaya kepada team kami. Karena saya di sini hanya menjalankan perintah dari atasan saya."


...----------------...


Setibanya Altan dan team kembali ke perusahaan, waktu sudah sore. Altan berjalan langsung menuju ruangannya, begitu pula Ansell yang tetap mengekori kemanapun Altan pergi.


Sementara para karyawan lain yang tak lain adalah team kerja yang sedari tadi menunggu kabar akan keberhasilan mendapatkan ijin tertulis dibuat bingung dan bertanya-tanya. Apakah tidak berhasil?


Apalagi saat melihat raut wajah sang presdir yang sangat kecewa dan tak melihat sedikitpun kepada team kerja yang sedari tadi menunggu kabar gembira.


Paman Osgur dan Denis pergi menuju ruang kerja Paman Osgur, sedangkan Jenny juga kembali menuju ruang kerjanya untuk melihat nomor-nomor pemilik gedung pementasan yang lain. Kini Jenny telah di tugaskan untuk menghubungi beberapa Manager gedung pementasan, karena waktu pementasan adalah besok malam. Dan Axton sudah tidak punya banyak waktu.


Kini di tengah para team tersisa Yaza dan Ismet, keduanya menjadi pusat penggalian informasi oleh team kerja yang sedari tadi menunggu.


"Bagaimana?"


"Iya, bagaimana Mr.?"


"Jangan membuat kami bertanya-tanya?"


"Tapi kalau melihat raut presdir, sepertinya terjadi masalah. Benarkah?"


"Iya sepertinya juga begitu."


"Wah, bagaimana ini?"


"Ayo cepat beri penjelasan terhadap kami Mr Yaza, Mr Ismet!"


Para team kerja berdesakan berkerumun melingkari Yaza dan Ismet. Mereka semua hanya bisa menebak-nebak. Sementara Yaza dan Ismet bingung harus menjelaskan dari mana dan seperti apa baiknya.


...----------------...


"Riza, ke ruanganku!" Perintah Paman Osgur kepada adiknya.


Riza yang mendapatkan panggilan telefon dari kakaknya dengan segera merapikan meja kerjanya lalu menuju ruang kerja kakaknya. Dalam hati berdoa, semoga semua berjalan dengan lancar.


Sesampainya di ruang kerja kakaknya, Riza langsung masuk. Melihat kakaknya dan Denis terlihat lesu dan kecewa, membuat hati Riza berdenyut ngilu. Pasti ada masalah lagi.


"Kakak?" Ucap Riza lalu duduk di hadapan meja kerja kakaknya dan di sampingnya ada Denis yang bersender di senderan kursi sambil memejamkan mata dengan berkali-kaki menghirup dan membuang napas kasar.


"Gagal." Jawab Osgur penuh kecewa dalam menatap adiknya.


Riza menyerngitkan kedua alisnya. "Bagaimana bisa?"


"Mereka memberitahuku bahwa kita hanya tinggal ke sana untuk mendapatkan ijin tertulisnya saja."


"Ilyas kembali berulah. Dia menyewa gedung tersebut dalam waktu tiga hari."


"Kurang ajar!" Riza berdiri. "Aku harus menemuinya, dan memberinya pelajaran!"


"Riza!" Osgur berdiri saat melihat adiknya berbalik dan melangkah. "Berhenti! Jangan lakukan itu."


"Kenapa? Dia pantas aku beri pelajaran!" Riza berhenti dan menatap kakaknya.


"Kalau kau melakukan itu, kau akan membuatnya semakin kacau. Kau bisa di penjara, aku tidak bisa melihatmu di penjara."


"Aku tidak peduli kak!"


"Riza! Kalau kau melakukannya, Altan akan semakin marah padamu. Ingat itu!" Osgur sedikit mengancam adiknya, jika tidak di ancam seperti ini. Sudah di pastikan, adiknya akan melakukan hal bodoh lagi.


Riza mengepalkan kedua tangannya karena menahan amarah dengan menggeram kemudian duduk kembali.


"Lalu kita harus bagaimana? Acaranya besok malam. Kita tidak mungkin mengundurnya. Kalau kita mengundurnya, para client pasti sudah tidak akan percaya lagi kepada team kita?"


"Itu yang sedang kami pikirkan bersama, tetapi belum menemukan titik jawaban."


...----------------...


Jenny merasa sangat frustasi dan kecewa, bagaimana tidak? Seluruh gedung peragaan telah di sewa Ilyas dalam waktu tiga hari. Rasanya sangat sulit menghadapi Ilyas saat ini, bahkan untuk bangkit secara perlahanpun tidak bisa. Ilyas telah memblokir seluruh jalan pementasan.


Yang menjadi pertanyaan saat ini, siapa mata-mata lain yang berada di antara perusahaan Axton dan Faruk's?


Jenny mencoba mengingat kembali terakhir kali Ia bertemu dengan Ilyas.


Di depan perusahaan ini, apakah ada yang mendengar pembicaraan kami atau ada seseorang yang sedang memata-mataiku?


Tetapi bukankah Ilyas mengatakan hanya ada kambing hitam, dan itu sudah terbukti Riza. Lalu siapa lagi yang sedang memata-matai Axton.


Ilyas tidak mungkin sembarangan mengirim seseorang, aku tahu benar seperti apa Ilyas dalam bertindak. Lalu?


Jalan satu-satunya aku harus ke ruang khusus CCTV, pasti di sana aku dapat menemukan seseorang yang Ilyas kirim sebagai mata-mata.