Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Perang Dingin.



Andai saja waktu dapat diputar kembali. Pertemuan Altan dan Ansell tidak seperti ini, mungkin semua akan terlihat indah dan normal.


Ya Tuhan......


Semoga saja Altan bisa meyakinkan ayahnya, jika benar Altan sangat mencintai Ansell.


Tapi.....


"Akhhhh.....sudahlah." batin Riza menanggapi isi pikirannya sendiri. Karena itu adalah perjuangan Altan demi untuk membuktikan bahwa Ansell berarti untuknya.


Paman Osgur yang sedari tadi melihat tak ada interaksi antara Riza dan Altan merasa bingung sendiri. Keponakannya sangat keras kepala, sama persis seperti ayahnya. Sedangkan Riza sudah bisa bersikap biasa saja dari pengelihatannya, namun Paman Osgur merasa kasihan. Ia yakin jika sang Adik sangat tertekan mentalnya. Memikirkan rasa malu terhadap rekan kerja teamnya, dan juga merasa sangat bersalah pada Altan.


Semoga saja Riza di beri kesabaran yang sangat luas, dan semoga apa yang pernah di katakan sang Adik tidak benar terjadi. Paman Osgur tak mau jika Riza harus mengundurkan diri dari perusahaan ini. Karena perusahaan dan team kerja masih sangat membutuhkan Riza.


"Terimakasih atas partisipasi dan sambutan kalian."


"Dan terimakasih juga, karena tanpa bantuan dan kerja sama kalian tidak mungkin kita bisa memperoleh kesuksesan sebesar ini."


"Sama-sama Presdir."


"Presdir, Mr. Riza dan Mr. Osgur mari masuk, kita rayakan keberhasilan kita."


"Yeeeaaayyy." Sorak bahagia team kerja dan para staf. Tak lupa suara petasan pernak pernik.


Altan menengok ke belakang menatap Paman Osgur dan Riza, Riza tersenyum. Meski Riza tahu, Altan tak begitu merespon keberadaan dirinya. Setidaknya jika di hadapan para team dan staf, Altan mau memandang Riza meski sekilas.


Altan memalingkan muka menghadap kedepan lagi, Paman Osgur berusaha mengatasi kecanggungan antara Altan terhadap Riza.


"Ayo..." Paman Osgur merangkul Altan dan Riza.


"Kita rayakan keberhasilan kita, biarkan Ilyas menangis."


Para team dan staf tertawa mendengar perkataan Paman Osgur.


...----------------...


"Sial! Ansell sudah berani menantangku. Aku tahu itu, meski dia tidak mengatakan perkataan yang memancing." Deniz memukul stir.


"Kita lihat saja Ansell. Mari kita lihat, siapa yang Altan pilih di antara kita."


"Meski jika Altan memilihmu, lalu lihat ke depannya. Apakah Yakuz Axton akan dapat menerimamu sebagai calon Nyonya?"


Deniz tertawa menertawakan Ansell.


"Harusnya kau menyerah dan pergi saja, percuma Ansell."


"Dasar gadis tak tahu malu!"


"Tak tahu diri!"


"Bermimpi ingin menjadi Ratu di keluarga Axton!"


"Hhhaaaa......haa.."


"Ansell, Ansell."


"Aku harus melakukan sesuatu." Deniz tersenyum dengan jalan pikirannya sendiri.


"Kalau aku tidak bisa membuat Ansell menjauhi Altan atau Altan yang menjauhi Ansell, masih ada satu cara."


Deniz tersenyum senyum sendiri.


...----------------...


"Ehh... kok sepi?"


Ansell yang baru memasuki lantai atas di mana lantai paling atas adalah di khususkan untuk team inti dan staf, merasa bingung. Tak ada satu orang pun yang ia lihat, bahkan seluruh meja dan kursi kerja terlihat bersih dan rapi. Seperti belum dipergunakan. Ada apa ini?


Apa mungkin Tuan Altan memberikan cuti hari ini karena keberhasilan perusahaannya, atau liburan? Tapi kenapa tidak mengabariku?


Ansell melangkah dan menemukan pernak-peenik yang berserakan di lantai. Apa ada pesta di sini?


Ansell berjalan kembali dan menuju ruang kerjanya. Sepanjang jalan pun sepi, sudah tak ada lagi sisa pernak pernik. Sesampainya di dekat ruang kerjanya, Ansell mendengar keramaian dari ruang kerja Altan dan Ansell tersenyum.


"Ternyata mereka berkumpul di situ." Batin Ansell.


Ansell membuka ruang kerjanya dan meletakan alat kerja, dilihatnya keramaian dan tawa para team dan staf dari kaca. Ansell duduk sambil menyaksikan Altan dari ruangannya sendiri.


"Ternyata Tuan manis jika tertawa, kenapa Tuan jarang sekali tertawa? Huhhh..... jangankan tertawa, senyum pun pelit." Batin Ansell.


Altan yang tak sengaja melihat Ansell dari kaca samping, tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala.


"Pasti dia sedang menghayalkanku." Batin Altan.


Ansell sadar, saat dirinya merasa sedang di tertawakan oleh Altan.


"Ya ampun! Ansell bodoh, kau ketahuan sedang menghayal. Pasti Altan tahu, dan dia? Aaaaaaaaaaaa" batin Ansell dan Ansell sangat merasa malu, Ansell berpura-pura menunduk mengerjakan sesuatu.


Altan yang melihat kelakuan konyol Ansell semakin di buat tersenyum-senyum.


Pesta pun syukuran pun berakhir, seluruh orang meninggalkan ruang kerja Altan. Altan duduk di kursi kerjanya, tak henti-hentinya memandang Ansell sambil bersender.


"Aduh.... apa yang harus aku lakukan, aku tahu Tuan Altan sedari tadi sedang memperhatikanku." Ansell berguman masih dengan berpura-pura menggambar.


"Ansell berpikir...... Ansell berpikir."


"Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini, seperti anak SMA yang ketahuan mengagumi Kakak kelasnya saja." Aaaaa


Ponsell Ansell berdering membuatnya terlonjak kaget.


Ansell menatap Altan. Altan tersenyum dan memberi isyarat tangam agar Ansell ke ruang kerjanya.


"Ya ampun, kenapa musti memanggil lewat ponsel." Batin Ansell.


Ansell tersenyum paksa dan mengangguk lalu merapikan kertas-kertas gambarnya. Tak lupa merapikan pakaian kerjanya dan mengambil alat kerja yang biasa digunakan untuk mencatat.


"Huft...." Ansell menghela nafas. "Tenang, relax." Gumam Ansell lalu membuka pintu ruang kerja Altan.


"Tuan." Memberi salam.


"Kemari." Ucap Altan dari meja kerjanya sambil bersender dan memainkan pinsil.


Ansell berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Altan.


"Di sini, bukan di situ." Tunjuk Altan.


"Aduh.... kenapa makin deg-degan." Batin Ansell.


"Baik Tuan."


"Semalam kamu memberi tahuku, kalau hari ini kau akan ijin setengah hari?"


"Iya Tuan."


"Untuk apa?"


"Mmmm..... sebenarnya besok Kakak saya akan melamar sahabat saya, jadi hari ini saya berencana ingin membeli sesuatu untuk acara besok."


"Sendirian?"


"Tidak Tuan, saya bersama sahabat saya."


"Kenapa....


Altan menghentikan kalimatnya saat mendengar ketukan pintu.


"Ya, masuk."


Pintu terbuka dan Deniz pun masuk. Raut wajah Deniz berubah saat melihat Ansell berada di dekat Altan. Begitu juga dengan Ansell, ia merasa terpancing melihat kedatangan Deniz. Dan entah kenapa Ansell berani menyentuh bahu Altan membuat Altan memandang Ansell.


Deniz pun tak kalah kagetnya, menyaksikan sikap Ansell yang jauh dari biasanya.


Ansell berdiri tegak sambil memegang bahu Altan, dia seolah memberitahu pada Deniz bahwa Ansell tidak akan menyerah hanya karena kata-kata Deniz. Karena Ansell yakin jika Altan juga mencintai dirinya.


Altan yang memandangi keduanya dibuat bingung. Apa mereka sedang melakukan perang dingin?


"Deniz, ada apa?" Ucap Altan agar kedua wanita ini berhenti saling menatap dengan prasangka dan amarah masing-masing.


"Ohh....." Deniz berpikir. "Aku ingin mengajakmu merayakan pesta kecil bersama team kerja, tapi....."


Deniz melihat ada kue blackforest di atas meja kerja Altan. "Tidak jadi."


"Sepertinya aku melewatkan satu moment."


"Ya... tadi kami beserta team dan staf telah merayakan pesta syukuran kecil-kecilan." Ansell yang menjawab.


"Kenapa dia yang menjawab, sialan kau Ansell." Batin Deniz.


"Oke..." Deniz berpura-pura tersenyum. "Kalau begitu, aku keluar."


"Ya." Ansell yang menjawab lagi.


Sementara Altan hanya diam bingung melihat keberanian Ansell yang seperti ini, Ansell seolah-olah sedang membuktikan pada Denis bahwa aku dan Ansell memang ada hubungan.


Deniz pun keluar dengan amarah yang terpendam. Ia merasa di dahului oleh Ansel.


Setelah Deniz keluar, Ansell melepas tangannya dari bahu Altan dengan wajah cemberutnya.


"Saya ijin pulang sekarang Tuan."


"Eh...... kenapa?" Altan bingung, Ansell seakan menjadi marah pada dirinya.


"Tau!"


"Loh...kok." Altan benar-benar di buat bingung. Kenapa malah dia marah padaku, dan bersikap seperti anak kecil.


Ansell begitu saja keluar dari ruangan Altan dengan wajah cemberutnya.