Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Karena Cinta Tak Butuh Alasan.



Karim langsung diam membeku saat memahami betapa marahnya Demir, Karim langsung berpura-pura berjalan ke dapur untuk membuat kopi sendiri, dari pada harus di terkam oleh harimau gila yang kelaparan.


Sefa yang sedari tadi menemani Demir pun tak dapat berbuat apa-apa. Ya, yang di lakukan Demir itu wajar. Saking sayangnya dan menjaga adiknya, Demir menjadi seperti ini, tak dapat di kendalikan. Mungkin hanya satu yang bisa mengendalikan, yaitu neneknya. Sefa berdoa dalam hati, semoga Nenek Esme secepatnya pulang, sebelum hal besar terjadi.


Sefa takut jika Demir berbuat di luar kendalinya. Sejauh ini sudah banyak perubahan yang Demir berikan, jangan sampai Demir seperti dahulu lagi.


Pintu berderit, Ei langsung saja berlari ke dalam dan berteriak memanggil Ansell dan Demir.


"Ka.....Kakak."


"Kak Ansell.......Kak Demir...."


"Ei.... sama Nenek pulang."


Begitu cerianya panggilan Ei. Sefa yang mendengarnya langsung berdiri menghampiri Demir yang masih mondar-mandir tanpa memperhatikan ada suara cempreng Ei dari dalam.


"Demir,...." suaranya mencicit


"Demir! Ei dan Nenek sudah pulang." Penuh penekanan karena sedari tadi Demir belum sadar juga.


Matanya langsung membelaklak. "Hah! Apah, mereka sudah kembali?"


"Kakak......" tiba-tiba saja suara Ei sudah ada di belakang Demir dan Sefa.


"Hei,....."


"Sayang, sudah pulang." Sefa mengelus rambut panjang Ei.


"Mana Nenek?" Demir langsung saja bertanya.


Ei menunjuk dalam dan Demir langsung ingin segera bergegas menghampiri Nenek Esme, namun langkahnya terhenti saat lengannya di tahan Sefa.


Sefa menggeleng untuk menghentikan niat Demir, Sefa tidak ingin Nenek Esme justru akan lebih khawatir.


"Ayo sayang, kita masuk." Dengan menggandeng tangan Ei,


"Bagaimana liburannya? Senang?"


Sefa hanya menatap sekilas Demir saat melewatinya, Demir masih berdiri tanpa kata di halaman belakang. Melihat betapa Sefa berusaha merubah suasana agar terlihat biasa-biasa saja. Ia menyadari, saat ini keadaan Nenek harus di utamakan. Jangan sampai semua masalah ini justru akan menambah beban pikirannya.


"Senang Kak...," Ei menunjukan oleh-oleh tas kecil yang ia bawakan untuk Ansell.


"Ini untuk Kak Ansell.....,"


"Um...... untuk Kak Sefa juga ada, ayo...." menarik Sefa agar mengikutinya.


"Wah......cantik-cantik tas kecilnya," puji Sefa sambil mencubit pipi gembil Ei.


"Terimakasih."


"Sefa," Nenek Esme muncul dari arah dapur.


"Nenek,"


"Kenapa tidak mengabari?"


Nenek Esme duduk di sofa depan televisi. Ei dan Sefa yang tadinya berjongkok dengan dihadapan barang-barang oleh-oleh pun langsung mengikuti Nenek.


"Demir mana?"


"Di sini, Nek." Demir muncul dan ikut bergabung, sementara Karim langsung saja membuka-buka isi oleh-oleh.


"Hei! Sedang apa!" Bentak Demir.


Karim tertawa dengan konyolnya. "Lihat-lihat saja...., pelit amat!" Karim pun ikut bergabung.


"Ada yang ingin Nenek bicarakan."


"Soal apa?" Demir menatap bingung, apa mungkin Nenek akan membicarakan masalah Ansell?


"Begini,...."


"Kemarin karena kalian pulang lebih awal dan setelah itu kerabat kita berdatangan...."


"Mereka berunding,.... mereka ingin kalian secepatnya menikah."


Demir melirik Sefa, Sefa pun nampak kaget dengan ucapan sang Nenek.


"Setelah Nenek menghubungi ibumu, Sefa..."


"Ibumu setuju dengan keinginan kerabat kita, dan waktu pernikahan kalian akan dilaksanakan lusa."


"A....apah! Lusa, Nek." Demir benar-benar kaget, belum ada persiapan yang matang.


"Iya,...... kalian tidak usah khawatir. Ibunya Sefa sudah menyetujui jika pernikahan kalian akan dilaksanakan sederhana, hanya melibatkan kerabat dekat dan tetangga dekat saja."


Meski terkaget, Sefa sebenarnya merasa sangat senang. Ibunya bisa memahami kondisi keuangan Demir. Sementara bagi Demir ini terlalu mendadak, lagi pula ia masih belum tenang jika belum mendapat kabar dari Ansell.


"Bagaimana,?


"Apa kalian setuju?"


"Setuju banget, Nek. Lebih cepat lebih baik." Karim langsung saja menyambar mengeluarkan pendapatnya.


Demir melotot kembali ke Karim namun Karim mengabaikannya, ia merasa menang saat ini. Toh ada Nenek, Demir tidak akan mungkin menerkamnya.


"Demir,... ..Sefa?"


Demir menatap Sefa mencari jawabannya, Sefa tersenyum sambil mengangguk. Mau tidak mau, Demir menyetujuinya. Ini semua demi Sefa, Demir akan melakukan apa pun agar Sefa bahagia.


"Yeay....." teriak Ei


"Yeay,...." Karim pun mengikuti teriakan Ei dan mengajak Ei ber tos mania sambil tertawa.


...----------------...


Rumah yang begitu mewah, warna dinding putih susu yang terang. Ruangan-ruangan yang nampak bersih dan luas, kaca-kaca kristal menambah gemerlap keindahan dan keterangan isi rumah. Ornamen dan figura keluarga atau pun lukisan yang menghias dinding menambah kesan elegan di beberapa ruangan.


Jantung Ansell semakin berdegub kencang, saat melihat seperti apa Tuan Yakuz Axton. Pria paruh baya dengan tongkat berlapis emas duduk di hadapanya. Meja makan yang di penuhi hidangan lezat tak dapat membuat perut Ansell keroncongan, namun semakin membuat Ansell gugup. Karena di ruangan itu hanya ada Altan dan Tuan Yakuz, tak ada suara apa pun yang terdengar selain degub jantungnya sendiri dan berlomba dengan deru nafanya sendiri.


"Siapa namamu?"


Satu pertanyaan yang langsung mengagetkan Ansell, bukan karena suaranya yang keras atau tekanan dalam intonasinya yang mengagetkan. Tetapi karena situasinya yang seakan mencekam, sunyi senyap. Satu suara kecil pun bisa terdengar keras dan seakan menggema.


"Ansell Metin." Meski gugup dan takut, keringat dingin membasahi telapak tangannya yang bergetar. Ansell berupaya agar tetap terlihat tenang.


Yakuz Axton mengangguk-angguk. "Apa alasanmu mendelati putraku?"


"Mendekati putramu? Hei,.... aku tidak mendekati putramu! Tetapi putramu yang membawaku kemari!" Batin Ansell.


"Saya tidak punya alasan, karena rasa cinta tidak mempunyai alasan selain berusaha menjadi yang terbaik, jujur dan tulus." Jawab Ansell penuh keyakinan.


Altan yang mendengar penuturan Ansell pun tersenyum, tidak menyangka Ansell bisa berbicara dengan baik di hadapan ayahnya. Karena Altan tahu, bagaimana ketakutan dan kegugupan Ansell sedari tadi.


...----------------...


"Demir, Ansell kenapa belum pulang?" Nenek yang sedang memasak bertanya saat melihat Demir selesai mandi.


"Mungkin lembur Nek,"


"Oh, ... ya Sefa, bisa buatkan kopi untuk kami?" Tunjuk ke Karim menggunakan dagu. Sefa mengangguk.


Demir langsung menarik Karim ke halaman belakang.


"Kenapa tarik-tarik!" Karim yang tak terima di perlakukan seperti ini tidak terima.


"Kau ingin aku makan mentah-mentah!"


"Apa salahku, .....kenapa marah-marah"


"Aku kan hanya membantu Nenek memasak."


Demir tak menggubris keluhan Karim. "Apa ada kabar dari Ansell?"


"Belum,... ..nomormya juga belum aktif."


Demir menggeram. "Bisa-bisanya Ansell seperti ini!"


Demir merogoh saku celananya, mengambil ponselnya.


Deringan pertama tak ada jawaban, Demir mencoba lagi. Deringan kedua pun tak ada jawaban. Kemarahan Demir bertambah, dengan keras ia memukul pohon yang ada di hadapannya.


Karim terdiam membeku, bersuara pun percuma, tidak mungkin Demir mendengarnya malah justru akan semakin marah.


"Demir!"


"....kau ini kenapa?"


"Jangan sampai Nenek melihatmu seperti ini." Sefa berteriak tak terlalu keras sambil meletakan dua gelas kopi dalam nampan di atas meja.


"Bagaimana aku tidak semakin marah,"


"Kau tahu,.. ...aku menghubungi Altan pun tak di angkat!"


"Sudah tenang,.."


"Mungkin sibuk, berpikirlah positif."


Karim hanya memperhatikan keduanya saja.


"Sibuk bagaimana!"


"Seharian tanpa kabar!"


"Eh,.... tadi kau bilang apa?"


"Menghubungi Altan?"


"Ya!"


"Bagaimana pesan kemarin?"


"Dia menerima perintahku!"


Sefa menghela nafas. "Jika Altan menerimanya, lalu apa lagi yang kau cemaskan,"


"Aku yakin, mereka bisa menjaga diri."


"Berpikirlah lebih tenang, ..agar pikiranmu selalu positif." Imbuh Sefa lagi.


Demir mengerang menahan kemarahannya, namun sayup-sayup mendengar Ei memanggil Ansell.


Matanya membulat. "Ansell sudah pulang!" Demir bergegas ingin menghampiri Ansell.


"Demir,.."


"Berhenti!" Sefa menarik lengan Demir.


"Apa lagi Sefa!"


"Kau dengar juga bukan, apa yang ku dengar!"