Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 96. Terusik.



BAB 96. Terusik.


"Terimakasih,"


"Ya, karena saya yakin pada hasil dan kinerja baik yang kompak dari Perusahaan Axton."


"Kami akan berusaha memberikan yang terbaik atas kepercayaan yang telah diberikan."


"Saya percaya itu." Fathur tersenyum lalu memeriksa jam di arloji-nya.


"Maaf, saya sudahi pertemuan kali ini. Lain waktu saya akan menemui lagi."


"Ya," Altan berdiri saat melihat Fathur dan asisten-nya berdiri untuk undur diri.


"Sekali lagi terimakasih."


Fathur mengangguk, lalu menatap Ansell. "Semoga kita bisa bertemu kembali. Ada banyak yang ingin aku ceritakan." Fathur memberikan kartu nama-nya pada Ansell.


"Nanti tolong segera hubungi aku." Imbuhnya lagi.


Ansell menjadi bingung dan serba salah, sedari tadi Altan terus mengamati. Tapi jika Ansell menolak, rasanya sangat keterlaluan. Karena Ansell lah yang sengaja memutus kontak dahulu, karena Ansell merasa malu jika Fathur mengetahui kebangkrutan keluarganya.


"Ya." Jawab Ansell dan Altan menatap tak percaya.


Fathur dan sekretarisnya pergi berlalu, begitu juga Ansell, Altan dan Riza. Seperti biasa, setelah ada masalah pasti perjalanan pulang terasa sepi seakan tak ada kehidupan di dalam mobil.


Riza berkali-kali menatap dari spion, Ansell dan Altan sama-sama diam meski terkadang curi pandang dengan ekor matanya. 


Ansell merasa bingung harus berbicara apa pada Altan, ya, ini juga membuat Ansell kaget. Setelah sekian lama tak lagi ada koneksi dengan Fathur. Dan sekarang dipertemukan lagi, terlebih dia memintanya untuk segera menghubunginya. Benarkah ada masalah mendesak yang membuat Fathur bingung?


Karena setahu Ansell, sejak dahulu jika tak ada sesuatu yang mendesak dan membingungkan Fathur, tidak mungkin ia minta tolong. 


Namun saat ini, ada Altan di sisinya. Tidak mungkin juga Ansell menghubunginya tepat di dekat Altan, ini bisa membuat salah paham kembali.


Altan yang duduk di sampingnya melirik dengan ekor matanya, Ansell berkali-kali menatap ponselnya. Akankah Ansell menghubunginya?


Kenapa dengan perasaan ini? Cemburu? Altan baru tahu ternyata rekan kerja barunya adalah seseorang yang kelihatannya pernah sangat dekat dengan Ansell dahulu.


"Apa kita akan langsung kembali, atau..."


"Bagaimana kita jalan-jalan sebentar?" Usul Riza, mungkin dengan cara ini mereka bisa berpikir yang terbaik dan saling mengerti satu sama lain. Masalah yang sedang mereka pikirkan mudah diselesaikan dengan saling memahami.


Beberapa saat kemudian...


"Tunggu ya, Kakakku menelpon." Riza berjalan menjauhi keduanya.


Di sebuah bangku kayu panjang tepi pantai, deru ombak bergulung berkejaran. Angin laut lepas menggerakan pepohonan, cahaya matahari tak lagi terasa panas karena suasana sudah sore. Ansell dan Altan duduk bersebelahan menatap laut lepas dengan dihiasi anak kecil yang berlari-lari kejar-kejaran, banyak pasangan yang juga sama sedang menikmati angin laut sore.


"Kak Fathur adalah Kakak kelasku, kami bersahabat belum lama. Ketika saya masih duduk di kelas satu SMA, Kak Fathur murid kelas tiga." Ansell menghela nafas.


"Kemana-mana kami selalu bersama, karena kami sahabat. Namun pada siswa menyalah artikan persahabatan kami. Mereka mengira kami ada hubungan yang sangat dekat."


"Kakak?" Altan menatap Ansell.


"Ya, ...saya selalu memanggilnya Kakak."


"Aku merasa dia seperti Kakak ku, ...dia selalu menolong dan melindungiku. Dahulu, aku tipe perempuan yang cengeng." Ansell tersenyum membayangkan kisah lamanya.


"Bahkan, Kak Demir selalu marah jika aku menangis, katanya berisik."


"Berarti memang sangat dekat." Altan menghela nafas.


Ansell diam, tak menjawab. Ya, dahulu memang Ansell merasakan seperti itu. Tapi lain ceritanya dengan sekarang, Ansell lebih baik diam, karena itu hanyalah kisah masa lalu. Yang terpenting sekarang, berusaha menjadi yang terbaik untuk Altan dan menatap masa depan. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu.


"Maaf, ....lama ya?" Ucap Riza yang baru kembali.


"Sebaiknya kita pulang, ini sudah terlalu sore." Altan berdiri dan berjalan mendahului.


"Sepertinya,.... tidak berhasil." Gumam Riza.


Ansell hanya bisa diam melihat kepergian Altan, memandang Riza dengan senyum. Riza tahu, mereka tidak baik-baik saja, meski Ansell tersenyum.


 


...----------------...


"Ansell, ...kau sudah pulang?" Tanya Nenek dengan senyum sambil memasangkan gaun cantik untuk Ei yang akan dikenakan besok malam.


Ansell mengangguk, menatap Ei dengan senyum sambil berjongkok. "Wah, ....kamu cantik sekali."


"Iya, ...Ei kan ingin seperti Kakak." Tersenyum menunjukan gigi-giginya.


"Coba lihat," Ei memperlihatkan heels khusus anak yang sangat cantik dengan warna merah.


"Wooow.... perfecto." Ansell tertawa.


"Sudah makan?" Nenek kembali bertanya.


Ansell menggeleng. Nenek Esme menghela nafas, "Maaf ya, Nenek tidak memasak. Dari tadi di sini, belum sempat pulang ke rumah."


Ansell memeluk Neneknya, mencoba terus memberikan senyum. "Tidak apa-apa, ...sekali-sekali kita makan diluar."


"Mana Sefa Nek?" Tanya Ansell.


"Di ruang kedua, kalau Demir yang ketiga."


Ansell berdiri dan pergi ke ruangan tempat Sefa mencoba baju pengantinnya.


"Sepertinya aku terlambat." Ansell memeluk Sefa.


"Tidak, calon Adik Ipar."


"Cantik," puji Ansell untuk Sefa.


"Baru datang?" Ibunya Sefa masuk dengan membawakan perlengkapan lain.


Ansell menyalami dengan mencium punggung tangan ibunya Sefa.


"Iya, Bibi."


"Kenapa?" Bisik Sefa ketika Ansell membantunya merapikan rambut Sefa.


Ansell menggeleng.


Sefa menggenggam tangan Ansell. "Ceritalah, ...itu bisa sedikit meringankan."


"Kalian mau makan apa?" Tanya ibunya Sefa.


"Tidak perlu Bi,"


"Bibi buatkan cemilan saja ya."


"Boleh Bu," Sefa yang menjawab.


"Kamu itu, ...ingat jangan makan banyak-banyak. Nanti gaunnya tidak muat lagi." Ucap ibunya Sefa dengan menenteng dua boks kecil.


"Apaan si Ibu. Masa iya, makan malam ini besok langsung gendut." Sefa cemberut. 


"Bisa saja." Ibunya Sefa keluar. Ansell yang melihat keakraban antara Ibu dan Anak tersenyum. Dahulu Ansell juga seperti itu, tapi sekarang hanya tinggal kenangan.


"Ayo," ucap Sefa.


"Apa?"


"Belaga pikun lagi."


Ansell menghela nafas lalu mulai menceritakan kejadian tadi, kejadian yang meresahkan hatinya.


Sefa menarik tangan Ansell, menggenggamnya erat. "Yang kau lakukan sudah benar, tapi kau juga harus bisa menjelaskan pada Altan. Kenapa kau memilih diam."


"Karena terbuka dan saling memahami itu adalah hal yang terpenting dari sebuah hubungan."


"Dan jika kau ingin menemuinya, aku sarankan kabari Altan terlebih dahulu, biar tidak ada masalah untuk kedepannya."


"Tapi aku ragu, jika aku memberitahunya. Apakah dia bisa memahami?"


"Tadi saja, dia seperti itu."


"Apa salahnya mencoba, daripada tidak sama sekali."


"Ini rahasia kita ya?"


Sefa mengangguk. "Kau ini, seperti baru kenal aku saja."


Ansell tertawa.


 


...----------------...


Altan duduk sendiri menatap langit malam tanpa bintang atau pun rembulan, gelap tak ada cahaya. Terkecuali cahaya dari lampu taman belakang. Diam termenung dengan secangkir kopi buatannya sendiri.


Benarkah ini dirinya? Cinta menghanyutkannya, dan jangan sampai cinta menenggelamkannya lalu mematikannya. Sesulit inikah menjaga kebahagiaan? Ketika orang di masa lalu hadir kembali.


Sanggupkah cinta bertahan, atau akan terlupakan?


Ponsel Altan berdering di atas meja bersebelahan dengan cangkir kopi. Altan menatap layar-nya, muncul nama Ansell. Tetapi dibiarkan, Altan justru membalik ponselnya. Ponsel berdering kembali, Altan tak bergeming. Hingga nada pesan masuk, Altan membaliknya dan melihat isi pesan tersebut. Tapi lagi-lagi tak merespon jawaban.


Altan memejamkan mata, bersandar menikmati angin malam. Pikirannya beradu, argumen-argumen serta dugaan bermunculan, berperang satu sama lain.


 


...----------------...


Pagi harinya, suasana kantor seperti biasa. Menyenangkan dan mengasyikan bagi yang lain. Namun berbeda dengan Altan dan Ansell. Ansell sudah berusaha membuat semuanya lebih jelas dan jujur agar tidak menambah masalah diantaranya, tetapi sayangnya Altan berpikir lain.


Ansell terus menatap Altan dari ruang kerjanya, Altan diam dan tak menatap Ansell. Pandangannya tertuju pada layar laptopnya.


"Hem." Riza berdehem dari ambang pintu, karena sedari tadi mengetuk tapi tak ada jawaban.