Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 101. Informasi Yang Menyakitkan.



BAB 101. Informasi Yang Menyakitkan.


"Ayah!" Teriak gadis kecil dengan begitu bahagianya melihat sang Ayah yang sedang menuruni tangga, gadis itu berlari memeluk sang Ayah yang sudah memposisikan berjongkok menerima pelukan ceria buah hatinya.


Fathur bangkit dan menciumi pipi gembil gadis kecilnya. "Cantiknya Ayah, bahagia sekali."


"Iya, kan Bibi Ansell sudah datang." Melingkarkan tangan mungilnya ke leher sang Ayah dengan senyum ceria yang selalu ia berikan semenjak mengetahui Ansell akan datang.


Fathur menatap Ansell, "terimakasih sudah datang."


Ansell tersenyum. "Sama-sama. …..ayo sini cantik, sama Bibi Ansell."


Gadis kecil itu turun dari dekapan ayahnya dan memeluk kaki Ansell. "Bibi, ayo kita main."


"Ayo, tapi mainnya di dalam saja ya. Karena diluar sedang turun salju."


"Iya, Bibi."


"Sebelum main, ayo kita tengok Ibu."


Gadis gembil itu mengangguk lalu menarik tangan ayahnya, "Ayo Ayah, kita tengok sama-sama."


Dengan riang, gadis gembil itu masuk ke kamar khusus Ibunya. Sebuah kamar yang diatur sedemikian rupa seperti ruangan khusus pasien di rumah sakit. Gadis itu menarik kursi agar bisa duduk di samping ibunya yang berbaring di atas tempat tidur. Seperti biasa, gadis itu selalu bercerita tentang setiap waktunya pada sang Ibu.


"Suster, bagaimana perkembangannya pagi ini?" Ansell bertanya.


"Seperti biasa, tadi pagi ada pergerakan jari dari Nyonya Azizah setelah Tuan Fathur mengunjunginya."


"Iya, ...dia selalu seperti itu saat pagi, ketika aku datang memberi ucapan selamat pagi untuknya. Hanya sekecil harapan yang ia berikan, tapi aku selalu berdoa. Agar ia bisa sadar kembali seperti dahulu."


Ansell menatap Fathur dengan senyum, "hari itu pasti akan datang. Tuhan akan mengabulkan setiap doa orang yang bersabar dan ikhlas menjalani takdirnya."


"Terima kasih, kau adalah sahabat terbaikku Ansell. Aku beruntung bisa mengenalmu. Maaf, atas segala keadaan ini. Karena aku meminta bantuanmu, kau merelakan hubunganmu."


"Tidak masalah, aku memasrahkannya pada Tuhan."


"Sayang, aku berangkat. Kau tenang saja, ada sahabatku yang akan menjaga putri kita. Jadi putri kita akan merasa lebih senang." Ucap Fathur  mengecup kening istrinya.


"Shanum, putri cantik Ayah. Jangan nakal ya, harus nurut sama Bibi Ansell." Fathur mengingatkan putrinya.


"Siap Ayah, hati-hati, dah Ayah." Shanum mengecup kedua pipi Fathur.


"Pintar, " Fathur tersenyum. "Aku berangkat Ansell, maaf merepotkan."


Ansell mengangguk. "Iya."


Ia masih ingat jelas, cerita tempo hari. Azizah sudah dua tahun ini koma, pasca melahirkan Shanum putri pertamanya, ia tak sadarkan diri. Awalnya pihak medis sudah menyatakan bahwa Azizah telah meninggal, karena alat pendeteksi detak jantung telah berhenti. Namun keajaiban berkata lain. Shanum kecil yang baru dilahirkan menangis kencang saat berada di atas dada Azizah. Alat pendeteksi detak jantung berbunyi lagi.


Sebuah harapan baru bagi keluarga Al Aziz waktu itu. Hingga suatu ketika, karena urusan bisnis, Fathur tak bisa membawa istrinya yang koma ke London. Fathur hanya bisa membawanya pulang ke kediamannya san meminta pihak medis mengubah kamar ini menjadi kamar khusus. Bila sewaktu-waktu Fathur kembali, ia tak harus bolak balik ke rumah sakit. Dan itu juga memudahkan para pelayannya untuk setia menemani sang istri.


Shanum, bayi kecil yang berusia tiga bulan harus dibawa ke London karena Fathur belum mempercayakan pengasuhan ke siapapun kecuali pada ibunya , sedangkan ibu mertuanya membantu merawat istrinya.


Dua puluh bulan berlalu, Fathur memutuskan membawa Shanum kembali. Ia mengenalkan ibunya pada Shanum, Shanum tampak sangat bahagia. Dan saat itu pula, sanum kecil yang sedang senangnya bercerita dan bertanya, membuat Azizah bisa menggerakan jarinya.


Harapan baru kembali muncul. Fathur tahu, Azizah saat mendengar semua orang yang sedang bercakap bercerita padanya, meski ia belum membuka mata. Dan pihak medis juga menyarankan agar Azizah terus diberi komunikasi. Untung saja ia memiliki putri seperti Shanum. Yang selalu banyak bercerita dan bertanya. Fathur terus menunggu, meski dalam empat bulan ini belum ada perkembangan kemajuan yang signifikan dari Istrinya.


 


...----------------...


Hari demi hari berganti hingga minggu demi minggu menuju satu bulan. Pemberitaan itu lambat hari berkurang, pemberitaan mengenai Ansell, Altan dan juga Fathur.


Satu minggu pertama bagi Altan sangatlah berat, berpisah dari Ansell menyisakan duka mendalam di hatinya. Hingga minggu ketiga, kehampaan itu masih nyata terasa.  Namun Altan bersikap biasa saja seperti dahulu saat belum mengenal Ansell. Lain ceritanya dengan isi hati Altan, ia kesepian. Tak ada kabar satupun dari Ansell selain kabar dari orang kepercayaannya yang ditugaskan mengawasi Ansell secara diam-diam.


Namun sayang, luka perih itu ibarat ditaburi garam. Semakin perih dan melepuh. Ia selalu mendengar kabar kalau Ansell selalu datang ke rumah Fathur setiap hari, dan diantar sampai dijemput oleh ajudan Fathur. Rasa tidak kepercayaannya semakin bertambah. Hatinya kembali beku, tidak ingin mengenal perasaan hangat sebuah rasa sayang.


"Altan," suara Riza menyadarkan akan lamunan yang menyayat hati itu.


Altan menoleh, "Ada apa?"


"Perwakilan dari pihak Al Aziz meminta kita untuk menemuinya di kafe biasa."


Sebuah kesepakatan kerja yang telah tercapai dengan hasil memuaskan telah diberikan Altan. Sepatu permintaan Al Aziz sudah selesai dan tinggal bertemu untuk memperlihatkan hasil karyanya pada Fathur.


Pukul dua siang, pertemuan berlangsung. Altan dan Riza sudah menunggu kedatangan Fathur.


"Maaf, … seperti biasa saya telat." Ucap Fathur merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa, kami belum lama menunggu. ..mari silahkan duduk." Altan mempersilahkan.


"Terimakasih."


"Tuan Fathur, ini sepatu permintaan Anda." Riza mengambil bok sepatunya sari tas khususnya. "Ada dua jenis, sesuai permintaan." Menaruh dua bok di atas meja.


Fathur mengambil laku membuka nya, ia tersenyum. "Sangat sesuai, terimakasih. Saya sangat senang. Tidak salah saya mempercayakan kerjasama ini dengan pihak Axton."


"Kami pun merasa sangat beruntung bisa bekerja sama dan memberikan hasil sesuai permintaan dan dapat membuat anda senang, Tuan Fathur." Jawab Altan.


Meski hatinya terasa tercabik saat menatap Fathur, ia berusaha menguasai diri. Membedakan yang mana masalah pribadi dan yang mana masalah hati.