Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Merindu, Sesakit inikah?



Riza berkali-kali tersenyum dan tertawa saat mendengar cerita Ansell. Tak percaya, mereka seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Ya memang pada faktanya memang iya, Altan baru pertama kali mencintai seorang gadis.


"Ansell, Ansell."


"Apa kau tahu kenapa Altan melakukan itu?"


"Seharusnya kau bertanya dahulu agar lebih saling memahami."


"Maksudnya aku salah faham begitu?"


"Tepat sekali."


"Ya Tuhan.."


"Memang apa alasan Altan melakukan itu?"


"Itu karena Altan ingin melindungimu dan membebaskanmu. Jauh dari apa yang kau tuduhkan."


"Jadi, berpikirlah lebih tenang satu sama lain agar tidak terjadi kesalah pahamman maka terbukalah. Jangan ada yang ditutupi."


"Melindungi dan membebaskanku bagaimana. Jika Altan memang mencintaiku tulus, dia tidak akan meminta kompromi. Jika kita ditakdirkan untuk bersatu, lalu untuk apa dia meminta imbalan pengganti. Itu sama saja dia tidak tulus."


Ansell masih tidak percaya, bisa saja Riza sedang membela Altan. Bukankah mereka itu sahabat, bisa jadi Riza juga sedang ikut mempermainkanku. Sekejam inikah mereka?


"Coba dengarkan aku, aku tidak bermaksud membela Altan atau mempermainkanmu. Ya memang, aku dan Altan sangat dekat. Kau pasti berpikir seperti itu."


"Tapi lihatlah dari sisi lain, coba kau berpikir dari sudut pandang Altan. Aku dan Altan sudah sangat tahu persis Kak Osgur dan Kakak Iparku, mereka itu bisa dibilang licik."


"Tapi maaf, bukan maksudku menjelekan Kakak dan Kakak Iparku sendiri. Tapi pada faktanya seperti itulah mereka."


"Apa kau tahu, Altan benar-benar sangat mencintaimu. Dari awal, aku bisa merasakan itu. Dia sangat tulus, kau wanita pertama yang berhasil membuatnya mengenal cinta."


"Lalu untuk apa jika dia tulus tetapi dia meminta surat perjanjian itu sebagai pengganti agar kami cepat menikah. Itu sama saja tindakan yang salah."


Riza menggeleng, berada di tengah-tengah situasi antara Altan dan Ansell memang terbilang sulit. "Kau tahu isi-isi surat perjanjian yang dahulu kau sepakati dan tanda tangani?"


"Tahu!"


"Kau mengingat semuanya secara pasti? Secara detile saat membaca? Atau kau hanya asal membaca sekilas karena kepanikan dan keterpojokan saja?"


Ansell terdiam, berpikir kembali saat dahulu ia menerima perjanjian itu dalam situasi genting. Karena waktu yang diberikan hanya satu hari, dan pikirannya bercabang. Mengingat Ei dan bagaimana cara mendapatkan uang instan.


"Aku tahu, kau hanya membaca sekilas Ansell. Kau dalam situasi yang bisa dikatakan tertekan, dari situlah Kakak Iparku mengambil keuntungan dari situasimu."


"Altan sejak awal sudah mencari seluruh detile identitasmu, karena Altan tahu Kakak Iparku pasti akan mengincarmu."


"Dan kejadian di awal kafe dahulu, apa itu masuk dalam rencana Altan?" Tanya Ansell.


"Tidak!"


"Darimana kau tah, dan bisa-bisanya kau menyimpulkan seperti itu."


"Aku tahu persis Altan seperti apa. Sudah banyak gadis yang telah di bayar Kakak Iparku untuk menaklukan hati Altan, tetapi tak ada satu gadis pun yang Altan temui. Membuat semua rencana Kakak Iparku gagal."


"Tapi-" Riza sengaja menggantung kalimatnya membuat Ansell menjadi penasaran.


"Tapi apa? Kenapa berhenti."


"Entah apa yang membuat Altan berniat menemui gadis yang terakhir. Mungkin itu rencana Tuhan untuk mempertemukanmu dengan Altan." Goda Riza.


Ansell mencebikan mulutnya.


"Selama itu, Altan selalu punya mata-mata untuk mengawasi Bibinya. Makanya Altan tak berminat menemui gadis-gadis yang bibinya bayar."


"Tapi aku salut, kau gadis pertama yang berani menampar Altan di muka umum."


"Kau sangat berani, hebat." Tepuk tangan kecil mengapresiasi keberanian Ansell dahulu.


"Aku berani menamparnya karena dia kurang ajar. Kita tidak saling kenal dan baru berjumpa, dia sudah....." Menatap Riza malu.


"Akhh.... sudahlah lupakan."


Riza tertawa. "Jadi sekarang percayalah pada Altan. Langkah yang dia ambil pasti itu yang terbaik."


"Hellah! Aku tahu kau berusaha mempengaruhiku bukan! Agar aku memaafkan Altan."


"Terserahlah....." Pura-pura mengibaskan tangan.


"Aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya, tapi kau tak percaya." Melirik sekilas Ansell yang menjadi terdiam, mungkin sedang berpikir dan mempertimbangkan.


"Dimana Altan sekarang, kenapa tak terlihat sedari tadi. Ruangannya pun sepi, tak seperti biasanya."


"Apa kau merindukannya?"


"Tidak!"


"Untuk apa merindukannya."


Riza tertawa. "Baiklah...baiklah.... terserah kau saja ingin mengelak apa."


"Aku tidak mengelak!"


"Ya..ya...ya... percaya...percaya..." Riza semakin menggodanya.


"Dimana?"


"Di luar kota untuk meresmikan anak cabang, kemungkinan dua hari."


"Mana ku tahu, bahkan yang mengabariku ayahnya Altan. Ini mendadak, Paman Yakuz sedang kurang sehat jadi Altan lah yang mewakilinya."


...----------------...


"Karim, apa benar yang kau katakan!"


"Tentu, untuk apa aku berbohong. Ansell yang mengatakannya sendiri."


"Kurang ajar, sudah berkali-kali ku peringati."


"Tenang Demir, kau tahu sendiri kan seperti apa rasanya ketika sedang dimabuk asmara." Sefa menenangkan Demir yang semakin kesini semakin terlihat menolak keberadaan Altan untuk adiknya.


"Bagaimana aku bisa tenang. Gara-gara dia, Ansell selalu menangis waktu itu. Aku tidak mau adikku di permainkan!"


"Tetapi jika Altan benar tulus mencintai Ansell bagaimana?" Tanya Karim.


"Itu tandanya, Kau harus menerimanya." Goda Sefa pada Demir agar supaya Demir lebih tenang.


"Tidak semudah itu!" Sangkal Demir.


"Lalu kau mau apa?" Ucap Karim.


"Bagaimana kalau kita mengujinya?" Usul Sefa.


Demir memandang Sefa tak percaya. "Apa kau membelanya, kau berpihak padanya?"


"Tidak seperti itu, setidaknya jika kita mengujinya. Kita bisa tahu seberapa besar dan tuluskah cintanya pada Ansell."


"Dan apa kau mau membuat Ansell terluka."


"Ansell akan lebih terluka jika tetap bersamanya!"


"Dari mana kau tahu dan langsung menyimpulkan seperti itu?"


"Kau lihat sendiri bukan, sejak awal saja adikku sedang di permainkan!"


"Dengan perjanjian dan aturan gila!"


"Tapi itu kan bukan Altan yang membuat."


"Sama saja! Kau lihat dahulu, seperti apa tangisnya dan kecewanya Ansell!"


"Lalu, apa jika kau tidak merestuinya Ansell akan bahagia?"


"Kenapa kau tak memahamiku! Kau lebih membelanya. Aku ini calon suamimu!"


Karim hanya diam membisu dengan kebingungan. Kenapa malah mereka yang bertengkar?


"Justru karena itu, karena kau calon suamiku. Aku harus memperingatimu jika kau melakukan salah."


"Salah bagaimana? Justru jika aku merestuinya, itu tindakan yang salah!"


"Ya salah, kau terlaku overposesif pada Ansell. Seakan kau membelenggunya, kau mengurungnya, tak ada kebebasan untuknya, kau mengambil hak-haknya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri."


"Ingat Demir, Ansell sudah dewasa. Dia pasti bisa menentukan yang terbaik untuknya."


"Setidaknya, kita harus sedikit mendukungnya."


"Jika kau masih kurang yakin, pakai saja usulku."


Demir menghela nafas, apa yang diucapkan Sefa ada benarnya juga. "Bagaimana cara mengujinya?"


"Ya.... kau bisa menanyakan apa saja padanya secara langsung. Sari situlah kau bisa membaca ekspresi wajah dan sejujur apa perkataannya."


"Maksudmu aku memintanya bertemu?" Tanya Demir tak percaya namun justru Sefa mengangguk.


"Aku setuju dengan usul Sefa."


"Cih....kalian sedang bersekongkol?"


"Tidak!" Jawab Sefa dan Karim bersamaan.


Demir menimbang-nimbang usul Sefa. "Kapan kita akan melakukannya?"


"Ya... lebih cepat lebih baik. Toh semua ini demi kebahagiaan Ansell juga kan. Aku tahu Ansell sangat mencintainya, dan semoga saja sebaliknya."


"Itu hanya semoga!" Demir masih belum terima.


"Kau ini!"


"Kakak macam apa kau!" Sefa mendengus kesal.


Demir yang melihat Sefa begitu yakin jika Ansell sangat mencintainya membuat Demir berpikir ulang dan hatinya justru bergetar. Jika dia salah ambil langkah, bisa jadi akan melukai Ansell.


"Ayolah, kita coba saja." Bujuk Karim.


Demir menghela nafas. "Oke, aku akan mencobanya."


Mata Sefa berbinar bahagia. "Kita pulang besok?"


"Setuju!" Karim sangat bersemangat.


Mau tidak mau Demir menyetujuinya. Dan semoga saja ini adalah titik terang agar supaya hubungan Ansell dan Altan lebih jelas.