Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 30. Perasaan ini?



BAB 30. Perasaan Ini?


"Ah...benarkah itu? Kenapa kak Yakuz tak memberitahuku?"


"Bagaimana perusahaan anakmu Ikly?" Bibi Ivy mengganti topik pembicaraan. Dan sekarang mereka saling bercengkrama membahas tentang perusahaan yang mereka jalani.


Tapi sepertinya Nyonya Ivy tak bercerita tentang kehidupan kerjanya, karena Nyonya Ivy hanya bertanya dan terus bertanya kepada kerabat yang lain.


Sedangkan Ansell hanya menyimak setiap pembicaraan para orang tua. Altan tampak ikut berbicara meski itu hanya menjawab sedikit dan sekenanya. Selebihnya Altan banyak diam dan memperhatikan Ansell yang sedari tadi sudah terlihat bosan.


Altan mengirim pesan singkat pada Pak Husein untuk membawakan mobil satu lagi, dan pakaian ganti untuknya dan Ansell. Tak terasa dua jam berlalu, pesta sederhana telah usai. Seluruh para petua saling berpelukan satu sama lain bergantian untuk mengucap salam perpisahan dan salam rindu.


Kemudian mereka pergi, Pak Husein datang menghampiri Altan dan memberikan dua kantong tas kecil berisi pakaian ganti. Pak Husein juga menyerahkan kunci mobil pada Altan lalu menunduk hormat pada Altan dan undur diri.


Altan mendekati Ansell yang sedang membantu Bibi Nehriman membereskan meja jamuan. Ansell sedikit bingung saat Altan memberinya satu kantong tas kecil berisi pakaian ganti.


"Cepat masuk ke kamar mandi, dan pakailah. Karena kita akan pergi."


Ansell ingin bertanya tapi tak jadi saat melihat Altan sedang meminta izin untuk menggunakan kamar mandi kediaman Paman dan bibinya.


"Kau ini kenapa, dari kecil kau kan sudah terbiasa dengan rumah ini? Kalau mau ke kamar mandi atau ruangan lain tinggal masuk saja." Ucap Bibi Nehriman.


"Bukan seperti itu Bibi. Maksudku...."


Belum selesai Altan mengungkap penjelasan Bibi Nehriman sudah memotongnya. "Sudah cepat sana gunakan yang mana saja, atau kalau kau dan calon istrimu mau menginap di sini juga silahkan. Bibi akan sangat senang."


Ucapan Bibi Nehriman membuat Altan canggung dan menatap Ansell. Ansell pura-pura tak melihat tatapan Altan.


Altan telah selesai mengganti pakaiannya lalu berjalan keluar. Saat melintasi kamar mandi, sepertinya Ansell belum selesai. Diketuknya pintu untuk memastikan.


"Ansell, apa kamu masih di jalan?"


"Iya Tuan, sebentar lagi."


Altan menunggu di depan pintu membalikkan badan. Pintu berderit dan Ansell keluar. Altan membalikan badan lagi. Dilihatnya Ansell, Altan tersenyum. Ansell menjadi salah tingkah. Untuk mengatasi salah tingkahnya Ansell berbalik dan menutup kembali pintu kamar mandi sambil menghela nafas.


Ansell berbalik lagi, tapi langsung kaget saat mendapati Altan sudah tepat di hadapannya. Bola mata ansel melirik kiri kanan berusaha agar tak bersitatap.


"Kenapa?" Altan bertanya.


"Ke..kenapa apanya Tuan?" Ansell dibuat gugup ketika matanya bersitatap dengan Altan.


"Kenapa gugup?" Altan menatap lekat manik Ansell, membuat Ansell semakin tak karuan. Entah perasaan apa yang sekarang mendominasi hatinya. Benar sangat gugup.


Altan tersenyum, menarik setengah bibirnya ke dalam mulutnya. Ansell menatap bibir Altan yang berwarna merah muda alami. "Astaga! Ini apa ,kenapa aku menatapnya" 


Altan menangkup wajah Ansell dan mulai mendekatkan wajahnya. Ansell memejamkan mata.


"Maaf Tuan, Nyonya Nehriman mencari Anda." Suara tiba-tiba dari pelayan rumah Bibi Nehriman membuat kaget keduanya.


Altan berdiri tegap dan menghilangkan kecanggungannya.  "Baik, terimakasih."


Sementara Ansell merapikan pakaiannya dan merutuki kebodohannya. Kenapa bisa begini?  Ada apa dengan diriku?


Altan mengajak Ansell berjalan ke taman samping. Menemui Bibi Nehriman.


"Kalian tidak menginap saja di sini?" Tanya Bibi Nehriman.


"Terimakasih Bibi, tapi sepertinya tidak. Saya dengan Ansell akan pergi jalan-jalan."


Ansell menatap bingung Altan. Jalan-jalan? Tapi kenapa mendadak?


"Baiklah, selamat bersenang-senang." Bibi Nehriman tersenyum sambil menepuk punggung tangan Altan.


"Kami permisi dahulu Bibi." Altan mencium punggung tangan Bibi Nehriman dan Ansell mengikutinya.


...----------------...


Suasana perusahaan tampak lengah. Riza nampak bersantai bersandar di kursi kerjanya. Hari ini terasa kosong tanpa adanya Ansell di kantor. Sedang apa dia? Riza menghela nafas.


Pikirannya sekarang berpusat pada Ansell. Entah daya tarik apa yang membuat Riza begitu mengaguminya? Padahal sudah jelas itu akan bertepuk sebelah tangan. Tapi setidaknya berjuang pun tak masalah, walau pada akhirnya akan kalah. Apapun akan dilakukan asalkan Ansell tetap bisa terhibur.


Terdengar suara musik yang sangat keras, Riza seperti berhalusinasi. Didengarkannya lagi dengan seksama. Benar ini suara musik, tapi siapa yang memutar volume terlalu keras di dalam perusahaan?


Riza berdiri dan mulai berjalan keluar ruangan, mencari arah sumber suara. Tepat di tengah-tengah ruang kerja para karyawan, hampir separuh karyawan sedang menari sambil memegang gelas berisi jus buah.


Dilihatnya sang kakak yang sedang bergandengan menari bersama karyawati bak model dan ada Ismet juga.


"Apa-apaan ini?" Riza berteriak, tapi suaranya kalah dengan suara musik yang menggelegar.


Kesabaran Riza sudah mulai menipis, Riza turun tangga berjalan ke arah kakaknya. Riza memandang penuh kemarahan.


"Kenapa mukamu, hei?" Tuan Osgur menepuk pipi Riza. "Mari kita bersenang-senang."


"Kaka, hentikan. Ini perusahaan, kalau Altan tahu pasti akan sangat marah."


Riza mencoba menjelaskan kepada kakaknya, tapi justru sang kakak mengajaknya menari dan tak memperdulikan ucapan Riza. Riza sudah benar-benar marah. Riza berbalik dan mencari sound system dan mematikannya.


"Bubar sekarang, cepat kembali bekerja."


Riza berteriak, membuat para karyawan dan karyawati nya meletakan gelas yang  dipegangnya ke meja dan membubarkan diri ke tempat kerja masing-masing.


Tuan Osgur berjalan santai melambaikan tangannya pada karyawati perusahaan. Dan Ismet berjalan mundur untuk kembali ke ruangannya dan menghindari kemarahan Riza.


Riza menggerutu. "Ada-ada saja kelakuan kakakku. Jangan karena kerja lengah dan pemilik perusahaan tak ada, bisa berbuat gaduh dengan musik dan karyawati nya. Semua orang seperti sudah gila."


Karyawan dan karyawati nya memandang Riza yang sedang membereskan gelas-gelas yang berantakan.


"Apa lihat-lihat! Kembali bekerja yang benar. Jangan sampai kesalahan seperti ini terulang kembali." Riza berteriak. Membuat para pekerjanya terkejut dan langsung memposisikan dirinya masing-masing untuk melanjutkan kerjanya.


"Semua orang membuatku gila!" Riza masih terus berteriak dan menendang udara lalu pergi kembali ke ruang kerjanya.


Mendudukan diri dengan nafas yang naik turun menahan amarah. Pintu berderit, Yaza masuk.


"Apa lagi?" Riza masih belum bisa mengontrol nada suaranya.


Yaza menatap bingung. "Kau ini kenapa? Sudah gila ya?"


"Iya aku sudah gila." Menjawab sekenanya.


"Tarik nafas, hembuskan." Yaza menginterupsi dan Riza mengikuti. Sekarang lebih tenang.


"Ada apa?" Nada suara Riza sudah mulai melembut.


"Seperti yang pernah ku katakan tadi waktu penandatanganan dokumen untuk peluncuran produk baru."


"Lalu?" Riza bertanya.


"Aku akan menggunakan karyawati sebagai modelnya."


"Itu kan memang sudah begitu adanya dari dulu, karyawati langsung yang menjadi modelnya."


"Oke... berarti kau setuju kan semua apa yang akan aku lakukan?" Yaza bertanya penuh tipu muslihat.


"Setuju, pemilik perusahaan juga sudah menandatangani kan. Berarti semua tinggal kerjakan saja apa yang sudah direncanakan." Riza menjawab apa adanya tanpa tahu ada maksud lain yang akan dilakukan Yaza.


"Oke...saya permisi Mr." Yaza tersenyum penuh kemenangan dan pergi keluar ruangan Riza.


...----------------...


"Tuan, ini di mana?"


Ansell bertanya saat sudah sampai di sebuah tebing tinggi dan hempasan air laut yang menabrak tebing sangat dahsyat membuat percikan airnya keluar membasahi atas tebing tempat Ansell berdiri. Hamparan laut lepas terlihat sangat indah. Langit biru dan awan putih yang bergumpal cerah. Tempat yang sangat tenang.


"Kamu suka?" Altan berdiri di belakang Ansell.


Ansell mengangguk pasti dan semangat. "Sangat suka."


"Kamu ingin tetap di sini?"


"Ingin sekali Tuan, ini seperti surga buat saya."


.


.


.


Terimakasih atas dukungan dan partisipasi teman-teman semua. Yang setia bersama Ansel dan Altan.


Dan terimakasih juga yang sudah berkenan singgah memberi dukungan dan apresiasi dalam membaca karya baru saya HIDUP TAK AKAN PERNAH SAMA.


Sebuah cerita kisah cinta segitiga yang penuh misteri dari sosok HAZE ALEXANDER.


Dapatkah seorang ANDHEA bertahan dengan SADEWO ERLANGGA? kekasih yang setia bersamanya selama lima tahun. Atau justru ANDHEA akan berpaling dengan HAZE ALEXSANDER pria yang baru di kenalnya dan mempunyai segudang Misteri yang sulit dipecahkan oleh ANDHEA.


Yuk ikuti kisahnya . mampir ya ke karya baruku yang berjudul HIDUP TAK AKAN PERNAH SAMA.