
BAB 51. Kehangatan Yang Menghilang.
Ya karena Altan tahu, tempat yang paling tepat saat ini adalah Baba Mehmet.
"Apa ada sesuatu yang membawamu kemari?" Baba Mehmet bertanya saat Altan sudah duduk di hadapannya.
Altan tersenyum. "Saya sudah membuat model sepatu terbaru yang akan perusahaan luncurkan, bisakah Baba membuatkannya beberapa pasang sebagai contoh untuk menarik minat client."
"Tentu, bukankah aku selalu membuatkan beberapa contoh saat kau akan meluncurkan produk-produk baru. Pasti ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan."
Baba Mehmet mengambil papan catur untuk digunakannya bermain bersama Altan. "Tidak mungkin kau kesini hanya untuk membahas hal pekerjaan seperti ini saja, tanpa kau meminta. Baba akan usahakan bisa, selagi Baba masih mampu." Imbuhnya lagi.
Altan tersenyum samar, entah dari mana harus memulai pembicaraan yang bersifat pribadi.
"Ayo bicaralah, pasti mengenai gadis yang bisa menguasai hatimu bukan. Ada apa lagi, apa kalian bertengkar?" Baba Mehmet bertanya.
Altan mengusap tengkuknya. "Tidak bertengkar, lebih tepatnya berakhir."
"Berakhir?" Baba Mehmet bertanya untuk meyakinkan ucapan Altan baru saja.
"Ya....bisa dikatakan seperti itu." Altan juga ragu untuk mengatakan kalau hubungannya dengan Ansell berakhir.
"Kalau kau masih ragu, mengapa mengatakan berakhir. Itu hanya wujud dari kekecewaan saja, Baba yakin dia tak sengaja melakukan kesalahan yang membuatmu kecewa. Apa kau sudah memberinya kesempatan untuk menjelaskan?"
Altan menggeleng menjawab pertanyaan Baba Mehmet.
"Itu kesalahanmu. Kau terlalu membentengi diri saat kau kecewa, kau sama seperti ayahmu."
"Sekarang tanyakan saja pada hatimu sendiri, apa kau membencinya?"
"Apa kau sudah tidak mencintainya?"
"Apa dia membencimu?"
"Apa dia tidak berusaha menjelaskan padamu?"
Altan diam tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Baba Mehmet.
"Wanita itu sebenarnya bukan makhluk yang sulit untuk dimengerti. Cukup kamu menyentuh hatinya, maka dia akan memberikanmu ketulusan rasanya." Baba Mehmet berusaha menjelaskan.
"Kau mengerti maksudku bukan?" Imbuhnya lagi.
...----------------...
Ansell mendapat pesan dari Altan agar dirinya mengambilkan tuxedo di kamarnya. Dengan langkah cepat Ansell keluar dari perusahaan menuju kediaman Altan, karena waktu sudah semakin sore.
Setelah selesai mengambilkan tuxedo milik Altan, Ansell berjalan cepat masuk ke perusahaan. Tapi sayang, saat berlari Ansell tak melihat Clara ada dihadapannya. Membuat kopi yang sedang Clara bawa tumpah mengenai pakaian Ansell.
Clara membulatkan mata dan mulutnya. "Maaf, Mrs. Saya tidak sengaja."
Ucap Clara langsung meletakan cangkirnya di meja tempatnya mengambil kopi dan membersihkan pakaian Ansell dengan tisu.
"Ya ampun, aku tidak membawa pakaian ganti." Ansell merutuki kecerobohannya.
"Maaf, Mrs. Maaf." Clara terus meminta maaf pada Ansell.
Ismet datang menghampiri. "Eh... ada apa ini?"
"Saya tidak sengaja menumpahkan kopi ke pakaian Mrs Ansell, Mr." Clara menjelaskan masih tetap membersihkan pakaian Ansell dengan tisu.
"Nona, kau harus cepat ke ruangan presdir. Beliau sudah menunggu." Ismet memberi tahu agar Ansell segera memberikan tuxedo nya.
"Sudah-sudah, aku harus segera memberikan tuxedo ini pada presdir." Ansell menghentikan Clara yang masih terus mengeringkan pakaiannya dengan tisu.
"Tapi pakaian Mrs belum kering dan masih kotor."
"Sudah tidak apa-apa, daripada presdir akan memarahi saya." Ansell berjalan cepat meninggalkan Clara dan Ismet.
Ansell membuka pintu ruangan presdir. "Maaf Tuan."
"Kenapa kau lama sekali?" Altan berdiri dari kursinya dan menghampiri Ansell.
"Ini Tuan." Ansell tidak menjawab pertanyaan Altan tapi langsung memberikan tuxedo, karena Ansell takut Altan justru akan semakin marah jika Ansell terus melakukan kesalahan kerja.
"Kenapa pakaianmu basah dan kotor?" Altan bertanya saat tidak sengaja memandang pakaian Ansell.
"Tadi saya ceroboh." Jawab Ansell.
"Apa kau membawa pakaian ganti?"
Ansell menggeleng dan Altan menghela nafas. Altan melepaskan jasnya, lalu kemejanya. Ansell yang melihat lagi Altan bertelanjang dada di hadapannya membuat Ansell canggung dan menundukan kepala.
"Pakailah." Altan memberikan kemejanya pada Ansell sedangkan Ansell menatap ragu.
"Ambil, agar kau tidak kedinginan dan kotor seperti itu. Karena saya akan langsung berganti tuxedo ini." Altan masih terus menyodorkan kemeja navy nya.
Ansell akhirnya menerima kemeja Altan dan mengangguk undur diri. Ansell keluar ruangan Altan, menghela nafas dan bersandar pada pintu ruangan presdir. Membuka lebar kemeja navy Altan.
"Mrs, sepertinya kemeja itu milik-
Clara tak berani melanjutkan kalimatnya, karena dia yakin kemeja itu milik presdir. Saat tadi melihat presdir datang, beliau mengenakan kemeja navy itu.
"Ya, seperti yang kau duga. Karena kalau kau tidak menumpahkan kopi ke pakaianku, mana mungkin presdir memberikan kemejanya padaku." Ansell mendengus kesal.
"Tapi bukankah itu istimewa." Clara berusaha menggoda.
"Tapi bukankah itu istimewa." Ansell mengolok-olok ucapan Clara.
Clara tersenyum. "Pakai saja Mrs."
"Ya..pasti aku pakai." Jawab Ansell dan langsung masuk ke ruang kerjanya dengan kekesalan.
...----------------...
Di ruangannya, Riza sedang menatap langit-langit. Pikirannya tertuju pada masa silam antara dirinya dan Feray.
Flashback.
7 tahun yang lalu saat Riza masih kuliah di semester pertengahanĀ S2 nya, sedangkan Feray baru masuk sebagai mahasiswa baru S1 di kampusnya.
"Waow tim kita menang." Ucap Emir
"Benar, ini semua berkat kau Riza. Tembakanmu selalu tepat masuk ke dalam ring" Jimmy menambahkan.
"Kalian bisa saja, kalau tidak ada kerja sama team. Mana mungkin aku bisa terus memasukan bola ke ring." Ucap Riza.
"Kau selalu saja merendah." Sambung Renno.
"Oke, sampai berjumpa nanti. Kita rayakan kemenangan kita dengan pesta nanti malam."
Riza memberi tahu dan kawan team nya tersenyum lalu memeluk bergantian satu persatu sebelum berpisah. Riza dengan bangga membawa piala kemenangan dengan senyum merekah dan berkali-kali mencium piala tersebut sambil berjalan menuju loker gantinya.
Riza meletakan pialanya dalam lemari loker miliknya dan mencari handuk serta pakaian ganti untuk membersihkan diri. Riza menutup pintu loker dan berbalik, betapa terkejutnya saat melihat Feray ada di belakangnya.
Feray adalah mahasiswi baru di kampusnya. Feray berjalan satu langkah untuk lebih dekat dengan Riza.
"Selamat atas kemenangannya." Ucap Feray dan tersenyum.
"Mm..terimakasih." jawab Riza.
"Apa aku mengganggumu?" Feray bertanya.
"Tidak." Jawab Riza. Feray tiba-tiba saja mencium bibir Riza dan Riza membulatkan mata tak percaya, kemudian Riza menghentikan Feray.
"Kenapa, bukankah kau juga mencintaiku?" Feray bertanya dan Riza menatap ragu lalu membalas ciuman Feray dengan penuh hasrat lalu mendorong Feray ke lemari lokernya sambil terus menciumnya.
Seketika Riza sadar, Feray adalah keponakan Kakak iparnya. Tak seharusnya Riza mencium Feray. Riza menghentikan paksa ciumannya membuat Feray kehilangan hasratnya.
Feray menatap Riza dengan penuh tanya. "Kenapa?"
"Ini salah." Ucap Riza.
"Salah kenapa, apa karena aku keponakan Bibi Ivy?"
Riza mengangguk menjawab pertanyaan Feray.
"Tapi kau tahu bukan, aku mencintaimu sudah lama?" Feray terus bertanya.
"Ya, aku tahu. Tapi aku sadar, kita tidak akan pernah bisa bersama."
"Brengsek kau." Feray menampar Riza. "Kalau kau sadar, kenapa kau membalas ciumanku."
"Aku membencimu." Feray meninggalkan Riza begitu saja sambil menghapus air matanya. Sedangkan Riza diam mematung dan menyentuh pipinya yang menyisakan panas akibat tamparan Feray.
Flashback off.
Riza mengusap mukanya dengan kasar, berusaha melupakan tragedi tersebut. Riza berdiri dan merapikan tuxedo nya lalu keluar ruangannya dan menuju ruangan Altan.
"Mr." Yaza memanggil Riza.
Riza berhenti dan menunggu Yaza.
"Apa Mr mau ke ruangan presdir?" Tanya Yaza saat sudah di hadapan Riza dan Riza mengangguk.
...----------------...
Ansell menatap kaca ruangannya yang biasanya terbuka, tapi sekarang masih tertutup oleh tirai penutup.
"Sepertinya Altan masih belum memaafkannya."
"Lalu kenapa tadi dia memberikan kemejanya."
Ansell menghela nafas dan menarik kemeja milik Altan yang sudah dipakainya. Dihirupnya aroma kemeja Altan, setidaknya bisa melepas kerinduan akan sikap hangat Altan yang sekarang sudah berubah menjadi dingin.