
Paman Osgur tak henti-hentinya memohon dengan penuh, agar Altan bisa luluh. Tapi Altan tetap diam, akalnya berpikir. Paman dan bibinya sangat licik, jika sekarang Ia mengabulkan permintaan pamannya. Mereka akan menang, sedangkan Ansell akan tetap dalam aturan mereka meski telah dinikahi.
Altan berpikir tentang nasib Ansell setelahnya, untuk kali ini bukan hanya dirinya dan hubungan cintanya yang dipertaruhkan, tetapi Ansell juga. Jalan pertama yang harus di ambil adalah sistem barter. Dengan cara ini juga Ansell dapat terbebas dari jeratan kontrak yang dibuat bibinya.
"Altan, Paman mohon. Sekali ini saja, kabulkan permintaan Paman. Jika tidak, Paman dan Bibi akan menjadi gelandangan."
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Syarat?" Paman Osgur nampak berpikir.
"Bagaimana, Paman?"
"Baiklah. Apa pun syaratnya akan Paman lakukan."
"Berikan surat perjanjian kontrak itu padaku."
Mata Paman Osgur membulat. "P.perjanjian k.kontrak apa?" Paman Osgur berpura-pura tidak tahu.
"Oke." Altan mengangkat kedua tangan.
"Kalau tidak mau, aku pun tidak mau." Cara licik harus di balas dengan cara licik.
Paman Osgur nampak berpikir, ia tidak menyangka jika Altan akan meminta ini. Apa yang harus di lakukannya, di sini tidak ada Ivy. Jadi Osgur tidak mau mengambil keputusan yang sepihak.
"Baiklah. Aku anggap semua ini batal." Altan berpura-pura mengancam.
"Ti.tidak! Jangan Altan."
"Baiklah, Paman menerima permintaanmu." Jawab Paman Osgur begitu cepat tanpa berunding. Karena jika Altan sudah mengatakan sekali, dia tidak akan mengulanginya lagi. Lagi pula sang istri sudah mengatakan harus bisa membuat Altan segera menikah apa pun caranya, jadi mau tidak mau Osgur menerima tawaran ini.
Altan tersenyum penuh kemenangan, ia merasa sangat bahagia bisa membebaskan Ansell dari perjanjian kontrak.
...----------------...
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Ivy pada suaminya saat melihatnya nampak murung sedari tadi sehabis pulang kerja.
Osgur mengambil makanan sedikit ke piring makannya dan tak menjawab pertanyaan sang Istri.
"Sayang! Kenapa diam?"
"Ada apa?"
Tegas Ivy dan menghentikan makannya.
"Altan bersedia menikah secepatnya." Jawabnya lesu.
"Wah.... benarkah." Mata Ivy berbinar gembira.
"Ini berita bagus, kenapa kau malah murung?"
"Tapi dengan syarat."
"Syarat?"
"Pantas saja Altan mau menerimanya."
"Lalu apa syaratnya?"
"Surat perjanjian."
"Apah!"
"Tidak, itu sama saja kita bunuh diri."
"Tapi aku sudah menyetujuinya."
"Kau gila! Kenapa tidak berunding dahulu denganku!"
"Coba kau pikir! Jika Altan mendapatkan surat perjanjian itu, itu sama artinya membebaskan Ansell. Kita tidak akan mendapatkan harta lebih." Ucap Ivy menggebu-gebu.
"Kalau Ansell menikah dengan Altan, bukankah Ansell bisa menjadi ladang emas kita. Kita dapat meminta apa pun melaluinya, karena dia masih terikat kontrak dengan kita."
"Tapi bukankah jika Ansell bisa melunasi uang yang telah di gunakannya, Ansell juga pasti terbebas."
"Kau ini! Ugh...." greget Ivy kepada suaminya.
"Apa kau tidak membaca seluruhnya."
"Astaga! Ya Tuhan tolonglah aku, cerahkan sedikit pikiran suamiku."
"Itu jika Ansell bisa melunasinya dalam jangka waktu kurang dari 6bulan. Tetapi jika lebih dari 6 bulan, maka hanya uangnya saja yang lunas. Tetapi kontrak kesepakatan yang lain masih tetap berlaku."
"Itulah alasanku membawa Ansell masuk ke perusahaan Axton, agar supaya Keponakan ku bisa mencintai Ansell. Dan sekarang sudah terbukti bukan."
"Aku membuat isi kontrak itu dengan penuh ketelitian dan memihak pada kita, tapi lihatlah!"
"Maaf." Ucap Osgur merasa bersalah.
"Maaf- maaf. Kau pikir dengan kata maaf bisa merubah semuanya."
"Altan memojokanku, sayang. Kau tahu sendiri bukan, Altan seperti apa."
"Ya! Tapi seharusnya kau berpikir lebih cerdas dan licik."
"Kau tahu kenapa Altan menginginkan ini?"
"Itu semua demi membebaskan Ansell, karena dia sangat mencintainya. Cinta bisa merubah semuanya, bahkan akal sehat."
"Altan pasti sudah tahu isi perjanjiannya, makanya dia mengambil langkah ini."
"Kita berikan saja coppy an nya."
"Ya Tuhan, kenapa kau berikan aku suami sepertinya."
"Altan pasti tahu, yang mana yang asli dan yang mana yang coppy an."
"Nasi sudah menjadi bubur." Keluh Ivy.
"Kita hanya akan mendapatkan harta waris saja, selebihnya kita harus bekerja keras demi kehidupan kita.
"Makan itu maaf!"
...----------------...
"Ansell, Nenek akan kembali ke desa untuk beberapa hari bersama Ei dan Demir. Jaga bail-baik dirimu di sini." Peluk sang nenek saat harus berpisah dengan Ansell.
"Iya Nek, Nenek tenang saja."
Nenek Esme mengecup pipi Ansell sebelum masuk ke mobil Karim bersama Ei. Sementara Demir memasukan barang dan oleh-oleh ke bagasi mobil Karim dengan dibantu Karim.
"Ingat pesan Kaka!" Imbuh Demir sambil membawa koper Sefa.
"Iya cerewet!" Ansell mendorong Demir.
"Buruan bawa Kakakku, Sefa." Sefa hanya tertawa melihat kelakuan kakak beradik.
"Kau ini!"
"Awas saja kalau melanggar!"
"Udah buruan, nanti kemaleman berangkatnya." Mendorong lagi sampai dekat pintu belakang mobil.
"Ayo masuk Sefa." Membukakan pintu mobil.
"Awas!" Peringatan lagi dan lalu masuk setelah Sefa masuk.
"Ih!" Geram Ansell.
Setelah melihat mobil melaju, Ansell masuk ke rumah. Menyalakan televisi dan mengambil ponsel yang seharian sengaja ia simpan di laci dengan mode diam. Di bukanya, banyak sekali panggilan masuk dari Altan dan juga pesan masuk. Ansell menghela nafas.
Selain itu ada juga pesan dari Riza. Ansell membuka pesan dari Altan, seluruhnya berisi permintaan maaf. Pesan dari Riza pun sama, intinya Riza memintanya agar dapat memaafkan Altan. Ansell kembali menghela nafas, tak membalas satu pesan pun. Ansell merebahkan diri di sofa sambil menonton televisi, dan menarik selimut.
Ketukan pintu terdengar, membuat Ansell beranjak dari sofa. Berjalan membukakan pintu.
"Tuan." Ucap kaget Ansell saat melihat Altan berdiri di depan pintu, Ansell mencondongkan tubuhnya melihat mobil Altan. Tidak bersama Pak Husein lalu melihat sekeliling.
Altan bingung melihat sikap Ansell, ia pun melihat sekeliling. Ansell langsung menarik Altan masuk dan menutup pintu segera saat melihat tak ada orang di sekitar yang melihat kedatangan Altan. Ansell takut jika ada yang melihat kedatangan pria asing di malam hari yang terbilang larut, maka akan berdampak buruk baginya dan Altan.
Altan menatap Ansell bingung saat sudah berada di dalam rumah, melihat sekeliling nampak sangat sepi.
"Tuan kenapa kemari selarut ini?"
"Aku menghawatirkanmu, seharian tak ada kabar."
Ansell merasa canggung. "Saya sibuk Tuan, Nenek, Adik dan Kakak saya kembali ke desa beberapa hari. Mungkin dua atau tiga hari an." Alasannya.
"Pantas saja sepi."
"Mari Tuan, masuk." Ajak Ansell.
"Maaf rumahnya kecil."
"Tidak apa-apa." Jawab Altan sambil melepas sepatu dan jaketnya.
Sementara Ansell memberikan sendal rumahan milik Demir untuk digunakan Altan. Ansell membawa Altan masuk ke ruang televisi.
"Mau teh madu atau kopi, Tuan?"
"Teh madu saja."
Ansell bergegas ke dapur sementara Altan berjalan menuju sofa dan duduk sambil melihat sekeliling. Rumahnya bersih dan rapi meski ruangannya terbilang kecil, terdapat lukisan keluarga tapi tak ada foto Ansell.
"Ini, silahkan di minum Tuan."
"Terimakasih."
Ansell benar-benar merasa canggung, ini pertama kalinya Altan masuk ke rumahnya.
"Maaf." Ucap Altan memecah keheningan.
"Tidak Tuan, saya yang seharusnya minta maaf. Saya terbawa emosi."
"Bisa berbicara normal?"
Ansell tersenyum kikuk.
"Boleh aku menginap."
"Me..menginap?" Mata Ansell membulat seketika, terkejut.
"Ya, ini sudah larut." Alasan Altan.
Ansell bingung. Ingin menolak dan menyuruhnya kembali tapi itu tidak sopan. Tetapi jika mengijinkan? Di rumah sepi, jika ada yang tahu maka bisa menjadi bencana.
"Boleh?" Altan kembali bertanya.
Mau tidak mau Ansell mengangguk. Ia benar-benar canggung, tanpa memberitahu dan persiapan Altan datang dan menginap. Apakah ini hanya mimpi atau halusinasi?
"Ayo saya antar ke kamar Kakak saya."
"Kenapa?"
"Apanya Tuan?"
"Kenapa kamar kakakmu?"
"Kenapa juga kau menjadi salah tingkah seperti ini?"
"Ya ampun, aku harus berkata apa. Ini mimpi atau bukan sebenarnya?" Batin Ansell.
"Ansell?"
"Hah... ya Tuan."
"Baiklah."