Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 9. Kesalahan Kedua Ansell



BAB 9. Kesalahan Kedua Ansell.


"Terimakasih Mr Riza." Ansell membungkukan badan sambil tersenyum penuh kegembiraan. Saat turun dari mobil Mr Riza yang telah mengantarnya pulang.


Mr Riza membalasnya dengan senyum lebar. Lalu menjalankan mobilnya mengarungi jalan malam yang semakin ramai oleh para pejalan kaki.


Setelah mobil Mr Riza sudah tak nampak, Ansell membalikan badan untuk masuk ke rumahnya.


Begitu terkejutnya Ansell saat membalikan tubuhnya, Demir sudah berdiri di ambang pintu.


"Siapa?" Demir bertanya penuh kecurigaan.


"Bukan urusanmu!" Berjalan dan menyingkirkan Demir yang sedang menghalangi jalan masuk .


Demir mengangkat bahunya, lalu pergi. kemudian Demir tak sengaja berpapasan dengan Sefa.


"Demir." Sapa Sefa.


"Hay... Sefa. Mau kemana?"


"Cafe Karim."


"Ikut denganku sebentar." Ajak Demir yang langsung saja menarik tangan Sefa tanpa bisa Sefa menjawab.


Beberapa saat kemudian...


"Demir.. kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?" Tanya Sefa setelah sampai di suatu rumah penginapan.


"Ayo masuk." Ucap singkat Demir tanpa mau menjawab pertanyaan Sefa.


Sefa melangkah masuk mengikuti Demir. Sedikit was-was, ini kali pertamanya Demir membawa dirinya ke sebuah penginapan. Demir yang selalu acuh padanya, padahal Demir tahu kalau Sefa menyimpan rasa untuknya. Tapi kali ini berbeda, tak disangka Demir akan membawanya ke tempat seperti ini.


Sefa memandang sekeliling ruangan. Demir tiba-tiba saja menarik tangannya membuat Sefa jatuh dalam pelukan Demir.


Dengan tatapan penuh hasrat, Demir mencium rakus  bibir Sefa. Menjatuhkan tubuh Sefa ke atas ranjang, dan memulai aktifitas yang menghasilkan peluh dengan terus memaksa Sefa.


"Demir. Hentikan!" Sefa meronta. Namun tenaganya kalah banding dengan Demir yang kini sudah mulai menguasai dirinya.


...----------------...


Karim gelisah sudah satu jam lebih dirinya menunggu Sefa datang. Tapi tak juga nampak, padahal jarak rumah Sefa dengan cafenya tak begitu jauh.


Di dalam cafe Karim sudah menyiapkan suatu kejutan untuk Sefa. Karim memperindah cafenya untuk bisa mengutarakan rasa cintanya pada Sefa.


Tapi yang ditunggu tak kunjung datang, membuat Karim putus asa. Pikirannya bercabang.


Karim tahu kalau Sefa mencintai Demir, tapi Demir selalu acuh pada Sefa. Membuat Karim jadi bisa mendekati Sefa. Apa mungkin Sefa sedang bersama Demir?


Malam semakin larut, namun Sefa tak kunjung datang. Karim membereskan sendiri semua yang telah ia tata rapi untuk membuat kejutan pada Sefa. Dengan penuh kekecewaan.


...----------------...


Sinar gemerlap lampu kota dan udara malam yang dingin telah tergantikan oleh sinar mentari yang hangat. Aktivitas pagi menjumpai.


Waktu yang sudah mendekati jam sarapan pagi membuat Ansell gugup. Karena Ansell belum juga pergi ke kediaman Tuan Altan.


Pagi hari Ansell disibukan mencari uang simpanan yang ia simpan di bawah tumpukan bajunya. Namun ternyata uang itu tak kunjung ditemukan. Ansell sampai mengacak-acak seluruh isi lemari pakaiannya. Uang itu adalah uang simpanan untuk membayar kredit rumah kecilnya.


Ansell begitu marah, pikirannya tertuju pada Demir. Karena hanya Demir yang berani mengambil uangnya untuk berjudi.


"Apa yang kau cari Ansell?" ucapan nenek Esme mengagetkan Ansell.


"Uangku nenek, uang untuk membayar kredit rumah ini. Pasti Demir yang mengambilnya." Ansell begitu geram dengan Demir.


"Semalam Demir memang menunggumu."


"Nenek tidak tahu kalau Demir yang berani mengambilnya."


"Nenek kira Demir akan berhenti berjudi, setelah nenek menceritakan pengorbananmu." Tutur nenek Esme begitu rapuh. Ternyata cucu laki-lakinya tak henti-henti merepotkan Ansell.


Nenek Esme sebenarnya resah. Jika Demir berbuat ulah lagi, menyewakan Ansell untuk Tuan Kiral kalau Demir masih tetap berjudi dan berhutang.


"Sudah sekarang cepat ke kediaman Tuan Altan." Sambung nenek Esme lagi.


Ansell bergegas mengganti pakaian, karena waktu sudah menunjukan semakin siang.


Di perjalanan menuju jalan umum, Ansell berpapasan dengan Karim. Sungguh Keajaiban Tuhan memberikan kemudahan untuk Ansell.


"Karim, syukurlah aku bertemu denganmu." Dengan wajah gembira Ansell menyapa.


"Kenapa?" Jawab Karim antusias.


"Aku perlu uang untuk membayar cicilan kredit rumah. Tolong ya?"  Dengan mata berbinar penuh pengharapan.


Karim tersenyum kecut. Sepagi ini sudah direpotkan sahabatnya. Karim mengangguk pasrah.


"Terimakasih Karim." Ansell memeluk sahabatnya itu dengan penuh kegembiraan. lalu berlari kecil. meninggalkan Karim.


Di persimpangan jalan Karim tak sengaja bertemu Sefa. Dilihatnya raut muka Sefa yang habis menangis. Karim ingin bertanya, namun Sefa terlebih dahulu melaluinya tanpa menyapanya.


...----------------...


Dengan langkah pelan Ansell membuka pintu kediaman Tuan Altan. Menutup pintu dengan perlahan lalu berjalan masuk dengan mengendap-endap. Langkah pertama yang ia tuju adalah dapur, berharap Tuan Altan belum sarapan.


Tapi langkahnya tertahan. Setelah mendengar lirih suara dengkuran dari arah sofa ruang tamu. Ansell membalikan badan, dan berjalan menuju arah sofa.


Diletakannya tas besar yang selalu setia Ansell bawa. Berjalan perlahan melihat siapa gerangan yang sedang mendengkur lirih.


Dengan mata berbinar takjub, Ansell bisa melihat dengan jelas betapa tenangnya Tuan Altan ketika sedang terlelap. Terlihat sangat berbeda jika sedang membuka mata.


Wajah tampan rupawan, garis rahang yang kokoh, alis yang hitam tebal, bulu mata lentik kecil, bibir merah alami. Begitu manis.


Ingin sekali Ansell menghentikan waktu. Agar dirinya tetap bisa tersenyum melihat seseorang yang sedang menjadi objek kekagumannya.


Namun sayang seribu sayang, objek yang menjadi kekagumannya telah terbangun dari alam tidurnya.


"Kamu?"


 Altan bertanya dengan masih membuka kedua matanya perlahan, menghindari cahaya yang masuk dari arah jendela yang menyilaukan mata.


"Akh…. keindahan dan ketenangan lenyap sudah."


Dengang tersenyum canggung Ansell menjawab. "Iya Tuan. Maaf saya terlambat."


"Saya segera membuatkan sarapan pagi Tuan." Sambungnya lagi.


"Tidak perlu, berangkatlah. Saya sedikit siang." Titah Tuan Altan.


"Tolong panggilkan Pak Husein." Imbuhnya lagi.


"Kenapa dia? Aneh!"


"Siap Tuan." Ansell berbalik dan mengambil tas besarnya. Lalu keluar.


Pak Husein datang, dengan tegap berdiri di hadapan Tuan Altan. "Ada apa Tuan Muda?"


"Saya minta tolong Pak. Pak Husein antarkan Nona Ansell. Setelah itu kembali lagi kesini, saya berangkat siangan." Ucap Altan penuh penghormatan untuk sang supir yang usianya sudah mulai menua.


Dengan tenang dan sigap Pak Husein mengangguk. "Siap Tuan Muda."


Selepas Pak Husein pergi, Altan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Bayangan Ansell melintas, dimana dia ditugaskan untuk membuat sebuah dokumen bergambar disertai keterangan lengkap untuk rancangan sepatu yang diperintahkannya tempo hari.


Bayangan di mana Ansell menjelaskan  apa saja yang Mr Ismet katakan. Namun Tuan Altan gagal fokus, karena membayangkan yang lain. Sampai saat ini Tuan Altan pun tak tahu apa yang diusulkan Ansell.


...----------------...


Dari arah kamar Tuan Osgur menuruni tangga dengan riang gembira sambil bersiul. Dikenakannya kacamata bak ABG yang akan berkencan.


"Mau kemana!" Pekikan dari istrinya mengagetkan Osgur, hampir saja kacamata yang ia kenakan terlempar.


Dengan bola mata yang memandang  berkeliaran mencari alasan. "Mau main golf dengan teman lama."


"Ohh.. ya?" Tatapan Nyonya Ivy yang mengintimidasi.


Tuan Osgur melangkah mendekat dan merangkul bahu Nyonya Ivy, meyakinkan dengan tipu muslihat rayuannya. "Benar sayang, sudah lama aku tidak bertemu dengan sahabatku."


Lalu mencium lembut pucuk kepala Nyonya Ivy.


...----------------...


Setibanya di perusahaan Tuan Altan berjalan menuju ruangannya. Langkahnya terhenti saat melihat Ansell sudah berada di depan pintu ruangannya.


"Tuan." Ansell menyapa menunduk hormat.


"Kamu sudah menyelesaikan tugas yang aku perintahkan?"


"Sudah Tuan." Menyodorkan dokumen yang dimaksud dengan senyum secercah matahari terbit.


Tuan Altan mulai membuka satu persatu lembar dokumen bergambar. Gelengan kepala menunjukan kalau Tuan Altan akan memarahi Ansell.


Menutup keras dokumen dan meletakan dengan kasar ke dada Ansell.


"Kamu ini bisa tidak si bekerja! Apa-apaan model yang kau gambar Flat shoes bukan heels! Yang kubutuhkan itu Heels!


Ansell melongo kaget.


 "Tapi kan saya menyukai Flat shoes bukan heels, makanya saya menggambar yang bukan heels. Bukannya waktu itu saya menjelaskan Flat shoes bukan heels Tuan." Ansell menjelaskan dengan menggebu.


"PERBAIKI!"


Tuan Altan mendengus kesal, lalu berjalan. Membuka pintu dan menutupnya dengan kasar, membuat Ansell terlonjak kaget.


Ansell berjalan cepat menuju meja kerjanya, mendudukan diri. Menjatuhkan kepalanya di meja kerja sambil menahan gejolak air mata yang ingin menerobos keluar.


"Kenapa dia selalu marah-marah!"