
BAB 36. Penghinaan Yang Pahit.
"Ansell, kau bawa seluruhnya ke dalam mobil dan tunggu saja kami di parkiran." Jenny memberi perintah dan tersenyum penuh kelicikan. Clara menertawakan Ansell dalam diam.
Ansell mendengus kesal akan seluruh prilaku Jenny yang sepertinya sangat merendahkan harga dirinya. Tapi Ansell tak bisa berbuat apa-apa karena memang itu sudah tugasnya menemani sekertaris yang sudah ahli di bidangnya.
Ansell berjalan keluar membawa seluruh barang belanjaan dengan sangat kerepotan, sedangkan Jenny dan Clara menertawakannya dari kejauhan saat Ansell sudah keluar.
Ansell menghela nafas dan berdiri bersandar di pintu mobil. Ponselnya berdering, tanda panggilan masuk dari Riza. Ansell mengatur nafasnya lebih tenang supaya Riza tak terlalu tahu apa yang terjadi.
"Hallo..."
"Hallo Ansell, kau di mana sekarang?" Suara Riza penuh kekhawatiran.
"Di luar pusat perbelanjaan. Ada apa?"
"Kau baik-baik saja kan?"
Ansell menghela nafas untuk tenang. "Tentu, aku baik-baik saja." Ansell terpaksa berbohong.
"Benarkah?" Riza bertanya memastikan.
Jenny keluar dengan Clara dan melihat Ansell sedang bertelepon. Jenny mendekat.
"Ansell." Jenny memanggil namanya.
Ansell memberi kode agar Jenny menunggunya sebentar sampai telefon dari Riza dimatikan.
"Ya tentu. Nanti aku telepon kembali, aku bersama Mrs Jenny dan Mrs Clara harus pergi lagi." Jawab Ansell meyakinkan agar Riza tak mengkhawatirkannya.
Jenny mulai geram harus menunggu Ansell berhenti bertelepon. Jenny langsung menarik tangan Ansell untuk membawakan barang belanjaan yang sedang di bawahnya. Membuat ponsel Ansell terpental jauh dan pecah berantakan.
"Mrs Jenny, bisa tidak menghargaiku yang sedang bertelepon." Ansell melotot dan berteriak dengan penuh emosi.
"Hei...kau ini menemaniku bukan untuk bertelepon. Ini cepat bawa." Jenny langsung memberikan beberapa tas belanjaannya pada Ansell, dan berjalan masuk ke mobil dengan melenggak lenggokan tubuhnya bak model seakan menertawakan Ansell.
Nafas Ansell naik turun melihat kelakuan kurang ajar dan keterlaluan Jenny terhadapnya. Benar-benar tak menghargainya. Ansell berjalan memasukan seluruh belanjaan ke bagasi mobil lalu berjalan masuk duduk di depan.
"Ayo jalan." Jenny memerintah Pak supir untuk melajukan mobilnya.
"Kita mau kemana lagi Nona, ini sudah mulai malam?"
"Ke cafe ujung jalan ini. Kita akan makan malam di luar."
Mobil melaju ke tujuan, dan Ansell mengetikkan pesan singkat pada Karim memberi tahu lokasi selanjutnya.
Setelah selesai makan malam, semuanya keluar bersama. Saat sampai di parkiran, Jenny berhenti dan Clara pun ikut berhenti membuat Ansell juga menghentikan langkahnya.
Ansell menatap bingung kepada Jenny yang sepertinya tersenyum mempermainkannya.
"Oh ya Ansell.. terimakasih banyak ya sudah melayaniku hari ini. Dan ini..."
Jenny menekankan kata melayani kepada Ansell membuat Ansell lebih terhina, lalu Jenny memberikan sejumlah uang di hadapan Ansell.
"Ambil...sebagai bayaranmu karena telah melayaniku hari ini, bukankah uang ini juga yang kau harapkan. Sudah jangan malu-malu, aku tahu kok kamu itu gadis sewaan perempuan tua itu yang gila akan harta warisan." Jenny mengucapkan sebuah tamparan keras bagi Ansell.
Ucapan Jenny membuat Ansell benar sangat terhina, Ansell tahu kalau Jenny mengetahui seluruh tentangnya. Tapi ucapan yang barusan dan lembaran uang di hadapannya sudah menghancurkan harga dirinya, apa lagi ada Clara di antara mereka yang sedang menyaksikan langsung bagaimana terhinanya Ansell.
Ansell mencoba menahan gejolak air bening di pelupuk matanya yang seakan menendang nendang ingin menerobos keluar. Ansell berusaha tegar menghadapi terjangan badai kehinaan ini sekuat jiwa dan raganya bertarung melawan takdir pahitnya.
Jenny menertawakan Ansell yang diam mematung sedari tadi di hadapannya. Dan Jenny membuang uang-uangnya ke udara lalu pergi dengan tawa penuh kemenangan.
Ansell masih diam mematung menerjang hamburan lembar uang kertas yang jatuh tepat di seluruh bagian tubuhnya. Ansell sangat terhina saat ini, tak bisa berkata ataupun berbuat apa-apa.
Jenny terhenti saat melihat pria yang tadi siang memandangnya.
"Boleh saya antar? Perkenalkan, saya Karim."
Jenny tersenyum mendapatkan perhatian dari pria asing yang baru dilihatnya. Jenny memandang Clara.
"Maaf, sepertinya kamu harus pulang naik taxi. Saya akan bersamanya dan pasti Pak supir akan mengantar Ansell, kau tidak apa-apa kan Clara?"
"Tentu, itu tidak masalah bagi saya Mrs." Clara memberi hormat dan berjalan pergi.
Jenny tersenyum pada Karim dan masuk mobil Karim, sedangkan Karim memandang sedih melihat Ansell yang diperlakukan sehina itu oleh Jenny. Tapi ini adalah misi Ansell agar Karim mendekati Jenny. Karim masuk ke mobilnya dan menghidupkan mesin.
"Siapa namamu Nona?"
Karim pura-pura basa basi dengan Jenny, padahal Karim sudah tahu semua tentang Jenny.
"Jennyfer, panggil saja Jenny." Jenny tersenyum malu.
"Baiklah, bisa kita berteman?"
"Tentu."
...----------------...
Dalam perjalanan Ansell sudah tak kuasa menahan air matanya, diusap nya berkali-kali linangan di pipinya.
"Ansell kuat... kau hebat... kau sanggup... bukankah yang dikatakan Jenny benar adanya…"
Ansell menangis tersedu-sedu. Dan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Altan bahwa dirinya akan menemuinya.
...----------------...
Altan yang sedang menggambar sebuah sketsa sepatu menghentikan aktivitasnya saat ponselnya berdengung, menampilkan pesan singkat dari Ansell.
Kenapa dia mau ke sini? Altan melihat jam di ponselnya. Pukul setengah sepuluh malam lebih. Tak seperti biasanya.
Altan tak begitu memikirkannya, dia melanjutkan lagi aktifitas menggambarnya.
Tak selang lama pintu terdengar diketuk dari luar. Altan berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
"Ansell?"
Altan menatap penuh seksama. Sepertinya dia habis menangis, tapi kenapa?
"Ayo masuk."
Altan menyuruh Ansell masuk karena Ansell hanya terdiam menatapnya dengan raut wajah penuh kemarahan.
Ansell berjalan melewati Altan begitu saja menuju dapur, Altan semakin bingung. Tapi tetap mengikuti Ansell..
Ansell berdiri di depan lemari kaca yang berisi gelas, piring mangkuk dan lainnya yang terbuat dari beling.
Altan melewati Ansell dan menuju kulkas pendingin.
"Mau minum apa?"
Altan bertanya dan seketika Ansell langsung menjerit. Luapan emosi yang sedari tadi di bendung tak kuat lagi ia tahan.
Ansell menjerit histeris dan membuka lemari kaca, mengambil gelas beling dan melemparkannya jauh membentur tembok melewati wajah Altan.
PRANG..
"Kenapa kau membiarkan saya ikut dengan Jenny?"
PRANG...
Ansell terus berteriak dan mengambil benda yang terdapat di dalam lemari kaca.
"Kenapa kau membiarkanku dihina Jenny."
PRANG...
"Apa kau tak punya hati sedikitpun."
PRANG.....
"Aku membencimu! Kau terlalu egois."
PRANG...
"Tak sedikitpun memahamiku."
PRANG...
Ansell mengambil lagi gelas beling dan menatap Altan dengan tangis kemarahan. Melemparkan ke tembok dan Altan hanya diam menyaksikan Ansell.
PRANG....
Ansell berbalik dan mengambil gelas lagi lalu mengangkat ke atas untuk melemparkannya.
Altan dengan cepat menahan pergelangan tangan Ansell.
Altan menatap penuh kesedihan telah membuat Ansell seperti ini. Nafas Ansell naik turun meredam emosinya. Dia tadi sudah tak peduli atas ucapannya dan tak menggunakan kata kesopanan dalam panggilannya.
Ansell menatap pergelangan tangannya yang di cengkram Altan. Mata Ansell membulat seketika, saat melihat darah mengalir di area pergelangan tangan Altan.
"Tuan."
Ansell meraih tangan Altan dan melihat seksama luka yang mengakibatkan keluarnya darah. Lukanya terbilang panjang dan sedikit dalam.
Kenapa dia tak mengatakannya? Dan membiarkan darah ini terus mengalir. Tak merasakah dia sakit dari lukanya. Ya ampun Ansell, kau sudah gila. Membuat tangan Tuan Altan terluka.
Altan masih diam memandang Ansell.
Ansell bergegas mencari kotak obat di samping meja makan dan menarik tangan Altan untuk mencucinya di air yang mengalir. Lalu mengeringkan area pinggir luka dengan hati-hati.
Menyemprot cairan antiseptik yang juga sebagai obat agar lukanya cepat kering. Lalu memerbannya.
Altan langsung memeluk Ansell erat. Ansell bingung.