
BAB 31. Ingin Selalu Bersamamu.
Altan memeluk Ansell dari belakang, membuat Ansell kaget. Tapi tak dapat berkata apa pun dan tak mampu menggerakan tubuhnya.
"Kamu ingin menikmati sinar senja bersama saya?"
Ansell hanya dapat mengangguk mendengar suara Altan yang dekat dengan telinganya, hembusan nafasnya hangat terasa. Entah perasaan macam apa ini. Ansell sudah berjuang sekuat hatinya untuk menghapus rasanya yang tak mungkin ia gapai, tapi di saat Ansell sudah mempunyai tekad kuat untuk melupakan rasanya. Malah Altan yang mendekat dan membuatnya terbuai.
"Jangan serakah Ansell...jangan serakah... Tuhan sudah membantumu membebaskan kakak dan adikmu dari cengkeraman mafia. Tuhan juga yang bisa mengubah hidupmu menjadi berkecukupan. Dan tolong sekarang jangan serakah untuk bisa mendapatkan balasan cinta dari seseorang yang tak dapat kau gapai"
"Hatiku terus menolak tapi kenapa alam pikiran bawah sadar ku menerima semua perlakuan istimewa dari seorang Altan Yakuz yang penuh kesempurnaan. Aku tidak serakah Tuhan....tidak bermaksud serakah.... aku hanya tak dapat menahan diriku mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam dekapannya.. Tolong maafkan aku Tuhan... jika ini salah...."
Altan tetap memeluk erat Ansell dari belakang, kejadian demi kejadian dimana Ansell terlihat jelas dengan Riza membuatnya tak akan mau melepaskan Ansell walau hanya sedetik.
Bahkan hanya untuk berbagi udara dengan pria lain pun tak rela. Rasanya ingin sekali mengurung Ansell dalam sangkar emasnya. Agar tak ada satu pria pun yang berusaha mendekatinya.. namun pada faktanya kata cinta tak kunjung keluar dari mulutnya... hanya tindakan rasa memiliki yang Altan tunjukan...
Jika dunia menertawakan kebodohannya silahkan saja, sekarang Altan sudah tak peduli. Biarkan dia menggilai Ansell seperti Majnun yang mengilai Layla... dia memang gila... tapi kegilaannya hanya karena ketulusan cinta...
Tapi Altan tak dapat seperti Majnun yang mampu merangkai kata indah untuk Layla. Altan adalah Altan yang mampu melakukan segala upaya agar dirinya bisa mendapatkan Ansell seutuhnya. Tak ada kata cinta untuk saat ini... hanya tindakan nyata yang bisa ia gambarkan agar Ansell dapat merasakan bahwa dirinya sangat berarti bagi Altan.
Altan mengecup bahu Ansell dengan lembut dan meletakan dagunya bersandar di bahu Ansell. Membuat Ansell semakin tak dapat menolak seluruh sentuhannya.
"Maafkan aku Tuhan...maafkan... aku terlalu serakah saat ini…"
"Ansell." Altan mulai berkata setelah hampir setengah jam keduanya saling diam.
"I.iya Tuan."
"Eh....kenapa diam lagi? Astaga, malah dia mencium bahuku lagi."
"Dia kenapa? Jangan membuatku semakin melayang tinggi Tuan, jika pada akhirnya hanya akan membuatku terjatuh dan terluka."
"Ansell?" Altan berucap lagi.
"Iya Tuan, kenapa?"
"Diam lagi, apa sebenarnya maumu Tuan?"
"Dia malah memelukku lebih erat... eh... dia mencium bahuku lagi...Tuhan... hentikan ini... aku tak mau terluka jika hanya mendapatkan keistimewaan semu yang sementara..."
"Ansell?"
Ansell mulai geram sedari tadi hanya memanggil tapi tak berbicara apa-apa lagi. Ansell memutar tubuhnya.
"Tuan, sebenarnya Tuan mau berbicara apa? Sedari tadi hanya memanggil... Ansell..... Ansell...."
Altan malah tersenyum melihat tingkah Ansell yang justru terlihat menggemaskan baginya.
"Kamu mau dengar?" Altan menatap dengan senyum menggoda.
"Iya Tuan. Apa yang ingin Tuan katakan?"
"Benar kamu ingin mendengarnya?"
Ansell menatap dengan nafas naik turun dan hidung kembang kempis sedang menahan emosinya.
"Lihat, kau terlihat lucu dengan hidungmu yang kembang kempis." Altan tertawa dan mencubit hidung Ansell.
"Apah? Dia hanya menertawakan hidungku saja."
"Tuan!" Ansell berteriak karena kejengkelannya dan menghentakan kakinya dengan keras.
Melihat Ansell yang sepertinya memang sudah marah. Altan berhenti tertawa lalu tersenyum. "Sudah marahnya?"
"Kenapa dia sangat menyebalkan hari ini." Ansell mendengus kesal dan membalikan badan melihat lautan lepas lagi.
"Ansell."
"Apah? Saya tidak mau berbicara sama Tuan lagi."
Melihat Ansell yang bertingkah seperti anak kecil membuat Altan tersenyum sendiri. Altan selama ini tidak pernah melihat Ansell bertingkah seperti ini.
"Ansell." Altan memanggil lagi. Tapi Ansell justru diam. Atlan tersenyum lagi, ternyata Ansell benar-benar sedang marah.
Altan memeluk erat Ansell dari belakang lagi dan menyandarkan dagunya di bahu Ansell. Ansell masih diam dengan menahan rasa sebalnya.
"Kamu marah? Maaf." Ansell memutar bola matanya saat mendengar kata maaf dari Altan.
"Dia kenapa? Benar-benar aneh hari ini."
"Ansell."
"Lihat saya." Altan meminta Ansell untuk memalingkan muka menghadapnya yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Ansell.
"Tidak mau, Tuan ini kenapa?" Ansell menjawab masih dengan menatap laut lepas di hadapannya yang warna langitnya sudah mulai berubah warna menjadi tamaran senja. Semilir anginnya seakan lebih dingin dari waktu awal datang.
"Makannya tatap saya." Pintanya lagi.
Dengan sangat terpaksa Ansell memalingkan muka menghadap Altan. Ansell menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat dengan intens bola mata Altan. Rasanya jantung Ansell berdebar sangat cepat, seakan suara degubannya terdengar jelas.
Altan menggigit setengah bibir bawahnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri saat menatap bola mata Ansell. Ansell semakin tak dapat mengontrol dirinya, kini tatapannya melihat bibir merah muda alami Altan.
Altan membalikan tubuh Ansell sehingga mereka kini saling berhadapan dan pandangannya mengunci satu sama lain.
Altan mendekatkan wajahnya, tapi Ansell memundurkan kepalanya sendiri. Altan lebih mendekatkannya lagi dan sedikit mencondongkan tubuhnya karena Ansel masih memundurkan kepalanya.
Altan tak bisa membiarkan Ansell terjatuh jika ia terus memundurkan kepalanya. Tangan Altan melingkar ke pinggang Ansell untuk menahannya. Ansell sudah tak bisa berkutik lagi karena tubuhnya sekarang sudah sangat mendekat dengan Altan. Ansell memejamkan mata saat wajah Altan sudah benar-benar mendekat.
Ponsel dalam saku jas Altan berdengung. Syukurlah.
Ansell membuang nafas, dan Altan berdiri tegak memandang Ansell dengan senyum dan memalingkan muka. Mungkin mengatasi rasa malunya. Altan membuka ponselnya, panggilan masuk dari Riza.
"Ya, ada apa?"
Mendengarkan...
"Sebentar lagi akan pulang."
Mendengarkan...
"Oke." Altan mematikan ponselnya.
Altan menatap Ansell. "Ayo kita pulang."
"Baik Tuan."
...----------------...
"Karim." Demir memanggil Karim saat melihatnya keluar dari cafe.
Karim berdiri memandang Demir. "Ada apa?"
"Bisa kita bicara?" Ajaknya.
Kini mereka telah duduk di pinggir pantai tempat kapal-kapal nelayan mencari ikan berlabuh. Suasana malam yang terang karena pancaran sinar rembulan.
Demir menawarkan minuman dalam kemasan, Karim menatapnya dan menerimanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa tentang hubunganmu dan Sefa?" Karim membuka tutup botol dan meminumnya satu teguk.
"Tentu, aku tak ingin hubungan persahabatanmu dan Sefa berakhir hanya karena dia bersamaku."
"Itu tidak akan mungkin terjadi, kau tenang saja."
Demir memandang sekilas Karim.
"Apa kau sudah bisa menerima hubunganku dan Sefa?"
"Awalnya belum, tapi sekarang aku sudah merelakannya. Karena aku yakin kau bisa mencintainya dan menjaganya." Karim menepuk bahu Demir dan tersenyum.
"Terimakasih, aku harap kita juga bisa menjadi teman baik." Demir membalas tepukkan di bahu Karim dan keduanya sama-sama tersenyum.
...----------------...
"Kau baru sampai?" Riza memandang kedatangan Altan dengan seksama, tak ada Ansell.
"Kau mencari siapa?" Altan berbasa basi. Rasanya menyebalkan kalau Riza terus saja mencari-cari Ansell.
"Tentu saja Ansell, seharian aku tak melihatnya. Sepertinya kau habis pergi bersamanya?"
"Tentu." Altan menjawab sekenanya dan masuk ke dalam rumah. Riza mengikuti Altan masuk.
"Kalau kau ingin minum buat sendiri, aku mau membersihkan diri." Altan berjalan meninggalkan Riza.
Beberapa saat kemudian...
"Ada masalah apa?" Altan bertanya dan duduk di halaman samping tempat biasa digunakan untuk menenangkan diri.
Riza mengambil kursi lipat dan membukanya lalu mendudukan diri di hadapan Altan. "Tidak ada." Jawabnya ringan.
Altan menatap tak percaya.