
BAB 48. Kembali Ke Sikap Awal.
"Jenny, kenapa sampai jam sesiang ini kamu belum datang ke perusahaan?" Riza nampak kesal jam sudah menunjukan pukul sepuluh siang, tapi tak ada tanda-tanda Jenny di ruangannya.
Dari seberang telepon Jenny sedang bersama Karim, mereka berdua akan merencanakan liburan satu hari. Jenny harus memberi alasan yang tepat. "Maaf Mr, saya sedang ada keperluan dengan keluarga. Jadi hari ini saya ijin untuk tidak berangkat."
"Kau ini bagaimana, ijin mendadak." Riza mulai geram.
"Saya juga tidak tahu akan seperti ini Mr, ini mendadak."
Pintu ruangan Riza terbuka dan Altan masuk. "Riza, aku-
Riza memberi kode pada Altan untuk diam sejenak. "Ya sudah, hari ini kamu diberi izin. Tapi kalau sampai kejadian semacam ini terulang lagi, jangan salahkan pihak perusahaan." Riza memberi peringatan.
"Baik Mr, maafkan saya."
Riza mematikan teleponnya dan menghela nafas.
"Siapa?" Altan bertanya.
"Jenny, kau tahu aku harus menghubunginya karena sampai jam sekarang dia belum datang." Riza menjelaskan.
"Kenapa bisa?"
"Ijin ada keperluan mendesak." Jawab sekenanya. "Ada apa?"
"Nanti kumpulkan tim, kita akan meeting di ruanganku."
"Untuk membahas apa?"
"Produk sepatu permintaan terbaru." Altan menjawab dan berbalik untuk kembali ke ruangannya.
...----------------...
"Kau temui saja Altan nanti malam, pasti pamanmu ada di sana" ucap Nyonya Ivy.
"Memangnya Paman tinggal bersama Altan?"
"Ya sepertinya, setelah kemarin kami bertemu dengan Kak Yakuz. Pamanmu seperti tertekan dan dia marah sama Bibi, dia bilang Bibi selalu saja mengaturnya. Lalu pamanmu mengembalikan cincin pernikahan." Nyonya Ivy menghela nafas. "Pamanmu bilang, dia ingin mengakhiri pernikahan ini."
"Feray, kalau kamu bisa tolong bujuklah pamanmu." Nyonya Ivy sangat berharap banyak kepada Feray, karena Osgur sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.
"Bibi, jangan bersedih. Aku yakin Paman pasti tidak sungguh-sungguh. Aku akan mencoba membantu Bibi." Ucap Feray.
Nyonya Uvy menahan air mata yang hampir menetes. "Ya, semoga saja."
...----------------...
Hari ini Karim mengajak Jenny untuk bermain di arena balap mobil.
Mata Jenny berbinar. "Karim, terimakasih kau membawaku ke tempat seperti ini. Kau tahu, aku sudah lama sekali tak bermain balap mobil. Dan dari mana kau tahu aku menyukai balap mobil?"
"Aku akan berusaha mencari tahu apa yang menjadi kesenanganmu." Karim tersenyum dan Jenny mengecup pipi Karim, membuat Karim membulatkan mata.
"Terima Kasih, ayo kita mulai." Jenny sangat gembira dan langsung berganti pakaian dengan pakaian balap.
"Kau siap?" Tanya Jenny saat sudah siap untuk mengemudi mobil balap.
"Siap." Jawab Karim sambil berpegangan pada pegangan tangan bagian atas.
Jenny mulai menghidupkan mesin dan menarik pedal gas, mobil balap melaju kencang. Jenny terus saja menjerit bahagia, memutar kemudi untuk mengikuti belokan arena balap. Dan menancap gas lagi dengan kecepatan tinggi, Karim berpegangan kuat pada pegangan yang disediakan khusus penumpang.
Karim dan Jenny saling tertawa dan menjerit saat Jenny berhasil melintasi area yang berbelok-belok.
...----------------...
Di perusahaan Altan memanggil Ansell untuk ke ruangannya dan mencatat beberapa hal yang harus dilakukan nanti saat meeting.
Ansell masuk dan berdiri di hadapan Altan sambil membuka buku agendanya. Altan mulai memberi instruksi pada Ansell, dan Ansell dengan sigap menulis. Altan memberi instruksi sedari tadi pada Ansell tanpa memandang Ansell, mata Altan fokus pada dokumen.
Ansell berkali-kali menatap Altan saat mendengar instruksi, berharap Altan akan memandangnya juga. Tapi ternyata tidak. Setelah selesai menulis seluruh instruksi yang Altan katakan, Ansell ingin berbicara masalah hal pribadi. Tapi Altan berbicara terlebih dahulu.
"Kembalilah ke ruanganmu, nanti saat meeting saya harap kamu tidak terlambat." Ucap Altan masih terus tak memandang Ansell dan Ansell menghela nafas.
"Tuan, tidak bisakah kita berbicara pribadi." Ansell mencoba terus.
"Ini perusahaan bukan tempatnya berdiskusi hal pribadi." Ucapnya datar dan dingin.
"Tapi-
"Sekarang kembalilah ke ruanganmu."
Belum sempat Ansell berbicara, Altan sudah mendahuluinya, mau tidak mau Ansell harus kembali sambil menahan genangan air mata kesedihan karena perlakuan dingin dari Altan. Ya, Altan telah kembali pada dirinya sendiri sebelum mengenal Ansell.
Ansell keluar dari ruang presdir dan mengusap air mata yang berhasil menendang keluar. Menghembuskan nafas sedihnya dan berjalan keluar tidak ke ruangannya. Ansell hanya butuh udara luar perusahaan sejenak untuk menenangkan kembali hatinya.
Ansell masuk ke lift dan keluar lalu menuju luar perusahaan. Ansell ingin menjerit melepaskan rasa sakitnya, tapi ini bukan tempatnya. Ansell mengambil ponselnya dan menelpon Sefa.
"Hallo." Suara Sefa, tapi suara tangis Ansell tak tertahan lagi. Membuat Sefa yang sedang bekerja harus mencari tempat sepi agar bisa bertelepon dengan leluasa.
"Kau tahu, aku sudah berusaha untuk terus dapat berbicara pada Altan, tapi dia tak sedikitpun mau mendengar penjelasanku." Ansell menangis sesegukan.
"Tenang Ansell, tenang. Hanya cukup beri waktu sedikit agar Altan bisa tenang. Kalau kau terus mendesaknya, dia akan semakin jauh darimu." Sefa mencoba menenangkan.
"Tapi, itu sangat sulit."
"Ya, karena kau terlalu ambisius. Kau juga harus tenang sebentar, semua pasti dapat teratasi."
"Tapi, bagaimana kalau dia tetap seperti ini terus. Itu sama artinya aku dan Altan benar-benar berakhir, sedangkan aku belum menjelaskan semuanya."
"Ya berarti kau harus pintar-pintar mengatur strategi."
"Strategi bagaimana?"
...----------------...
Jenny dan Karim berjalan-jalan ke sebuah resto, resto tempat teman Jenny yang mengelola.
Jenny berjalan masuk bersama Karim, memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Pelayan resto datang.
"Silahkan Nona, Tuan, mau memesan apa?"
"Jus jeruk saja." Jenny menjawab.
"Samakan saja." Karim menambahkan.
"Baik Nona, Tuan. Silahkan menunggu sebentar." Pelayan tersebut hendak pergi namun Jenny mencegahnya.
"Tunggu, bisa kau panggilkan Mr Willi?"
"Mr Willi? Tentu Nona." Jawab pelayan resto.
"Terimakasih." Ucap Jenny.
Tak selang lama Mr Willi datang bersama pelayan yang akan menyajikan pesanan Jenny.
"Hallo Jenny, tumben kau kemari." Mr Willi menyapa dan memeluk Jenny.
"Ya, hanya iseng saja."
"Wah, ini kekasihmu?" Tanya Mr Willi sambil tersenyum pada Karim.
"Oh...perkenalkan dia Karim." Jenny memperkenalkan Karim pada Willi, keduanya saling senyum dan berjabat tangan.
"Ngomong-ngomong ada apa ini?" Willi bertanya sedikit menggoda Jenny dan Karim.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya iseng berkunjung saja. Sudah lama bukan kita tak bertemu."
Jenny dan Willi saling bercerita mengenang masa silam pertemanan mereka dan Karim menjadi pendengar setia.
...----------------...
Di sebuah cafe kalangan elit seorang CEO muda sedang duduk dengan elegan. Memesan minuman kepada pelayan cafe, dan ceo itu menelpon seseorang. Yang tak lain adalah Riza.
"Hallo." Suara Riza di seberang.
"Hallo, bagaimana kabarmu?" Tanya CEO.
"Baik." Jawab Riza ragu penuh tanda tanya.
"Selamat atas kesuksesan perusahaan Axton." Ucapnya.
"Terimakasih." Jawab Riza sekenanya.
"Jangan lupa, besok datanglah ke acara malam penghargaan. Kita akan berjumpa." Senyum sinis nampak di bibir CEO tersebut.
"Tentu."
CEO tersebut mematikan panggilan teleponnya. Dan di seberang telepon, Riza sedikit berpikir akan panggilan tiba-tiba dari seorang CEO yang dikenalnya sebagai pesaing.
Pelayan cafe membawakan minuman yang di pesan CEO. CEO tersebut mencicipinya dan menganggukkan kepala, lalu pelayan cafe pergi meninggalkan sebuah botol berisi minuman pesanan CEO.
CEO tersebut mengambil ponselnya lagi dan menghubungi Jenny.
Jenny yang telah keluar dari resto temannya, dan melanjutkan kembali perjalanan dengan Karim nampak kaget akan panggilan dari nomor yang sangat ia kenal.
"H.hallo?" Ucap Jenny tergagap. Karim memandangnya bingung sambil terus mengemudi.
"Senang mendengar suaramu lagi."
Jenny nampak berpikir. "Mmm...ada apa?"
"Kau masih ingat apa yang pernah aku katakan?" CEO tersebut menyeringai.
"Tentu, lalu." Tanya Jenny.