
BAB 110. Beautiful In White.
...Hari demi hari berlalu, kebersamaannya mengalahkan waktu. Awal yang terpikir tak memungkinkan, hingga akhir menjelaskan. Semua yang kau anggap semu, menuntunmu. Sampai kau menyadari, inilah cinta yang semestinya. Jangan katakan tidak sebagai kosakata penolakan, saat hatimu diambang kebimbangan. Karena akhir telah menjelaskan, kau dan aku akan menjadi satu....
......................
"Maaf," ucap Ansell.
Altan tersenyum, "apa kau akan terus meminta maaf setiap hari? Sudah lima hari ini, setiap kali kita bertemu. Kau mengulang kata yang sama. ….lagi pula, aku tidak begitu menghiraukan. Entah Kakakmu masuh menyimpan marah padaku atau tidak. ...semua sudah dijelaskan. ….jadi untuk apa kau terus meminta maaf?"
"Rasanya ….aneh saja, ….kita akan menikah, tapi Kakakku…." Ansell menunduk.
Altan yang sedang menbereskan meja kerjanya, berjalan mendekat. Mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. "Jangan mengekuarkan wajah seperti ini. ...kita fokus pada hari bahagia kita, aku yakin, kakakmu pasti bisa menerimanya…"
"Kau tidak tahu kakakku seperti apa,"
"Dia juga tidak tahu aku seperti apa bukan? ….tersenyumlah, waktu akan mengubah semuanya." Diusapnya pipi Ansell.
"Hemm…." Riza berdehem. "Yang lagi mesra-mesraan, sampai tidak tahu aku sedari tadi di sini."
"Kau, sudah sering melihat bukan?" Jawab Altan dengan mudahnya. "Ada apa?"
"Ya,ya,ya…..sampai membuatku iri…" Riza mendekat dengan membawa beberapa dokumen.
"Ini sudah melebihi jam pulang kantor, simpan saja untuk besok."
"Kau ini,.... ini bukan dokumen perusahaan." Riza menyerahkan pada Altan. "Itu rinciam daftar tamu, dekorasi tempat dan lain-lain…. Dari kemarin mereka menghubungiku, …..kau yang mau menikah, aku yang dikejar-kejar…."
"Itu kan tugasmu, ..aku tidak menyuruhmu."
"Ya, bukan kau…. Tapi Ayahmu! Mana bisa aku menolaknya,"
Altan angkat bahu.
"Apa kau tahu, ...aku terkena marah terus, semenjak kau meminta untuk melangsungkan pernikahan di rumah mendiang ibumu. ...ayahmu selalu saja memintaku untuk membujukmu…..dengan marah-marah pula….." keluh Riza.
"Maaf, ya." Jawab Ansell.
Riza menatap tak enak hati, bukan Altan yang meminta maaf, tapi justru Ansell. "Tidak apa-apa Ansell, ...aku sudah terbiasa terjebak diantara dua penguasa egois," mengusap pipi Ansell dengan melirik Altan.
"Hei! Jauhkan tanganmu!" Altan menangkis tangan Riza dengan segera.
"Lihat, wajah singanya keluar! ...belum juga menikah sudah posesif."
"Itu hakku, dia akan menjadi milikku. Aku berhak menjaga dan melindunginya."
"Cih, menjaga dan melindungi. Dia manusia bukan negara!"
"Terserah!" Jawab Altan malas lalu mengambil ponselnya dan menarik tangan Ansell, "ayo pulang."
"Hei! Seenaknya saja meninggalkanku…. Bagaimana dengan ini?" Riza mengacungkan lembar kertas bermap biru.
"Kau urus saja, aku terima beres!" Altan begitu saja meninggalkan Riza, Ansell merasa tak enak hati, dia hanya bisa meminta maaf ketika tangannya ditarik Altan.
"Dasar kau!" Riza berteriak, dengan terpaksa membawa kembali maap biru tersebut keluar dengan rasa geramnya.
Bisa-bisanya Altan sesantai itu.
"Altan, kasihan Riza." Ucap Ansell dengan memandang Altan yang sedang mengemudi.
"Tidak apa-apa, dia sudah terbiasa. Kita langsung pulang?"
"Aku ingin bertemu Sefa,"
Altan menatap sekilas Ansell.
...----------------...
"Ansell," seru Sefa gembira, melihat Ansell datang ke kafe. Ansell segera memeluk Sefa.
"Seperti tidak bertemu satu tahun saja!" Demir bersuara tiba-tiba dengan membawa nampan berisi piring dan gelas bekas pelanggan.
"Kau ini, tidak ada manis-manisnya dengan Adik sendiri!" Omel Sefa, "ayo duduk,"
"Ayo," Ansell menggenggam tangan Altan untuk mengikutinya.
"Kau terlihat lebih cantik, ...tak mengira, lusa kau akan menjadi pengantin." Tak hentinya Sefa memeluk Ansell.
"Kau ini kenapa, memeluknya terus! Aku suamimu selalu kau usir, dipeluk tidak mau." Demir kembali dengan membawa namlan berisi minuman teh hangat.
"Bawaan bayi,"
"Apaan! Bawaan bayi,"
"Ya namanya juga sedang hamil, mood nya selalu berubah-ubah."
"Sudah, ...kalian ini seperti anak kecil saja." Ansell menengahi.
"Dia yang memulai!" Ketus Sefa.
"Enak saja, kau." Demir menatap Altan. "Kenapa kemari!"
"Kau ini," Sefa memukul Demir. "Apa janjimu,"
"Iya, maaf. ...kalau lihat dia, bawaannya marah." Kembali menatap Altan. "Kenapa,"
"Ingin berkunjung,"
"Gampang sekali alasannya," gerutu Demir, Sefa langsung melotot. "Bagaimana persiapannya?"
"Sudah beres," Ansell yang menjawab.
"Aku tidak bertanya!"
"Kau ini kenapa Kak? Salah aku yang jawab?"
"Sudah, jangan hiraukan Kakakmu. ...ayo minum." Sefa kembali memeluk Ansell.
"Sini aku peluk!" Demir tiba-tiba saja langsung memeluk Sefa.
"Awas,ih!" Tolak Sefa yang langsung mendorong Demir.
"Kalian, ih…. Aku yang malu, lihat para pengunjung…" Ansell berusaha menengahi lagi. Sementara Altan hanya diam memandangi ketiga orang didepannya. Mereka sangat akrab, keluarga yang harmonis. Meski sering berdebat, tapi saling menyayangi.
...----------------...
Keesokan harinya…
"Selamat pagi," Altan memeluk Ansell dari belalang yang sedang meracik adonan makanan untuk sarapan.
Anse beralih menatapnya, "kenapa belum bersiap? Bukankah hari ini masih ngantor?"
"Siapa bilang?"
Ansell diam, Altan meraih gelas berisi susu hangat lalu meminumnya. "Aku tidak berangkat, ingin seharian bersamamu. ..besok pasti akan sibuk, tidak ada waktu untuk berduaan."
Ansell menggeleng, sikap Altan berubah. Padahal sudah lebih dari seminggu tinggal bersama.
"Apa sebaiknya kita ketempat ayahmu saja?"
"Tidak perlu, dia pasti akan kemari,"
"Bagaimana kau tahu?" Ansell menatap Altan. Dia seperti paranormal.
Bel pintu berbunyi. Ansell menatap kaget, "lihat lah, dia datang." Ucap Altan.
Ansell mengerutkan dahi, "Jangan asal menebak….bisa saja Riza."
"Tidak percaya, ...buka saja."
Dengan langkah penuh penasaran, Ansell segera membukanya. Ia terkejut.
**
"Setelah menikah besok, apa kau akan tetap tinggal disini?"
"Ya, seperti yang pernah kukatakan pada Ayah."
"Tapi, bukankah Ansell mengatakan kalian akan tinggal bersama Ayah?
"Ya, itu pasti. Ayah tenang saja, setelah ada kabar bahagia. ...kami akan tinggal bersama Ayah, menemani hari tua Ayah."
Ansell datang membawakan minuman, menyajikannya kemudian duduk disamping Altan.
"Aku ingin hidup damai dan tenang disini, urusan pekerjaan, aku serahkan pada Riza… jika ada kepentingan mendesak, aku akan datang ke perusahaan.."
Yakuz menatap penuh harap sebenarnya, ia tidak ingin putranya seperti ini. Tapi mengingat apa yang pernah dikatakan mendiang istrinya, Yakuz tersenyum. Setelah kejadian kemarin, ia sadar. Altan terlalu jauh darinya saat ini, namun kemarin, hidupnya kembali berbunga. Kedekatan kembali terasa nyata, maka dari itu, Yakuz tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi. Biarlah Altan memilih kebebasannya, toh pada akhirnya, mereka akan menemani hari tuaku. Rumahku akan diraimaikan oleh suara tawa mereka dan juga keturunannya kelak. Yakuz percaya pada Altan, apapun yang dia pilih. Dia akan tetap menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin sekaligus pemilik perusahaan keluarga.
Sore harinya, pihak terkait yang mendekorasi acara pernikahan telah datang. Mereka menbawa semua perlengkapan yang dibutuhkan, karena permintaan tidak menggunakan gedung, melainkan rumah pribadi yang akan dirubah nuansanya. Pihak terkait harus teliti, agar semua yang dibutuhkan dapat dilakukan dengan benar.
Ansell tersenyum, melihat para karyawan dekorasi sedang mengubah ruangan yang akan digunakan. Ternyata musim salju ini, mengubah segala hal. Mengubah hidupnya dan menjadikan mimpinya menjadi nyata. Altan memeluk Ansell, mencium keningnya sambil menatap para orang yang sedang sibuk dengan tugasnya. Esok akan menjadi hari bersejarah dalam perjalanan cintanya, dialah gadis yang berhasil meluluhkan hatinya, menjadi cahayanya dalam gelapnya dunia saat dalam kesendirian. Ansell memeluk erat Altan. Pria yang bersedia menerima setiap kekurangannya, yang tak membedakan status sosialnya.
...----------------...
Tamu-tamu mulai berdatangan, para rekan bisnis dan kerabat sanak saudara. Begitu juga dengan awak media yang sudah siap sedari pagi dinihari, mereka menyiapkan seluruhnya sedemikian rapi dan teratur.
Sefa tak hentinya menangis bahagia, melihat Ansell yang sedang dirias oleh tim ahli. "Selamat, kebahagiaanmu telah datang Ansell. Semoga kebahagiaan ini menjadi abadi selamanya."
"Jangan menangis," Ansell memeluk Sefa.
"Aku menangis bahagia. Perjuangan hidup kesabaran dan keikhlasanmu berbuah hasil. Aku bangga, bisa menjadi saksi kehidupanmu. Dan menjadi saksi kebahagiaanmu."
"Sefa," peluk Ansell lagi.
"Ansell," Nenek Esme datang bersama Ei menemui Ansell yang telah selesai dirias.
"Nenek," Ansell menghamburkan pelukan. "Terimakasih banyak,"
Seorang pembawa acara menyebut nama Ansell untuk segera datang. Nenek Esme,Sefa dan Ei tersenyum. Lalu Demir masuk untuk menggandeng Ansell keluar.
"Ayo," ajak Demir. Ansell mengangguk.
Ansell menggandeng lengan Demir menuruni tangga, semua mata tertuju padanya. Ansell menjadi gugup, namun tetap harus fokus.
...Not sure if you know this but when we first met. ...
...I got so nervous, I couldn't speak....
...In that very moment, I found the one and....
...My life had found its missing piece....
...So as long as I live I'll love you, will have and hold you....
...You look so beautiful in white....
Altan menatap penuh kekaguman dan diliputi kebahagiaan, ia menerima tangan Ansell ketika Demir menyerahkannya untuk di bawa ke tengah podium.
...And from now 'til my very last breath, this day I'll cherish....
...You look so beautiful in white....
Seorang pemuka agama menuntun untuk menyematkan cincin di jari Ansell, begitupun sebaliknya.
...What we have is timeless, my love is endless....
...And with this ring I say to the world....
Pemuka agama membacakan janji suci untuk Altan dan Ansell. Altan menjawab dengan lantang dan sungguh-sungguh penuh keyakinan. Bahwa dirinya akan mencintai Ansell selamanya, segenap hidupnya.
...You're my every reason, you're all that I believe in....
...With all my heart I mean every word....
Begitupun Ansell sebakiknya, mereka tersenyum. Lalu melempar bunga, dan berpandangan. Altan melingkarkan tangannya ke pinggul Ansell, menariknya perlahan agar lebih dekat. Saling tatap dengan senyum. Altan menempelkan bibirnya pada bibir Ansell, menciumnya dengan segenap rasa cintanya.
Semua orang yang menjadi saksi tersenyum bahagia dengan bertepuk tangan.
...-TAMAT-...
lirik lagu : BEAUTIFUL IN WHITE ( Shan Filan)