Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 106. Usaha Mendapatkan Restu.



BAB 106. Usaha Mendapatkan Restu.


"Ansell, ajudan Tuan Fathur sudah menunggu." Teriak Nenek Esme dari arah pintu.


Ansell yang sedang merapikan meja makan usai sarapan pagi bersama keluarga dan Altan terkejut, ia terlambat gara-gara kelakuan Altan yang menggelitiknya tadi.


"Iya, Nek." Jawab Ansell.


Altan yang sedari tadi melihat Ansell berjalan mendekat, "Aku yang akan mengantarmu."


Ansell menatap penuh tanya, "Akan berulah apalagi dia?"


"Bukankah kamu harus pulang dan berangkat?"


Altan menatap sekitar, terlihat sepi. Sepertinya Demir dan Sefa sudah keluar mengantar si Adik Kecil. 


Altan memeluknya dari belakang, menyandarkan bahunya di pundak Ansell. "Aku tidak suka kau bersama pria lain, selain aku."


Ansell mengangkat bahu. "Kenapa, bukankah sudah biasa sebulan ini."


"Mulai lagi?"


"Tidak."


Altan membalikkan Ansell agar menatapnya. "Mulai sekarang dan seterusnya, aku tidak akan membiarkanmu bersama pria lain."


"Termasuk Kakak dan sahabatku?"


Altan mengangguk membuat Ansell memukulnya, "kau ini kenapa menjadi posesif?"


"Aku hanya ingin melindungi apa yang menjadi milikku."


"Ansell," Nenek Esme berteriak lagi.


"Iya, Nek. Ansell segera keluar." Jawabnya dan menarik tas kecilnya yang tergeletak di atas meja. "Ayo." Ajak Ansell.


"Katakan?"


"Apa?"


Altan justru diam sambil berkacak pinggang. Ansell menghela nafas, "Bayi gede!"


"Iya, aku akan bilang pada ajudan dan bos nya sekalian. Puas?"


Altan tersenyum, lalu menarik tangan Ansell.


 


...----------------...


Riza menatap bingung melihat kedatangan Altan di ruangannya, nampak berbeda. Wajahnya terlihat cerah kembali. Segurat senyum nampak sekilas-sekilas. Sepertinya sedang bahagia.


"Kenapa?" Akhirnya Riza bertanya.


Altan menatapnya dengan mengerutkan dahi, "Apanya?"


"Sedari tadi tersenyum terus?"


Altan hanya angkat bahu. "Sialan!" Riza mengumpat dalam hati.


"Oke, kalau kau mau main rahasia."


"Altan keponakan Bibi yang baik hati," Bibi Ivy berteriak dari arah pintu ruang kerja Altan.


"Ada apa lagi," keluh Altan dengan berbisik di telinga Riza.


"Apa lagi kalau bukan ada maksud tertentu." Jawab Riza sambil berbisik.


"Kau juga disini Riza,"


Riza tersenyum, "iya Kakak Ipar. Ada apa ini, sepertinya ada hal yang penting." Sindir Riza.


Pasalnya hampir tiga minggu ini, sang Kakak Ipar selalu meminta bantuannya untuk membujuk Altan agar cepat menyelesaikan permasalahannya dengan Ansell. Terlebih agar supaya Altan dan Ansell bisa bersatu kembali. Ya itu semua karena keputusan Yakuz Axton yang akan mencoret nama Kakak Iparnya dari daftar ahli waris.


"Kau ini, ...bisa-bisanya berpikir negatif mengenai Kakak Iparmu. ...aku hanya rindu pada Altan. ...sudah dua minggu Bibi jarang menemuinya, Bibi rindu." Elaknya.


"Baiklah," Riza angkat tangan dan berjalan menuju pintu.


"Hati-hati," mulut Riza komat kamit memberi isyarat pada Altan saat di ambang pintu.


"Bicara apa kamu! Memprovokasi keponakanku!" Bibi Ivy mendengus.


"Tidak, Kakak Ipar." Melangkah ke luar dan menutup pintu.


"Sayang," Bibi Ivy memeluk Altan.


"Bagaimana kabarnya, Bi? Lama tidak bertemu."


Bibi Ivy duduk saat melihat Altan duduk. "Ya, seperti yang kau lihat. Semakin kurus karena ayahmu."


"Memang apa yang Ayah perbuat, sampai membuat Bibi kurus."


Senjata tampang memelasnya mulai di keluarkan dengan sesekali isakan kecil yang dibuatnya saat menceritakan semua kejadian yang menimpanya.


Altan menggelengkan kepala, antara iba dan kecewa. Iba pada bibinya dan kecewa pada ayahnya.


"Ayolah Altan, bantu Bibi. Selamatkan Bibi dan pamanmu."


 


...----------------...


"Sudahlah Demir, jangan terlalu keras mengengkang Ansell. ...biar bagaimanapun dia layak memilih jalan hidupnya sendiri, ...aku yakin, Altan pasti akan berubah setelah kejadian kemarin. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri, ...kita cukup membantu dan menasehatinya ketika mereka ada masalah dan meminta bantuan kita. Selebihnya, biarkan mereka menjalaninya."


"Tidak bisa seperti itu, Sefa. ...aku tidak mau Ansell terluka lagi, ...menangis lagi."


"Tapi, lihatlah Ansell tadi pagi. Kau sendiri mendengar bukan, tawanya dalam kamar bersama Altan. ….aku yakin, Altan bisa membuat  Ansell tersenyum." Sefa menarik tangan Demir dalam genggamnya.


Wajahnya mulai mengiba, agar Demir percaya padanya. "Percayalah,"


Demir mengusap pipi Sefa dengan ibu jarinya, "Baiklah. Tolong jangan tunjukan wajah iba seperti ini, ...membuatku tak berdaya saja."


Sefa tersenyum, "Terimakasih." Dengan cepat mengecup pipi Demir. "Ayo, kita beres-beres lagi. ...lihat, kafe kita kotor seperti ini."


"Iya, kan kita tinggalkan lama. Tidak ada yang mengurus. Karyawanku juga aku beri hadiah cuti,"


"Apa kita tambah satu karyawan lagi saja, lagipula aku pasti akan sering di rumah setelah ini. Rasanya awal kehamilan membuatku sering merasa lelah dan mudah mengantuk."


"Tidak perlu untuk saat ini, dua karyawan cukup. ….Nanti kalau waktunya tiba, saat kau hamil besar dan aku harus selalu di sampingmu. ...aku pasti akan menambah karyawan lagi."


"Ya, tentu lah." Dengan sombongnya berkata. "Sudah, kau duduk saja. ...biar aku dan dua karyawanku yang membereskan semuanya, atau kau pulang saja,"


"Pulang kemana, rumah kita juga belum dibersihkan."


"Ya kerumah Nenek, ...nanti setelah aku selesai, aku akan langsung membereskan rumah kita."


"Lalu kafenya?"


"Libur dulu, yang terpenting kan sudah bersih dan rapi. Setelah ini, aku ajak mereka juga untuk membantuku membereskan rumah kita."


"Kau ini, seenaknya saja meminta karyawan untuk membereskan rumah kita." Sefa memukul Demir dengan kemoceng.


"Kan ada tambahan uang."


"Mentang-mentang!"


"Gak papa lah, sombong sedikit." Demir tertawa tanpa rasa berdosa.


Sefa mendengus, "Sedikit tapi sering! Ya, sama saja."


 


...----------------...


"Altan, kita mau kemana?" 


Ansell bingung, pasalnya tadi Altan tiba-tiba saja datang ke kediaman Fathur, tidak memberi kabar terlebih dahulu. Dan anehnya, dia juga serta bersama Fathur. Seperti ada kejutan saja.


Altan menoleh hanya menunjukan senyum. Membuat Ansell mengerucutkan bibirnya, sudah biasa.


Dilihatnya jalanan sekitar, mata Ansell membulat. "Apa kita akan ke kediaman Tuan Yakuz?"


Altan tersenyum kembali.


"Berhenti, aku belum siap!" Teriak Amsell dengan menggenggam lengan Altan, namun Altan hanya menatap sekilas.


"Pasti ayahmu sangat marah padaku," ucap Ansell lemah.


Altan meminggirkan laju mobilnya ke tepi jalan, tepat di bawah pohon rindang ia mematikan mesin mobilnya. Melepas sabuk pengamannya dan beralih menatap Ansell. "Tenang, aku bersamamu. ...kita akan bersama-sama menceritakan semua keadaan yang sebenarnya pada ayahku."


"Tapi jika ayahmu….."


"Sssttt…… ,apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama melewati semua masalah dengan saling menggenggam."


***


Setibanya di kediaman ayahnya, Altan melangkahkan kaki ke ruang keluarga. Disana terlihat sang Ayah sedang membaca buku, duduk di kursi goyang, disamping tungku api.


Ansell ragu untuk melangkah, tapi Altan terus menggenggam tangan Ansell, menganggukan kepala seolah berkata 'semua akan baik-baik saja' . Ansell menghela nafas, melanjutkan kembali langkahnya beriringan dengan Altan.


Tuan Yakuz yang mendengar suara langkah mendekat, menatap sekilas lalu menutup bukunya.


"Ayah,"


"Untuk apa kau membawanya kemari!" Yakuz berdiri, meletakan kembali bukunya di rak buku, lalu duduk di sofa.


Altan terus menggenggam tangan Ansell, berjalan mengikuti Ayahnya dan duduk di sofa. "Aku membawanya untuk meminta restu dari Ayah."


Yakuz mendengus, menatap Ansell dengan tatapan kebencian. "Restu kau bilang! Apa kau sudah tidak waras, bukankah wanita ini telah mempermalukan keluarga kita, membuat reputasi keluarga kita dan perusahaan kita hancur."


"Tapi itu sudah berlalu, Ayah. ..dan lagipula semua sudah kembali normal."


"Kau membelanya!" Suara Yakuz semakin meninggi, Ansell tak mampu berucap. Semua yang dikatakan Tuan Yakuz benar adanya. "Dasar!"


"Ini semua hanya kesalahpahaman, Ayah."


"Salah Paham dari mana! Sudah jelas-jelas dia menipu kita, dia menghianatimu. ….dan kau! Malah membelanya, ...seperti tidak ada wanita lain saja!"


"Ya, memang tidak ada wanita lain untukku. Kecuali Ansell."


"ALTAN!" Yakuz memukul meja, membuat bunyi yang nyaring dengan getaran.


"Maaf, jika kehadiran saya mengganggu ketenangan keluarga Tuan." Nyali Ansell menciut, rasa bersalahnya meninggi.


"Kau tau diri juga, ...jadi saya harap, pergilah menjauh dari putraku."


"Ayah! Aku tidak akan membiarkan itu, jika Ayah tidak menginginkannya. ..aku akan memilihnya."


Ansell menatap tidak percaya, Altan berani menentang ayahnya.


"Altan, apa kau sadar dengan ucapanmu!"


"Ya, aku sadar Ayah. Aku sadar akan setiap ucapanku. ...bukankah Ayah menginginkan aku untuk secepatnya menikah. Dan sekarang aku akan mewujudkannya, karena aku mencintainya. Dialah wanita yang kupilih."


"Altan! Hentikan ucapanmu yang melantur itu."


"Aku tidak melantur, Ayah. Aku mengatakan apa yang kurasakan. Kami saling mencintai, jadi restui kami. Jika Ayah tidak merestui, itu terserah Ayah. ...yang pasti aku akan tetap menikahinya. Biarpun aku harus hidup sederhana, itu tidak masalah…. Asalkan aku bisa bahagia bersamanya."


"Kau benar-benar tidak waras Altan. Untuk apa mempertahankan wanita yang melukaimu, yang menghianatimu. ...Coba pikir Altan, pikir pakai akal sehatmu."


"Dia tidak menghianatiku."


"Dari mana kau tau, darinya?" Menatap Ansell dengan tatapan yang sangat membenci. 


"Dari rasa kepercayaanku, Ansell tidak mengkhianatiku. Dia hanya menjalankan janjinya kepada seseorang, dan kita salah menduganya Ayah."


"Itu pasti hanya alasannya, kau mau saja dibodohi."


"Terserah Ayah, percaya atau tidak. Jika Ayah menyayangiku, Ayah pasti akan percaya padaku dan membuatku bahagia. ...karena kebahagiaanku adalah bersamanya."


Yakuz diam, tatapannya masih tidak percaya pada Ansell.


"Baiklah, aku kesini hanya ingin meminta restu dari Ayah. Tapi jika Ayah masih mementingkan ego Ayah, aku tidak bisa merubahnya. …..Namun aku punya keyakinan, Ayah sangat menyayangiku." Altan bangun dari duduknya, mengajak Ansell untuk berdiri.


"Maaf, Tuan." Ansell terus meminta maaf pada Yakuz. Karena dirinya semua permasalahan ini terjadi.


Yakuz diam, tapi menatap Ansell lekat. "Ayo, Ansell." Ajak Altan menarik Ansell pergi. Ansell sangat ragu untuk melangkah mengikuti Altan, ia merasa sangat bersalah.


Sesampainya di mobil.


"Altan," tatapan Ansell menunduk. Ia benar sangat merasa bersalah.


"Sudahlah, jangan pikirkan ini berlebihan. Aku yakin Ayah pasti merestui kita. …" Altan kembali menggenggam tangan Ansell, membuat Ansell menatapnya. "Percaya padaku. ..karena Ayah sangat menyayangiku." 


"Ini semua salahku."


"Sstt, ...berhentilah menyalahkan diri sendiri. Tatap aku, pasti kita dapat melalui semua ini bersama-sama. …"