
BAB 54. Cokelat Pedas.
"Ada apa kamu pagi-pagi menelponku?" Ucap Jenny berbisik kepada seseorang di seberang telepon.
"Jangan kasar seperti itu, baby." Suara di seberang telepon.
"Apa yang kau mau, cepat katakan." Jenny mulai geram.
"Slow, santai."
"Santai bagaimana, aku sudah berada di perusahaan saat ini. Dan kau menelfonku sepagi ini." Ucap Jenny melalui gigi-giginya.
"Oke, baiklah. Cukup kau jalankan dengan benar apa yang pernah aku katakan."
"Hei... kau ini-
"Jenny." Riza memanggilnya, membuat Jenny menghentikan kalimatnya dan menyembunyikan ponsel miliknya di belakang pantatnya.
"Mr." Ucap Jenny gugup.
Riza memandang Jenny penuh tanya, seperti ada yang disembunyikannya. "Nanti keruangan presdir, kemarin kau tidak mengikuti meeting mengenai produk baru yang akan kita luncurkan."
"Baik, Mr." Jawab Jenny singkat dengan tatapan berkeliaran berharap Riza tak mendengar ucapannya saat bertelepon.
Riza terus saja memandang curiga Jenny sebelum Riza melangkah pergi menuju ruangannya. Jenny bernafas lega saat Riza sudah meninggalkannya. Di lihatnya layar ponsel, ternyata panggilannya sudah mati. Syukurlah, Jenny berjalan lagi menuju ruang kerjanya.
...----------------...
Setelah selesai sarapan, Altan bergegas mengambil jasnya dan keluar rumah menuju mobilnya. Pasti Pak Husein sudah menunggunya. Saat susah masuk mobil, Altan terkejut melihat Ansell ternyata sudah di dalam mobil. Altan mengira, Ansell pulang saat tadi dia keluar dari rumahnya.
"Ansell, kenapa kau tidak pulang. Kau sakit dan harus beristirahat."
"Tidak Tuan, saya akan tetap bekerja." Jawab Ansell singkat tanpa menoleh kepada Altan.
Altan menyerngitkan kedua alisnya, "dia benar-benar berubah. Dan menghindari kontak mata denganku."
"Ya, terserah kamu saja. Ayo Pak Husein, kita berangkat." Ucap Altan.
Ansell menghela nafas, "aku pasti bisa! Ayo berusaha Ansell, jangan lemah." Ansell terus saja menyemangati diri meski berkali-kali melirik Altan melalui kaca spion dalam. Dilihatnya Altan duduk tenang dengan menyandarkan tubuhnya dan jas-nya tersampir di bangku sampingnya. Tatapan Altan melihat jalanan samping melalui kaca jendela.
Perjalanan tampak hening membuat Ansell lebih bosan, biasanya Ansell akan bercerita banyak kepada Pak Husein dan Altan akan mendebatnya. Tapi sekarang, tanpa kalimat. Udara dalam mobil menjadi terasa sesak, ingin sekali cepat-cepat sampai di perusahaan.
Sesampainya di perusahaan, Altan masuk ke lift dan Ansell terus mengikuti.
"Kamu kenapa diam sedari tadi?" Altan berusaha memecah keheningan.
"Tidak kenapa-kenapa Tuan, mungkin efek flu jadi malas untuk berbicara banyak." Alasannya.
Altan hanya mengangguk dan menatap sekilas Ansell. Ansell terus membuang muka agar tidak melakukan kontak mata, karena jika Ansell melakukan kontak mata dengan Altan. Dapat dipastikan keyakinannya akan goyah.
Sesampainya di ruang kerja Altan, Riza mengikuti masuk saat melihat Altan masuk ke ruang kerjanya. Dan Ansell berada terus di setiap langkah Altan sampai memasuki ruang presdir.
Riza memandang aneh terhadap Ansell yang sedari tadi berdiri dan menundukan kepala atau memalingkan wajah.
"Ansell, kau kenapa?" Riza bertanya dan Ansell membuka mulutnya untuk menjawab.
"Dia sakit." Altan sudah mendahului membuat Ansell menutup mulutnya lagi.
"Kalau sakit kenapa masih berangkat?" Riza bertanya lagi.
"Katanya, dia ingin tetap berangkat." Altan masih terus menjawab mewakili Ansell dan Riza menatap Altan penuh tanya.
"Kenapa Altan yang menjawab? Dan Ansell hanya diam dan berdiri."
"Kalau kau sakit, duduklah. Jangan terus berdiri seperti itu." Riza memberi tahu.
"Duduklah Ansell." Altan memerintah.
"Baik Tuan." Jawab Ansell masih terus menunduk.
Pintu berderit dan Jenny masuk.
"Pagi Mr Presdir." Sapa Jenny dan menatap Ansell yang terlihat lesu sedikit pucat.
Altan hanya mengangguk menjawab sapaan Jenny.
"Maaf, kemarin saya tidak menghadiri meeting. Dan saya ingin tahu seperti apa hasilnya, agar saya tidak salah dalam kinerja saya." Ucap Jenny mantap.
"Dan satu lagi, kau akan bekerja sama dengan Yaza dalam sesi pemotretan model. Saya harap tidak akan terulang kembali kesalahan yang telah lalu."
Altan menekankan sambil melihat Ansell tetapi Ansell membuang muka saat hampir melakukan kontak mata dengan Altan. Sementara Jenny tersenyum kecut mendengar ucapan Altan.
Ya tentu saja, Altan akan terus melindungi Ansell. Karena Altan tahu, Jenny sampai sekarang masih akan terus menjatuhkan Ansell dengan segala upaya ataupun ucapan.
"B.baik Mr." Ucap Jenny dan ponselnya berbunyi.
Altan, Ansell dan Riza sontak menatap Jenny bersamaan membuat Jenny nyengir kuda.
Dalam hati Riza, Riza memendam kecurigaan. Pasalnya tadi pagi Riza juga memergoki Jenny sedang bertelepon dengan bersembunyi-sembunyi dan berbisik.
...----------------...
Feray dan Bibi Ivy sedang sarapan pagi di taman belakang kediaman Bibi Ivy.
"Bibi, bagaimana semalam. Apa Paman menarik kembali ucapannya?" Feray bertanya.
Bibi Ivy menghela nafas. "Sudah, Bibi tidak mau membahas soal itu pagi-pagi. Oh ya, bagaimana acaranya semalam. Apa kau menyukainya?"
"Sangat istimewa. Bibi tahu, keponakan Bibi tampan sekali. Dan ada sesuatu yang sampai sekarang membebani pikiranku." Feray menjelaskan.
"Sesuatu apa?" Bibi Ivy bertanya dengan menyerngitkan alisnya.
"Semalam aku melihat Altan keluar dengan seorang gadis, setelahnya Altan kembali bersama Riza. Lalu tak selang lama gadis itu muncul kembali, dan aku dapat menangkap tatapan gadis itu terlihat sedih dan putus asa."
"Kemudian Altan menatapnya dengan tatapan semacam ingin mendekatinya tapi situasi sedang menahannya. Lalu gadis itu pergi dan Altan mengejarnya. Apa Bibi tahu siapa gadis itu?"
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Altan dan dia."
Feray menjelaskan dengan detail membuat Bibi Ivy sontak kaget. Pasti yang dimaksud Feray adalah Ansell, tapi apa yang terjadi pada Altan dan Ansell? Bibi Ivy berkelana dengan pikirannya, banyak praduga-praduga yang memenuhi isi otaknya.
"Bibi, apa Bibi mendengarku?" Feray bertanya karena sedari tadi memperhatikan bibinya sedang melamun.
"Ya, Bibi tahu." Bibi Ivy tergagap karena kaget.
"Siapa? Apa gadis itu kekasih Altan?" Tanya Feray antusias.
"Gadis itu manis juga, seksi pula." Feray bergumam.
"Ansell Metin, dia... semacam kekasih Altan." Jawab Bibi Ivy.
"Semacam kekasih?" Feray bingung. "Maksud Bibi bagaimana?"
"Apa kau tidak melihat berita?" Bibi Ivy balik bertanya.
"Berita apa? Jangan membuatku semakin bingung Bibi." Feray mulai geram, bibinya ditanya malah balik bertanya.
"Berita yang beredar luas di akun gosip dan chanel gosip. Ansell kekasih Altan, ya...bisa dibilang juga calon istri."
Jawaban Bibi Ivy membuat Feray melebarkan matanya dan bola matanya seolah hampir terlepas. "Kekasih, calon istri?"
Bibi Ivy mengangguk memastikan kebenaran akan jawabannya.
...----------------...
Setelah Jenny keluar ruangan, Altan tak sengaja memandang sebuah boks kecil di pinggir meja kerjanya. "Apa itu? Dan kenapa aku tidak melihatnya tadi?"
Altan mengambil boks tersebut ada sebuah kartu ucapan selamat atas keberhasilan perusahaan. Tetapi tidak ada nama pengirimnya.
Riza menatap bingung saat Altan memperhatikan sebuah boks, yang Riza juga penasaran apa itu. Sedangkan Ansel hanya diam.
"Apa itu, dan dari siapa?" Riza bertanya.
Altan mengangkat bahu. "Entahlah."
Altan membuka dan melihat ada boks kecil dengan tulisan chocolate tetapi bergambar cabai besar. Altan tersenyum.
"Apa isinya, kenapa kau tersenyum?" Riza bertanya penuh kecurigaan, membuat Ansell memasang wajah bingung dan menatap Altan dengan Riza bergantian.
Altan memberikan isi boks nya kepada Riza, dan Riza juga tersenyum saat melihatnya. Sedangkan Ansell masih tampak bingung, melihat isi boks yang bertuliskan chocolate.
"Apa ada yang lucu, kenapa tersenyum. Bukankah itu hanya chocolate?" Akhirnya Ansell bertanya pada Riza.
Riza membuka dan menyerahkannya pada Ansell. "Apa kau mau, ambillah?"