Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 46. Awal Perjuangan.



BAB 46. Awal Perjuangan.


Altan tetap diam dan memandang kosong vas bunga di meja.


"Baiklah, sepertinya aku harus kedalam dahulu. Berpikirlah jernih sampai kau menemukan jawaban atas kesalah pahaman kalian." Riza berdiri dan masuk ke dalam meninggalkan Altan sendiri.


Riza duduk di sofa panjang sambil berbicara pada Bolla.


 "Kau tahu, aku baru pertama kali melihatnya seperti itu."


"Kenapa takdirnya seperti ini, seharusnya dia bisa bahagia saat sudah menemukan wanita yang mampu merubahnya."


"Tapi coba kau lihat Bolla, pria tanpa gairah hidup."


Riza mengusap pelupuk matanya, menghembuskan nafas kasar. "Oke...aku harus bisa menghiburnya."


Riza mencium Bolla dan berdiri lalu berjalan menemui Altan lagi. Belum sempat Riza duduk, Altan sudah berdiri.


"Aku harus menemuinya."


"Hei...tapi jangan membuat hubunganmu semakin tak karuan." Riza mencoba memperingati, karena jika pada situasi seperti ini biasanya emosi mengambil kendali penuh bukan pikiran jernih.


"Tenang, jika memang harus berakhir maka berakhirlah. Aku tak ingin ada luka." Altan berjalan dan Riza mengekori.


"Aku pergi dahulu." Altan tersenyum saat sudah di luar rumah Riza.


"Semoga sukses dan semua akan kembali normal." Riza menyemangati.


Altan memeluk Riza. "Terima Kasih."


Riza mengangguk dan Altan pergi.


...----------------...


Ansell berkali-kali mencoba memejamkan mata agar cepat tertidur, tapi sayangnya tidak bisa. Pikirannya sangat kacau, akan sangat sulit untuk dapat tertidur. Ansell bangun dari ranjang Sefa, berdiri menatap dinding. Berjalan mondar- mandir. Berharap cepat lelah dan mudah tertidur, tetapi semakin lama justru pikirannya semakin tertuju pada Altan.


Bagaimana dia sekarang dan apakah dia bisa memahami jalan pikiran Ansell. Ansell mengusap wajahnya kasar, berjalan menuju jendela kaca. Di gesernya separuh jendela, Ansell memandang langit malam.


Tepat di bawah Ansell, Altan sedang bertanya pada seseorang yang berjalan hendak melewatinya.


"Permisi, apa Anda tahu rumah Sefa Arduc?"


"Oh...ini rumahnya." Orang tersebut menunjuk tepat rumah di depan Altan dan Altan mengangguk berterimakasih.


Altan ragu untuk berjalan ke arah pintu, Altan mendongak ke atas. Dan tepat di saat itu pula Ansell sedang memandang ke bawah. Untuk sesaat Altan dan Ansell saling pandang.


Ansell berbalik dan bersandar di dinding.


"Apa yang harus aku lakukan, dia mencariku kemari." Ansell bergumam.


Altan masih tetap memandang jendela kamar atas. Tatapannya berubah pilu saat melihat Ansell berbalik tak memandangnya lagi.


"Mungkin ini maumu meninggalkanku, baiklah semoga kau bahagia. Selamat malam."


Altan berbalik dan berjalan meninggalkan rumah Sefa.


Tepat di persimpangan jalan Demir sedang berjalan berlawanan arah dengan Altan, tapi Altan berbelok untuk menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari persimpangan jalan.


Membuat Altan dan Demir tak saling bertemu. Demir berjalan menuju rumah Sefa.


Dari dalam kamar Sefa, Ansell sudah yakin ingin menemui Altan dan menjelaskan semuanya. Ansell keluar dari kamar Sefa, dan berpapasan dengan Sefa saat di tangga.


"Kau mau ke mana?" Sefa bertanya.


"Altan di luar dan aku harus menemuinya, aku akan menjelaskan semuanya." Ansell memberi tahu dan berjalan menuruni tangga.


"Semangat Ansell." Sefa berteriak.


"Iya." Ansell pun berteriak.


Saat sudah melihat pintu, Ansell menarik nafas agar relax. Suara pintu diketuk, Ansell membuang nafas.


Berjalan ke pintu dan membukakan pintu. Ansell terkejut saat melihat Demir ada di luar pintu. Ansell mencondongkan tubuh melihat kiri dan kanan mencari keberadaan Altan.


"Hei, kau mencari siapa?" Demir bertanya dan Ansell menggelengkan kepala. Kemudian Ansell mempersilahkan Demir masuk.


"Hei, mana Tuan Altan?" Sefa bertanya saat melihat Demir yang masuk.


"Tuan Altan?" Demir nampak bingung.


"Iya, tadi Ansell ke bawah untuk menemui Tuan Altan yang katanya di luar."


"Tapi aku tidak melihat siapapun di luar tadi."


"Sudahlah, mungkin dia sudah pergi." Ansell menyambar dan duduk di sofa.


"Aku ingin mengajak Ansell pulang."


"Tapi Nenek Esme?"


"Aku sudah berbicara dengannya, dan Nenek tidak mungkin akan bertanya tentang kembalinya Ansell. Pasti Nenek akan sangat senang jika Ansell kembali sekarang." Demir menjelaskan.


"Baiklah, aku akan mengambilkan tas Ansell." Sefa berdiri dan naik ke atas.


...----------------...


Nyonya Ivy mendapat kabar dari Riza, kalau Altan telah kembali. Nyonya Ivy tak membuang-buang waktu, Nyonya Ivy bergegas menuju rumah Ansell. Meski waktu sudah malam tapi tak membuat Nyonya Ivy gentar, kehidupannya seperti di ujung tanduk.


Harus segera di bicarakan dengan Ansell, jangan sampai Ansell di luar kendalinya.


Saat sampai di rumah Ansell, Nyonya Ivy mengetuk pintu rumah Ansell.


Nenek Esme yang saat itu sedang menonton televisi setelah selesai berbincang dengan Ansell. Nenek Esme berjalan dan membukakan pintu.


"Nyonya." Nenek Esme terkejut melihat kedatangan Nyonya Ivy.


"Apa Ansell ada?"


"Ada Nyonya, mari silahkan masuk." Nenek tersenyum ramah dan mengajak Nyonya Ivy masuk, tapi Nyonya Ivy menolak.


"Tidak, terimakasih. Bisakah Nenek memanggilkannya?"


"Oh..tentu, sebentar." Nenek mengangguk dan berjalan masuk menemui Ansell sedangkan Nyonya Ivy menunggu di samping mobilnya.


Tak selang lama, Ansell datang.


"Nyonya."


Nyonya Ivy membulatkan mata. "Hei, kau ini sudah berani ya. Pergi tanpa memberi tahu, kau tahu aku bingung menunggumu kembali. Aku harap kau tidak melakukan kesalahan."


"Kesalahan, maksud Nyonya?" Ansell tidak mengerti akan jalan pikiran Nyonya Ivy.


"Ya, aku harap kau tidak melukai perasaan Altan. Saat sekarang kau tahu kalau Altan menaruh hati padamu."


Ansell memutar bola matanya dan berbicara dalam hati. Bagaimana ini? Sedangkan aku sudah melukai perasaan Tuan Altan. Aku juga menyesal dan ingin menjelaskan.


Ansell hanya mengangguk saja.


"Baguslah, ingat ucapanku. Jangan sampai kau mempermainkan perasaan Altan." Nyonya Ivy memperingati dan kemudian masuk ke mobilnya lalu pergi.


Ansell menghembuskan nafas kasarnya. Kenapa jalan takdirku seperti ini?


...----------------...


Altan telah kembali ke rumahnya dengan berjalan gontai. Menuju dapur untuk membuat teh madu, dilemparkannya kunci mobil ke meja. Belum sempat Altan mencapai dapur, bell pintu rumahnya berbunyi. Altan menghela nafas dan berbalik menuju pintu.


"Paman?"


Altan mempersilahkan masuk pamannya kemudian membuatkan teh madu dan berjalan menuju halaman belakang.


"Apa kau baru sampai?" Paman Osgur bertanya.


"Seperti yang Paman lihat. Dan ada apa Paman jam segini kemari?"


Osgur menghela nafas. "Paman lelah bersama bibimu, dia terlalu banyak aturan. Semuanya harus sesuai dengan keinginannya."


"Benarkah, aku pikir itu berlaku hanya pada gadis atau orang yang di bayar Bibi."


"Tentu, semuanya. Paman seperti boneka mainannya saja, Paman sudah lelah. Mungkin mengakhiri lebih baik."


Altan termenung sesaat, mungkin Ansell juga merasakan bosan dengan segala aturan Bibi. Jadi dia meninggalkan ku.


...----------------...


Pagi hari telah datang. Altan bergegas membersihkan diri, pagi ini tanpa Ansell. Altan menyemangati diri sendiri, dan berjalan ke kamar mandi.


Di lain tempat, tepatnya di rumah Ansell. Ansell memaksakan diri untuk bangkit dan bersemangat, hari ini Ansell harus menjelaskan kepada Altan. Ansell bergegas mencari pakaian untuk kerja dan berjalan cepat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di kamar Altan, Altan sudah rapi lalu berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk membuat sarapan pagi sendiri. Ponselnya berdengung, pesan singkat dari Riza yang mengabarkan besok malam ada acara penghargaan untuk perusahaan Axton yang masuk ke kategori perusahaan terbaik.


Altan memasukan kembali ponselnya ke saku jasnya dan mulai sarapan pagi sendiri.


...----------------...


Ansell sudah selesai sarapan pagi lalu bergegas untuk menemui Riza. Sesampainya di luar gerbang rumah Riza, Ansell berdiri menunggu Riza keluar. Tak selang lama Riza keluar dan kaget mendapati Ansell berada di luar.


"Ansell, ada apa pagi- pagi kau di sini?"