
BAB 14. An Expression Of Love.
Tak seperti biasanya Sefa seperti ini. Apa Sefa bertengkar dengan Karim? Sepengetahuannya Karim sangat menyukai Sefa. Tidak mungkin Karim melukai hati Sefa. Lantas kenapa? . Ansell dibuat bingung sendiri.
Terdengar ketukan pintu dari luar. Ansell melepas pelukan Sefa.
"Aku buka pintu dulu."
"Jangan!" Cegah Sefa.
Namun pintu sudah terlanjur Ansell buka. Demir!.
Demir nampak kaget dan canggung, ternyata Ansell yang membukakan pintu. Sementara Sefa tampak membuang muka sambil mengusap air matanya.
"Demir, ada apa kau kesini? Tumben."
Ucap curiga Ansell dengan tatapan penuh introgasi. Melihat kecanggungan dari Demir dan Sefa tampak membuang muka.
"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu bekerja di Perusahaan Axton?"
Jawabnya mengalihkan perhatian dari tatapan penuh curiga Ansell.
"Aku ke belakang dulu."
Sefa buru-buru bangkit dari duduknya, untuk menghindari Demir.
"Tunggu!"
Cegah Demir yang langsung saja masuk melewati Ansell begitu saja. Dan meraih tangan Sefa. Masa bodoh Ansell akan berpikir apa terhadapnya. Yang pasti Demir ingin minta maaf pada Sefa.
"Demir, pergilah pulang. Aku ingin sendiri."
Dengan tanpa menatap Demir, Sefa berucap. Terlalu sakit saat tahu ternyata dirinya ternodai bukan karena membalas rasa cintanya. Tapi karena sebagai pelampiasan rasa kesalnya terhadap wanita lain. Sungguh ironis teramat pedih.
Bahkan lebih pedih dari teriakan caci maki dari orang yang kita sayangi. Kenapa hidup begitu kejam padaku. Apa salahku. Apa karena aku terlalu mencampakan Karim yang sudah jelas-jelas mencintaiku dengan tulus. Hingga Tuhan memberiku hukuman sepahit ini.
Ansell tampak bingung di antara mereka sebenarnya ada apa? Tapi dari kata-kata Sefa seperti memintanya untuk pergi. Walaupun tidak langsung, tapi Ansell paham benar sifat sahabatnya itu.
Dia ingin waktu untuk berbicara berdua dengan Demir. Meskipun ucapannya seolah tertuju pada Demir, tapi sebenarnya untukku.
"Aku pergi dulu Sefa."
"Demir, titip Sefa." Sambungnya lagi dengan nada menekan. Seakan mengisyaratkan "Awas kalau kau membuatnya lebih terluka, akan ku cincang-cincang halus dan ku kasih makan ke anjing-anjing liar yang kelaparan."
Ansell menutup pintu dengan rapat. Lalu memutar tubuhnya untuk pergi.
"Eh...." begitu terkejutnya Ansell. Melihat Karim sudah ada di hadapannya berdiri dengan tatapan tercengang.
...----------------...
Nyonya Ivy sangat marah.
"Bodoh, bagaimana bisa gadis itu sampai melakukan ini."
"Apa dia sudah bosan hidup berkecukupan!"
"Bagaimana kejadian ini bisa ia lakukan!"
Nyonya Ivy mondar-mandir tak karuan. Merutuki kesalahan Ansell. Memukul telapak tangannya sendiri dengan buah apel yang ia pegang.
Sementara Tuan Osgur tampak pusing melihat istrinya berjalan ke kanan ke kiri tak ada hentinya.
"Apa dengan cara membuatku pusing bolak balik semua masalah akan selesai?"
Ucap geram Tuan Osgur, karena sudah tak mau dibuat pusing dengan menatap sang istri yang sedang mondar-mandir.
"Lantas kita harus berbuat apa. Gadis itu sudah mengacaukan semuanya."
Pikiran jernih Nyonya Ivy sedang tak berfungsi.
"Makannya bisa diam tidak. Aku tidak bisa berpikir jernih kalau melihatmu terus mondar-mandir. Yang ada aku semakin pusing dan gila."
Akhirnya dengan sangat dipaksa Nyonya Ivy mendudukan dirinya di sofa. Bersandar di sandaran sofa, sambil memejamkan matanya. Berharap dapat pencerahan ide.
"HAAAAHHHH.....!"
Tuan Osgur menggebrak meja dengan keras saat mendapatkan ide brilian. Membuat Nyonya Ivy terlonjak dari duduknya.
"Kau ini mau membunuhku. Mengagetkanku seperti itu. Untung saja aku tidak punya riwayat jantung!" Ucapnya sangat kesal.
"Aku punya ide brilian."
Jawab Tuan Osgur penuh percaya diri sambil tersenyum gembira.
"APA?" Tanya Nyonya Ivy penuh antusias.
...----------------...
Ansell dan Karim duduk berdua di depan cafe milik Karim.
Ansell berucap setelah meminum coffe chocolate hangat yang menimbulkan aroma manis agar stres yang ia rasakan dapat hilang sejenak.
Karim nampak menatap coffee milk di hadapannya dengan tatapan kosong. Enggan mau menjawab pertanyaan Ansell.
"Ya sudah kalau kau juga tak mau menjawab... Aku mau pergi,"
Ucapnya penuh ancaman. Karena Ansell tahu, Karim pasti akan menjelaskan jika diancam akan ditinggalkan pergi saat hati dan pikirannya sedang bermasalah.
"Sefa menjauhiku."
Ucap Karim masih dengan menatap coffee milk di hadapannya.
Ansell duduk kembali. "Kenapa?"
"Entahlah..."
Jawaban yang tak pasti. Membuat Ansell enggan bertanya lagi.
...----------------...
"Sefa, aku tahu aku salah. Tak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu."
Sefa nampak tak memperdulikan ucapan Demir. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat minuman.
"Sefa, AKU MENCINTAIMU." Tutur Demir dengan lantang penuh keyakinan.
Sefa tersenyum sinis, tanpa memandang Demir.
"Jangan ucapkan itu jika karena terpaksa." Ucapnya masih dengan menyeduh chocolate hangat.
Demir membalikan paksa tubuh Sefa yang sedari tadi membelakanginya. Menangkup wajah Sefa dengan kedua tangannya yang bertelapak besar dan hangat. Mencium lembut bibir Sefa penuh rasa cinta. Ini kali pertamanya Demir lakukan. Karena ia benar-benar mencintai Sefa.
Sefa mematung, dengan degup jantung yang tak seirama. Rasanya dia begitu mendamba perlakuan seperti ini dari orang yang ia cintai. Sefa bisa merasakan ada perbedaan dari cara Demir menciumnya. Berbeda seratus delapan puluh derajat .
Apa benar yang diucapkan Demir? Sefa hentikan rasa ini. Kau tahu kau hanya pelariannya? Jadi jangan berharap lebih. Hentikan Sefa. Semakin kau merasakannya semakin kau tak bisa melepaskannya.
Airmata kesedihan Sefa menerobos keluar dari pelupuk mata indahnya. Mengalir menyentuh telapak tangan Demir yang masih menangkupnya. Membuat Demir menghentikan lembut ciumannya.
Dilihatnya kedua manik bola mata wanita di hadapannya yang ia nodai. Bola mata yang penuh kesedihan dan penyesalan. Membuat Demir sangat terpukul akan perilakunya kemarin yang membuat gadis dihadapannya sudah tak gadis lagi.
"Percayalah. Aku sangat mencintaimu Sefa."
Dengan lirih namun penuh kepastian Demir berucap, masih tetap menatap kedua bola mata Sefa. Berharap Sefa yakin dan percaya akan ketulusannya.
Sefa menatap kedua manik cokelat Demir seksama, mencari kebenaran di setiap kata yang Demir lontarkan. Kedua manik cokelat itu mengisyaratkan ketulusan atas ucapannya.
Demir mulai mencium lembut bibir Sefa, saat merasakan kalau Sefa sudah mempercayainya. Terbukti. Sefa pun membalas ciuman lembut dari Demir.
...----------------...
Tuan Altan masih berada di perusahaannya meski malam semakin larut.
Dia melonggarkan dasinya agar bisa bernafas relax. Tuan Altan berbaring di sofa ruangannya. Pikirannya melayang ke Ansell, gadis yang selalu ada dalam satu minggu ini. Namun baru siang tadi Ansell pergi sudah bisa mengacaukan kinerja otak dan perasaannya.
Dihembuskannya nafas kasar. Antara rindu, sedih dan kecewa berbaur menjadi kesatuan yang membuatnya sangat stres.
Dipinjamkannya kedua matanya, berharap semua hanya mimpi buruk yang akan secepatnya menghilang saat terbangun.
Riza yang sedari tadi juga sebenarnya masih berada di Perusahaan, tepatnya ada di ruangan khusus pemantauan CCTV mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dia sengaja memutar kembali waktu di CCTV saat kemarin Ansell datang membawa box tersebut.
"Astaga! Sudah kuduga bukan Ansell pelakunya."
Diambil ponselnya untuk menghubungi Altan.
Dua kali panggilan tak diangkat oleh Altan, dicobanya lagi. Diangkat.
"Kamu dimana?
Mendengarkan...
"Oke. Saya ke sana."
Diambilnya flashdisk yang sudah digunakan untuk mengcopy file CCTV. Lalu bergegas keruangan sahabatnya yang menjabat sebagai Presdir.
"Kamu ternyata masih di sini?"
Ucap Riza saat membuka pintu dan mendapati Altan sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Ada apa?" Jawabnya datar, masih dengan menutup matanya. Malas menanggapi ucapan sahabatnya.
Riza mendekat dan duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang ditiduri Altan. Setelah mengambil laptop kerja Altan, dan mulai membuka laptop Altan untuk dihidupkan. Kemudian memasukan flashdisk miliknya yang berisi file unduhan yang tadi.
Lalu memutar hasil CCTV dan menunjukan ke Altan.