Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Pantang Menyerah Part 6



Di dalam ruang khusus CCTV, Jenny berkali-kali memutar kejadian dimana Ilyas dan dirinya bercakap. Namun tak ada tanda-tanda mencurigakan, membuat Jenny frustasi.


"Tidak mungkin Ilyas melakukan semua ini tanpa seorang mata-mata."


"Tapi siapa?"


"Aku bahkan tidak menemukan adanya seseorang yang mencurigakan."


Gumam Jenny sambil terus meng reply CCTV, berharap ada sekecil kecerobohan yang Ilyas lakukan. Tapi sayangnya tidak ada.


Jenny menghela nafas, bersender pada kursi. Menatap kosong layar monitor CCTV, hanya jari-jemarinya saja yang bergerak memainkan mouse.


 


...----------------...


Altan hanya bisa menekuk wajahnya, seakan hidup perusahaannya benar ada di ujung tanduk. Kinerja yang selama ini di bangun harus hancur sekejap mata. Segudang prestasi kecerdasan dan kerja kerasnya harus berakhir secepat ini?


Sementara Ansell yang saat ini terus memperhatikan Altan rasanya tak kuasa menyaksikan betapa tak berdayanya Altan. Pria yang ia kenal dengan sikap berkarismatik dan pekerja keras, kini terlihat lemah. Bahkan saat perjuangannya belum menitikan keberhasilan.


Ansell berjalan mendekat, saat lama hanya berdiam diri memperhatikan Altan yang terus saja diam.


"Tuan-


"Pulanglah." Belum sempat Ansell berbicara, Altan sudah menyela dengan nada lemah. Saat ini, Altan hanya ingin sendiri.


"Tidak." Tolak Ansell yang justru berjalan lebih mendekat pada Altan. "Saya akan tetap berada di samping Tuan, apapun keadaannya. Tuan tahu?"


Altan mendongak melihat Ansell yang saat ini berdiri di sampingnya namun tanpa sepatah kata. Altan menunggu Ansell melanjutkan ucapannya.


"Lima tahun yang lalu, saya pernah berada di posisi seperti Tuan. Saya bingung, bahkan hampir menyerah. Saat kedua orang tua saya pergi meninggalkan kami bertiga. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, melihat kakak saya frustasi dan terjebak dalam dunia malam. Saya harus tetap berjuang, karena saya masih bisa melakukan apapun. Saya harus bekerja untuk menghidupi adik terkecil saya, yang pada saat itu masih berusia 3tahun."


Ansell tersenyum meski air matanya menitik. Ia teringat kembali masa-masa terberatnya. Hidup terlantung-lantung, pekerjaan apapun ia ambil. Hanya untuk dirinya dan adiknya. Sampai setengah tahun lamanya, Ansell berjuang sendiri. Hingga waktu itu tiba,  gadis berusia 16 tahun. Harus menjadi gadis kuat dan tegar. Saat dirinya sudah tak mempunyai rumah untuk berteduh, karena uang hasil jeripayahnya selalu di ambil oleh Demir untuk berjudi.


Ansell harus membawa adik kecilnya pindah ke rumah sang Nenek yang ada di desa, sangat jauh dari keramaian kota. Sementara Demir yang selalu dimanjakan harta oleh kedua orang tuanya semasa hidupnya, tak dapat meninggalkan kehidupan perkotaan. Mereka berpisah. Ansell menetap di desa bersama sang Nenek dan adik kecilnya.


Sampai waktu itu tiba, kafe tempat Ansell bekerja mengalami pemindahan tempat. Kafe tersebut adalah kafe satu-satunya yang ada di desa, dan setelah kafe tersebut pindah. Ansell tak dapat lagi bekerja, sementara Ia harus menghidupi Adiknya dan Neneknya.


Ansell harus berpindah kembali ke kota dan menyewa sebuah rumah kecil. Gadis yang sudah berusia 21 tahun tersebut sudah menjadi gadis mandiri dan tangguh. Ia bekerja siang dan malam, agar bisa menyekolahkan adiknya dan bisa membayar sewa rumahnya sekaligus bisa memberi makanan sehari-hari untuk Nenek dan adiknya.


Satu bulan setelah pindah ke kota, sang kakak datang ke rumah sewanya. Entah darimana awalnya, sang Kakak bisa tahu bahwa Ansell berpindah kembali ke kota. Dan awal masalah baru pun tiba. Sang Kakak datang ke kehidupan adik dan neneknya dengan membawa masalah.


Hutang judi yang sangat banyak ia berikan kepada Ansell. Awalnya perdebatan antara Ansell dan Demir tak terelakkan. Namun saat Eilaria harus terseret dalam masalah tersebut, mau tidak mau Ansell harus terjerat dalam masalah hutang tersebut.


Dan sampailah pada masa itu, masa dimana Ansell menerima tawaran gadis sewaan oleh Nyonya besar yang tak lain adalah Bibi Ivy.


Altan yang mendengarkan cerita dari Ansell berdiri dan memeluk Ansell. Ia tahu masalah tersebut, tapi baru sekarang ia baru mendengar secara detile kehidupan berat Ansell, dari usia sangat belia 16tahun Ansell harus berjuang sendiri menerima betapa kerasnya kehidupan para pencari uang. Dimana para gadis seusianya harus bersekolah dan bermain bersama teman seusianya. Ansell berbeda, ia lebih memilih bekerja di usia dini karena tuntutan kehidupan.


"Maaf." Ucap Altan dalam memeluk Ansell.


"Maaf untuk apa? Tuan tidak bersalah, seperti itulah kehidupan saya." Ansell memaksakan senyum dan menghapus air matanya. "Jadi, seberat apapun masalah hidup kita, semua akan ada titik terangnya. Tuan tidak perlu menyerah. Setiap masalah yang kita hadapi, akan membuat kita lebih kuat."


"Ya, tetapi saya tak bisa sekuat dan sehabat kamu."


"Kata siapa, Tuan lebih kuat dan hebat." Ansell menyela.


Altan menyerngitkan alisnya membuat dahinya berkerut mendengar jawaban Ansell.


"Tuan tahu." Ansell membawa Altan duduk kembali di kursi kebesarannya.


"Semua kerja keras Tuan telah membuahkan banyak prestasi."


"Lihat, seluruh piagam dan medali ini. Semua prestasi ini." Ansell memperlihatkan bukti nyata hasil prestasi-prestasi Altan yang di pajang dalam lemari kaca.


"Bukankah ini semua sudah membuktikan bahwa Tuan hebat. Lelaki seusia muda Tuan, kebanyakan hanya bersenang-senang membuang-buang uang orang tua. Tetapi lihatlah." Ansell berjalan kembali ke samping Altan yang sedari tadi duduk dan memperhatikan Ansell berbicara.


"Tuan bekerja menggantikan Ayah Tuan, Tuan bekerja keras agar perusahaan ini tetap maju dan menjadi perusahaan besar." Ansell merapikan jas Altan. "Jadi, apa Tuan akan menyerah segampang ini?"


Ucapnya sedikit menyindir dan menantang Altan. Tapi Altan masih diam.


"Kata siapa kita tidak bisa menampilkan aksi show dari hasil karya kita. Kita sudah mendekati tahap akhir, jadi apa kita harus menyerah?"


Altan di buat bingung, apa maksud dari arah pembicaraan Ansell. Karena memang seluruh gedung pementasan telah di sewa Ilyas, jadi mana mungkin akan bisa melakukan pementasan untuk besok malam?


Ansell menghela napas, ia tahu pasti Altan sedang  tak sejalan pikirannya dengan Ansell.


"Tuan masih ingat bangunan tua bersejarah yang digunakan untuk sesi pemotretan produk kita ini?"


Ansell mengambil buku album produk terbaru dan meletakannya di meja kerja Altan tepat di hadapan Altan.


"Maksud kamu?" Altan menatap Ansell mencari tahu jawaban dari pertanyaannya.


Ansell tersenyum. "Tepat sekali." Ansell lega, koneksi pikiran Altan telah kembali.


"Jadi, bisa kita mulai lagi?" Tanya Ansell dengan menaik turunkan alisnya menggoda Altan.


"Tentu, mari kita mulai." Kini tawa menghias bibir Altan kembali. Ansell merasa sangat bangga pada Altan, dia bangga memiliki pemimpin seperti Altan dan kekasih hati sepertinya.


 


...----------------...


Belum sempat Yaza berucap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah di hujankan untuk dirinya dan Ismet,  terdengar suara langkah kaki dari arah belakang.


"Presdir." Ucap salah satu team yang ikut berkerumun saat melihat kedatangan presdir dan Ansell bersama-sama.


Para team mundur dan memberi ruang untuk presdir. Mereka yakin saat ini presdir akan mengumumkan sesuatu, entah itu kabar baik atau kabar buruk.


"Mari kita lanjutkan." Altan berucap dihadapan team kerjanya membuat semua team kerja bersorak gembira.


Sementara Yaza dan Ismet sedikit bingung, mereka saling pandang. Benarkah yang baru saja mereka dengar?


Namun karena melihat keseriusan dari ucapan Sang Presdir dan kegembiraan para team kerja, Yaza dan Ismet ikut bahagia dan tersenyum. Meski dalam hati mereka bertanya-tanya.


"Yaza, Ismet."


"Iya Mr. Presdir." Yaza dan Ismet mendekat.


"Sampaikan kabar ini pada Paman Osgur, Denis dan Jenny. Beri tahu mereka agar segera ke ruangan saya."


"Baik, Presdir." Jawab Yaza dan Ismet serempak meski kebingungan masi ada di hati dan pikiran mereka.


Altan berjalan kembali ke ruangannya. Sentara Ansell mengikuti Altan di belakangnya. Ansell menghela napas, ternyata Altan masih belum bisa memaafkan Riza.


🌻🌻🌻🌻


Terimakasih masih setia. love you all


salam Ende Setiani 😊