Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 8. Anak Singa.



BAB 8. Anak Singa.


Ansell pergi ke rumah Nyonya Ivy. Nur membukakan pintu saat terdengar ketukan dari luar.


Nyonya Ivy yang tak sengaja lewat melihat Ansell sudah ada di ambang pintu. Dengan segera Nyonya Ivy membawanya masuk, dengan lembut mendudukan Ansell ke sofa. Ansell terlihat murung.


"Kenapa?"


"Ada sesuatu yang terjadi? Nyonya Ivy bertanya curiga.


Ansell semakin tak bisa menahan rasa ingin menangisnya. Diceritakanlah semua kejadian tadi sambil meneteskan air mata yang tak bisa tertahan lagi.


Nur yang masih mematung segera mengambilkan minuman untuk Nona Ansell yang terlihat menangis tersedu-sedu.


"Saya sudah tidak bisa Nyonya, Tuan Altan sangat keras kepala dan egois."


"Saya sangat tertekan Nyonya."


Mendengar penuturan Ansell, Nyonya Ivy tak mau kalau Ansell menyerah. Itu terlalu berbahaya untuk kondisi dirinya, rencana yang sudah terlihat akan baik tak boleh berhenti di jalan.


Sambil menepuk halus punggung tangan Ansell, Nyonya Ivy berbicara. "Kau tahu kan keponakanku itu keras kepala dan mementingkan dirinya sendiri?"


"Sudah jangan diambil hati, saya yakin Altan itu bisa berubah."


"Kamu masih ingatkan perjanjian awal kita?" Nyonya Ivy mulai mendesak dengan cara mengungkit kembali.


Ansell mengangguk sambil terus meneteskan air mata, karena perjanjian itu sekarang hidupnya tak lagi sebebas burung di angkasa.


Ansell masih ingat perjanjian awalnya. Kalau Ansell berhenti sebelum dia berhasil. Maka uang muka yang digunakan untuk membebaskan Demir dan Eilaria harus dikembalikan. Uang jasa sewa akan diberikan di akhir  jika misinya berhasil, dan tidak akan diberikan kalau berhenti di jalan. Sungguh keterlaluan.


...----------------...


Di suatu tempat kecil, tempat yang sering digunakan seorang kakek tua untuk terus berkarya di bidang pembuatan sepatu. Kakek tua itu tak lain adalah sahabat dari Yakuz Axton.


"Bagaimana kondisi perusahaan ayahmu?" Baba Mehmet bertanya sambil membuat sebuah sepatu Monk Strap.


"Lancar Baba." Jawab Altan menutupi masalah yang terjadi sebenarnya sambil terus melihat setiap detail dari bahan yang digunakan untuk membuat sepatu khusus pria untuk acara formal. Monk Strap.


"Jadi, kau sudah siap untuk menikah?"


Altan menghembuskan nafas kasar. Tidak ayahnya, tidak juga sahabat ayahnya. Para orang tua selalu menanyakan hal yang sama.


"Cukuplah kamu bersenang-senang di masa mudamu, carilah wanita yang bisa melengkapi mu. Dan buatlah istanamu ramai oleh suara malaikat kecil."


Baba Mehmet mulai bercerita panjang lebar sambil di bumbui nasehat bijak untuk membuat hati Altan melembut.


Tutur lembut Baba Mehmet membuat Altan sedikit tenang, Baba Mehmet termasuk pria berhati lembut dan penuh ketenangan. Berbeda dengan ayahnya yang selalu menekannya dan keras kepala.


...----------------...


Altan kembali ke kantornya setelah bertemu dengan Baba Mehmet hatinya sedikit tenang. Duduk di kursi kebesarannya, Altan mulai dengan aktivitasnya lagi. Setelah semua kekacauan tadi bisa teratasi. Mungkin dirinya tadi kasar terhadap Ansell, sekarang Altan terlihat sedang merenungi kesalahannya yang bersikap kasar kepada Ansell.


Dipandangnya Ansell yang sedang duduk di ruang kerjanya. Gadis itu terlihat malas dan muram, terbesit suatu penyesalan yang mendalam di hati Altan.


"Apa aku berlebihan?"


Tak lama masuklah Riza keruangan Ansell. Tuan Altan semakin memperhatikan keduanya.


Dilihatnya Mr Riza sedang menghibur Ansell, mencubit pipi Ansell. Lalu membuat lengkungan senyum di wajah Ansell.


"Senyum Nona manis, mana gadis manis yang selalu ceria."


Ansell kini terlihat bisa tersenyum ceria, entah apa lelucon yang dibuat Mr Riza.


Membuat Altan jadi geram. Dengan cepat Altan berdiri, keluar ruangannya, dan masuk keruangan Ansell.


Ansell dan Mr Riza saling pandang melihat Altan yang tiba-tiba saja langsung masuk.


"Ansell.. cepat masuk keruangan saya." Perintah Tuan Altan dengan menatap tak suka pada Mr Riza.


Mr Riza merasa begitu bangga akan ulahnya yang berhasil membuat sang anak singa menampakan taringnya. Mr Riza sengaja memanas-manasi sang anak singa, dengan mendekat ke Ansell dan berbisik di telinga Ansell.


"Lihat anak singa sudah mulai menunjukan taringnya. Hati-hati Nona manis, kau bisa di terkamnya." Tertawa menggoda namun tak bersuara.


"Ayo cepat Ansell." Peringatan lebih keras dari Tuan Altan. Tuan Altan benar-benar terpancing ulah sang adik dari Paman Osgur.


Sedari dulu memang Riza itu hobi membuat jengkel Altan. Meskipun begitu Altan tetap masih membutuhkannya. Karena Riza adalah Mata-mata Altan untuk mengintai Bibi Ivy. Dan Riza pula sahabat yang selalu membantunya


Ansell langsung berdiri dan mengambil buku catatannya, lalu mengikuti Tuan Altan masuk ke ruangannya.


Tuan Altan duduk di pinggiran sofa, Ansell berdiri siap menulis instruksi Tuan Altan.


Ansell mengangguk lemah.


"Bagus kalau kau tahu." Imbuhnya lagi


"Sekarang kembalilah ke ruanganmu." Dengan ekspresi dibuat sedatar mungkin.


"Apah! Cuma seperti ini. Astaga. Kenapa harus menyuruhku mengikutinya! Benar-benar kelewatan. Sudah menyiapkan buku untuk menulis instruksi, ternyata ini instruksinya. Menyebalkan. Ada ya manusia sepertinya, yang sudah marah-marah dan hobinya menjahiliku saja."


"Baik Tuan." Ansell berbalik dan keluar.


Altan tertawa lucu setelah melihat ekspresi Ansell karena ulahnya. Altan keluar ruangannya namun saat  membuka pintu di lihatnya Ansell masih mematung di dinding depan ruangannya. "Sepertinya gadis ini sedang merutukiku."


"Tuan." Ansell menarik sudut bibirnya paksa membuat lengkungan senyum. Meski hatinya sedang merutuki sang presdir.


"Kamu masih disini? Apa ada sesuatu." Tanyanya dengan sangat datar, menutupi rasa ingin tertawa melihat ekspresi keterkejutan Ansell saat melihatnya.


"Tidak Tuan, tadi saya bermaksud untuk menanyakan. Apakah Anda ingin coffe?" Jawab Ansell dengan alasan yang dibilang masuk akal.


"Oke. Buatkan saya coffee, nanti taruh saja di meja. Saya akan menemui Riza dahulu." Ucap Altan lalu berlalu meninggalkan Ansell sendiri.


Ansell menunduk hormat saat Tuan Altan pergi. Setelah membuatkan coffe, Ansell ke toilet.


Ansell mengoles bibirnya dengan lipstik sambil bercermin. Masuklah Jenny ke toilet. Melihat Ansell yang juga sedang di toilet, membuat Jenny berhenti. Dilipatnya kedua tangan di atas perut. Lalu melontarkan kata-kata sindiran sinis ke Ansell.


"Tidak usah sok cantik, Mr Presdir tak akan tertarik pada gadis sepertimu."


"Ohh ya." Jawabnya mulai memprovokasi.


Ucapan Ansell membuat geram Nona Jenny. Dengan percaya dirinya Nona Jenny berucap.


"Tentu saja. Mr Presdir pasti akan memilihku yang sudah pasti tak pernah membuat kesalahan kerja sepertimu." Merasa di atas awan.


"Kita lihat saja Nona Jenny." Ucap sinis Ansell, lalu pergi meninggalkan Nona Jenny yang terlihat sangat marah atas ucapannya.


...----------------...


Nyonya Ivy sedang berpikir keras, jangan sampai Ansell berhenti di awal. Awal yang sudah jelas akan menarik perhatian keponakannya.


Sebuah ide terbesit. Diambilnya ponsel, lalu menelpon Riza.


"Hallo, ada apa kakak ipar?" Suara dari Riza


"Kau sedang dimana?"


"Di luar kaka ipar, ada apa?"


"Aku perlu bantuanmu."


...----------------...


Cahaya senja sudah tak begitu nampak, aktivitas cahaya kini mulai tergantikan oleh lampu-lampu. Ansell berjalan keluar kantor sendirian, diambilnya ponsel untuk menghubungi karim. Namun seketika terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Nona manis."


Ansell terhenti, menengok ke arah sumber suara. Yang tak lain adalah Mr Riza.


"Iya Mr."


Beberapa saat kemudian....


Mr Riza dan Ansell kini sedang menikmati kebab bersama di sebuah taman pinggir pantai. Mereka duduk berhadapan, suara orang bercengkrama di sekitar mereka menambah keramaian. Setelah seharian melakukan banyak aktivitas kantor yang melelahkan, membuat hati Ansell sedikit terobati oleh suasana pinggir pantai pinggiran kota.


"Nona manis, jangan diambil pusing tentang anak singa itu."


"Anak singa itu memang, ….ya seperti itulah, keras kepala dan mementingkan dirinya sendiri."


"Tapi percayalah, dia sebenarnya pria hangat."


Ansell sedikit kaget. "Pria hangat? Hangat dari mana? Dia itu selalu marah tak jelas dan menjahiliku saja.".


"Kau tau Nona manis, dahulu anak singa manis dan lembut. Namun setelah Nyonya  Jasmin tiada, anak singa yang manis itu menjadi sosok pendiam dan dingin."


"Dia juga menjadi sosok yang tertutup, egois dan keras kepala. Yang dia tahu hanya bekerja dan bekerja."


"Nyonya Jasmin?"


"Maaf Mr Riza, siapa itu Nyonya Jasmin?" Ansell bertanya.